Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXVII


Aku melangkah ke luar kapal sembari sebelah tanganku menggenggam kuat tangan Cia yang berjalan di samping. Aku menoleh menatapnya seraya sebelah tanganku yang lain bergerak merapikan penutup kepala yang menutupi wajahnya...


"Apa semuanya sudah siap?!" Teriakan Aydin dari luar terdengar, diikuti suara laki-laki menjawab pertanyaannya yang menggema mengikuti.


Kutarik semakin ke depan penutup kepala pada jubah yang Cia kenakan, angin laut yang bertiup kencang tampak beberapa kali menerbangkan penutup kepala yang ia pakai.


Aku menarik pelan tangan Cia mendekati rombongan yang berbaris, pandangan mataku tertuju pada sebuah pulau yang jauh di seberang... Pulau, yang akan kami singgahi nanti setelah berlabuh.


Izumi berbalik menatapi kami yang tengah berjalan mendekati mereka. Pandangan mataku kembali teralihkan pada Haruki, Zeki, Aydin dan juga Jabari yang tampak berembuk satu sama lain.


"Apa yang terjadi?" Ucapku saat berdiri di samping Izumi.


"Aydin mengatakan, jika tak semua orang akan pergi ke pulau. Jadi, mereka tengah mendiskusikan siapa yang akan pergi dan siapa yang akan tetap menjaga kapal," ucapnya sembari menerima tas yang diberikan Eneas.


"Begitukah? Eneas," ucapku menggerakkan kepala menatapinya yang tengah berdiri di samping Izumi.


"Ada apa nee-chan?" Ucapnya berbalik membalas tatapanku.


"Apa kau telah menyiapkan makanan untuknya? Maaf, aku memerintahkan mu untuk melakukannya," ucapku melirik ke arah tas berisi Uki dan juga Lux yang ia bawa.


"Aku telah menyiapkannya. Nee-chan, tenang saja," ucapnya kembali mengarahkan pandangan pada mereka berempat yang telah berjalan mendekati kami.


"Kami telah memutuskan," ucap Aydin, menggerakkan pandangannya melirik ke arah kami yang berdiri mengelilinginya.


"Yang akan pergi ke pulau itu hanyalah kami berempat, dengan membawa masing-masing satu orang sebagai rekan. Para perempuan, tetaplah di kapal," ucapnya yang melirik ke arahku lalu berbalik berjalan menjauh.


"Izumi, kau ikut denganku. Eneas, tetaplah di kapal bersama Sachi dan yang lainnya," ucap Haruki yang juga telah melangkah menyusul Aydin.


"Aku juga ingin ikut ke sana."


"Aku pun," ucap Eneas menimpali perkataanku saat Izumi telah melangkahkan kakinya menyusul mereka.


"Jangan membantah perintahku. Kami hanya akan membeli keperluan di sana, lalu secepat mungkin akan kembali," ucapnya menatap kami bergantian lalu berbalik melangkah kembali.


"Apa dia masih menganggap ku seperti anak kecil," ucap Eneas diikuti decakan lidah yang ia keluarkan, dia berbalik lalu berjalan meninggalkan kami.


____________________


Aku kembali beranjak berdiri dari ranjang, kugerakkan tubuhku berbalik menatap Cia yang tertidur. Cia masih belum terbiasa dengan laut, karena itulah... Aku memintanya untuk sering beristirahat.


Aku kembali berbalik meraih sandal yang tergeletak tak jauh dari ranjang. Kukenakan sandal tersebut sembari kulangkahkan kedua kakiku melangkah meninggalkan kamar.


Langkah kakiku menyusuri lorong lalu menaiki tangga kecil yang ada di dalamnya. Kugerakkan sebelah tangan meraih rambutku yang sedikit diterbangkan angin...


"Yang Mulia," ucap beberapa orang Kesatria, tampak terlihat simbol Kerajaan Yadgar di baju zirah yang mereka kenakan membungkukkan tubuhnya saat aku berjalan di luar kapal.


"Ada apa? Angkat kepala kalian," ucapku pada mereka, satu persatu mereka beranjak berdiri menatapku.


"Yang Mulia Raja, meminta kami untuk menjagamu, dan dia juga berpesan untuk tak membiarkan..."


"Calon Isterinya," bisik laki-laki lain yang sedikit terdengar di telinga.


"Calon Isterinya berkeliaran di luar kapal," sambung laki-laki sebelumnya menatapku.


"Aku hanya mencari udara. Aku hanya akan duduk di sana, menunggu kepulangan mereka," ucapku sembari menunjuk ke arah susunan tong kayu yang ada di samping kapal.


"Tapi..."


"Tidak apa-apa, tidak akan terjadi apa-apa," ucapku berjalan meninggalkan mereka.


"Raja kalian memang terlihat tak membutuhkan keberadaan kalian dari luar. Tapi percayalah, di dalam hatinya... Ia bersyukur memiliki kalian sebagai pasukannya. Jadi, aku titipkan dia kepada kalian saat aku tak bersamanya..."


"Mohon jaga dia baik-baik untukku," sambungku tersenyum menatap mereka.


Aku kembali melangkahkan kaki mendekati susunan tong tadi, kugerakkan tubuhku duduk di salah satu tong kayu sembari pandangan mataku kembali menatap laut.


"Lihatlah, aku benar bukan?" Suara laki-laki membuatku teralihkan, aku menoleh menatap dua orang perompak yang tampak berdiri menatapi air laut yang ada di bawahnya.


"Aku sudah katakan, benda yang kau lemparkan tidak akan tenggelam," ucap laki-laki itu kembali kepada teman yang berdiri di sampingnya.


"Aku tidak percaya," ucap laki-laki yang ada di sampingnya.


"Jika kau tak percaya. Lemparkan saja koin milikmu ke sana," ucap laki-laki sebelumnya yang dibalas tatapan oleh temannya.


Aku menggerakkan kepalaku semakin mendekati sisi kapal, kutatap air laut yang bergerak bergelombang di bawahku itu. Aku tidak paham apa yang mereka katakan...


"My Lord," suara Kou tiba-tiba terngiang di kepalaku.


"Kou? Ada apa?" Tanyaku sembari tetap menatapi air laut yang ada.


"Sesuatu mende..."


Suara Kou di kepalaku terhenti, kapal yang kami naiki tiba-tiba berguncang kuat. Aku yang lengah, terjungkal ke arah laut saat kapal tersebut bergoyang kuat ke kanan.


"Putri!"


Teriakan laki-laki memanggil namaku, kututup kedua mataku dengan kedua telapak tangan saat air laut itu masuk ke dalam mata. Mataku seakan terbakar oleh air laut yang menyelinap di mataku tadi...


"Tunggu dulu, bukankah sekarang aku tengah berbaring mengapung di laut?" Ucapku, saat kedua mataku sedikit membaik, kutatap sinar matahari yang jatuh saat tubuhku berbaring bebas di air laut itu.



"Putri!"


"Yang Mulia!"


Teriakan itu kembali terdengar, kugerakkan tubuhku yang mengapung di air tadi berbalik menatapi mereka. Kugerakkan kedua tangan dan kakiku berenang mendekati kapal salah satu orang melemparkan seutas kembali terjuntai di sisi kapal.


Sesuatu tiba-tiba menarik kakiku ke dalam laut, tubuhku tertarik ke dalam air yang langsung membuat mataku perih seketika. Teriakan-teriakan yang memanggil seakan mengetuk telingaku yang dipenuhi air..



Mataku terbelalak, sebuah ekor... Iya, ekor... Tiba-tiba melintas di hadapanku. Tubuhku kembali mengapung dengan sendirinya ke permukaan air saat tarikan di kakiku itu terlepas.


"Putri!"


"Yang Mulia!"


Teriakan itu kembali terdengar, aku berbalik menatap dua orang perompak tadi berserta tiga orang Kesatria Zeki yang berenang mendekati. Kugerakkan tubuhku berenang mendekati mereka...


Lima orang laki-laki tadi menuntunku mendekati tali yang terjulur dari atas kapal. Kuraih tali tersebut, kugenggam dengan kuat tali tadi sembari dua orang laki-laki yang ada di atas menarik tubuhku naik ke atas menggunakan tali yang aku genggam.


Kepalaku kembali menoleh ke samping, berusaha mencerna apa yang aku saksikan. Kutatap air laut yang menghening di hadapanku itu...


"Putri, tanganmu," ucap suara laki-laki, aku berbalik menatapnya yang tengah mengarahkan sebelah tangannya ke arahku.