
“Tsu nii-chan, tunggu aku di sini,” ucapku menoleh ke arahnya, “tapi Putri,” dia membalas tatapanku padanya.
“Aku hanya ingin berziarah sebentar, aku akan baik-baik saja,” ucapku tersenyum menatapnya.
Aku kembali berbalik menatap tangga batu yang bersusun menjulang ke atas bukit, kugerakkan kedua kakiku melangkah menyusuri tangga-tangga tersebut satu per satu. Angin yang berembus di sekitar bukit, sesekali menerbangkan rambutku yang dengan sengaja kugerai.
Kedua kakiku berhenti melangkah saat pandangan mataku terjatuh pada seorang laki-laki yang tengah duduk bedo’a di depan makam Luana, “nii-chan,” ucapku pelan memanggilnya, ikut kugerakkan tubuhku duduk di sampingnya.
Haruki menoleh ke arahku, “kau ke sini?” Tanyanya yang kubalas dengan anggukan pelan kepalaku.
Aku menggerakkan sedikit tubuhku merangkak ke depan meraih dua batang dupa yang ada di dekat batu nisan, kuarahkan dua batang dupa tadi mendekati dupa yang telah terbakar hingga ujung dupa milikku itu ikut terbakar. Kuletakkan kedua dupa tadi di sebuah mangkuk berisi beras, berbaris dengan dupa-dupa yang juga masih ikut terbakar. Aku kembali merangkak mundur sedikit ke belakang, mengangkat kedua tanganku hingga mereka saling menempel lalu memejamkan mata.
Deus, Dewa, Tuhan, atau siapa pun engkau … Kumohon, jaga mereka di sana. Dan kumohon, jaga kami yang ada di sini.
Kak Luana, jika kau dapat mendengar do’aku … Kumohon maafkan keluarga kami, bantu aku untuk mengawasi Kakakku Haruki. Aku…
Kepalaku semakin tertunduk hingga menyentuh kedua tanganku tadi, “nii-chan,” tangisku, aku menoleh lalu memeluk erat tubuhnya itu.
“Sa-chan apa yang,” perkataannya terhenti, semakin dalam wajahku terbenam di pundaknya, “maafkan aku. Jika saja aku tidak meminta Tsubaru untuk mengungkap siapa mata-mata itu, ini tidak akan mungkin terjadi, pemberontakan itu tak akan terjadi. Akulah yang membunuh Kak Luana dan juga anakmu, maafkan aku … Maafkan aku,” tangisanku semakin menjadi saat genggaman tanganku di pakaiannya menguat.
“Aku menyesal, aku benar-benar menyesal … Maafkan aku,” ungkapku kembali diikuti tepukan pelan yang menyentuh kepalaku, “tenanglah, semua yang terjadi bukanlah kesalahanmu,” suara Haruki yang keluar terdengar bergetar di telingaku.
“Aku tidak menyangka jika ini akan terjadi. Andai saja … Andai saja, andai saja aku lebih memerhatikan keselamatan mereka, ini semua tidak akan terjadi,” kepalaku semakin terbenam di pundaknya itu, “aku, ingin ini cepat berakhir … Tapi bukan seperti ini yang aku inginkan, kumohon maafkan aku.”
“Angkat kepalamu Sa-chan. Luana, pasti lebih mengkhawatirkan adik-adiknya dibandingkan aku,” Haruki tersenyum menatapku saat aku mengangkat wajah menatapnya, “aku dari dulu ingin sekali melihat anak-anak dari kedua kakakku, tapi malah aku sendirilah yang membunuhnya. Aku menyesal nii-chan, maafkan aku karena telah menghancurkan hidupmu.”
Haruki mengangkat kembali wajahku dengan kedua tangannya, “dengarkan aku, sekali pun aku tidak pernah menyalahkanmu, Izumi maupun Ayah … Semuanya terjadi tiba-tiba, tidak ada yang dapat disalahkan. Kau mengerti? Jadi aku tidak ingin mendengarnya lagi,” ucapnya kembali tersenyum ke arahku, “dan untukmu Izumi, sampai kapan kau akan bersembunyi?” Haruki kembali bersuara, aku sedikit melirik mengikuti kedua matanya yang telah melirik ke kanan.
“Aku hanya ingin menjaga kalian, jika saja ada musuh yang datang menyerang,” suara Izumi terdengar diikuti bayangan hitam yang keluar dari pepohonan, “tidak akan ada musuh yang akan menyerang ke sini,” ungkap Haruki saat Izumi melangkahkan kakinya mendekati kami.
“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Izumi yang telah bergerak duduk di hadapan kami, “aku baik-baik saja, apa aku membuat kalian khawatir?” Haruki balik bertanya diikuti kedua matanya yang menatapi kami bergantian.
Aku melepaskan pelukanku pada Haruki, “kau benar, aku mengkhawatirkan Kakakku,” ucap Izumi seraya mengangkat kepalanya ke atas.
“Wah Deus, rasanya lidahku kaku sekali memanggilnya kembali dengan sebutan Kakak!” Sambung Izumi dengan sedikit meninggikan suaranya.
“Kemarilah Izumi, aku ingin sekali memukul wajahmu,” ucap Haruki dengan menggerakkan jari telunjuknya bergerak ke arah Izumi, “apa kau tidak tahu? Selama menjadi serigala, aku banyak belajar gaya bertarung para penduduk bertopeng itu. Kau tidak akan bisa menyentuhku,” ucap Izumi dengan menggelengkan kepalanya menatapi Haruki.
“Heh, jadi kau ingin menyombongkan diri, wahai serigala?”
“Jika yang kau maksudkan seperti itu? Baiklah, apa boleh buat … Aku akan menerimanya,” ucap Izumi menyilangkan kedua tangannya ke dada diikuti kepalanya yang mengangguk membalas tatapan Haruki.
Haruki beranjak berdiri, melangkahkan kakinya mendekati Izumi, “katakan pada Sasithorn, jangan menyalahkan dirinya sendiri. Luana hanya melakukan tugasnya sebagai Kakak untuk melindungi adiknya,” ucapnya mengarahkan telapak tangan kanannya mengusap kepala Izumi lalu melangkah pergi meninggalkan kami.
Aku mengalihkan pandangan kepada Izumi yang tertunduk, “tidak apa-apa, kau masih bisa menolongnya, Izumi,” gumamnya yang hampir tak terdengar di telingaku.
Izumi mengangkat kepalanya, tubuhnya beranjak berdiri diikuti wajahnya yang menatap ke arahku, “cepatlah Sachi, semua orang menunggu kita di Istana,” ucapnya berbalik lalu melangkah pergi mengikuti Haruki.
Aku ikut beranjak berdiri lalu berbalik menatap makam Luana, tubuhku membungkuk di hadapan makamnya itu, “maafkan aku, kak. Aku berjanji akan selalu mengunjungimu,” ucapku kembali berbalik lalu beranjak pergi.
Kedua kakiku melangkah cepat mengikuti mereka, kuangkat kepalaku menatap ke langit yang saat itu terlihat sangat mendung. Kepalaku kembali menunduk diikuti lengan kananku yang terangkat mengusap kedua mata, “aku bersumpah, akan membunuhmu Kaisar. Aku bersumpah,” gumamku pelan dengan kembali mengangkat wajahku menatap lurus ke depan.
___________
Kereta kuda yang aku naiki berjalan perlahan, aku sedikit melirik ke luar jendela … Menatap Haruki yang menunggangi kuda miliknya di samping kereta kuda yang aku naiki itu, ikut juga terlihat para penduduk yang menghentikan kegiatan mereka lalu membungkukkan tubuhnya ke arah kami yang berjalan di hadapan mereka.
Kepalaku bersandar di dinding kereta diikuti helaan napas yang keluar dari bibirku, “Sa-chan,” suara Haruki yang terdengar dari luar membuatku kembali mengangkat kepala.
“Ada apa, nii-chan?” Tanyaku menoleh ke arahnya yang masih menatap lurus ke depan, “selekas pulang ke Istana, dapatkah kau membuatkan aku minuman yang manis? Aku ingin sekali meminum smoothies stroberi buatanmu kembali,” ucapnya tersenyum menatapku.
“Aku mengerti, aku akan membuatnya untukmu. Apa ada makanan khusus yang ingin kau makan nii-chan?”
Haruki sedikit mengerutkan keningnya menatapku, “sepertinya tidak ada, hanya buatkan aku smoothies saja,” sambungnya kembali menatap lurus ke depan, “aku ingin meminumnya dalam keadaan hangat,” ucapnya lagi sebelum kuda yang ia tunggangi melangkah ke depan hingga sosoknya menghilang dari pandangan.