Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXVIII


"Lintang! Dirga! Aku menyerahkan semuanya kepada kalian berdua!" ucap Raja Bagaskara kembali.


"Laksanakan Yang Mulia," sambung dua laki-laki yang ada di sampingnya bergantian.


"Ayah, aku juga akan ikut turun dalam pertempuran," ungkap Adinata menatap Raja Bagaskara.


"A-akupun," sambung Danurdara melakukan hal yang sama.


"Baiklah, aku mengerti. Pangeran Takaoka Haruki, apa kau dapat menemaniku... Kedua anakku akan turun dalam pertempuran, setidaknya bantu aku untuk meringankan rasa kekhawatiran seorang Ayah," ucapnya, dialihkannya pandangan matanya ke arah Haruki.


"Dengan senang hati," ucap Haruki membalas perkataannya.


"Izumi!"


"Aku mengerti, serahkan dia padaku," sambung Izumi menimpali perkataan Haruki.


Kualihkan pandanganku pada dua laki-laki tadi, melangkah mereka berdua melewati. Kutatap Adinata dan juga Danurdara yang juga berbalik mengikuti langkah mereka...


Tubuhku tertegun saat kurasakan sesuatu menyentuh lenganku, menoleh aku ke arah Izumi yang telah berdiri di samping. Berbalik aku mengikuti langkah kakinya yang berjalan di depanku...


"Sachi!" teriak Julissa, menoleh aku menatapnya yang berdiri dengan kedua telapak tangan digenggamnya di depan.


"Berhati-hatilah," sambungnya kembali, mengangguk aku membalas perkataannya.


Kembali kuarahkan kepalaku ke depan, langkah kakiku bergerak melewati pintu yang telah terbuka itu. Tubuhku terhentak pelan saat kurasakan sesuatu menyentuh punggungku, menoleh aku ke arah Zeki yang telah berjalan di samping kananku...


"Kau ingin kemana?"


"Apa kau pikir, aku akan membiarkanmu terjun dalam pertempuran sendirian?"


"Putri, aku dengan senang hati akan meminjamkan pasukanku untukmu," ikut terdengar suara Aydin, menoleh aku ke arahnya yang juga telah berjalan di samping kiri tubuhku.


"Kau--"


Perkataanku pada Aydin terhenti, kurasakan tarikan di lenganku yang dilakukan oleh Zeki ke samping kanan tubuhnya seraya bergerak ia berdiri di tengah-tengah aku dan Aydin.


"Kau tidak perlu susah-susah untuk membantu tunanganku," ucap Zeki melangkahkan kakinya, ditatapnya Aydin yang juga berjalan di sampingnya.


"Tunangan? tapi kami para perompak tidak mengenal istilah tunangan. Jadi..."


"Tutup mulutmu! Atau aku tidak akan segan-segan merobeknya saat ini juga," ucap Zeki memotong perkataan Aydin.


"Laki-laki yang dibela perempuan untuk menyelesaikan masalahnya pada perempuan lain berbicara seperti itu padaku. Lucu sekali."


"Sachi, Kemarilah!" teriak Izumi, kulepaskan genggaman tangan Zeki di lenganku seraya berlari aku mengejar Izumi.


"Ada apa nii-chan?" ucapku berjalan di sampingnya seraya kutatap dia yang masih mengarahkan pandangannya ke depan.


"Aku mengerti, aku hanya akan membantu menyusun strategi. Jadi pastikan kau harus melakukan semua arahanku dengan baik nantinya nii-chan," ungkapku seraya kuarahkan lenganku merangkul lengannya.


"Bagaimana pipimu?" ucapnya seraya mengarahkan telapak tangannya yang lain menyentuh pipiku.


"Aku baik-baik saja," sambungku tersenyum menatapnya.


"Kalian berdua berhenti merepotkan Adikku! Atau kembali, jangan ikuti kami!" teriak Izumi seraya menghentikan langkahnya, diarahkannya kepalanya menoleh ke belakang.


Ikut menoleh aku mengikuti Izumi, tampak terlihat Zeki dan Aydin saling menarik kerah pakaian masing-masing dengan telapak tangan digenggam ke atas. Kutatap mereka yang juga menoleh ke arah kami, diturunkannya genggaman tangannya tadi oleh Zeki seraya dilepaskannya genggaman tangannya di kerah pakaian Aydin...


Melangkah Zeki berjalan mendekati kami, diikuti Aydin yang juga ikut berjalan di belakangnya. Kurasakan tarikan pelan di tanganku, berbalik dan kembali melangkah aku mengikuti langkah Adinata dan Danurdara yang kian menjauh.


Langkah kaki kami terhenti di sebuah lapangan luas dengan banyaknya laki-laki yang berdiri berbaris rapi di hadapan kami. Perpaduan warna merah dan hitam pada baju zirah yang mereka kenakan seakan menyegarkan pandanganku...


Seorang laki-laki yang berdiri di samping Raja Bagaskara sebelumnya terlihat maju beberapa langkah mendekati barisan para manusia yang ada di hadapan kami. Berteriak ia dengan lancang, kerumunan yang sedikit riuh tadi langsung diam menghening seketika.


Berbalik dan menoleh laki-laki tadi ke arah kami, membungkukkan tubuh ia ke arah kami seraya sebelah telapak tangannya diarahkannya ke arah kumpulan Kesatria yang berbaris rapi di hadapan.


Melirik aku ke arah Adinata yang maju beberapa langkah, para Kesatria tadi merubah raut wajah mereka dari sebelumnya. Tubuh mereka berdiri semakin tegap, tak ada suara sedikitpun yang keluar... Semuanya menghening.


"Aku mendapat kabar jika ribuan pasukan musuh tengah menuju ke Kerajaan kita, dan Ayahku sendiri, Raja Bagaskara Pangestu... Memerintahkan kita semua untuk bersiap-siap perang menghadapi mereka. Apa kalian ketakutan?!" teriak Adinata dengan suara lantang.


"Tidak, Yang Mulia."


"Apa kalian ingin mereka menghancurkan Kerajaan kita?!"


"Tidak, Yang Mulia," para Kesatria tadi kembali berteriak serempak.


"Kalau kalian tidak menginginkannya, angkat pedang kalian! Angkat panah kalian! Kita akan menghancurkan mereka sebelum mereka menginjakkan kaki di Kerajaan kita!"


Teriakan Adinata menyulut teriakan riuh dari para Kesatria nya, kugenggam lenganku yang merinding karenanya. Menoleh Adinata kembali ke arah kami seraya dilambaikannya telapak tangannya ke arahku.


Kurasakan tepukan pelan di punggungku, menoleh aku ke arah Izumi yang juga menatapku seraya digerakkannya kepalanya sedikit seakan memintaku untuk memenuhi lambaian tangan yang dilakukan Adinata sebelumnya.


Kualihkan pandanganku kembali ke arah Adinata seraya berjalan aku mendekatinya, langkah kakiku terhenti tepat di sampingnya. Tidak seperti di Paloma dahulu... Sekarang, aku sudah bisa sedikit mengontrol diri di hadapan banyaknya Kesatria yang ada.


"Putri Takaoka Sachi, temanku sekaligus otak dari semua serangan yang akan kita lakukan..."


"Sesuai perintah langsung dari Raja, dialah yang akan memimpin kita semua, termasuk Aku. Jadi, ikuti semua perintahnya, apapun yang ia katakan, wajib kalian ikuti. Apa kalian mengerti?!" teriak Adinata, seraya kurasakan sentuhan di punggungku. Kualihkan pandanganku ke arah para Kesatria yang masih diam membisu tanpa suara...


"Apa kalian mengerti?!" Adinata kembali berteriak, kali ini lebih lantang dari sebelumnya.


"Kami mengerti, Yang Mulia," teriakan balasan dari para Kesatria memekakkan telinga, kutarik napasku sedalam-dalamnya seraya kuembuskan kembali perlahan sembari kembali kutatap mereka yang juga balas menatapku bersamaan.