Fake Princess

Fake Princess
Chapter C


Kualihkan pandanganku pada para Kesatria yang sibuk membantu satu persatu dari kami, mereka membawakan makanan, minuman, hingga selimut untuk kami kenakan.


Kutatap Haruki dan Izumi yang tengah berjalan ke arahku, berjongkok Izumi disampingku seraya dibalutkannya selimut yang ia bawa kepadaku. Kualihkan pandanganku kepada Haruki, yang membawa sebuah roti dan juga segelas bambu berisi air padaku...


Disuapkannya roti tersebut kepadaku, kugigit roti tersebut lalu mengunyahnya. Kutatap Zeki yang berjalan mendekati kami, tampak terlihat sehelai kain berwarna putih telah melilit telapak tangannya.


Duduk ia dihadapanku, diliriknya telapak tanganku yang hanya kubiarkan begitu saja. Tampak juga kulihat Adinata beserta Danurdara melangkahkan kakinya ke arah kami dengan selembar selimut menyelimuti masing-masing tubuh mereka...


"Mereka meminta kita untuk kembali ke Istana," ucap Adinata berdiri dihadapan kami.


"Bagaimana menurut kalian? Apa kita harus mengikuti mereka?" ucap Adinata kembali.


"Aku ingin segera membersihkan tubuhku, jadi kupiki itu bukanlah keputusan yang buruk," balasku menatapnya.


"Baiklah, kita akan mengikuti permintaan mereka," ucap Haruki beranjak berdiri.


"Kau bisa jalan?" lanjut Izumi seraya membantuku berdiri.


"Aku bisa nii-chan," jawabku singkat padanya.


Kuikuti langkah kaki Adinata yang menuntun kami kepada para Kesatria-kesatria tadi, tampak terlihat mereka telah berkumpul dengan menaiki kereta yang sama dengan kereta yang mengantar kami sebelumnya.


Digendongnya tubuhku oleh Izumi seraya Haruki menyambutku dari atas, berjalan aku duduk disamping Julissa. Kereta tersebut bergerak, semakin menjauh dan semakin menjauh dari hutan tersebut...


Kualihkan pandanganku pada orang-orang yang menatapi kami sepanjang perjalanan, beberapa diantara mereka bahkan menutup hidung mereka. Kuangkat kakiku seraya kurapatkan, kurebahkan kepalaku diantaranya sembari kedua lenganku kurentangkan ke depan.


______________


"Kau tidak kembali ke kamarmu, Julissa?" ucapku berbalik menatapnya.


"Aku akan membantumu membersihkan tubuh, Sachi," balasnya menatapku.


"Apa tidak apa-apa?"


"Tentu, kita teman bukan?" ucapnya lagi seraya merangkul lalu tersenyum menatapku.


"Kak Haruki, Kak Izumi... Aku ingin membawa Sachi ke kamarku, aku akan membantunya membersihkan tubuh. Boleh ya?" ungkapnya, ditatapnya Haruki dan Izumi bergantian.


"Berhati-hatilah," ucap Haruki seraya berbalik dan membuka pintu kamar.


"Laksanakan," ucap Julissa, ditariknya lenganku untuk mengikutinya.


Melangkah kami berdua menyusuri lorong lurus yang ada di Istana, berhenti ia disebuah ruangan berpintu cokelat. Dibukanya pintu tersebut seraya mempersilakan aku untuk masuk ke dalam.


Julissa membantu melepaskan pakaian yang aku kenakan, masuk aku ke dalam bak mandi yang telah berisi air dan juga kelopak-kelopak mawar merah yang mengambang di atasnya. Kuangkat kedua tanganku ke atas agar tak menyentuh air...


Dipijatnya kulit kepalaku menggunakan air mawar yang ada di dalam ember kayu yang telah dipersiapkan Julissa sebelumnya...


"Sachi..."


"Ada apa?" ucapku, kuarahkan pandanganku ke atas.


"Apa kau ingat percakapan antara kau dan Alvaro di hutan?"


"Aku mengingatnya," balasku.


"Kau tahu? Sepertinya aku merasakan perasaan yang sama seperti yang ia rasakan."


"Maksudmu, kau menyukai seseorang selain tunanganmu?"


"Apa itu sebuah kesalahan?"


"Apa kau akan menyalahkan perasaanmu karena kau menyukainya, berhentilah bersikap bodoh. Hanya katakan siapa orangnya?"


"Tidak, aku langsung merasa ciut jika dihadapkan dengan kedua kakakmu."


"Zeki?"


"Tentu saja tidak, tatapan matanya saja seakan sebuah pisau yang siap membunuhku."


"Kalau begitu, Adinata bukan?"


"Kau menyukainya bukan?" ucapku lagi, menoleh aku menatapnya.


"Bagaimana ini Sachi?" ungkapnya seraya menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya.


"Sebenarnya aku sudah menyadarinya sejak wajahmu memerah ketika ia menggenggam tanganmu," ucapku lagi tersenyum menatapnya.


"Kenapa juga di dunia ini ada aturan tentang pertunangan yang bodoh itu. Aku ingin sekali merebutnya langsung dari tunangannya, karena aku yakin ia akan jatuh cinta dengan pesona yang aku miliki. Tapi aku tidak ingin menghilangkan nyawa perempuan lain untuk sifat egois yang aku punya," ungkapnya tersenyum menatapku.


______________


"Kenapa tidak tidur disini saja?" ucap Julissa menatapku.


"Apa kau ingin kedua kakakku mengetuk pintu itu sepanjang malam?" ungkapku balas menatapnya.


"Berhati-hatilah," tukasnya lagi.


"Tentu," jawabku, berbalik aku seraya berjalan menjauhinya.


Kulangkahkan kakiku menyusuri Istana menggunakan gaun tidur yang diberikan Julissa kepadaku, kuangkat kedua telapak tanganku yang masih terasa nyeri...


"Apa yang kau lakukan malam-malam sendirian," terdengar suara bisik di telinga kananku.


Kuangkat siku kananku seraya kugerakkan dengan kuat ke belakang tubuhku. Pergerakan tanganku terhenti oleh sebuah lengan yang menghalang-halangi. Kuarahkan kepalaku kebelakang, kutatap wajahnya yang tampak tersirat rasa terkejut...


"Jangan menakutiku seperti itu," ucapku, kutendang kakinya hingga ia duduk tertunduk dihadapanku.


"Ini sakit sekali, kau benar-benar..." ucapnya menatapku.


"Kau yang memulainya terlebih dahulu, aku hanya membela diri," ungkapku seraya mengalihkan pandangan darinya.


Kurasakan sebuah tangan menggenggam pergelangan tanganku, ditariknya tanganku tadi hingga jatuh aku tepat di hadapannya. Diraihnya sebelah tanganku yang lainnya olehnya, diangkatnya kedua tanganku kedepan wajahnya seraya ditatapnya luka melepuh yang ada di telapak tanganku.


"Aku membawakan obat yang sama seperti yang diberikan Tabib kepadaku sebelumnya, apa kau berniat punya bekas luka sebesar ini," ucapnya, diraihnya sebuah benda dari kayu berbentuk bundar dari balik pakaiannya. Dituangkannya tumbukan daun yang basah itu ke atas telapak tanganku seraya diratakannya tumbukan daun tersebut ke seluruh telapak tanganku.


"Kau tidak perlu terlalu khawatir seperti itu," ucapku pelan padanya.


"Kau selalu, selalu saja membuatku pusing."


"Zeki..."


"Ada apa?" ucapnya pelan.


"Terima kasih. Kau melindungiku berulang kali, kau juga membantuku merawat kakakku, bahkan menenangkan aku saat aku menemukan Izumi terluka..."


"Kau benar-benar banyak membantuku," sambungku tersenyum menatapnya.


"Kaulah yang membuatku seperti sekarang ini, celotehan-celotehan panjang nan memusingkan darimu lah yang membentuk Zeki seperti yang kau lihat sekarang..."


"Jika dalam suatu hubungan tidak membuatmu menjadi seseorang yang lebih baik, itu berarti kau berada dalam hubungan yang salah. Kau berhasil membuktikan itu semua padaku."


"Beranjaklah, aku akan membantumu," ungkapnya beranjak berdiri, diarahkannya kedua tangannya membantuku berdiri.


"Kedua kakakmu telah menunggumu dengan cemas disana, beristirahatlah," ucap Zeki kembali sembari menepuk-nepuk pelan kepalaku. Berbalik ia seraya berjalan menjauh dengan telapak tangannya yang dilambaikannya kepadaku...