
seorang wanita sedang memantau keadaan gudang perusahaan Prasetio seorang diri yang harusnya tadi ia akan bersama sang Presdir, hanya saja sepertinya si presdir lebih memilih meninggalkan urusannya demi menemui sang kekasih hati
sebenarnya, tak ada yang menyuruhnya meninjau seorang diri gudang perusahaan, namun karna tak tahu harus melakukan apa setelah ditinggal begitu saja tanpa pemberitahuan apa apa oleh sang presdir, wanita itu yang tak lain adalah Alicia yang merasa tak dianggap kehadirannya oleh Daniel setelah kedatangan Maureen, memilih tetap melaksanakan jadwal yang harusnya Daniel lakukan
Alicia berinisiatif sendiri melakukan itu, nanti, ia tinggal melaporkan secara detail peninjaunnya kepada presdir, toh Alicia sudah mahir akan selut belut prosedur kerjaan yang beberapa bulan ini ia geluti, dari pada buang buang waktukan? karna jadwal Daniel hari ini padat dan jadwal itu tidak ada yang boleh di tunda karna memang deadline hari ini.
meninjau gudang, melakukan rapat singkat dengan para manajer, bertemu duta Jepang di istana kepresidenan, meeting dengan klien di perusahaan Prasetio, dan meninjau langsung Mall yang didirikan Prasetio Corp yang segera akan di resmikan.
namun sepertinya Daniel lebih mementingkan Maurren dari pada pekerjaannya. pikir Alicia
mengingat itu, Alicia menghembuskan napasnya kasar, ia hanya bisa melakukan apa yang harus ia lakukan, selebihnya entah Daniel akan terbantu atau tidak atas tindakannya, itu urusan belakangan, toh Alicia melakukannya untuk membantu pekerjaan Daniel agar tak terbengkalai.
dan jauh dalam hatinya, Alicia berharap Daniel masih sudi menjadikannya istri untuk sementara ini, Alicia tidak siap harus kembali lagi ke keluarga yang menjadi sumber penderitaannya.
tapi Alicia tak boleh terlalu berkhayal dan berharap, sebab si pemilik sesungguhnya telah kembali.
sementara di lain tempat masih dalam area perusahaan Prasetio
Daniel menatap dingin wanita yang pernah menjadi tunangannya itu
"sayang.." Maureen kembali berusaha meraih lengan Daniel dan hendak bergelayut manja disana namun Daniel segara bersedekap dada
Maureen susah payah menelan ludahnya mendapat tatapan dan sikap dingin Daniel itu
"aku minta maaf kalau aku mengganggumu..." cicit Maureen, Maureen tahu maksud Daniel meski Daniel tak mengatakan apapun, hanya lewat sikap dan tatapan mata Daniel, Maureen tahu jika Daniel sedang mood jelek
"aku akan menunggumu, kita perlu bicara" lanjutnya
"tapi bolehka aku bertanya kenapa nomor ponselmu tidak aktif?" tanya Maureen
"hubungi Sekertaris Ali jika ada keperluan dengan saya" setelah mengucapkan itu, Daniel memasuki kembali lobi perusahaan, meninggalkan Maureen yang masih syok dengan ucapan daniel
bagaimana tidak, ia yang masih merasa bertunangan dengan Daniel namun diperlakukan bak orang asing oleh Daniel, kenapa harus melalui Ali dulu jika ingin bertemu Daniel?
Maureen memang sudah biasa dengan sifat dingin Daniel, namun kali ini sikap Daniel cukup keterlaluan padanya, tak sadarkah Daniel bahwa Maureen adalah tunangannya? apa Daniel telah melupakannya karna telah menjadi presdir? Tidak!
"Sayang!" panggil Maureen, namun Daniel mengabaikannya dan tetap melanjutkan langkahnya
"aku tak akan menyerah Daniel, kamu akan menjadi milikku seutuhnya" geram Maureen, kemudian memasuki mobilnya
ya, mereka hanya berbicara di depan lobi perusahaan, taukan Daniel tak suka buang buang waktu. lebih tepatnya Daniel secara langsung mengusir Maureen melalui tindakannya tanpa repot repot mengeluarkan suaranya
setelah memasuki lobi, Daniel mengedarkan pandangannya,
"kemana dia?" tanya Daniel pada dirinya sendiri mencari sosok istri kecilnya
"apa dia cemburu yah tadi?" gumam Daniel, seuntai senyum terbit dibibirnya
"tapi kemana dia? apa dia kembali ke ruangan dan menangis disana?" Daniel segera melangkah menuju lift khusus presdir
Daniel mengerutkan keningnya melihat lift sedang berjalan turun
tidak lama setelahnya, lift terbuka dan disana muncullah sekertaris Ali dengan wajah terkejutnya
"Tuan" Ali menundukkan kepala menyapa Daniel
Daniel mendengus kesal
"siapa yang memberimu izin menggunakan lift"
Ali terperangah dengan ucapan tuan Daniel, apa itu artinya hukumannya belum selesai
"bertambah sebulan" ucap Daniel datar kemudian mengendikan dagunya menyuruh Ali menyingkir dari hadapannya
*wahh,, sungguh tuan muda pendendam* batin Ali tak habis pikir
jadi Ali selama sebulan harus menggunakan tangga darurat? ini ma penindasan! ohh bisakah ruangannya pindah ke lobi saja atau setidaknya pindah ke lantai 5 atau 10 lah, ohh kasihan betisnya yang harus memanjat lantai 30 setiap hari bahkan mungkin setiap jam, toh Ali juga cukup sibuk keluar masuk perusahaan mengadakan meeting dan rapat mewakili Daniel. mohon Ali dalam hati
andaikata Ali tak pernah berjanji pada dirinya untuk tetap setia pada tuan Daniel apapun yang terjadi, sudah Ali tenggelamkan wajah tampan tuan mudanya itu di selokan..
*tapi aku juga tak berani sih* batin Ali menghilangkan pikiran jahatnya
Daniel menatap tajam Ali, "kamu mengumpatiku" tebak Daniel karna melihat Ali mengeleng gelengkan kecil kepalanya
"tidak tuan!" seru Ali, Namun tatapan tajam Daniel terus menghunusnya
"tuan, apa peninjauan gudangnya telah selesai?" tanya Ali berusaha mengalihkan topik
"bukannya asisten Alicia tadi bersama tuan?"
"iya"
"tapi kenapa tuan..."
"Dara kembali ke ruangan" potong Daniel menjawab kebingungan Ali
"tapi asisten Alicia belum balik setelah tadi turun bersama tuan" gumam Ali bingung, sebab ia baru saja dari ruangan Daniel namun ternyata ruangan tuannya sudah kosong, dan Tasya mengatakan tuan Daniel dan asisten Alicia sudah turun untuk melakukan peninjauan
jari Daniel yang hendak menekan tombol lantai 30 terhenti karna samar-samar mendengar gumaman Ali
"oh sial!" Daniel segera keluar dan melangkah lebar menuju gudang perusahaan yang ada di belakang kantor utama, meninggalkan Ali yang masih bingung mencerna apa yang terjadi sebenarnya.
Flashback on
setelah mendapatkan kesadaran dari serangan tiba tiba dari Maureen, Daniel segera mendorong tubuh Maureen yang menempel pada tubuhnya, Daniel sedikit melirik kebelakang, ia melihat istrinya itu tertunduk
beruntung Maureen yang buta jika sudah behadapan dengan Daniel tak melihat keberadaan adik tirinya itu, karna fokusnya hanya pada Daniel seorang
dan Daniel yang memang tak ingin Maureen berada di dekatnya maupun dekat dengan Alicia segera mengajak Maureen keluar, agar Maureen tak mengusik istrinya
"ikut saya" ucap Daniel melangkah meninggalkan Alicia yang masih berdiri mematung dengan tertunduk
Maureen tentu saja sangat bahagia, ia lingkarkan tangannya ke lengan Daniel karna mengira Daniel meluangkan waktunya untuk bertemu dengannya, Maureen terus bergekayut manja meski Daniel telah beberapa kali menyingkirkan lengan Maureen
*wanita lintah ini* geram Daniel dalam hati
bukannya ia tak bisa berbuat kasar pada Maureen, hanya saja ia sudah punya rencana untuk menghancurkan wanita lintah ini secara perlahan agar bisa merasakan bagaimana pembalasan dendam dari suami dari gadis kecil yang selalu menjadi bahan mainan Maureen selama ini. tunggu saja, Daniel tak pernah main-main akan mengahancurkan keluarga Dinata sampai keluarga itu bersujud di kaki Istrinya, Alicia.
sesampainya di luar lobi, Daniel sedikit mendorong tubuh Maureen agar menjauh dari tubuhnya yang berharga
"sayang kita mau kemana?" tanya Maureen antusia
*aku mau kerja denga istriku*
"sayang kok sopir kamu lama sih, kita pakai mobilku aja yah" tawar Maureen mengira Daniel sedang menunggu sopirnya untuk mengantar mereka melepas rindu
*cepatlah enyah kau, aku ditunggu Daraku di dalam*
"Sayang.." panggil Maureen manja karna Daniel tetap dengan ekspresi dingin dan tak membalas ucapannya
*ahh wanita sial4n ini* umpat Daniel
Daniel menatap tajam Maureen, ekspresi dinginnya tak pernah berubah hingga meninggalkan Maureen yang masih teriak teriak memanggilnya
Flashback off
Daniel menghembuskan napas lega, setelah sampai di gudang dan melihat sosok istri kecilnya sedang sibuk memantau keadaan gudang
ya, Alicia hanya memantau keadaan dan kinerja tim bagian gudang, ia layaknya bos besar yang hanya mondar mandir berjalan memantau dari satu bagian ke bagian lain, kedua tangan Alicia bersedekap dada dengan kepala terangkat. bukan, bukan menunjukan sikap sombong dan arogan, toh setiap karyawan yang dilaluinya, Alicia selalu menunjukan senyumnya dan sedikit menganggukan kepalanya tanda menyapa, setelahnya kepalanya kembali terangkat, menoleh ke kanan dan ke kiri memindai keadaan kinerja kepala gudang dan tim bagian gudang
Daniel diam diam tersenyum melihat itu, istri kecilnya layaknya bos besar saja, para karyawannya pun pada menghormati Alicia, meski mereka tau kalau Alicia hanya peserta magang, namun mereka menghormati Alicia bukan semata karna Alicia adalah asisten Presdir, namun karna Alicia memang disukai berkat sikap dan sifatnya yang ramah dan ceria
"aku bangga memilikinya" gumam Daniel dengan senyuman mengembang, namun seketika ekspresi Daniel berubah terkejut saat Alicia hampir menabrak karayawan yang sedang menyusun barang karna mata Alicia masih sibuk menoleh ke kanan ke kiri
"bodoh!" umpat Daniel kemudian berlari menghampiri Alicia
namun langkah Alicia dengan karyawan itu makin dekat,, Daniel spontan berteriak
"DARA AWAS!"
Bersambunggg....
#######
jeng jenggg jenggg...
penasaran gak? oh enggak yah.. yaudah deh
tapi luv untuk readers 💓
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu