
Mentari kembali menyambut pagi, menyinari bumi, namun tak sampai pada sebuah kamar mewah di Mansion Prasetio, sebab tak setitik cahayapun di biarkan masuk oleh tuan muda, Daniel, ia tak mau cahaya menyelinap masuk lewat celah celah jendela dapat mengganggu tidur pujaan hatinya, Daniel tengah menatap penuh cinta istrinya yang masih terlelap, istrinya belakangan ini jadi pemalas, melupakan tugasnya yang telah bersuami. bukan, bukan tugas tentang isi buku perjanjian pernikahan mereka, tetapi tugas Alicia yang sesungguhnya, tugasnya sebagai seorang istri sah, Tapi Daniel tak masalah, ia bahkan bahagia jika Alicia mendapatkan istrirahatnya yang cukup.
Jam 5,40 tadi Alicia bangun dan hendak menyiapkan segala keperluan Daniel, dari mandi dan memilih pakaian untuk Daniel pakai hari ini, tapi saat dirinya hendak bangun pelukan Daniel makin mengerat, Alicia menoleh dan mendapati suaminya masih tertidur tapi kenapa pelukannya sangat bertenaga seolah melarang Alicia menjauh darinya. memang setelah menyerahkan mahkotanya pada tuan suaminya beberapa bulan yang lalu, Alicia selalu bangun di pagi hari dengan keadaan sedang berada dalam dekapan hangat sang taun suami, Alicia yang kali pertama mendapat perlakuan itu tak nyaman, namun lambat laun Alicia jadi terbiasa bahkan kini pelukan Daniel sangat nyaman baginya.
Alicia yang lelah berusaha melepas diri dari pelukan Daniel mendesah pelan, ia akan menunggu sampai pelukan tuan suaminya mengendur, namun lama Alicia menunggu, ia kembali ikut tertidur dan terlelap hingga sekarang. Jam 7.40, tuan suaminya bahkan sudah rapi dan bersiap ke kantor sedang Alicia masih nyaman dengan bantalnya
Cup
"aku berangkat, baik baik istriku" ucap Daniel setelah mendaratkan kecupan yang lama di kening Alicia
Sebenarnya ia ingin menunggu sedikit lebih lama lagi sampai Alicia terbangun, tapi ia memiliki urusan yang sangat penting pagi ini, ia juga tak mungkin mengganggu tidur nyenyak istrinya
Daniel kemudian beranjak dan keluar kamar menuju perusahaan. Ia seperti seorang suami yang tak terawat. bagaimana tidak, berangkat kantor tak diantar oleh istrinya. Tak disalimi tangannya. Ia bahkan menyiapkan semuanya sendiri yang biasanya di siapkan oleh Alicia, meminta pada maid pun Daniel tak ingin, sebab kebutuhannya dan barang baranganya hanya boleh Alicia yang menghendel. Selain yang berhubungan dengan makanan tentu saja.
Sampai di lantai bawah, Daniel mengedarkan pandangannya
"nyonya besar sedang perjalanan balik ke Jepang, tuan muda" lapor Ali yang mengerti di balik sikap Daniel
Daniel hanya mengangguk menanggapi
Jika ibunya tidak ada berarti wanita itu juga sudah pergi. Pikir Daniel, menghela napas lega Daniel semamgat berangkat ke perusahaan pagi ini. Istrinya akan aman di mansion.
"bagaimana?" tanya Daniel saat mobilnya kini berbelok ke arah gedung yang cukup tinggi namun tak setinggi gedung utama Prasetio Corp.
"anak buah kita sudah di dalam tuan muda, tapi..."
"Tapi apa" potong Daniel
"dia sudah mengaku, hanya saja ia rela menukar apapun yang ia punya selain menyerahkannya" jelas Ali
"huh, memang apalagi yang ia punya, satu satunya yang berharga dalam hidupnya telah ia sia siakan" gumam Daniel dengan nada sinis
Dengan wajah datarnya, Daniel memasuki sebuah ruangan tertinggi di gedung ini setelah di bukakan oleh anak buahnya
Semua orang dalam ruangan menunduk hormat kecuali dengan.. Pria paru baya yang acak acakan, terlihat dari dasinya yang sudah mengendur dari kerah kamejanya, rambutnya yang dulunya selalu tertata rapi kini berantakan bak preman, wajahnya yang selalu tenang cenderung datar kini terlihat menyedihkan nan miskin.
"halo ayah mertua" sapa Daniel menundukan kepala tanda menghargai, berusaha mencairkan suasana yang tegang itu
Ya, pria paru baya itu adalah tuan Dinata, ayah mertua Daniel, ayah kandung Alicia, namun sayang sang anak kandung tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah selama hidupnya meski ayahnya masih hidup bahkan serumah selama puluhan tahun lamanya, Alicia anak piatu tapi serasa yatim piatu. Hidupnya bahka lebih menderita dari anak yatim piatu, ia hanya di anggap parasit oleh ayah kandungnya sendiri, sampai ia harus dipaksa mendonorkan ginjalnya demi anak ayahnya yang lain. Mengabaikan nyawa Alicia demi menyelamatkan nyawa anak yang lain.
Daniel mengetatkan giginya mengingat fakta penderitaan hidup istri kecilnya selama berada dekat dengan Dinata
"nak" lirih Dinata menatap penuh harapan bantuan pada Daniel
Mata Daniel berubah merah, ia jijik dengan panggilan Dinata itu
Daniel melangkah menuju jendela kaca menyaksikan kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana
"Saya rela menukar nyawaku tuan" ucap Dinata mantap, meski dengan tubuh gemetar tapi ia tak punya pilihan lain, hanya ini yang bisa ia lakukan, berlutut memohon belas kasihan pada menantunya, suami dari anaknya yang tak pernah ia anggap
Daniel tersenyum miring, tua bangka ini bahkan rela merendahakan dirinya di bawah Daniel agar ia tak jatuh miskin.
*aku ingin sekali menend4ng wajah brengsenkmu itu* jerit batin Daniel
"saya tidak butuh nyawamu, yang saya butuhkan adalah bisnisku makin maju" ucap Daniel melangkah keluar, Daniel sungguh muak berada di ruangan yang sama dengan pria tak berbelas kasih pada darah dagingnya sendiri, jika tidak ia tidak yakin bisa mengontrol emosinya untuk tidak menghajar dan membuat babak belur tubuh tua Dinata itu, beruntung harga diri selangitnya membisikannya bahwa, tangannya sangat berharga jika hanya untuk menghajar seorang pria tua macam Dinata,
Daniel mengendikan dagunya saat melewati anak buahnya
Para anak buah mengangguk mengerti
Saat tubuh tuan mudanya telah keluar yang disusul sekertaris Ali, para anak buah bertindak
"tanda tangani cepat!" salah satu anak buah Daniel memaksa Dinata menandatangani pemindahan nama keseluruhan saham dan aset Dinata
"tidak, ku mohon" mohon Dinata mengiba, melawan sekuat tenaga agar tangannya yang dipaksa menandatangani berkas tak menyentuh berkas itu
Dinata tahu jika saham yang ia pertahankan sebeser 35 persen itu tak ada arti apa-apanya di mata Daniel, toh sahamnya yang lainnya sudah berpindah tangan pada orang lain yang Dinata yakini ada sangkut pautnya dengan Daniel, dan benar saja, hari ini semuanya jelas, Daniel dibalik kebangkrutan perusahaannya yang telah ia bangun selama 20 tahun lamanya
"jangan salahkan kami jika kami bertindak kasar tuan!" geram salah saru anak buah dan..
Bugh
Tend4ngan keras bersarang di pundak Dinta hingga ia terjerambat ke lantai
Mata Dinata memerah, ia menatap pintu ruangannya yang baru saja meneggelamkan tubuh menantunya, rasanya ia susah bernapas, bukan karna sakit pada tubuhnya tapi sesuatu pada dadanya yang terasa nyeri dari dalam
"sampai mati pun saya tidak akan memberikan saham itu pada siapapun" gumamnya sebelum kesadarannya menghilang
Bersambunggg...
######
Yang suka dan betah nunggu silahkan stay di cerita abal abal ini
Oh iya sedikit curhat, kenapa sekarang upnya lama? karna kesibukan hari hari, harus bagi waktu untuk kuliah, tugas kuliah, ngajar privat, dan yah aku ini hanya penulis amatiran yang masih banyak kekurangan, contohnya kadang nggak mood nulis dan malah pilih tidur menjemput mimpi indah.
Tapi tenang aja, insyaAllah aku usahin cerita ini sampai tamat, tapi kalau bosan yah silahkan cari cerita yang menarik dan sudah tamat agar tak menggantung.
Okedeh selamat malam minggu, salam dariku si penulis rebahan
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu