Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXXXV


Aku berjalan mendekati rusa tadi lalu menghentikan langkah di hadapannya, “apa yang kau maksudkan? Jelaskan padaku, apa yang kau maksudkan itu?” tanyaku dengan tetap menatap ke arahnya.


“Aku, tidak bisa menjelaskannya secara rinci. Tanyakan saja hal itu langsung kepada mereka,” tukasnya berbalik lalu berjalan menjauh, lebih tepatnya mendekati rusa kecil yang menghentikan langkah tidak terlalu jauh dari kami.


Aku kembali menggerakkan kaki mengikutinya, namun … Langkah kakiku tiba-tiba berhenti. Kuarahkan mataku melirik ke bawah, kedua mataku membelalak saat tumbuhan menjalar penuh duri telah melilit kakiku itu. “Apa kau yang melakukan ini?!” Aku menggigit kuat bibirku ketika lilitan tanaman tadi semakin menjerat, hingga duri-durinya semakin terbenam di kakiku.


Aku jatuh terduduk saat kedua kakiku itu, tiba-tiba mati rasa. Aku menggerakkan tanganku, meraba tanah yang ada di sekitarku, tumbuhan merambat yang melilit kakiku tadi … Telah menghilang entah ke mana. “Apa yang sebenarnya kau inginkan?!” Aku meninggikan suaraku menatapnya yang telah menoleh kembali ke arahku.


Aku sedikit tersentak saat kurasakan rasa lembab yang menyentuh luka-luka di kakiku. Dengan perlahan, aku melirik ke arah anak rusa tadi yang tengah menjilati luka-lukaku tadi. Dan yang lebih membuatku terkejut … Luka-luka yang ada di kakiku, perlahan menghilang seiringnya jilatan yang ia lakukan.


“Kau, sama seperti Ibumu. Naga tersebut, tidak akan bisa menyembuhkanmu, tanpa sihir yang dirimu miliki sendiri. Buatlah kontrak dengannya,” ucap rusa bernama Zea tadi dengan melirik ke arah rusa kecil yang masih menatap di ujung kakiku itu. “Jika kau melakukannya, kau akan bisa mengambil luka atau kutukan orang lain. Lalu, selamatkan Tuanku dari kutukan yang memenuhi dirinya,” ungkapnya, aku sedikit meneguk air ludahku sendiri saat bola matanya yang semula berwarna hijau berubah menjadi hitam.


“Aku menunggu belasan tahun sampai rusa milik anaknya lahir. Aku, menginginkanmu menyelamatkan Tuanku itu.”


“Kutukan? Apa itu-”


“Kau benar. Cepatlah! Rusa selanjutnya akan segera lahir, kita tidak memiliki banyak waktu sebelum gerbang ke dunia mereka terbuka,” ungkapnya yang dengan cepat memotong perkataanku.


"Apa yang harus aku lakukan?" Aku mengangkat sedikit wajahku menatapnya.


"Beri dia minum dengan air ludahmu, lalu berikan nama untuknya."


Zea mengeluarkan suara layaknya dengkuran atau ringkikan, entahlah ... Ke arah rusa kecil yang masih berdiam diri itu. Aku mengangkat kedua tanganku ke arahnya, barulah anak rusa itu berjalan mendekatiku.


Aku beranjak sedikit berjongkok di hadapan rusa kecil tadi, dia masih menatapku dengan bola matanya yang hijau terang layaknya daun segar yang dijatuhi sinar matahari. Aku mengangkat telapak tanganku mendekati wajahnya sembari kugerakkan mulutku yang terkatup itu, berusaha untuk mengumpulkan air ludah sebisa yang aku lakukan.


Seperti mengerti apa yang akan aku lakukan, rusa kecil tadi membuka mulutnya saat dia sedikit mendongakkan kepalanya ke atas. Aku membuka sedikit mulutku lalu menjatuhkan air ludah yang telah aku kumpulkan tadi ke dalam mulutnya. "Airen, aku memberikanmu nama, Airen."


Aku sedikit bergerak mundur ke belakang, dengan perlahan ... Tubuh rusa kecil tadi berubah warna menjadi keemasan. Tanduknya yang sebelumnya berwarna cokelat layaknya tanduk seperti rusa biasa, kini ikut berubah menjadi keemasan seperti tubuhnya diikuti bunga-bunga kecil yang tumbuh menghiasi tanduknya tadi.


"Airen?"


"Airen, yang berartikan udara sejuk. Aku menilai kehadiran kalian seperti udara sejuk dari semua kegundahan yang aku rasakan," ungkapku menjawab perkataan Zea dengan tetap melirik ke arah rusa kecil yang kuberi nama Airen itu.


"Aku mengerti."


"Cepat ikuti aku! Sebelum semuanya terlambat," ucapnya lagi dengan kembali melanjutkan langkahnya.


"Dia akan baik-baik saja. Kalian telah melakukan kontrak, itu sudah lebih dari cukup untuknya," ungkap Zea dengan tetap mengarahkan tatapannya ke depan.


Kami berhenti di sebuah pohon besar dengan daun bermacam-macam warna yang tumbuh menghiasi pohon itu. Aku tertegun saat pandangan mataku terjatuh ke arah sebuah bunga besar yang tumbuh di bawah pohon tadi.


Helai demi helai kelopak bunga tersebut jatuh ke tanah. Lama aku menatap bunga itu, yang entah kenapa ... Semakin lama dipandang, dia seperti mengikis dirinya sendiri.


Wangi menyeruak, memenuhi udara secara tiba-tiba. Aku terangkat menatap ke arah Zea yang telah berdiri membelakangi hingga aku tak bisa melihat bunga itu lagi karena tubuhnya benar-benar menutup seluruh pandangan.


"Manusia atau makhluk lain selain kami yang melihatnya cahaya, akan kehilangan matanya. Matanya, tidak akan bisa ia gunakan untuk melihat kembali," ungkapnya kembali tanpa sedikit pun menoleh.


Aku terhenyak beberapa saat ketika Zea telah berjalan menjauh dari pandangan. Bunga yang sebelumnya aku lihat, tergantikan dengan seekor rusa kecil yang kedua matanya tak berhenti berkedip ke arah kami.


Rusa tersebut berbalik, dia melangkahkan kakinya ke sebuah cahaya yang entah sejak kapan telah muncul di tengah-tengah pohon itu. "Cepat susul dia, sebelum cahaya itu menghilang. Kau harus menyusulnya!"


"Cepatlah!" bentaknya sekali lagi hingga membuat kepalaku terasa berdenyut olehnya.


Tanpa banyak membuang waktu, aku segera membuang pandanganku darinya. Kedua kakiku kugerakkan dengan sangat cepat, berlari menyusul anak rusa yang telah semakin terlihat tenggelam dalam cahaya di pohon itu.


Aku menutup kedua mataku, langkah kakiku terhenti seketika saat sebuah sinar tiba-tiba menampar tubuhku begitu saja. Dengan perlahan, kubuka kembali kedua mataku ... Saat embusan angin tiba-tiba menyisir pelan rambutku yang tak sempat aku rapikan.


Aku tidak tahu, ini di mana.


Yang aku lihat sekarang, hanyalah sebuah padang rumput luas dengan banyak sekali rusa yang berjalan di sekitar. Kedua kakiku kembali melangkah mengikuti anak rusa tadi saat dia telah lagi-lagi melanjutkan langkahnya.


Nyaliku menciut ... Seiring aku melangkah, seiring itu juga, satu per satu rusa itu menoleh, lalu melirik tajam ke arahku. "Sebenarnya, aku sekarang ada di mana?" bisikku lirih sambil berusaha untuk menenangkan diri.


Angin berembus ... Memang benar, angin tak henti-hentinya berembus menyentuh tubuh. Tapi bukan rasa sejuk yang aku rasakan, melainkan rasa sesak yang semakin sulit untuk dilepaskan.


Tubuhku tiba-tiba terpelanting ke depan, berguling-guling di tanah sebelum membentur salah satu kaki rusa yang berdiri. Aku mencoba beranjak berdiri dengan telapak tangan menekan punggungku sendiri saat pukulan keras yang menyentuh punggungku itu masih sangatlah kuat terasa.


Aku terpaku, kepalaku yang tertunduk menatap bayangan hitam yang tengah berjalan mendekat. Tubuhku gemetar, keringatku ikut mengucur deras bahkan rasa sakit di punggung yang sebelumnya sempat aku rasakan, telah menghilang terbawa suasana.


"Siapa kau?" tanyaku menggunakan bahasa Latin, saat pandanganku terjatuh kepada seekor rusa besar, yang tubuhnya terlihat ... Dua atau tiga kali lipat, dari rusa yang ada di sini.