TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK S2 77


Mobil pajero hitam milik Alex melaju di jalan raya Semarang. Sesekali ia melirik Maura yang duduk menyandarkan kepalanya di kursi penumpang depan dengan tatapan mengarah keluar jendela, sedari mereka berangkat dari apartemen, posisi wanitanya itu tak berubah


"ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Alex memecah keheningan.


Tak mendapati respon dari sang istri, Alex menoleh sebantar sebelum kembali fokus ke arah jalan.


"kamu ngantuk?" tanyanya lagi sambil melirik wanitanya


Mendesah pelan saat pertanyaannya hanya dijawab gelengan kecil oleh Maura yang ia lihat melalui lirikannya


Ah, Alex merasa serba salah. Hendak bertanya lagi untuk mengalihkan fokus sang istri, namun Alex memilih bungkam. Ia tak mau mengganggu mood istrinya yang mungkin kali ini sedang jelek, buktinya Maura lebih memilih memandangi pemandangan polusi diluar mobil dari pada memandangi ketampanannya, mubatzir banget kan. Pikir Alex narsis


Tak tahu mesti berucap apa, Alex meraih tangan Maura, dibawa ke bibirnya, dikecupnya beberapa kali sebelum membawa ke pangkuannya. Membiarkan tangan mereka saling bertaut sementara tangan kananya fokus pada stir. Alex menyadari Maura sempat menengang namun hanya sebentar. Wanita itu membiarkan Alex tanpa berniat menoleh


Selanjutnya perjalanan mereka ditemani kesunyian.


Ekspresi Maura baru bereaksi saat mobil mereka berhenti di depan sebuah gerbang yang lumayan tinggi. Ia tegakan tubuhnya, menatap sekeliling. Asing. Pintu gerbang itu perlahan terbuka


"makasih Mang" ucap Alex pada penjaga gerbang


"mang Asep?" suara lirih dari Maura membuat Alex menoleh, ia kembali raih tangan kanan Maura sebelum melajukan mobilnya memasuki sebuah pakarangan luas


"tadi mang Asep kan?" tanya Maura saat Alex mematikan mesin mobilnya setelah memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah rumah mewah.


"iya" jawab Alex santai


Deg


Kenapa rasanya hati Maura nyeri. Jangan bilang Elana...


"ayok, sayang" ajak Alex yang kini sudah membukakan pintu mobil untuk Maura


Maura meraih tangan Alex setelah menghela napas panjang. Dadanya sedikit sesak akan tebakan yang ia simpulkan sendiri


"gimana, bagus nggak?" tanya Alex saat menatap rumah tingkat 2 berwarna putih di hadapan mereka


Maura mengangguk tipis. Rasa kesal mejalari hatinya saat Alex masih sempatnya bertanya padanya.


Rumah mewah dengan pakarangan luas ini memang sangat menakjubkan di mata Maura namun menyadari jika rumah ini bukan miliknya, Maura acuh saja.


Rumah ini 2 kali lebih bagus dari Rumah Alex dan Elana dulu


Dan Maura tebak jika rumah ini adalah rumah Elana? Jangan bilang jika ini rumah pemberian Alex untuk mantan istrinya itu? Jika ia, Maura tak akan terima. Ia saja yang sebagai istri sah satu-satunya masih ditempatkan di apartemen, walau mewah tapi tetap saja Maura juga menginginkan rumah sendiri. Dan ia menolak tegas jika Alex membawanya ke rumah dimana Maura pernah merasa disekap oleh suami tuanya yang tampan itu


"kok mas perhatiin dari tadi muka kamu suntuk gitu. kenapa, hm? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Alex lembut


"nggak mas ih" jawab Maura ketus sambil menyingkirkan tangan Alex dari kedua pipinya "katanya mau ketemu Elana, ayo langsung masuk aja" lanjut Maura berjalan mendahului Alex


Ya, setahu Maura, mereka keluar karna Maura minta untuk bertemu Elana setelah kejujuran yang Alex ungkapkan tadi pagi dan lelaki itu menyetujuinya untuk membawa Maura ke tempat Elana.


Flashback on


Semalaman tidur Alex tidak nyenyak. Nurani dan logikanya terus berperang, menyalahkan dan membenarkan keputusannya yang belum mengatakan keberannya pada sang istri.


Paginya, ia bangun lebih awal, ia putuskan untuk mengatakan kebenaran pada sang istri. Alex tak ingin hanya karna kesalahpahaman Maura meninggalkannya, sama seperti mimpi yang hadir dalam tidurnya semalam. Apalagi jika itu nyata, tidak. Alex bahkan tak berani membayangkannya. Mimpi saja bisa semenyakitkan itu ia rasa, bahkan sakitnya masih terasa setelah Alex tersadar dari tidurnya


dengan napas memburu.


"jangan pernah pergi dariku, sayang" gumam Alex mengelus lembut pipi tembem Maura, ia memandangi dengan puas wajah pulas istrinya


"sehat-sehat nak, papa tunggu kelahiranmu untuk melengkapi kebahagian papa dan mama" ucap Alex beralih mengelus perut buncit Istrinya


Setiap kali ia tersiksa karna tak bisa bermain dengan Maura, Alex akan mengantinya dengan doa agar istrinya bisa selamat mengantarkan anak mereka menyapa dunia. Akan Alex berikan dunia terindah untuk istri dan anak-anaknya


"nngghh" lenguhan Maura membuat Alex menarik wajahnya dari perut Maura dan kembali ke posisi semula


Cup


"selamat pagi, istri" sapa Alex setelah mendaratkan kecupan di pipi Maura


"pagi, suami" balas Maura dengan suara seraknya khas bangun tidur


"uluh uluh, manjanya si mama muda" gemas Alex membalas pelukan istrinya yang kini menenggelamkan wajah cubby-nya di dada Alex


"mas?"


"hm?"


"jangan cepat mati" gumam Maura makin mengeratkan pelukannya


"hah?" beo Alex


"kerja jantungmu cepat sekali. Berdentak keras. Takutnya detakan untuk esok hari malah tidak kebagian" jelas Maura ketakutan, tapi malah memancing reaksi tawa Alex


"Hahahah" tawa Alex membuat Maura memberengut kesal karna merasa kegiatannya terganggu untuk menghangatkan diri di tubuh suaminya itu


"sepertinya akan lebih baik jika memang kamu tak mengambil sarjanamu sayang, dengan begitu tak heran dengan otak..." ucapan Alex yang diselingi tawa terhenti saat melihat tatapan tajam Maura


Wanita itu kini melepas pelukannya dan menatapnya seolah ingin mengulitinya


*ah, si ibu hamil dengan segala perasaan sensitifnya* batin Alex awas


"maksud mas nggak gitu sayang, kamu salah..."


"mas mengatai Maura bodoh kan?" potong Maura dengan tuduhannya


"nggak sayang. Sumpah!" sela Alex menggeleng-gelengkan kepalanya


"loh loh, kok nangis" Alex segera menarik Maura ke pelukannya


"maafin mas kalau ucapan mas menyinggung perasaanmu. Tapi mas tak ada niatan untuk itu. Detakan jantung memang ada hubungannya dengan kematian, tapi cepat atau normalnya itu tak perpengaruh dengan jatah esok hari sayang. Detakan jantung akan cepat jika seseorang tengah merasa gelisah, ketakutan dan bahagia. Dan detakan jantung Mas berdetak cepat karna ketiganya. Gelisah karna Mas takut tak bisa terus membahagiakanmu walau mas ingin, ketakutan jika suatu saat nanti kamu pergi dari sisi Mas, dan bahagia karna kamu telah memilih Mas sebagai suami kamu. Kamu adalah sumber detakan jantungku yang sebenarnya sayang. Jadi jika kamu tak ingin mas mati besok, satu tahun, atau 50 tahun kedepan jangan pernah tinggalin Mas" jelas Alex pajang lebar sambil mengelus punggung Maura


"Maura milik Alex, Alex milik Maura, Maura milik Alex, Alex milik Maura" ucap Alex mengikuti irama detakan jantungnya


Blush


Maura tersenyum malu-malu dalam dekapan Alex


Maura tahu jika detakan jantung cepat dan normal itu tergantung suasana hati seseorang, dan memang detakan jantung seseorang tak dijatah sekian banyak sampai bisa berhenti, namun entah mengapa pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.


Dan setelah mood Maura kembali bagus, Alex memberanikan diri mengungkapkan kebenaran dengan syarat agar Maura tak menyelanya sebelum ia selesai berbicara.


Dan mengalirlah cerita Alex sesuai bukti yang ia peroleh.


Elana adalah dalang dibalik semuanya


Dan diluar dugaan Alex, Maura tidak terkejut akan fakta itu, bahkan dengan santai Maura berucap "sudah kuduga"


Dan pengakuan Maura-lah yang berhasil membuat Alex terkejut dan marah sekaligus


Cerita Maura beberapa hari lalu saat bertemu dengan Elana. Maura menceritakan semuanya. Bahkan permintaan anehnya kala itu ia akui bukan sekedar keinginan bayinya, tapi karna Maura ingin memperlihatkan bahwa Elana sudah kalah telak olehnya


"tapi dia nggak ngapai-ngapain kamu kan?" tanya Alex


"nggak, bahkan aku berhasil jatuhin mentalnya" jawab Maura santai


Alex tak peduli bagaimana Elana, yang jelas Mauranya baik-baik saja.


"mas?"


"hm?" guman Alex yang asik mengusap lembut alis Maura dengan ibu jarinya


"aku mau ketemu Elana, boleh?"


Flashback off


Alex mengikuti langkah Maura memasuki pelataran rumah, setelah sampai di depan pintu Alex memberikan kunci pintu pada Maura


"nih ambil. Buka sendiri" ucap Alex melihat kebingungan Maura


melihat wajah tak bersahabat Maura, membuat Alex berinisiatif membuka pintu sendiri


"mas yang pegang kunci rumah Ela..."


ceklek


pertanyaan Maura terhenti saat pintu rumah terbuka, digantikan dengan matanya yang membulat sempurna melihat figura besar yang langsung menyambut kedatangan mereka.


Sebuah potret dimana seorang wanita dan pria tengah berpose mesra di pinggir pantai dengan pakaian pengantin. Dan itu adalah potret dirinya dengan Alex


"tetap cantikan walau perutnya buncit" goda Alex memerhatikan foto mereka beberapa minggu lalu di Bali.


"mas, Rumah ini..."


"Rumah kamu sayang. hadiah kecil untuk istri cantik tuan Alex Javier Maulana" ujar Alex membuat mata Maura berkaca-kaca dan sepersekian detik selanjutnya menghambur memeluk erat suaminya


"makasih mas" ujar Maura tulus


"sama-sama sayang" balas Alex mengelus lembut punggung istrinya


Setelah menghabiskan beberapa jam meninjau setiap sudut rumah mereka kini mereka menuju tempat Elana yang sebenarnya


"jadi ekpresi suntuk itu karna kamu pikir itu tempat baru Elana?" tanya Alex setelah Maura mengatakan kesalahpahamannya mengenai rumah baru itu


"hu'um. aku kan tadi ngajaknya ketemu Elana, kamu bawa aku kesitu, yah jadi siapa yang tidak berpikiran demikian" jawab Maura tak mau disalahkan akan kecemburuannya


"iya, salah aku" ucap Alex mengalah, ia mengacak rambut istrinya gemas.


"aku lebih dulu membawamu ke rumah baru kita karna memang itu lebih penting untuk kita kunjungi lebih dulu sayang, prioritasku saat ini yah kamu dan kebahagiaanmu" tutur Alex meraih tangan Maura dan mengecupnya.


selang beberapa saat, tibalah mereka di sebuah bangunan lumayan besar, bangunan yang menampung ratusan penghuni, penghuni yang tak sehat alias sakit. dan bangunan ini adalah Rumah Sakit Jiwa


dengan tangan saling bertaut, Sepasang suami istri itu ditemani seorang suster melangkah di lorong yang dipenuhi orang orang kehilangan kewarasannya


dan tibalah mereka disebuah kamar yang berjeruji, menampilkan seorang wanita masalalu Alex di dalamnya


Elana terbaring menyedihkan. Kedua tangannya di ikat di masing-masing tiang dengan kaki... Yang sudah diamputasi


Dan karna keadaan Elana inilah yang sempat diceritakan Alex tadi pagi membuat Maura merasa iba ingin mengunjungi bahkan mengampuni Elana atas kematian ibunya. baginya penderitaan Elana adalah balasan setimpal


End!


#####


akhirnya bisa juga sampai di tahap ini setelah 13 bulan lamanya berkutat dengan kehaluan TSYK


terimakasih untuk para readers setia yang sudah mendukung autor, TERIMAKSIH SEMANGATNYA, TERIMAKSIH SARAN dan MASUKANNYA, TERIMAKSIH VOTE KOMEN DAN LIKENYA JUGA TERIMAKSIH YANG UDAH NGASIH TIPS-nya


apalah tulisanku tanpa kalian semua..


jangan tinggalin outor yah, tetap kasih masukan akan kehaluan Autor dicerita Autor lainya yang masih on goin... luv kalian semua 💖💖💖


mau absen dong


readers TSYK dari kota apa aja nih?


kalau autor orang Wajo (Sulsel) dan Mamuju (Sulbar) kuliahnya di makassar, Universitas Negeri Makassar (bagi yang pengen tau. hahahah)


tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak... ngehalu. hahahah


bay bay