
Aku menoleh ke belakang saat suara langkah terdengar, “Ryu, bagaimana dengan Lux?”
Ryuzaki melirik ke arah pundaknya, “dia baik-baik saja. Dia mengatakan ingin merasakan sihir Robur Spei lebih lama, karena itu … Dia ikut bersamaku,” ucapnya saat kuda miliknya itu berhenti di dekat kami.
“Ryu,” ungkapku dengan melemparkan pandangan kembali ke arah laut, “jika nanti kita meninggalkan tempat ini, lalu kita sampai ke tempat yang baru … Tekan sihirmu agar sulit untuk dirasakan, karena … Kadang, ada beberapa manusia yang juga bisa merasakan sihir. Aku, tidak ingin adikku berada dalam bahaya sepanjang perjalanan,” sambungku kembali sambil menatapnya lagi.
Ryuzaki terdiam sebelum dia menganggukkan kepalanya, “aku mengerti. Aku, akan melakukan apa yang kau perintahkan, Kakak,” jawabnya yang membalas tatapanku.
“Sepertinya, sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan,” sahut Eneas, aku melirik ke arahnya yang telah menunjuk ke arah Haruki dan Izumi yang berkuda mendekati.
“Bagaimana, nii-chan?” tanyaku ketika kuda mereka berdua berhenti di depan kami.
“Aku telah bertemu dengannya-”
“Dengannya?” timpalku memotong perkataan Haruki.
“Dia yang aku bayar untuk menyelidiki tempat ini. Dia mengatakan, kapal yang akan kita tumpangi datang ketika tengah malam nanti. Aku telah menyiapkan tempat untuk kita menginap, jadi … Ryu, jangan menunjukkan telingamu sedikit pun ke dunia luar, untuk Lux, tetaplah bersembunyi. Baik Izumi dan juga Sachi, hati-hati dengan pandangan kalian, kalian harus ingat jika mata kalian itu berbeda dari kebanyakan manusia. Apa kalian mengerti?!”
“Kami mengerti,” tukas suara Izumi dan juga Ryuzaki bergantian terdengar.
Aku tertunduk dengan menarik penutup kepala jubahku semakin ke depan. “Bagaimana denganmu, Sa-chan?”
Kuangkat kembali kepalaku yang sebelumnya tertunduk, “aku sangat mengerti, nii-chan,” jawabku seraya mengarahkan pandangan kembali padanya.
“Baguslah jika kalian telah mengerti.Sekarang, Ikuti aku!”
Kuda milik Haruki berbalik lalu berjalan membelakangi kami, aku turut menggerakkan kudaku berjalan di belakang Ryuzaki dan juga Eneas hingga kami semua bertemu dengan seorang laki-laki muda berkulit sawo matang dengan mata biru tengah berdiri, berbincang dengan Haruki, “dia, orang yang aku maksudkan. Dia juga, yang sempat melarangku untuk mengunjungi Ardenis, karena rumor mengenai hutan kabut itu.”
Laki-laki itu membungkukkan tubuhnya ke arah kami setelah Haruki memperkenalkannya, “perkenalkan, Kacper. Aku telah mengabdikan diri untuk Tuan sudah sejak lama,” ucapnya saat dia kembali mengangkat pandangannya.
“Aku membebaskan dia dulu dari perbudakan saat aku mengunjungi perbatasan Sora,” timpal Haruki kepada perkataan laki-laki tadi, “Kacper, kami butuh tempat untuk menginap!” lanjut Haruki lagi kepadanya.
Kacper menganggukkan kepalanya lalu berbalik membelakangi kami semua, “Ikuti aku, Tuan. Walau rumahnya tidaklah terlalu bagus, aku berharap Tuan dan yang lainnya dapat beristirahat nyaman di sana,” ungkapnya seraya melangkahkan kakinya berjalan meninggalkan kami.
Dia terus berjalan hingga membawa kami ke sebuah perkampungan, bau amis menyeruak ketika kami berjalan menyusuri perkampungan itu … Terkadang, aku melihat barisan tong kayu di samping rumah penduduk, dan sesekali juga, dari dalam tong tersebut ikan meloncat, keluar dari dalam sana.
Apa ini kampung nelayan?
Aku tidak bisa membayangkan jika Kou melihat langsung ikan tersebut,
Aku melirik ke samping saat kurasakan tepukan menyentuh punggung. Aku menganggukkan kepala sebelum menggerakkan langkah kudaku kembali. Kami terus berkuda hingga langkah kuda kami berhenti di sebuah rumah kayu dengan sebuah jejeran ikan yang dijemur di atas meja kayu yang ada di samping rumah.
“Silakan masuk, Tuan. Maaf, jika rumahku terlalu kecil untuk kalian,” ungkapnya sambil membukakan pintu rumah tersebut.
“Ini sudah lebih dari cukup, terima kasih,” tukas Haruki, dia turun dari atas kudanya, lalu menarik dan mengikat kuda tersebut di kayu yang ada di samping rumah.
Aku pun bergerak turun dari kuda, kuberikan tali kekang kudaku itu kepada Izumi yang mengangkat telapak tangannya ke arahku. Langkahku bergerak mendekati Haruki diikuti pandangan mataku yang masih mengawasi beberapa penduduk yang tengah mengangkat satu per satu tong kayu ke atas gerobak.
“Aku tidak melihat seorang perempuan pun di sini,” ucapku sambil menatap ke arah Kacper yang seakan tertegun melihat ke arahku.
“Perempuan, memang tidak diperbolehkan tinggal di sini. Di sini, semua nelayan hanya memikirkan ikan apa yang akan mereka tangkap besok. Tapi itu bukan berarti, perempuan tidak ada di sekitar sini … Mereka ada, tinggal di desa sebelah yang memang hanya diperuntukkan untuk laki-laki di sini yang ingin mencari kehangatan wanita. Jadi, tidak heran jika ada ayah dan anak yang tidak saling mengenal ketika bertemu.”
“Bagaimana dengan pertunangan mereka?”
“Pertunangan?” jawabnya terhenti seakan sedang memikirkan sesuatu, “perempuan yang kau miliki akan menjadi perempuan yang dimiliki seluruh penduduk desa. Jadi jika salah satu di antara mereka bertunangan, mereka akan membawa perempuan itu untuk tinggal di desa sebelah,” sambungnya menjawab perkataanku.
“Apa mereka-”
“Sa-chan, kendalikan dirimu dan ingatlah sekarang kita berada di mana,” ungkap Haruki menghentikan perkataanku.
Aku mengepalkan kedua tanganku dengan sangat kuat, kutari napas sedalam mungkin lalu kuembuskan napasku itu kembali sebelum kakiku mengikuti langkah Haruki yang telah masuk ke dalam rumah. “Aku kesal sekali setelah mendengarnya,” gerutuku sambil duduk beralaskan tikar yang ada di dalam rumah.
Tubuhku bersandar di dinding diikuti kedua mataku melirik ke sekitar, “nii-chan, kau membayarnya, bukan? Apa uangmu itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya?” bisikku yang langsung dibalas oleh cengkeraman jari Haruki di kedua pipiku.
Aku mengangkat kepalaku saat suara tawa laki-laki terdengar, “bayaran Tuan sangatlah cukup, bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan kami,” tukas Kacper, dia duduk dengan meletakkan nampan berisi beberapa cangkir di hadapan kami.
“Aku dulu menjadi budak dengan seorang anak perempuan yang sekarang telah menjadi Isteriku. Sekarang Isteri dan anakku tinggal aman di pusat kota Kerajaan, setiap satu bulan sekali aku akan mengunjungi mereka … Aku tinggal di sini, karena ingin membalas kebaikan Tuan, karena setiap informasi dari mana pun akan langsung cepat menyebar jika kau berada di tempat di mana beberapa orang dari tempat yang berbeda bertemu,” ucapnya sembari meletakkan nampan yang ia pegang itu ke samping.
“Jadi Kakak, katakan saja … Apa yang harus kami lakukan di sini?” Aku menoleh ke arah Izumi yang juga duduk bersandar di sampingku.
“Aku akan lebih mempercayai jika kau langsung mengatakan tujuan kita mengunjungi tempat ini, dibanding menggunakan kapal yang akan datang tengah malam nanti sebagai alasan,” sambung Izumi lagi seraya dia meraih cangkir yang ada di dalam nampan.
“Kenapa tidak mencoba bertanya langsung hal itu kepada Ryu,” sahut Haruki, dia ikut mengangkat tangannya meraih cangkir lainnya yang tersedia di dalam nampan.