
Mobil marsedez benz keluaran terbaru milik Daniel melaju meninggalkan perusahaan utama Prasetio Corp saat langit sudah mulai menampakan warna jingga.
mata yang identik dengan tatapan tajam kini berubah sendu itu sesekali melirik ke arah wanita hamil yang duduk disampingnya tengah membuang pandangan ke luar jendela, Ia memilih menyetir sendiri dan menyuruh supir istrinya untuk menunggu sekretaris Ali yang mungkin akan lembur karna pekerjaan yang harusnya diselesaikan Daniel hari ini sedikit berantakan karna suasana hatinya tak bersahabat.
"Aku akan mengantar jika kamu menginginkannya" tawarnya memecah keheningan yang menyelimuti perjalanan mereka
"tidak untuk hari ini, besok saja" tolak Alicia tegas namun masih dengan suara lembut, ia berucap tanpa menolehkan pandangannya.
"tuan butuh istrirahat, lagian ini sudah hampir malam" lanjut Alicia sebelum Daniel menyelanya.
Sesuatu dalam hatinya menghangat mendengar ucapan wanitanya yang seolah peduli padanya yang memang sedang tak baik-baik saja, bukan hanya perasaanya namun fisiknya juga sangat lelah.
Bagaimana tidak? Setelah mendapat penolakan eh lebih tepatnya cinta tak berbalas atas pernyataan cintanya pada sang istri, rasa mualnya kembali menyerang bahkan sampai kembali muntah karna di serang rasa takut kehilangan dan rasa bersalah yang kian menghantam dadanya. perasaan itu membuat perutnya bergejolak hingga kembali muntah di tambah dengan hatinya yang berdenyut nyeri atas sikap tenang sang istri yang nyatanya menyimpan luka mendalam, membuatnya semakin menyesal dan menambah kesan sekarat pada sosok pria arogan yang tak berhati sebelum akhirnya menemukan belahan jiwanya, pada sosok istri penggantinya, Alicia.
"apa,, dia baik-baik saja hari ini?" Daniel kembali memulai percakapan setelah cukup lama saling membisu saat mobil mereka terjebak lampu merah di perempatan jalan, menoleh ke arah Alicia, tatapannya tertuju pada perut buncit di balik kain kameja biru muda sang istri.
Alicia menegakan duduknya, matanya memicing ke depan saat tanpa sengaja netranya menangkap sosok buk-ibuk dengan sepeda motor bebeknya ikut terjebak lampu merah yang ambil jalur kanan namun sennya malah ke kiri. dan naasnya, helm tanpa kaca yang bertengger di kepala sang ibu tidak menutup apa yang harusnya jadi fungsinya sebab terhalang konde' super, sekali tiup angin langsung terbang dah tuh helm
Alicia mengeleng samar, berdoa dalam hati semoga tidak terjadi apa-apa pada ibu itu
"apa dia menggangumu?" tanya Daniel terdengar khawatir melihat gelengan samar sang istri, ia Memang selekat itu memandangi Alicia saat istrinya itu membenarkan duduknya tanpa peduli arah pandang istrinya
Alicia menoleh sekilas ke arah Daniel, kemudian ia menunduk dan meletakan tangan dan mengelus pelan perutnya
"Dia anak baik, ia tak mengganguku seharian ini" jelas Alicia kemudian
Daniel bernapas lega, ia kemudian mengangguk dan mengaminkan dalam hati ucapan Alicia
Hingga diam kembali menyapa keduanya saat mobil melaju hingga sampai di Mansion
Mematikan mesin mobil, Daniel segera meraih pengait sabuk pengaman sang istri untuk dilepaskannya, bahkan sabuk pengamannya sendiri belum ia lepas membuat gerakannya sedikit kesusahan. Ia bertindak cepat agar istrinya yang hendak membuka pengaitnya tak perlu bersusah payah.
"tunggu!" titahnya mencegah pergerakan tangan Alicia yang hendak membuka pintu mobil, ia kemudian melepas secepat kilat seal belt miliknyanya dan bergegas turun
Namun Alicia tak menghiraukan, ia bukan orang gila perhatian semacam ini. Tangannya yang terlanjur memegang knop pintu mobil dibukanya cepat. Ia sudah gerah seharian berkeliaran di luar. Dan ia butuh air dingin untuk menenangkan pikiran dan perasaannya yang berkecamuk sejak pernyataan cinta tuan suaminya tadi.
Daniel mengetatatkan rahangnya, ia tak suka diacuhkan apalagi dibantah, tapi alih-alih marah ia hanya terdiam menatap sendu wanita yang kini berjalan melewatinya setelah mengucapkan 'permisi tuan'
Hingga tubuh wanita itu hilang di balik pintu utama, Daniel menundukan kepalanya, menatap lurus ke kakinya yang ia gerak-gerakan di bawah sana untuk mengurangi rasa sakit akibat tersandung pada pot semen besar karna terburu-buru hendak membukakan pintu untuk wanitanya yang nyatanya tak peduli padanya, tersenyum miring, rasa sesak dalam dadanya menggantikan rasa sakit pada kakinya karna pengabaian sang istri.
Memejamkan mata guna mengurai rasa sesak dalam dada nyatanya malah makin terasa nyeri di dalam sana.
Seumur hidupnya yang tak pernah mendapat penolakan harus ia rasa di usianya yang kian dewasa oleh istri tercinta. Sial! Harga dirinya jatuh sejatuh-jatuhnya.
Melangkah gontai menyusul sang istri, pria yang sebentar lagi menjadi ayah itu kembali merasakan tulang tulang penyanggah tubuhnya lemas kala melihat siapa tamu yang bertandang ke mansion terduduk dengan wajah serius di ruang tamunya di sore hari menjelang malam ini.
Bukankah semua tadi sudah selesai?
Menelan ludah kasar kala matanya tertuju pada sosok wanita pemilik hatinya yang kini terisak kecil dalam pelukan pria tua yang tadi sempat mengancam Daniel akan membawa pergi belahan jiwanya.
Hueeekkk
Daniel berlari memasuki area dapur dengan tangan berada di mulutnya.
Semua orang yang melihatnya terkejut terkecuali Alicia.
Maya sebagai penerima tamu menyusul putranya setelah pamit dengan sopan pada besannya.
Ya, karna kedua anak Arham adalah laki-laki.
Jujur Satria belum puas melepas kangen pada sang cucu yang baru pertama kali ditemuinya, karna memang baru beberapa bulan ini ia tahu keberadaan sang cucu namun baru berani muncul sekarang, lebih tepatnya baru memiliki kesempatan untuk menemui putri dari putrinya yang sudah puluhan tahun hilang kontak.
Satria yang ragu akan penerimaan Alicia pada keluarga dari ibunya sedikit ketakutan untuk menampakan diri di hadapan sang cucu, namun karna tak tahan lagi, rindu yang kian menggunung dan mendesak membuatnya mengenyahkan perasaan khawatirnya dan akhirnya ia meminta Arham untuk menemaninya, urusan Alicia akan menolak kehadirannya urusan belakangan, yang penting rasa rindunya bisa terobati, dan diluar dugaan Alicia malah membalas pelukannya tak kalah erat kala mengetahui jika pria tua yang hampir mirip dengan paman Arham adalah kakeknya. Awalnya Alicia ragu namun setelah mendapati kenyamanan dalam dekapan sang kakek, ia akhirnya mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu, bahkan rasa nyaman yang dirasanya membuat ia terisak terharu karna menemukan sandaran hidupnya yang selama ini ia cari, puluhan tahun harus luntang lantung tak tahu harus pada siapa ia membagi perasaan sedih dan senangnya pada sosok yang bernama keluarga.
Alicia mengeratkan pelukannya, menjawab dengan tindakan atas pertanyaan sang kakek mengenai tuan suaminya yang Alicia yakini tengah berjuang mengeluarkan muntahan di dalam sana.
"Kamu.. Bahagia?" tanya sang kakek mengelus lembut rambut cucunya
Alicia diam, ia tak mengerti arah tujuan pertanyaan kekeknya
Dan keterdiaman Alicia malah membuat lautan yang sedari tadi mengenang di mata tua nam keriput itu akhirnya menumpahkan laharnya
Cucunya tak baik-baik saja selama ini, sungguh kejam nasibnya yang harus menderita di usinya yang masih mudah
"mau ikut kakek ke Taiwan? Disana ada nenek yang selalu menangis merindukanmu" tawar Satria akhirnya
Alicia mengurai pelukan tapi tak sampai lepas, sungguh berada dekat dengan sang kakek memberinya kenyamanan yang tak pernah ia rasakan selama hidupnya. Ia mendongak dan menatap wajah basah sang kakek, tangan kananya terulur untuk menghapus air yang sesekali masih mengalir di wajah tua itu
"aku,, aku memiliki nenek?" pertanyaan polos Alicia dengan binar antusias membuat Satria dan Arham kembali meneteskan air mata.
Sangat jelas bahwa wanita muda ini sangat menginginkan sosok nenek yang tak ia dapat dari sosok ibu kandung dari Dinata, padahal mereka hidup berdampingan puluhan tahun ini. Ya, memang Alicia selama hidup hanya sebatang kara bukan? Dinata dan keluarganya hanya sebuah sekelompok pecundang yang terlalu takut dengan seorang Maria yang berlagak bak psikopat gila
"ya, namanya Xiu Xianmin, nenek sangat cantik seperti mu" ucap Satria menjawil hidung wanita hamil itu
"benarkah?" tanya Alicia lagi dengan tatapan mata lucunya yang di angguki cepat oleh Satria dengan senyuman
"lalu kenapa nenek tidak datang kesini, apa nenek tidak menginginkan kehadiranku" ucap Alicia berubah sedih, ia teringat bahwa kehadirannya pernah tak diinginkan oleh siapapun sebelum akhirnya ia tahu cerita versi diary Dinata yang sampai hari ini masih coba Alicia untuk berdamai dan percaya namun belum sepenuhnya.
Sekali lagi, Ia terlalu takut akan penolakan atas kehadirannya di dunia ini.
"nenek sedang sakit, sayang. Ia tak bisa melakukan perjalanan jauh hingga 2 bulan kedepan" jelas Arham menjelaskan, kini ia sudah berpindah duduk di samping keponakan kesayangannya.
"nenek sakit?!" pekiknya khawatir
"aku,,, aku mau menjenguk nenek, boleh?" tanya Alicia sedikit terbata
Arham dan Satria saling bertatap, kemudian tatapannya berpindah ke wanita muda yang sedang menunduk menanti jawaban sang kakek atas tawarannya
"boleh sayang, sangat boleh malah, dan nenek pasti akan cepat sembuh jika cucu cantiknya ini mengunjunginya" ucap Satria mendongakan wajah Alicia, dan mendaratkan sebuah cabitan gemas pada dagu sang cucu
"TIDAK!!"
bersambunggg....
######
yuhuuu balik lagi akoh,, penulis yang halunya mood-moodtan
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu