Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXX


"Kau yakin baik-baik saja?" terdengar suara Izumi dari arah belakangku.


"Apa aku terlihat tidak baik-baik saja sekarang?" tukasku, kembali kulipat pakaian-pakaian Eneas ke dalam tas kulit berwarna hitam miliknya.


"Kita akan mengunjungi wilayah tempat tinggal Viscount Okan, dan akan memakan waktu beberapa hari. Apa kau yakin akan baik-baik saja?" tanya Izumi lagi kepadaku.


"Tidak terjadi apapun padaku, kalian terlalu mengkhawatirkannya," ucapku seraya beranjak menuruni ranjang.


"Eneas, tasmu," ucapku lagi sembari melirik ke arahnya yang tengah mendiskusikan sesuatu bersama Lux dan juga Haruki. Menoleh ia ke arahku seraya diraih dan dikenakannya tas hitam tersebut menyilang di pundaknya.


"Terima kasih nee-chan," ungkapnya tersenyum menatapku, kutepuk pelan kepalanya seraya berbalik mengambil tasku sendiri yang tergeletak di atas kursi lalu mengenakannya menyilang di pundakku.


Kuraih jubah berwarna hijau yang aku letakkan di pinggir ranjang seraya kukenakan jubah tersebut membungkus tubuhku, kualihkan pandanganku pada Lux yang terbang lalu berhenti di pundakku. Kugerakkan telapak tanganku ke belakang seraya meraih penutup kepala jubah tersebut lalu meletakkannya menutupi seluruh wajahku...


"Apa kalian semua telah selesai bersiap?" tanya Haruki kepada kami, kubalas perkataannya tadi dengan anggukan kepala dariku.


Haruki membuka pintu kamar lalu berjalan melewatinya, ikut aku melangkahkan kaki menyusulnya dengan Eneas yang berjalan di hadapanku dan Izumi sendiri di belakangku


Langkah kaki kami bergerak menyusuri lorong bangunan, berhenti kami semua di depan kuda-kuda kami yang masih terikat di pinggir bangunan tempat kami menginap. Berjalan aku seraya meraih tali kekang yang terikat di sebuah tonggak kayu yang tertanam di tanah...


Kubuka ikatan tali kekang pada tonggak kayu tersebut sembari kugerakkan kembali kakiku menaiki kuda berwarna putih milikku itu. Kuarahkan kuda tersebut berbalik dan berjalan pelan di belakang kuda yang ditunggangi kedua kakakku.


Ikut kuhentikan langkah kaki kuda yang aku tunggangi mengikuti langkah kaki kuda dari mereka berdua. Kuarahkan pandanganku pada beberapa orang Kesatria yang tampak mengangkut beberapa kotak kayu ke dalam kereta.


Kuarahkan pandanganku ke sebelah kanan, tampak terlihat Viscount Okan tengah berjalan berdampingan bersama Pangeran Khang Hayyu dengan Putri Khang Hue yang ikut berjalan di belakang mereka dengan Zeki yang berada di sampingnya.


"Sakit," ucapku tanpa sadar, kurasakan cubitan kuat yang mengena di leherku.


"Haruki memintaku untuk menyadarkanmu, jangan sampai kau kehilangan fokus seperti kemarin," bisik Lux di samping telingaku.


"Aku mengerti, tapi jangan melakukannya secara tiba-tiba. Bagaimana jika aku tak sengaja menepuk tubuhmu," ucapku pelan membalas perkataannya.


"Apa kau pikir, aku mau berada di sampingmu saat ini. Dada kecilku terasa sesak sekali," gerutu Lux pelan, ikut kurasakan tarikan pelan di telingaku.


Kualihkan pandanganku dari mereka seraya kugerakkan kuda yang aku tunggangi mendekati Izumi, kubuang pandanganku ke samping sembari menatap pepohonan yang ada di hadapanku.


Tubuhku kembali terhentak waktu kurasakan sesuatu menyentuh punggungku, kualihkan pandanganku pada Izumi yang masih menatap lurus ke depan. Digerakkannya kuda yang ia tunggangi berjalan mengikuti langkah kaki kuda yang ada di hadapannya...


Ikut kugerakkan kuda yang aku tunggangi mengikuti mereka. Pandangan mataku teralihkan pada Putri Khang Hue yang duduk tertunduk dengan wajah memerah di belakang Zeki, tampak juga terlihat telapak tangan kirinya menggenggam lemah pakaian yang dikenakan Zeki saat itu...


Kutundukkan kepalaku menatapi leher kuda milikku seraya kugenggam kuat tali kekang yang mengikatnya. Kugigit dengan sangat kuat bibirku yang gemetar...


"Kau peduli pada laki-laki itu bukan? tidak, kau..."


"Apa maksudmu Lux?" bisikku pelan padanya.


"Sudah kukatakan bukan? jangan membohongi diri sendiri, aku peri dan aku bisa merasakan emosi manusia. Apa yang kau rasakan, akupun dapat merasakannya," balasnya berbisik padaku.


"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."


"Jika kau jujur pada perasaan yang kau rasakan, kau akan mengerti apa yang aku katakan," balasnya lagi berbisik.


Kuarahkan pandanganku ke atas tanpa menjawab perkataan yang Lux lontarkan padaku. Lama kutatap awan tipis yang menyelam di birunya langit...


"Kau seorang perempuan?" terdengar suara perempuan berbicara di telingaku.


Kualihkan pandanganku pada sumber suara, tampak terlihat Putri Khang Hue menatapku. Dengan cepat kutundukkan dan kututup kembali kepalaku menggunakan penutup kepala yang tanpa sadar terjatuh di kepalaku...


"Kalian mengatakan jika wajah kalian semua hancur terbakar, tapi dia sangatlah cantik," ucapnya lagi kepada kami, kuarahkan pandanganku ke depan menatapi mereka semua yang berbalik menatapku.


"Dia laki-laki berwajah perempuan, karena kecantikan yang ia miliki dia sering diperlakukan dengan tidak menyenangkan oleh orang-orang di sekitarnya. Karena itu, sampai sekarang dia menutupi wajahnya," tukas Izumi kepada mereka.


"Jadi bisakah kalian mengabaikannya," ungkap Izumi lagi dengan suara bergetar.


Kuda-kuda yang ada di hadapanku kembali melangkahkan kakinya, berkali-kali kutarik dan kubuang kembali napasku yang terasa memburu sebelumnya.


Menatap aku ke arah Putri Khang Hue yang juga masih menatapku, kembali kutundukkan kepalaku menghindari tatapan darinya. Kuangkat telapak tangan kananku seraya kugerakkan memukul-mukul dadaku yang terasa sesak sedari tadi...


"Lux," bisikku pelan padanya.


"Ada apa? Kau ingin meminta maaf atas kecerobohan yang kau buat tadi?"


"Tidak, bukan itu yang ingin aku katakan."


"Lalu?" balasnya berbisik.


"Kau berkata padaku bukan? Jika aku jujur pada perasaanku aku akan mengerti akan semuanya..."


"Akan tetapi, jika kau dihadapkan pada suatu pilihan antara...Nyawa orang yang kau sayangi atau kebahagiaan dirimu sendiri..."


"Yang mana yang akan kau pilih?" bisikku dengan suara bergetar padanya.