Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXXXVI


"Sachi, bangun!" samar-samar terdengar suara Izumi diikuti cubitan kuat dipipi.


Mataku terbuka oleh suaranya yang berulang-ulang terdengar. Kugosok kedua mataku yang masih sangat terasa berat seraya kualihkan pandangan mataku kepada yang lain.


Kupandangi Zeki dan Adinata yang tampak sibuk menyalakan api, dibakarnya dua buah batang kayu bertutup kain pada api yang mereka buat tadi.


"Ada apa nii-chan?" ucapku menatap Izumi.


"Ada suara benda jatuh yang sangat kuat, kita akan mengeceknya," balasnya menatapku.


Beranjak ia seraya mengarahkan kedua tangannya membantuku berdiri, digenggamnya telapak tanganku dengan kuat. Berjalan kami mengikuti jejak Haruki dengan Adinata dan Zeki disebelah kanan dan kirinya, nyala sinar api yang ada ditangan mereka berdua tampak menerangi hutan gelap yang menyelimuti kami.


Berhenti kami di depan jebakan yang sebelumnya kami buat, jebakannya hancur disertai berserakannya pisau yang telah kami tanam di tanah siang tadi. Jejak darah berbentuk garis lurus mengalir di hadapan kami...


Berjalan kami mengikuti langkah kaki mereka bertiga yang telah terlebih dahulu melangkahkan kakinya didepan kami. Jejak darah tersebut berhenti tepat di pinggir jurang, maju Izumi beberapa langkah seraya berusaha memastikan apa yang terjadi...


"Mundur semuanya!" teriak Izumi berbalik kebelakang, ditariknya dengan cepat tanganku berlari mengikutinya.


Suara desis terdengar di telingaku, semakin lama semakin jelas terdengar. Sebuah benda berwarna hitam pekat sedikit mengkilap muncul dari dalam jurang, benda tersebut semakin lama semakin meninggi...


Seekor ular raksasa berdiri di hadapan kami, kepalanya yang terbuka lebar mengisyaratkan kami untuk berhati-hati. Lidahnya yang panjang tampak tak berhenti keluar masuk dari dalam mulutnya...


Dadanya tak henti-hentinya mengeluarkan darah, pisau-pisau yang kami tancapkan sebelumnya di tanah tampak menempel erat di dadanya. Maju ia menginjak tanah yang ada di hadapan kami. Tubuhnya semakin meninggi dari sebelumnya, ditatapnya kami dengan mulutnya yang terbuka lebar...


Diangkat ekornya yang berwarna hitam itu melebihi tinggi tubuhnya, ditariknya tubuhku kesamping oleh Izumi. Jatuh aku tersungkur di atas dadanya seraya kulirik tanah yang hancur oleh cambukan ekor ular itu.


Beranjak aku berdiri diikuti oleh Izumi, ular tersebut menurunkan kepalanya ke tanah seraya merayap semakin mendekati kami.


"Lari!" teriak Haruki.


Berlari kami mengikuti langkah Haruki, menoleh aku kebelakang... ular tersebut masih mengejar kami, semakin cepat dan semakin cepat...


Genggaman tangan Izumi semakin erat padaku, melirik aku ke sebelah kanan... Wajah pucat serta nafas yang tak teratur mengiringi langkah kaki mereka.


"Kesini!" teriak Izumi, ditariknya tanganku mengikuti langkah kakinya.


"Matikan apinya!" teriak Izumi kembali diiringi gelapnya suasana di sekitar.


Brukk!!


Tubuhku jatuh menabrak sesuatu yang sedikit lembab, kumuntahkan beberapa kali benda aneh berbulir tak terlihat yang masuk ke dalam mulutku.


"Kau baik-baik saja?" ucapnya, kurasakan sesuatu menyapu-nyapu bibirku.


"Mulutmu penuh dengan tanah," sambungnya sambil tetap kurasakan sentuhan di wajahku.


"Aduh!" terdengar suara Julissa diikuti suara jatuh yang berulang-ulang terdengar.


"Pegang tanah yang ada di belakang kalian dan sandarkan tubuh kalian disana, jangan mengeluarkan suara sedikitpun!" bisik Izumi diikuti sesuatu yang menyentuh pundakku.


Kembali terdengar suara desis melewati kami, kutahan sekuat mungkin nafasku hingga suara desis tersebut menghilang sepenuhnya.


"Apa kita sudah baik-baik saja sekarang?" terdengar bisik Luana dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Entahlah, aku pikir kita sudah sedikit aman sekarang," ucap Izumi menjawab pertanyaannya.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" ucap Adinata.


"Apa kau mempunyai saran Sa-chan?" lanjut Haruki.


"Kalian meminta saran padanya lagi? kita hampir terbunuh karena saran darinya."


"Tutup mulutmu!" ungkap Zeki memotong perkataan Luana.


"Kami mengikuti sarannya karena kami juga merasa apa yang ia katakan benar adanya. Bagaimana denganmu? Apa kau memikirkan cara supaya kita dapat lolos dari ular itu?" ucap Zeki kembali, tak terdengar jawaban sedikitpun dari Luana.


"Maaf, aku tidak sampai berpikir jika kita akan bertemu dengan ular," bisikku lirih.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika akan terjadi seperti ini," sambungku.


"Sudahlah, yang lebih penting kita semua selamat," kembali terdengar suara Izumi diikuti tepukan pelan di kepalaku.


"Bagaimana Sa-chan, apa kau punya ide?"


"Aku tidak terlalu yakin akan hal ini, nii-chan."


"Aku hanya pernah membaca kalau ular sangat sensitif dengan wewangian," ucapku lagi dengan nada sepelan mungkin.


"Tapi bagaimana caranya kita mendapatkan wewangian?" lanjut Julissa.


"Entahlah, jika saja di sekitar sini ada pohon yang dapat menghasilkan wewangian," sambungku pelan.


"Po-pohon?"


"Apa kau mengetahui sesuatu Danur?" ucapku.


"Ka-kakak bu-bukankah ke-kerajaan ki-kita pu-punya po-pohon ya-yang bi-bisa me-menghasilkan we-wewangian."


"Kau benar, tapi..." ucap Adinata.


"A-aku me-melihatnya, po-pohon i-itu. Se-selama per-perjalanan ke-kesini, a-aku me-melihatnya."


"Kau yakin Danur?" sambung Haruki.


"A-aku sa-sangat ya-yakin."


"Bagaimana caranya menghasilkan wewangian dari pohon itu?" sambung Zeki.


"Aku tidak tahu pohon yang mana yang dimaksud Danur, tapi rakyat kami sering membakar bagian-bagian dari pohon-pohon itu untuk menghasilkan wanginya," ucap Adinata menjawab pertanyaan Zeki.


"Kalau benar begitu, kalian semua dengarkan rencanaku!" bisik Haruki kepada kami.