Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDX


Semakin kami berjalan mendekati Istana, semakin banyak mayat bergelempangan yang kami temukan, “apa kau membawa pasukanmu selain para wakil kapten, Daisuke?” Aku kembali menoleh ke arahnya yang berjalan di sampingku.


“Kami melakukan penyerangan dengan hanya enam wakil kapten, tentu saja berserta kedua pangeran dan juga Eneas. Pasukan dari Kerajaan Yadgar juga ikut membantu, tanpa mereka … Kami mungkin tidak bisa menembus pertahanan istana Il,” ucapnya kembali menoleh ke arah depan.


“Karena itu, Zeki dipinta untuk datang membantu,” gumamku dengan tertunduk menatap kedua kakiku yang melangkah maju. “Dia pandai bertarung,” ungkap Daisuke yang membuatku kembali mengangkat pandangan.


“Dia?” Aku balik bertanya kepadanya.


“Calon suamimu yang aku maksudkan, Putri,” ungkapnya yang juga menoleh ke arahku.


“Apa kau mengakui kemampuannya?” Aku kembali bertanya, dengan kedua tanganku melipat ke belakang punggung.


Aku mengarahkan pandangan menatap Daisuke lagi, “aku mengakui kemampuannya,” sambungnya tanpa menoleh ke arahku.


Aku tertunduk lalu tersenyum kecil sebelum kembali mengangkat kepalaku menatap lurus ke depan. Para Kesatria Yadgar yang berbaris di depan tangga istana langsung membungkukkan tubuh mereka ketika melihatku, aku melirik ke arah para perempuan yang mengikuti sayembara tengah duduk di dalam kurungan kayu menatapku dari kejauhan.


Aku menghentikan langkah kaki di depan salah satu Kesatria, “kalian mengurung mereka?” Tanyaku dengan melirik ke arahnya, “ini perintah dari Yang Mulia, jika mereka dibiarkan kabur … Kehebohan yang mereka buat, akan menyulitkan untuk rencana ini. Jadi, kami terpaksa mengurung mereka,” ungkap Kesatria itu dengan tetap membungkukkan badannya.


“Aku mengerti. Apa calon suamiku ada di dalam?” Aku bertanya untuk yang kedua kalinya, “Yang Mulia, menunggu Putri di dalam,” dia kembali menjawab pertanyaanku.


Kedua kakiku, kembali bergerak menyusuri anak tangga, bahkan bergerak lebih cepat saat pintu istana itu telah terlihat semakin mendekat. Langkahku bergerak cepat dengan kedua mataku beralih ke kanan, menatap dua mayat Kesatria Il yang digantung terbalik di kayu penyangga Istana.


Perut dua mayat itu terbelah diikuti seluruh isi perut mereka yang menggantung keluar dari dalam perutnya, “apa itu pekerjaan orang yang sama? Maksudku, Sano?” Aku bertanya kepada Daisuke dengan jari telunjuk mengarah ke dua mayat tadi.


Daisuke menghentikan langkah kakinya, dia berbalik menoleh ke arah yang ia tunjukkan, “sepertinya, dia berubah suka mempermainkan musuh, semenjak bertemu denganmu Putri,” ucap Daisuke yang membuatku mengerutkan kening.


Aku melangkahkan kaki mendekatinya yang juga telah melangkahkan kakinya melewati pintu istana, “Daisuke, aku tidak menger….”


“Salam, Yang Mulia,” Daisuke membungkukkan tubuhnya ke depan.


Aku berbalik menoleh ke arah yang ia tuju, Haruki yang tengah berdiri di depan Raja In-Su, menoleh ke arah kami, “kalian sudah datang?” Tanya Haruki yang melambaikan telapak tangannya ke arahku.


Aku melirik ke arah Raja In-Su, dia menatap tajam ke arahku. Tubuhnya tidak bisa bergerak, dikunci dari belakang oleh seorang laki-laki yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku mengalihkan pandangan ke arah Zeki dan juga Izumi yang tengah duduk di tangga yang ada di depan singgasana Raja, di tengah-tengah mereka … Terdapat potongan kepala laki-laki.


Apa kalian ingat dengan laki-laki yang memintaku pergi dari taman tempo lalu? Saat aku berusaha mencari bayangan hitam yang tak sengaja aku lihat … Apa kalian mengingatnya? Kepala laki-laki itulah yang ada di tengah-tengah mereka berdua.


“Jadi kau seorang penkhianat?” Raja In-Su berbicara saat aku telah berdiri di samping Haruki. “Dari awal, aku memang tidak pernah tertarik padamu,” jawabku singkat padanya, semakin besar kedua matanya itu menatapku.


Raja In-Su jatuh tersungkur saat laki-laki yang ada di belakangnya itu melepaskan genggaman tangannya, dia kembali menginjak punggung Raja In-Su saat Raja In-Su berusaha beranjak, “apa yang kalian inginkan?!” Dia berteriak dengan kedua matanya melirik ke arahku.


“Sachi!” Aku berbalik menoleh ke arah Izumi saat dia memanggil namaku.


“Sachi? Jadi kau, Takaoka Sachi?” Aku kembali menoleh ke arah Raja In-Su yang bersuara, “pantas sa-” ucapannya kembali terhenti, saat Haruki yang berdiri di hadapannya menginjak kepalanya.


“Sachi! Kemarilah!” Izumi lagi-lagi memanggil namaku, “apa kau takut akan kepala ini?” Dia kembali bersuara dengan mengangkat potongan kepala yang ada di sampingnya.


Izumi melemparkan kepala yang ia pegang tadi ke depan, kepala itu menggelinding ke lantai hingga berhenti di salah seorang laki-laki yang membawa tombak bersimbah darah di tangannya, “kepalanya sudah aku singkirkan. Kemarilah!’ Tukas Izumi kembali terdengar.


Aku berbalik menoleh ke arah mereka berdua, kedua kakiku melangkah mendekati mereka lalu duduk di samping Izumi, “Daisuke!” Haruki bersuara lantang, pandangan mataku beralih ke arah Daisuke yang berjalan mendekatinya.


Daisuke menghentikan langkah kakinya di dekat Haruki, dia mengangkat tombak yang ia pegang ke atas. Daisuke menganyunkan tombak tadi ke arah Raja In-Su saat Haruki telah mundur ke belakang beberapa langkah menjauh. Haruki berbalik, melangkahkan kakinya mendekati kami dengan Eneas yang juga berjalan di belakangnya.


Aku melirik ke arah Daisuke yang telah mengangkat kembali tombaknya, laki-laki yang sebelumnya menginjak punggung Raja In-Su juga telah mengangkat kembali kakinya ketika kepala dan tubuh Raja In-Su telah berpisah. Daisuke maju beberapa langkah lalu menendang pelan kepala Raja In-Su hingga darah semakin jelas terlihat mengalir dari lehernya.


“Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Gumamku dengan kedua mata menatap lurus ke depan.


Aku melirik ke arah kiri saat Haruki telah duduk di sampingku, “apa yang tidak kau mengerti?” Tanyanya dengan melirik ke arah lengan kirinya diikuti telapak tangannya menyapu lengan pakaiannya itu.


“Jika memang ingin langsung menyerang seperti ini? Lalu untuk apa, aku harus berpura-pura menjadi calon isterinya?”


“Semua ini, tidak akan berhasil tanpamu, Sa-chan,” aku kembali menoleh ke arahnya, “berkatmu yang sedikit menarik perhatiannya, dia jadi lengah. Terlebih, saat Zeki membawamu untuk tinggal bersama dengannya, perhatian yang ia miliki sedikit beralih kepadamu. Karena itu, kami dapat menyerang mereka dengan mudah,” ucapnya lagi, dia tersenyum saat aku melirik ke arahnya.


“Aku meminta Ayah membantuku dengan meminta Daisuke dan para wakil kapten, untuk berhenti sejenak di Kerajaan Il sebelum mereka akhirnya pulang ke Sora. Mereka telah berada di Kerajaan Il sebelum kita sampai ke sini, aku membutuhkan lebih banyak bukti tapi jika tidak ada yang mengalihkan perhatian Raja, itu akan sedikit menyulitkan untukku. Karena itu, terima kasih atas kerja kerasmu,” ucap Haruki menepuk pelan kepalaku.


“Yang Mulia,” suara Daisuke kembali terdengar, aku kembali mengalihkan pandangan ke arahnya yang tengah berdiri membelakangi enam orang laki-laki.


Aku tersenyum membalas senyuman Arata dari tempatnya berdiri, “kau,” ucapku berdiri saat pandanganku terjatuh pada seorang laki-laki di belakang Daisuke.


Aku menunjuk ke arah laki-laki tersebut, “kau, Arion bukan?” Tukasku dengan nada sedikit meninggi ke arahnya.


“Terima kasih, karena masih mengingat Kesatria rendah sepertiku, Hime-Sama,” ucap laki-laki tersebut tersenyum membalas tatapanku.