
Aku duduk dengan menatap api unggun yang ada di hadapanku itu, sesekali aku mengangkat tanganku ke arah api unggun tersebut, berusaha untuk mengusir hawa dingin yang menyelimuti. “Beristirahatlah di dalam tenda. Tubuhmu akan dipenuhi gigitan nyamuk, kalau terlalu lama di luar,” tukas suara Haruki yang terdengar dari arah belakang.
Aku masih menatapi api, enggan untuk menoleh, “gigitan nyamuk, akan cepat menghilang oleh sihir Kou. Lagi pun, berada di dekat api unggun membuatku lebih tenang,” ungkapku yang melipat kedua kaki, lalu memeluknya dengan kedua tanganku.
“Apa terjadi sesuatu? Ini, seperti bukan Sachi yang biasanya.”
Aku melirik ke arah Haruki yang telah duduk di sampingku, “entahlah, hanya saja di dalam kepalaku memiliki banyak sekali pemikiran yang saling berkecamuk,” tukasku sambil membuang kembali pandangan ke arah api.
“Nii-chan, menurutmu … Apa itu cinta?”
“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Hanya jawab saja, ini bukan waktunya untuk memiliki pemikiran yang terlalu dalam,” balasku dengan cepat menjawab perkataannya.
Haruki membuang tatapannya ke arah api unggun diikuti tangannya yang bergerak melempar beberapa buah ranting ke dalam api, “aku pun tidak tahu apa itu,” ungkapnya yang menoleh sebelum membuang kembali pandangannya ke api.
“Baiklah, jika seperti itu, aku akan mengganti pertanyaannya. Nii-chan, apa yang kau rasakan saat mengetahui kabar kehamilan dari Kak Luana dulu?”
“Apa kau harus mempertanyakan pertanyaan yang jawabannya sudah kau ketahui?”
“Lalu, pernahkah Haru-nii jujur dengan apa yang nii-chan rasakan?”
“Apa itu penting sekarang? Yang ada di dalam pikiranku sekarang hanyalah, bagaimana aku dapat memberikan tempat yang aman untuk anak kami sebelum dia lahir,”jawab Haruki sambil melemparkan beberapa buah ranting kembali ke arah api.
“Tapi bagaimana, jika kejujuran itu akan mengubah masa depan itu sendiri. Nii-chan, aku ingin kau bahagia … Jangan membohongi diri sendiri, nii-chan sendiri yang selalu mengatakan hal itu kepadaku, bukan?”
Pandangan Haruki yang sebelumnya menatapku, kembali beralih ke arah api, “kau benar. Aku sungguh penasaran, seperti apa kehidupanku di masa lalu. Saat aku menanyakan hal tersebut kepada Ryu ataupun Zeki, mereka selalu berusaha mencari banyak sekali alasan agar dapat mengalihkan pembicaraan. Menurutmu Sa-chan, apa yang terjadi kepadaku di kehidupan sebelumnya?”
Aku melirik membalas tatapannya, “entahlah. Aku pun, penasaran apa yang terjadi pada keluarga kita di kehidupan sebelumnya,” sahutku menimpali perkataannya.
___________.
Aku membuka kedua mataku dengan perlahan ketika tepukan yang menyentuh pipiku terasa beberapa kali. Aku mencoba beranjak duduk dengan kepalaku yang masih tertunduk oleh rasa pusing yang masih mendera, “ini sudah pagi. Kita akan melanjutkan kembali perjalanan,” kepalaku hanya mengangguk pelan menjawab perkataan Haruki yang terdengar.
“Kalian membawa kami ke mana?”
Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali dengan kuat, aku melakukan hal tersebut beberapa kali ketika suara laki-laki itu saling bersahut menyentuh telingaku. “Laki-laki sialan, yang tidak bisa menggunakan kepalanya! Maksudku, kalian bertiga … Apa kalian tidak bisa menutup mulut kalian di pagi hari?” tukasku geram sambil memicingkan mata ke arah mereka berlima yang telah berdiri di dekat Izumi.
“Siapa yang kau panggil sialan?”
“Sa-chan,” pandangan mataku langsung teralihkan kepada Haruki yang sudah berdiri dengan merangkul pundakku, “kakakmu ini membutuhkan bantuanmu untuk berkemas. Jadi, abaikan saja mereka,” ungkapnya, yang membuat kakiku mau tak mau berjalan mengikutinya di samping oleh dorongan yang ia lakukan di pundakku itu.
“Jika kalian melakukan kebodohan seperti kemarin, aku akan mencincang tubuh kalian … Lalu memberikannya kepada ular, atau mungkin buaya, atau mungkin ikan yang ada di sungai. Lakukan saja, kalau kalian ingin membuktikan perkataanku itu,” tukasku yang berusaha menoleh ke arah Pangeran tadi.
“Sudah, sudah. Perjalanan kita masihlah panjang,” ungkap Haruki, kepalaku kembali mengarah ke depan saat jari-jarinya mencengkeram kedua pipiku.
Haruki melepaskan rangkulannya sebelum dia berjalan mendekati tas yang disandarkan pada pohon. Aku pun turut berjalan dengan meraih tabung berisi anak panah dan busur milikku lalu meletakkan kedua benda tadi di pundak, “aku kesal sekali dengan mereka. Melihat wajah mereka saja, sudah membuat hatiku panas,” gerutuku, Haruki yang juga telah beranjak berdiri dengan menyilangkan busur panah miliknya itu hanya tersenyum kecil mendengar perkataanku.
“Adikku, perempuan yang pandai. Kebodohan mereka, tidak akan mengganggumu, bukan?”
Kedua mataku membesar tatkala Haruki mengatakannya dengan kembali tersenyum menatapku, “aku mengerti. Aku, akan berusaha untuk bisa lebih mengendalikan diri,” ungkapku diikuti helaan napas yang keluar.
“Kebodohan seseorang, jangan menjadi alasan untukmu kehilangan diri sendiri, Sa-chan. Hanya diam dan awasi setiap kebodohan mereka, kalau semua itu memang sudah tak bisa lagi dimaklumi … Kita bisa meninggalkan mereka secara diam-diam juga, karena mengusir mereka secara langsung. Tidak akan memberikan jaminan kepada kita, kalau mereka tidak akan mengikuti kita diam-diam dari belakang, yang di mana justru akan berbahaya untuk kita sendiri. Kau mengerti, apa yang kakakmu ini maksudkan, bukan?” bisik Haruki pelan sambil kurasakan telapak tangannya itu yang menyentuh pundak sebelum dia berjalan melewati.
“Nii-chan, apa kau yakin tidak ingin membawa tas besar ini?”
“Aku tidak akan membawa benda berat yang di mana akan membuatku lelah untuk sesuatu yang tak penting. Jika memang lapar, kita akan berburu untuk makan,” jawab Haruki, diikuti suaranya yang terdengar semakin terasa jauh melewati telinga.
Aku tertunduk dengan menggaruk pelan tengkuk, “Lux, di mana kau? Kita akan melanjutkan perjalanan,” tukasku sebelum kembali mendongakkan kepala.
Aku beberapa kali berkedip, menatap bayangan hitam kecil yang terbang mendekatiku dari salah satu pohon. “Lux, aku ingin menguncir rambutku. Jadi-”
“Aku paham, aku akan bersembunyi di dalam tas kecil yang kau bawa,” balas Lux pelan sebelum dia kembali terbang lalu menyelinap ke dalam tas kecil yang aku bawa.
Aku mengangkat kembali kepala, lalu menggerakkan kedua tanganku merapikan dan menguncir rambutku itu dengan pita yang sebelumnya melilit pergelangan tanganku. Tubuhku kembali berbalik, lalu berjalan ke arah mereka yang telah berkumpul. “Sebelum melanjutkan perjalanan, aku ingin kita saling memperkenalkan diri,” tukas Haruki ketika aku telah menghentikan langkah di sampingnya.
“Aku Haruki, dan dia Izumi, yang paling kecil di antara kami adalah Eneas. Sedangkan saudara perempuan kami ini, namanya Sachi.”
“Pangeran Vartan Joselito, Pangeran kedua dari Kerajaan Robson. Lalu Putri Alana Joselito, Putri kedua dari Kerajaan Robson. Terus, mereka berdua adalah kedua kakakku Gael dan Lucio.”
“Siapa yang memberikanmu izin untuk memperkenalkan kami?” tukas Pangeran yang bernama Vartan itu kepada Fabian.
“Jika dia tidak memperkenalkanmu, lalu aku harus memanggilmu apa? Apa kau tidak keberatan, kalau saja aku memanggilmu kepala kosong?” timpalku sambil tersenyum menatapnya.
“Kau!”
“Jaga sikapmu kepada Adikku! Kami menolong kalian, hanya karena dia yang memintanya. Jadi jangan berharap kami akan menolong kalian kembali, kalau kalian sampai membuatnya kesal. Seharusnya, kalian berterima kasih kepada adik perempuan kami ini,” tukas Haruki, aku menoleh ke arahnya yang menyilangkan kedua lengannya menatap sinis ke arah mereka berlima.