
"selesaikan makan kalian, saya buru-buru" sahut Alex memecah keheningan di meja makan. Pria dengan rahang tegas itu tak menyentuh sarapannya, ia hanya menandaskan kopi yang sengaja ia pesan khusus pagi ini pada bik Imah
Setelah berucap Alex segera beranjak dari duduknya membuat Maura juga spontan berdiri sebagai rasa hormat, sedang Elana hanya bisa anteng di kursinya
"aku berangkat yah" ujar Alex mengelus lembut rambut Elana yang dibalas senyuman manis oleh perempuan itu.
"saya berangkat dulu, baik-baik di rumah" bisik Alex tepat di telinga Maura kemudian pria itu berlalu pergi setelah berhasil membuat wanita hamil itu mematung
"kesurupan kamu?" tanya Elana melihat Maura tak bergerak sama sekali.
Maura tersadar dan segera duduk melanjutkan sarapannya tanpa berucap sepatah katapun. Bersamaan dengan kunyahannya ia berusaha menekan detak jantungnya yang masih saja tak beraturan setelah kepergian suami sirinya
*ada apa dengan jantungku sih? Apa aku mengidap penyakit jantung?* batin Maura merasa was-was
"nggak usah geer di perlakukan seperti tadi, itu wajar untuk wanita sepertimu yang akan merelakan anaknya untuk suamiku kelak" peringat Elana, ia tak buta dan tak tuli, jelas perlakuan Alex pada madu di hadapannya di tangkap jelas oleh bidikan mata Elana. Meski ucapan Alex terdengar pelan dan berbisik tapi masih bisa di dengar dengan samar oleh telinganya
Ada rasa kesal dan cemburu di dadanya melihat interaksi Alex dengan Maura tepat di depan matanya
*huh, wanita si4lan ini* umpat Elana dalam hati
Maura yang malas menanggapi buru-buru ia menghabiskan sarapannya agar bisa segera enyah dari hadapan wanita lumpuh di hadapannya ini
*udah tua, cacat, pake jahat lagi, miris amat dah hidupnya* suara hatinya berbisik
\=\=\=\=\=\=\=\=
Wanita berumur 34 tahun itu menggigit ujung kukunya dengan mata terus berputar kesana kemari. ia tengah gugup dan berfikir keras
Drt drt drt
"hal..."
'gimana? Udah bereskan? Aku udah otw nih, nggak sabar pengen main lagi sama kamu, sayang' cercah orang di balik telpon
Elana mendesah panjang, pria simpanannya memang tak sabaran dan tak ada puasnya, padahal semalam mereka habis jalan bareng dan tentunya juga sempat bermain di salah satu hotel namun bagi pria gila itu tentu tak puas sebab Elana harus pulang sebelum jam 11 malam demi mematuhi aturan jam keluar suaminya. Berhubung Alex tengah di semarang kota yang sama dengannya, jadinya Elana tak bisa melanggar aturan itu jika ia masih ingin memperpanjang hubungan gelapnya dengan prianya
"aku akan usahain, beri aku waktu 30 menit untuk menyingkirkan penghalang" sahut Elana memberi penawaran
'baiklah, aku akan singgah di mall untuk membeli pakaian seksi untukmu, 30 menit aku otw kesana' pria itu mau tak mau harus mengalah, hanya beberapa puluh menit demi mewujudkan bersenang-senang beberapa jam bersama istri orang
"makasih sayang. Belikan aku linggerie seperti yang kamu robek semalam" balas Elana genit
'sesuai keinginanmu honey' panggilan telpon laknat itupun berakhir.
Elana tak ingin buang-buang waktu, ia segera beranjak menuntun kursi rodanya mencari bik Imah, biasanya pembantu paru baya itu sedang membersihkan bagiannya di lantai atas.
ia harus menyingkirkan bik Imah bagaimana pun caranya. urusan Maura, madunya itu hanya akan dikurung di kamar sedang Asep tidak jadi masalah sebab Asep hanya bertugas di pos dekat gerbang. sempurna. pikir Elana
Dan ya, senyuman miring tercetak di bibir Elana kala melihat targetnya malah menuju lantai atas. Ia mulai mengayun kursi pesakitannya menuju sang target saat Imah telah berada di undakan tangga teratas
"eh nyonya? Apa nyonya butuh sesuatu? Tanya Imah melihat keberadaan Elana, wanita lumpuh yang beberapa menit lalu memasuki kamarnya setelah sarapan itu tak biasanya menampakan diri saat urusannya di meja makan selasai
Imah bertanya demikian karna berfikir, barang kali istri tua tuannya ini butuh sesuatu bukan?
"demi kebahagiamnmu Elana, tak mengapa bersikap egois, kamu berhak memperjuangkan kebahagiannmu, meski harus kembali mengorbankan seseorang" gumam Elana membuat bik Imah mengeryit bingung dengan Elana yang berucap samar sampai Imah tak bisa mendengarnya
"nyonya bilang sesuatu?" tanya Imah pada majikannya yang kian maju mendekatinya
Sepasang mata dari lantai satu tak sengaja menangkap gelagat aneh dari Elana saat ia tak sengaja mendongak ke arah tangga
Entah karna firasat atau karna ia berpengalaman soal otak licik, Maura membuang sapunya asal dan sigap berlari menaiki tangga hendak mencegah pergerakan Elana
Namun diluar kendali sebelum Maura berada di lantai atas, ia melotot dan sepersekian detik selanjutnya tubuhnya tertimpa sesuatu yang berat membuat tubuhnya terjungkal hingga harus berakhir dilantai, tapi ia tak sendiri, seseorang menemaninya tergelatak di lantai... Elana?
"Elana!" pekikan seorang mengalihkan atensi Maura, pria bertubuh tegap itu berlari ke arahnya.. Ralat, ke arah tubuh Elana yang tak melakukan pergerakan sama sekali
"hei! Elana!" Alex menguncang tubuh Elana, lelaki itu tampak kacau melihat keadaan Elana
"Elana bangun!" mendapati tak ada respon dari istrinya, Alex segera membopong tubuh Elana
melirik sekilas ke arah Maura yang juga masih tak bergeming dari tempatnya, sebelum pria itu beranjak dan membawa tubuh pingsan Elana menuju rumah sakit
Kenapa hanya Elana? keadaanya sama dengan Elana meski ia tak sampai hilang kesadaran tapi ia juga korban. ia sekuat tenaga menahan sakit. Ia juga butuh pertolongan. Meski ia tak sampai pingsan tapi ia juga tengah kesakitan. Badannya serasa remuk apalagi ia juga mengalami keram pada perutnya.
Inikah perlakuan adil yang Alex tawarkan hari itu?
"bulshit!" desis Maura, rupanya lelaki itu seorang pendusta besar. siapa kau Maura berani berharap belas kasihan dari pria yang hanya butuh ************ dan rahimmu untuk menampung benihnya. sadar diri kau Maura. peringatnya
Netranya masih menatap nanar punggung Alex hingga menghilang di telan dinding pembatas ruang keluarga dan ruang tamu, menggigit bibirnya guna menyalurkan rasa sakit pada perutnya, bahkan rasa nyeri pada persendiannya tak lagi ia rasa karna rasa sakit pada perutnya lebih mendominasi
Maura menyerah, ia tak sekuat itu
Perlahan mata yang berair itu mulai menutup mengabaikan pekikan dari bik Imah yang terus memanggil namanya agar tetap terjaga
"aku lelah, please" batinnya memohon
Bersambunggg...
#####
Segini dulu yak. bukannya mengulur tapi semua butuh proses.
Dilarang mengumpat, di larang misuh-misuh
Sebelum menyumpah sarapahi autornya, saya lebih dulu memohon maaf lahir batin. maafin kekurangan saya. saya hanya manusia biasa yang kebetulan lagi coba coba menuangkan kehaluan di aplikasi mangatoon.
Selamat hari lebaran idul adha bagi kalian saudara seiman ku. selamat berkurban, asal jangan korban perasaan yak
Oh btw, makasih banyak rekomended namanya. Sayang kalian deh. Hahahah
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu