
“Pakai pakaian ini,” tukasnya, aku melirik ke arah lipatan kain yang ia letakkan di atas ranjang.
Aku yang hanya mengenakan pakaian dalam, berjalan mendekatinya lalu membungkuk dengan meraih pakaian yang ia berikan. “Ini hanya perasaanku, atau kau memang terlihat semakin cantik,” bisiknya, diikuti kecupan lembut di leher dan rangkulan yang ia lakukan dari belakang.
“Jaga pintu, nanti kakakku tiba-tiba masuk, bagaimana?”
“Lebih bagus, jika aku langsung mengunci pintunya, bukan?” tukasnya, dia melepaskan pelukannya di pinggangku lalu berjalan mendekati pintu kamar.
“Darling, bisakah kita melakukannya sebelum saudaramu itu kembali?”
Aku mengangkat kembali pandangan, menatapnya yang masih berdiri menatapku di depan pintu, “jika kau memiliki ramuan dari seorang Tabib, maka aku tidak akan mempermasalahkannya … Kau masih mengingat janji kita pada Kakakku, bukan?”
“Tidak ada masalah, jika aku tidak mengeluarkannya di dalam, bukan?”
“Apa kau pikir aku akan mempercayai ucapanmu lagi! Kau berkata seperti itu, tapi kadang kala melakukan hal yang sebaliknya,” ucapku, aku kembali menundukkan kepala dengan kedua tangan merapikan pakaian yang sudah aku kenakan.
Aku berjalan mendekatinya yang masih berdiri menatapiku, “kau ingin mengajakku ke mana? Ini sudah malam, lihatlah kantung matamu yang hitam itu,” sambungku sambil mengusap pelan bagian bawah matanya.
“Kalau aku menciummu, itu bukan masalah besar, bukan?” tukasnya setengah berbisik.
Zeki menggerakkan wajahnya semakin mendekatiku … Semakin ia mendekat, semakin itu juga keringat dingin merembes ke seluruh tubuhku. “Tubuhmu bau sekali, Zeki. Menjauhlah! Kepalaku sangat-sangatlah sakit saat menciumnya,” ucapku berjalan mundur sambil menutup kuat hidungku menatapnya.
“Sachi, aku sudah berusaha menahan sesuatu yang seharusnya aku dapatkan sebagai Suami. Apa kau juga ingin, melatih kesabaranku lebih lanjut?”
“Sudah aku katakan, kepalaku pusing setiap kali bau tubuhmu itu menusuk hidungku. Apa aku harus menutup kedua lubang hidungku ini, agar kau puas?!” bentakku dengan sedikit mendongakkan kepala.
“Tidak perlu, biar aku saja yang membungkus tubuhku ini dengan dedaunan dan juga bunga, agar bau tubuhku yang menusuk ini tidak masuk ke hidungmu,” ucapnya dengan sedikit menekan kata-kata yang ia ucapkan.
“Apa kau pikir aku sengaja melakukannya?”
“Tentu tidak, kau yang selalu benar dan aku yang selalu salah,” jawabnya dengan helaan napas yang mengikuti perkataannya.
“Keluar! Dan jangan menemuiku lagi sebelum kau membawakan satu tong berisi penuh air kelapa untukku.”
“Untuk apa air kelapa sebanyak itu, apa kau ingin berendam di dalamnya?”
“Aku memang ingin berendam di dalamnya, aku memang ingin berendam sambil meminum airnya. Apa kau puas?!”
Pandanganku kembali tertunduk saat dia masih menatapku dengan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku mengusap wajah dengan menarik napas dalam sebelum kembali mengangkat pandangan lalu berbalik, melangkahkan kaki mendekati ranjang. “Apa kalian berdua sudah selesai berdebat? Jika sudah, kami akan masuk ke dalam. Jika tak ada jawaban, kami akan langsung masuk ke dalam,” tukas suara Izumi yang terdengar dari arah luar.
“Masuklah,” sahut suara Zeki singkat yang menimpali perkataan Izumi.
“Apa yang terjadi di antara kalian berdua? Apa kalian baik-baik saja?” sambung suara Izumi diikuti suara deritan pintu yang menyertai.
“Tidak ada yang terjadi, kami hanya sedang memperdebatkan sesuatu yang tidak penting.”
“Begitukah?” ungkap Izumi membalas ucapan Zeki yang terdengar.
Kepalaku masih tertunduk, aku enggan untuk menatapi mereka. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku sudah berusaha melupakan keinginan-keinginan aneh itu, tapi tetap saja … Pikiranku semakin berkecamuk, ingin semua itu terpenuhi. “Sa-chan,” kepalaku sedikit terangkat saat kurasakan genggaman menyentuh pelan kedua tanganku.
“Nii-chan, bagaimana pertemuan kalian?”
“Raja menyetujui semuanya, setelah ini aku akan mengirimkan surat kepada Ayah untuk mengirimkan utusan ke sini, agar mereka dapat menandatangani surat kerjasama di antara kita.”
“Kau benar. Tapi sebelum itu, apa kau menginginkan sesuatu?”
“Sesuatu?”
Haruki menganggukkan kepalanya membalas tatapanku, “aku tidak menginginkan apa pun. Aku, hanya ingin segera melanjutkan perjalanan,” jawabku, Haruki masih terdiam dengan membalas tatapanku padanya.
“Apa kau yakin?” Kepalaku mengangguk pelan menimpali pertanyaannya.
“Tapi sayangnya, kita tidak akan melanjutkan perjalanan beberapa pekan kedepan.”
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”
“Izu nii-chan benar, apa terjadi sesuatu?”
“Aku hanya ingin pergi ke dunia para Elf, aku tidak ingin tertinggal melihat Putraku sendiri lahir ke dunia-”
“Putra?” tukasku dan Izumi bersamaan.
“Bibi memberikan kabar ini kepadaku sejak beberapa pekan yang lalu, aku merahasiakannya karena tidak ingin kalian khawatir. Karena sihir Robur Spei yang tidak terlalu sempurna yang dilakukan Bibi, kemungkinan dia akan lahir sedikit cepat dari yang diperkirakan, lebih tepatnya … Tidak ada waktu pasti, kapan dia akan lahir.”
“Bibi mengatakan, jika dia anak laki-laki. Kadang-kadang dia menendang kelopak bunga yang menyelimuti tubuhnya, aku … Tidak ingin melewatkan perkembangannya,” ungkapnya yang tersenyum menatapku.
“Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan, kau akan memiliki anak, Haruki?” tukas Zeki, aku melirik ke arahnya yang telah duduk di sebelah ranjang yang aku duduki.
“Panggil aku kakak! Apa kau lupa telah menikahi adikku?”
“Ah, maaf, kakak,” sambung Zeki menimpali perkataannya.
“Bibi Elf yang telah membantu menyelamatkan anak kami, tepat sebelum Luana meninggal. Cerita lengkapnya, kau bisa langsung bertanya pada Istrimu,” ungkap Haruki sambil beranjak berdiri di hadapanku.
“Syukurlah, aku pernah bertemu dengannya di kehidupan sebelumnya. Aku pun, berharap dapat memiliki anak segera, laki-laki atau perempuan … Aku tak akan mempermasalahkannya,” ucapnya, dia tersenyum dengan sedikit menundukkan pandangan.
“Kau tahu, Istana itu terlalu luas dan sunyi untuk aku tinggali sendiri. Tapi aku juga, tidak ingin memaksakan kehendakku pada Sachi-”
“Benarkah?” ungkap Haruki memotong perkataan Zeki.
“Apa aku terlihat bercanda di matamu sekarang?”
“Kalau seperti itu, pulanglah kembali ke Yadgar. Lalu, coba kau diskusikan apa yang terjadi kepada Sachi dengan beberapa perempuan yang kau temui di jalan. Kau akan mendapatkan semua jawabannya-”
“Nii-chan, apa kau meminta dia untuk menggoda para perempuan yang ada di jalan? Jika kau melakukannya, aku akan menguburmu hidup-hidup, Zeki!”
“Apa yang kau ingin kubur hidup-hidup? Aku bahkan tidak mengatakan akan menyetujuinya!”
“Aku ingin memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi, tapi melihat kalian yang tak berhenti berdebat … Membuatku kehilangan semangat untuk memberitahukannya. Jadi, selamat mencari tahu semuanya sendiri,” ucap Haruki yang membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya.
“Nii-chan! Jangan membuatku penasaran, apa yang kau ketahui?!”
“Izumi, Eneas, jika kalian ingin mengetahui apa yang terjadi … Ikuti aku keluar dari kamar ini, apa kalian tidak gerah? Melihat sepasang suami-istri bodoh ini tidak berhenti beradu pendapat.” sambungnya yang tak mengindahkan panggilanku.
“Pulanglah besok ke Yadgar, Zeki! Dan pikirkan baik-baik, apa yang sebenarnya terjadi!”