
"Diam, atau nee-chan akan menemukan kita," terdengar suara anak perempuan dari arah kanan tubuhku, aku berbalik ke samping, lama kutatap dua anak perempuan yang tengah menutupi mulut mereka dengan tangan mereka masing-masing.
"Aku menemukan kalian," tubuhku sedikit terhentak saat mendengar suara perempuan di dekatku, kualihkan pandanganku pada seorang perempuan yang menunduk mengarahkan tangannya ke arah kami.
"Nee-chan, kau hebat sekali dapat menemukan kami," ucap seorang anak perempuan yang meraih tangan perempuan tersebut.
"Benarkah?"
"Itu, karena kau terlalu berisik," ucap anak perempuan lainnya merangkak mendekati perempuan tadi.
Aku ikut menggerakkan tubuhku merangkak mendekati mereka. Pandangan mataku menatap ke seluruh ruangan, tampak di belakangku sebuah ranjang bertingkat dua bertumpu dengan kayu yang termakan usia.
Aku berbalik menatap mereka bertiga yang telah keluar dari dalam ruangan, kugerakkan kedua kakiku melangkah mengikuti mereka. Langkah kakiku terhenti, saat perempuan tadi duduk di hadapan sebuah piano kusam dengan banyak sekali anak-anak kecil yang mengelilinginya...
Perempuan itu memainkan piano yang ada di hadapannya, anak-anak yang ada di sana mengiringi permainan piano yang ia lakukan dengan lagu yang mereka nyanyikan. Kugerakkan telapak tanganku menekan erat dadaku yang tiba-tiba terasa sesak.
Perempuan itu berbalik menatap ke arahku, ia tersenyum dengan matanya yang sedikit menyipit dari balik kacamata tebal yang ia kenakan. Aku ingin mendekati mereka, tapi langkah kakiku terhenti saat kurasakan sesuatu menembus tubuhku.
Perempuan paruh baya itu berjalan mendekati perempuan muda tadi. Ku tatap perempuan berkacamata itu yang diam sejenak lalu tersenyum ke arah perempuan paruh baya yang berdiri di sampingnya. Perempuan itu beranjak berdiri lalu berjalan meninggalkan mereka, ku tatap ia yang berjalan tertunduk dengan kedua tangannya yang menggenggam satu sama lain...
"Sakura!" Teriak perempuan paruh baya itu yang berhasil membuat perempuan berkacamata tadi menghentikan langkah kakinya.
"Kau tidak harus melakukannya, Putriku," ucap perempuan paruh baya itu kembali.
"Ibu Panti, aku baik-baik saja," ucap perempuan bernama Sakura itu berbalik menatapi mereka.
____________________
Aku beranjak berdiri saat pintu kamar milik Sakura terbuka, kuikuti langkah kakinya yang berjalan dengan sebuah tas di pundaknya. Dia berjalan dengan kedua kakinya yang berjinjit, melangkah perlahan mendekati sebuah pintu lalu membukanya.
Sakura melangkahkan kakinya berlari setelah ia menutup kembali pintu yang ia buka, kugerakkan kedua kakiku mengikutinya. Langkah kakiku kembali melamban saat Sakura telah kembali berjalan dengan napasnya yang tak beraturan.
Aku menghentikan langkahku saat Sakura berjalan memasuki sebuah bangunan, aku melirik ke arah beberapa orang laki-laki dan juga perempuan yang mengenakan pakaian sama persis seperti yang Sakura kenakan.
Aku kembali berlari menyusul Sakura yang telah menutup kembali loker sepatu miliknya. Kedua kakiku melangkah mengikutinya dari belakang, Sakura menundukkan kepalanya selama ia melangkah, bahkan bisik-bisik dari beberapa orang yang menjelek-jelekkannya seakan tak dipedulikannya.
"Apa kau yakin ingin melakukannya Miyuki?"
"Aku akan berusaha mendapatkan beasiswa tersebut, Sensei. Jadi, daftarkan aku untuk mengikutinya," ucap Sakura menatap laki-laki paruh baya tersebut.
"Selama ini nilai-nilai pelajaran mu hanya sebatas rata-rata. Jangan bermimpi untuk mendapatkan beasiswa di sana, aku lebih merekomendasikan mu ke universitas yang ada di dekat sini saja," ucap laki-laki paruh baya itu.
"Kumohon Sensei, akan aku buktikan jika aku mampu melakukannya. Aku akan lulus dengan mendapatkan nilai tertinggi, aku akan memastikannya," ucap Sakura menundukkan kepalanya, digenggamnya rok panjang yang ia kenakan dengan kuat.
"Aku harus masuk universitas terbaik, dengan begitu... Aku akan dengan sangat mudah mendapatkan pekerjaan nantinya, aku harus membantu Ibu panti untuk mengurus semua biaya mereka. Kumohon Sensei, aku pasti tidak akan membuatmu malu," ucap Sakura kembali pada laki-laki paruh baya itu.
Sebuah cahaya menampar wajahku, kugerakkan kedua mataku berkedip-kedip dengan kedua tangan bergerak mengusap-usap kedua mataku tadi. Aku kembali menggerakkan pandangan ke sekitar saat kedua mataku kembali dapat melihat dengan jelas...
Aku berbalik menatap Sakura yang tengah berjalan dengan sebuah buku di tangannya. Kuikuti langkahnya mendekati sebuah minimarket, aku berdiri menatapnya yang telah mengganti pakaian yang ia kenakan.
Sakura berdiri di belakang sebuah meja dengan kepala tertunduk tampak menghitung sesuatu. Kepalaku bergerak menoleh saat seorang laki-laki mengenakan penutup kepala masuk ke dalam minimarket tersebut.
Laki-laki itu menembaki Sakura yang berdiri diam dengan kedua tangannya terangkat ke atas. Kugerakkan tanganku memukul-mukul pintu kaca minimarket itu, berkali-kali aku berteriak memanggil nama Sakura tanpa henti.
Aku melangkah masuk saat laki-laki yang memakai penutup kepala tadi membuka pintu kaca tersebut. Aku terduduk lemas saat kulihat Sakura telah berbaring lemah dengan darah yang membanjiri tubuhnya...
"Sachi!"
"Sa-chan! Bangunlah!"
"Sachi, bangun!"
Suara-suara itu berkutat di sekelilingku, kugerakkan kepalaku memutari sekitar berusaha mencari darimana asalnya. Aku tertegun, saat pandangan mataku terjatuh pada seorang perempuan berambut cokelat panjang bergelombang tengah menatapku dari balik cermin menggunakan kedua matanya yang hijau.
_________________
"Sachi," ucapan seorang laki-laki kembali mengetuk telingaku, kubuka sedikit mataku berusaha menatapnya.
"Izu nii-chan," ucapku mengangkat sebelah telapak tanganku menyentuh pipinya.
"Syukurlah, syukurlah kau baik-baik saja," ucapnya yang langsung mengangkat tubuhku lalu memeluknya.
"Apa yang terjadi? Izu nii-chan, apa yang terjadi?" Ucapku sembari melirik ke arah Haruki dan juga Zeki yang tengah menatapku dengan wajah pucat pasi tanpa suara.