
"Kau yakin besok kalian akan langsung pergi?" ucap Julissa, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah duduk di ranjang menatapku.
"Kedua Kakakku telah memutuskannya, lagipun, kami telah terlalu lama berada di sini," ucapku seraya kembali kualihkan pandanganku menatap cermin di hadapan.
"Apa kau ingat dengan perkataan yang pernah Lux ucapkan? Bagaimana jika keadaan buruk tersebut datang terlalu cepat ke dunia kita? Karena itu, kami harus berlomba dengan waktu," ucapku lagi sembari beranjak berdiri dengan meletakkan sisir yang ada di genggamanku sebelumnya.
Kugerakkan tubuhku berbalik berjalan mendekati ranjang, duduk aku di pinggiran ranjang tersebut seraya kepalaku tertunduk menatap kedua kakiku yang telah lepas dari sandal yang aku kenakan.
"Sachi," ucap Julissa, kugerakkan tubuhku berbalik menatapnya.
"Ada apa?" ungkapku seraya bergerak aku merangkak mendekatinya.
"Jika kau membutuhkan apa-apa, segera kabarkan aku Sachi. Kau mengerti," ungkapnya balas menatapku.
"Aku mengerti, karena itu... Pastikan kau cepat datang saat aku membutuhkan bantuanmu," sambungku tersenyum menatapnya.
___________________
"Sachi, apa kau yakin telah membawa semua keperluan untukmu di perjalanan. Bagaimana dengan selimut? Atau mungkin bantal?" ungkap Julissa, kualihkan pandanganku menatapnya yang tengah berjalan dengan menenteng tas milikku di genggamannya.
"Aku ingin berkelana bukan untuk pindah sepenuhnya, kau terlalu khawatir Julissa," ungkapku, kembali kuarahkan pandanganku menatap tali sepatu milikku yang telah terikat.
"Aku hanya ingin tidak terjadi apa-apa padamu," ucapnya diiringi suara langkah kaki mendekat, kuarahkan pandanganku menatapnya yang tengah mengarahkan tas milikku tadi ke arahku.
"Aku akan baik-baik saja," sambungku seraya kuarahkan telapak tanganku meraih tas milikku yang ada di genggamannya.
"Kau yakin?" ucapnya lagi, beranjak aku berdiri membelakanginya.
"Aku yakin Julissa," ungkapku lagi, kulangkahkan kakiku berjalan menjauhinya.
Melangkah aku keluar dengan Julissa yang ikut berjalan di belakangku. Kedua kakiku bergerak menyusuri lorong-lorong Istana, kualihkan pandanganku pada mereka semua yang telah menunggu di halaman Istana...
"Ayah," ucapku berjalan mendekati lalu memeluknya.
"Rasanya berat sekali Ayah melepaskan kalian," ungkapnya, semakin kurasakan pelukan yang ia lakukan semakin kuat.
"Ayah, jaga diri Ayah baik-baik..."
"Jangan lupa untuk selalu menyisihkan waktu beristirahat..."
"Dan, jangan lupa untuk selalu makan. Karena, jika Ayah berkerja... Seringkali, Ayah sampai lupa untuk makan dan Sachi tidak menyukainya. Jadi, Ayah..."
"Ayah mengerti. Ayah akan mendengarkan semua nasihat darimu," ucapnya memotong perkataanku, sesekali kurasakan ciuman lembut yang menyentuh rambutku.
"Kau juga, dengarkan semua perkataan kedua Kakakmu. Jangan membantah semua perkataan mereka, karena Ayah hanya bisa menitipkanmu pada mereka..."
"Kembalilah segera, itu rumah kalian. Kerajaan Sora adalah rumah kalian, jangan lupa untuk kembali. Kau mengerti bukan?" ucapnya lagi seraya kugerakkan kepalaku mengangguk membalas perkataannya.
"Aku menyayangimu Ayah, Sachi benar-benar menyayangimu," ungkapku, kugerakkan kepalaku menatapnya yang juga telah balas menatapku.
"Ayah juga menyayangimu," ucapnya balas tersenyum menatapku.
"Ayah, bisakah aku berbicara padanya?" terdengar suara laki-laki, kuarahkan pandanganku menatap Zeki yang telah berdiri di samping Ayahku.
"Ayah?" ucapku menatapnya.
"Kau ingin menjadi salah satu saudaraku?" ucapku padanya, kurasakan telapak tangannya mencengkram erat kepalaku diikuti suara tawa kecil yang ia keluarkan.
"Ayah, bisakah aku berbicara dengan TUNANGANKU ini sebentar saja," ungkap Zeki menatapku dengan nada suaranya yang sedikit meninggi.
"Tentu," sambung Ayah melepaskan pelukannya, kutatap Ayah yang telah mundur beberapa langkah ke belakang.
"Tanganmu, tidak bisakah kau melepaskannya?" ungkapku mengalihkan pandangan menatapnya.
"Berhati-hatilah," ucapnya melepaskan cengkeraman tangannya di kepalaku, kutatap dia yang tak henti-hentinya menghela napasnya menatapku.
"Aku akan berhati-hati, kau tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Katakan sekali lagi, Takaoka Sachi," ucap Zeki, kurasakan kedua jarinya menjepit bibirku dengan kuat.
"Maaf," tukasku singkat, dilepaskannya kedua jarinya tadi oleh Zeki sembari kuangkat telapak tanganku mengusap-usap pelan wajahku.
"Berikan kabar padaku secepatnya jika terjadi sesuatu padamu. Aku akan melakukan apapun untuk membantumu," ucapnya, kualihkan kembali pandanganku yang tertunduk sebelumnya menatapnya yang telah balas menatapku.
"Aku akan melakukannya, pastikan saja... Jadilah lebih kuat tunanganku, bantu aku mencapai semua keegoisan yang aku miliki," ungkapku berjalan semakin mendekatinya.
"Aku tidak akan melakukannya secara percuma, jadi apa yang bisa kau berikan padaku tunanganku," sambungnya tersenyum menatapku.
"Aku hanya akan memberikan semua kasih sayangku padamu..."
"Ayah, Putrimu durhaka sekali," terdengar suara Haruki mengetuk telingaku, kualihkan pandanganku padanya yang telah berdiri di samping kanan Ayah.
"Dia lebih memilih tunangannya dibandingkan kita keluarganya," sambung Izumi yang juga telah berdiri di sebelah kiri Ayah.
"Aku tidak tahu, sebagai Ayah... Hatiku sakit sekali mendengarnya," lanjut Ayah menimpali perkataan mereka berdua.
"Ayah, Ayah... Aku tidak bermaksud seperti itu," rengekku berjalan mendekatinya.
"Ayah mengerti, Ayah hanya bercanda," ucapnya diikuti tepukan pelan yang ia lakukan di kepalaku.
"Kalian berdua, Haruki, Izumi... Jaga adik perempuan kalian, kalian berdua pasti paham sekali bagaimana sulitnya dunia ini untuk perempuan seperti dia..."
"Saling jaga, saling mendukung, saling menghibur... Kalian harus melakukannya satu sama lain," ucapnya kembali, kutatap Ayah yang menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri menatap Haruki dan Izumi bergantian.
"Kami mengerti Ayah, kami akan melakukannya," ucap Haruki menimpali perkataannya.
"Dan juga, ingatlah tentang syarat yang Ayah berikan... Ayah akan menggerakkan seluruh pasukan untuk mencari kalian bertiga ke seluruh Kerajaan dan memerintahkan mereka untuk menyeret kalian bertiga pulang... Jika kalian tidak menyanggupi syarat yang Ayah berikan," sambung Ayah kembali kepada kami, kutatap dia yang juga telah balas menatapku.
"Aku mengerti Ayah..."
"Laksanakan..."
"Aku pun mengerti Ayah," ungkapku ikut menimpali perkataan kedua Kakakku sebelumnya.
"Tepati janji kalian kepada Ayah kalian ini, dan bawa sebanyak mungkin pasukan sekutu yang telah kalian dapatkan untukku," ucap Ayah yang tersenyum bergantian menatap kami.
"Kau tidak perlu khawatir Ayah, kami pasti dapat melakukannya," sambung Haruki, kualihkan pandanganku menatapnya yang juga telah tersenyum menatapku.