Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXLI


"Sachi," suara perempuan tiba-tiba mengetuk telingaku, "ada apa kak?" Tanyaku pada Sasithorn yang tengah membungkukkan tubuhnya menatapku.


"Mereka menunggumu di ruang tamu," ucapnya dengan sebelah tangannya menyentuh pundakku. "Tapi," ungkapku terhenti membalas tatapannya.


"Aku akan menenangkan Kak Luana, percayalah padaku," ucapnya kembali padaku, "baiklah, aku menyerahkannya padamu Kak," Sasithorn menganggukkan kepalanya saat aku menatapnya.


Aku beranjak berdiri lalu berjalan meninggalkannya, langkah kakiku terhenti ... Kutundukkan kepalaku, saat Haruki mengarahkan pandangannya padaku.


Kedua kakiku melangkah mendekati salah satu kursi, "duduklah di dekatku," ucap Izumi saat aku duduk di salah satu kursi yang sedikit jauh dari kursi yang mereka duduki. "Tidak apa-apa, aku di sini saja," ucapku kembali menundukkan pandangan.


Terdengar suara helaan napas dari samping kiri tubuhku, kugerakkan pandangan mataku sedikit melirik ke arah laki-laki berpenampilan seperti perempuan yang dipanggil Bibi Gritav oleh Luana dan juga Sasithorn, "baiklah. Kita telah mengetahui, bahaya apa yang akan mendatangi kita. Apakah ada rencana untuk menghindarinya?" Tanyanya membuka pembicaraan setelah helaan napas keras yang ia lakukan sebelumnya.


"Aku akan membawa kalian pergi dari sini. Lagipula, sudah menjadi tugasku untuk melindungi para Pangeran dan juga Putri," suara Arata menimpali perkataan Gritav.


"Bagaimana dengan para penduduk sekitar? Mereka semua akan mati, tanpa tahu apa-apa," ucapku, kepalaku masih tertunduk enggan untuk terangkat.


"Kita akan pergi, aku tidak terlalu peduli dengan keadaan mereka..."


"Egois seperti biasanya," ucapku memotong perkataan Haruki.


"Sachi!" Nada suara Izumi meninggi menyebutkan namaku, "tunjukan rasa hormatmu. Haruki, kakak yang telah menjaga kita selama ini," ucap Izumi kembali terdengar.


"Maaf," ucapku singkat dengan kepala masih tertunduk seperti sebelumnya.


"Aku, mengkhawatirkan keselamatan kalian bertiga," ucap Haruki, kuangkat kepalaku menatapnya yang tengah tertunduk.


"Jika salah satu di antara mereka memenangkan pertarungan, besar kemungkinan mereka akan mengambil alih wilayah ini. Katakan, apa kau, Luana maupun Sasithorn terlihat seperti perempuan dari kalangan rakyat biasa?" Tanya Haruki mengarahkan pandangannya melirik ke arahku.


"Jika tempat ini jatuh di tangan mereka, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan mereka terhadap kalian. Keselamatan kalian, lebih penting dibandingkan orang-orang yang tak aku kenal," Haruki beranjak berdiri menatapku, "ini perintah dariku, bereskan semua keperluan, kita semua akan pergi dari sini!" Tukasnya kembali seraya melangkahkan kakinya berlalu melewati kami.


"Sachi," ucap Izumi melakukan hal yang sama, kedua matanya melirik ke arahku, "aku mengerti nii-chan," jawabku kepadanya, kepalaku tertunduk dengan sebelah tanganku bergerak pelan menyisir rambut.


_____________________


Aku berjalan dengan sebelah tanganku menggenggam erat tangan Cia, langkahku sedikit melamban saat kedua mataku terjatuh pada Luana dan juga Sasithorn yang telah berdiri dengan sebuah tas di masing-masing tangan mereka.


"Bagaimana keadaanmu Kak?" Tanyaku pada Luana saat aku dan Cia melangkahkan kaki mendekati mereka, "aku baik-baik saja," ucapnya sedikit melirik ke arahku.


Kami berempat berjalan menyusuri rumah, langkah kaki kami berhenti tepat di depan pintu. Kutatap para laki-laki yang tampak sibuk mempersiapkan kuda yang akan kami bawa sepanjang perjalanan...


"Sasithorn, mendekatlah," Izumi setengah berteriak, aku melirik ke arah Sasithorn yang telah melangkahkan kakinya mendekati Izumi.


Kutarik pelan lengan Cia berjalan mendekati seorang laki-laki yang tengah menggenggam tali kekang kudaku. Kuajak Cia berjalan semakin mendekati kuda lalu kuangkat tubuhnya hingga dia duduk di atas kuda tersebut.


"Luana, kemarilah!" Suara Haruki terdengar, kugerakkan kepalaku menatap Luana yang masih berdiri di depan pintu.


Luana berjalan mendekati Haruki, "berikan tas yang kau bawa kepada Gritav, cepatlah naik! Kita akan segera pergi," ucapnya, Luana mengikuti perintah Haruki tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Rombongan berjalan saat pagar yang menutupi rumah terbuka, aku sedikit melirik ke arah Sasithorn yang duduk tertunduk dengan tangannya sedikit menggenggam sedikit pakaian yang Izumi kenakan.


"Hime-sama," suara laki-laki yang terdengar mengalihkan pandanganku, kutatap Arata yang juga telah berkuda di sampingku dengan Eneas yang duduk di belakangnya.


"Ada apa?" Tanyaku kembali menatap lurus ke depan, "aku dengar jika Hime-sama, memimpin pertarungan yang terjadi di Paloma dan juga Balawijaya?" Tanyanya tersenyum saat aku kembali melirik ke arahnya.


"Entahlah, aku sendiri merasa tidak melakukannya. Arata," ucapku, ia sedikit mengerutkan dahinya saat aku menghentikan perkataanku, "di mana keempat orang laki-laki yang bersamamu? Aku tidak melihat mereka," ucapku kembali melanjutkan perkataan.


"Aku menugaskan mereka untuk melakukan hal yang lebih penting," jawabnya, "hal yang lebih penting?" Tanyaku kembali padanya.


"Apa para Pangeran tidak memberitahukanmu apa yang sebenarnya terjadi, Hime-sama?" Bisiknya pelan dengan mengangkat sebelah tangannya menyentuh ujung bibirnya.


"Memberitahukan? Memberitahukan apa?" Tanyaku kembali padanya, Arata mengangkat jempol dan jari telunjuknya yang saling menempel lalu digerakkannya bergerak menelusuri bibirnya.


"Haru nii-chan!" Ungkapku sedikit berteriak, kugerakkan kudaku mendekatinya yang tengah menunggangi kuda dengan Luana yang juga duduk di belakangnya.


"Ada apa?" Tanyanya sedikit melirik ke arahku sebelum ia kembali menatap lurus ke depan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi di sini?" Tanyaku kepadanya, Haruki menggerakkan kepala menoleh ke arahku, "peperangan ini, salah satu bagian dari rencanaku," ucapnya santai sebelum kembali mengalihkan pandangannya.


"Rencana? Apakah salah satu Kerajaan itu adalah ... Adalah sekutu kita?" Tanyaku yang sempat terhenti, "bukan, salah satu di antara mereka bukanlah sekutu kita," jawabnya kembali dengan sangat santai.


"Apa kau ingat dengan Chandini dan juga Amithi yang sekarang menjadi pelayan temanmu Julissa?" Tanyanya, kugerakkan kepalaku dengan cepat mengangguk menatapnya.


"Mereka berdua, berasal dari salah satu Kerajaan itu. Lalu, mereka memberikan semua informasi yang mereka ketahui kepada Pangeran Miron. Pangeran Miron, meminta Julissa untuk memberitahukan info yang mereka dapatkan kepadaku."


"Dan nii-chan, jangan katakan jika kau meminta Kerajaan Leta untuk memanfaatkan informasi yang kalian dapatkan itu. Maksudku, menjadikan informasi itu sebagai ancaman untuk membuat Kerajaan itu berada di bawah kendali kalian?" Aku kembali bertanya padanya.


"Menurutmu? Aku tidak sebodoh itu untuk menyia-nyiakan semua peluang yang ada. Biarkan mereka saling berperang, biarkan mereka saling membunuh, asalkan ... Kita yang menikmati hasilnya," ucapnya kembali menoleh ke arahku.


"Bagaimana jika Kerajaan yang menjadi pion kalian itu gagal?"


"Kau benar, karena Kerajaan yang kita kendalikan tak terlalu berkuasa, maka akan sangat sulit untuk mereka memenangkan peperangan. Akan tetapi, adik perempuanku, berada di pihak mereka..."


"Kami mengandalkanmu untuk memenangkan peperangan ini, Sa-chan," sambungnya, Haruki tersenyum sebelum kembali menatap lurus ke depan.