
Izumi menghentikan laju kuda yang kami tunggangi, semakin kuat pelukanku saat kuda tersebut mengangkat kedua kaki depannya. Izumi menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, sinar bulan yang menembus dedaunan sedikit membantuku melihat dalam kegelapan.
"Sachi, turun dari kuda sekarang juga!" Bisik Izumi pelan padaku.
Tanpa banyak bertanya, kuikuti perintahnya turun dari atas kuda. Tubuhku terjatuh ke belakang, kutepuk-tepuk pundak Izumi yang menindih tubuhku. Izumi menggerakkan tubuhnya sedikit beranjak seraya kedua bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti tengah mencari sesuatu.
"Nii-chan, kau berat sekali," bisikku kembali memukul pelan lengan kanannya.
"Diam! Jangan mengatakan apapun! Apa kau tak tahu, panah tadi hampir menembus kepalamu," bisiknya kembali di telingaku.
Panah? Kapan? Aku tak melihat apapun.
"Merangkak lah perlahan, kita akan segera pergi dari sini," bisik Izumi kembali, tubuhku sedikit beranjak saat tangan kananku tertarik pelan ke depan.
Kugerakkan tubuhku berbalik merangkak mengikuti suara gesekan rumput yang ada di hadapanku. Berkali-kali kugigit kuat bibirku tatkala telapak tanganku tak sengaja menyentuh berbagai... Aku tidak tahu, mungkin batu yang tersebar sepanjang jalan.
"Sachi," ucap Izumi dengan sangat pelan.
"Ada apa nii-chan?"
"Saat hitungan ketiga, aku memerintahkan mu untuk langsung berlari lurus ke depan," ucapnya, kubalas tatapan matanya yang bersinar menatapku itu.
"Bagaimana denganmu nii-chan?
"Aku akan menyerang mereka yang bersembunyi secara diam-diam," sambungnya kembali berbicara pelan padaku.
"Kau ingin aku menjadi umpan untuk mengalihkan perhatian mereka?"
"Aku akan memastikan, tak ada bahaya sedikit pun yang akan mendekat padamu," bisiknya kembali padaku.
"Aku tidak mempermasalahkannya, nii-chan. Pastikan, habisi mereka semua sebelum napasku habis karena berlari," ucapku seraya kugerakkan tubuhku beranjak berjongkok di sampingnya.
"Aku mengerti. Larilah!" Ungkapnya sembari kurasakan tepukan pelan di punggungku.
Kugerakkan tubuhku beranjak berlari sekuat mungkin meninggalkan Izumi. Kepalaku terasa enggan berbalik ke belakang, mataku hanya tertuju menatap ke depan dan ke depan menembus sedikit cahaya yang dihasilkan bulan.
Langkah kakiku berhenti tiba-tiba, kugerakkan kepalaku menatap anak panah yang telah tertancap pada pohon yang ada di sampingku. Napasku bergerak semakin tak beraturan, keringat kembali mengalir membasahi telapak tanganku.
"Sachi, menunduk!" Teriak Lux dari samping telingaku.
Kuikuti teriakan Lux, tubuhku sedikit terhentak saat terdengar sebuah benda menabrak pohon yang ada di sampingku. Panah yang semula hanya satu tertancap, kini bertambah jumlahnya menjadi dua.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tubuhku kecil, aku sedikit bisa mendengar suara sekecil apapun. Lupakan itu terlebih dahulu, cepatlah lari kembali," ucapnya, kugerakkan kepalaku menatapi arah anak panah tadi muncul, perasaanku sedikit lega saat mata abu-abu milik Izumi menatapku dari kejauhan.
Kembali kugerakkan tubuhku berlari, semakin cepat dan semakin cepat tanpa mempedulikan napasku lagi. Kugerakkan tubuhku berbelok ke kiri, sesekali kuarahkan pandanganku ke belakang menatapi dua obor menyala yang berusaha mengejarku.
Langkah kakiku semakin cepat berlari, kuarahkan telapak kakiku menghentak kuat tanah seraya melompat aku berusaha meraih cabang pohon yang ada di hadapanku. Kugerakkan kembali tanganku semakin kuat memeluk dahan pohon tersebut, sembari kuangkat dan kuayunkan kakiku agar mencapai dahan pohon tadi.
Aku duduk bersembunyi di atas dahan pohon tadi, tatapan mataku masih terpaku menatap dua api obor yang semakin berjalan mendekat. Kugerakkan telapak tanganku meraih pisau yang terselip di kaki kananku, panah dan pedangku tertinggal di Kastil... Aku benar-benar bodoh, karena bersikap terlalu santai.
"Kemana dia?" Ucap salah satu laki-laki menghentikan langkahnya, wajahnya yang terbias sinar obor tampak sedikit jelas terlihat.
"Aku akan mencarinya ke kanan, lalu kau ke kiri. Jika menemukannya, langsung bunuh saja seperti yang diperintahkan oleh Tuan," ungkap laki-laki lainnya seraya berbalik ke kanan meninggalkan temannya.
Masih kutatap laki-laki yang satunya, dia masih berdiri diam tak bergeming. Lama dia berdiri tertunduk, mataku teralihkan pada obor di tangannya yang tiba-tiba terjatuh ke tanah.
Api yang mengalir dari obor tersebut, merambat membakar daun-daun yang mengelilinginya. Tubuh laki-laki tadi tiba-tiba terjatuh ke depan, diam tak bergerak seperti saat dia berdiri tadi.
"Apa yang kau lakukan? Cepatlah lari!" Ucap Lux yang tiba-tiba terbang menghampiri.
"Lux?" Tanyaku keheranan, kuarahkan telapak tanganku meraih dan meraba pundak tempat dia bersembunyi sebelumnya.
"Aku telah menancapkan beberapa buah jarum beracun pada laki-laki itu. Cepatlah lari, kau bodoh!" Sambungnya menendang pelan dahiku.
"Aku mengerti," ungkapku, kugerakkan tubuhku berbalik melompat dari atas dahan tersebut.
Masih kutatap tubuh laki-laki yang sama sekali tak bergerak itu, ketika api dari obor yang dibawanya merambat mendekatinya, dia masih tak bergeming.
"Apa kau membunuhnya?" Ungkapku berbalik lari meninggalkan laki-laki tadi, kuarahkan pandanganku melirik pada Lux yang terbang di sampingku.
"Mungkin. Aku tidak peduli pada manusia lain kecuali kalian," ucapnya terbang mendekati pundakku.
"Apa kau tahu, ke arah mana kita harus pergi Lux?" Ungkapku semakin cepat menggerakkan langkah kaki berlari.
"Aku tidak tahu. Hanya lurus saja, jika kau kembali ke jalan sebelumnya. Aku tidak tahu, berapa musuh lagi yang sedang menunggunya di sana," ucapnya kembali di samping telingaku.
"Kau be..."
Ucapanku terhenti, mulutku tertutup rapat oleh sesuatu. Seseorang atau sesuatu menarik tubuhku ke samping, kugerakkan pisau yang masih kugenggam tadi dengan cepat ke belakang tubuhku. Gerakan tanganku terhenti oleh genggaman kuat yang ia lakukan...
"Diamlah!" Bisiknya pelan di telingaku.