
Maura menatap nanar Map itu, kemudian dahinya sedikit mengekerut, ia bingung. Bukankah harusnya Alex memarahinya dan memukulnya karna ia telah lalai menjaga janinnya? Atau Alex harusnya memberinya pelajaran dengan menyetubuhinya saat ini juga tanpa peduli kondisinya yang masih lemah agar Alex bisa menanam benihnya lagi dengan cepat supaya bisa kembali hadir menjadi janin dalam rahimnya, bukan?
Tapi kenapa malah ia di beri penawaran? bukankah tugasnya datang ke rumah ini memang untuk melunasi hutang dengan cara melahirkan keturunan Alex tak peduli jika ia keguguran berapa kalipun. Karna sesuai perjanjian Awal, hutang akan lunas apabila ada keturunan yang dilahirkan Maura dan kemudian ia akan di lempar pergi setelah itu. Jadi untuk apa berkas ini?
"buka dan baca! Mata dan tanganmu apa tak bisa berguna lagi setelah kamu keguguran?" perintah Alex kembali meninggi saat Maura hanya diam memandangi Map
Dengan cepat Maura membuka map coklat itu, ia kemudian mengeluarkan selembar kertas lalu membaca isi kertas bermataerai itu
Mata Maura membulat, sontak ia mendongak menatap pria di hadapannya
"itu akan menjadi milikmu jika syarat saya kamu kabulkan" ujar Alex membenarkan arti tatapan kaget istri sirinya
Maura kembali menatap kertas di tangannya.
"saya ambil pulpen dulu, tuan" ujar Maura tak bisa menutupi sikap antusiasnya setelah tersadar jika ini bukan mimpi
"ck! Ini" Alex melempar pulpen di meja yang ia ambil dari sakunya.
Lelaki itu memang sudah mempersiapkan semuanya agar lebih mudah untuk melakukan transaksi perjanjian dengan istri mudanya ini
jika dulu hanya bermodalkan ijab kabul untuk memberikan status hubungan halal terus ia bisa menjamah gadis itu sampai membuahkan sebuah janin yang berakhir menjadi sebuah kepuasan birahi, kali ini Alex menawarkan sebuah imbalan.
imbalan yang mungkin bisa menggiurkan untuk istri sirinya agar tetap bertahan disisinya.
Maura yang memang berotak matrealistis tentu tidak akan menolak kebaikan hati suami sirinya. Mengulum senyum kala pulpen di tangannya bergerak lincah membuat sebuah garis tangan di atas lembar kertas perjanjian
*hadiah anak baik* batinnya memuji dirinya
"sudah,tuan" Ujar Maura pelan berusaha menyembunyikan riak wajahnya
Bukannya langsung mengambil kertas yang disodorkan Maura, Alex malah menatap lurus berkas itu, membuat Maura sedikit mendongak menatap pria di hadapannya karna tak ada respon dari pria kejam yang entah dibisikan hidayah apa pagi tadi
Melihat arah tatapan mata Alex membuat Maura menelan ludah kasar, ia cemas. Mungkinkah Alex menyesali penawarannya yang kini sudah ada tanda-tangan kedua belah pihak? Tidak! Itu tak boleh terjadi, perjanjian itu sudah sah.
Dengan gerakan pelan nan tipis, Maura berusaha menarik kertas itu, ia tak mau surat perjanjian akan di robek oleh Alex jika saja pria itu tersadar dari godaan malaikat, namun saat tangan yang memiliki bekas jarum infus di punggung tertutupi plester itu hampir mengangkat kertas perjanjian tiba tiba Alex langsung merebutnya. Beruntung pegangan Maura tak terlalu kuat hingga tak terjadi perobekan saat insiden perampasan terjadi
"kamu,, kamu sudah setuju, perjanjian ini tidak bisa di ganggu gugat" bukan, bukan suara Maura tetapi suara Alex, membuat Maura melongo karna rupanya pikiran Alex tak seperti apa yang ia takutkan, perlahan raut wajah pucat Maura kembali berwarna. Ia sedikit lega
"kamu,, apa tidak ada persyaratan?" tanya Alex pelan tapi berhasil memecahkan keheningan yang sempat terjadi di antara mereka
*persyaratan?* beo Maura dalam hati
Apa maksud suaminya? Apa ia bisa mengajukan persyaratan? Apa Maura diberikan sebuah kesempatan macam itu? Sebenarnya ada apa ini? Malaikat baik apa yang merasuki tubuh suami sah Elana ini? Apa jika ia mengajukan persyaratannya akan dikabulkan oleh Alex?
Meski ragu, Maura akan mencoba mengutarakan keinginannya selagi ia diberikan hak berbicara oleh calon ayah anaknya ini
"saya punya 2.."
"melanjutkan kuliah atau kalau tidak, saya ingin bekerja di sebuah perusahaan saja, tuan" tawar Maura takut-takut.
Tapi jika boleh, ia lebih memilih diberikan sebuah pekerjaan oleh Alex agar ia memiliki pemasukan dana, bukan hanya pemasukan sp3rma. sekertaris atau mungkin wakil direktur sepertinya layak untuknya ,gajinya pasti banyak. Khayal Maura
Toh siapa tahu aja ia bisa seperti Alicia, adiknya itu di angkat sebagai asisten pribadi saat magang oleh tuan Daniel.
*jangan mimpi Maura, tuan Daniel mencintai istrinya, sedang kau? Huh, sebatas rahim bayaran* batin Maura memperingati jiwa iblisnya yang hendak menguasai diri
"tidak dengan salah satunya. Jangan ngelunjak kamu di baikin" dingin Alex menyahut membuat Maura mengehela napas pelan
Kan, dapat mentahan. Tapi apa salahnya sih, ia kan disuruh mengajukan satu persyaratan. Kenapa malah pria di hadapannya menolaknya, jadi untuk apa sebenarnya Alex memberikannya kesempatan mengajukan persyaratan jika laki-laki itu pada akhinya tak setuju. Atau ia hanya dipermainkan?
"saya tidak memiliki persyaratan, tuan" ujar Maura pada akhirnya. Ia mengalah saja. Lagian surat perjanjian itu sudah sangat cukup baginya yang tak memiliki apa-apa dan siapa-siapa di dunia ini
Ia akan menerima nasibnya, hanya bersabar sedikit lagi hingga ia bisa kembali hamil dan melahirkan, selanjutnya ia akan melanjutkan hidupnya di luar sana dengan imbalan yang Alex tawarkan
Jujur, ia lelah, tapi ia tak punya pilihan lain selain pulang kerumah ini, selama dirinya belum diusir. Untuk perlakuan kasar Alex ia hanya bisa tutup mata dan tutup hati asalkan hutangnya bisa segera terbayarkan. Toh semua sudah terlanjur, mahkotanya sudah lama hilang, tak ada lagi yang berharga pada dirinya. Pendidikan dan martabat itu tak ia miliki. Jadi biarlah ia menuntaskan perjanjian konyol ini setidaknya ada bayaran yang ditawarkan Alex meski ia harus menukar sebuah nyawa dengan semua hadia itu. Tak apa, ia lebih baik memilih jalan ini dari pada harus terlunta di jalan. Pikir Maura menerawang
"kamu yakin tak ada syarat?" tanya Alex memecah lamunan Maura, pria itu bertanya memastikan
*ck! Apa sih maunya pria ini* decak Maura dalam hati. Ia merasa Alex benar-benar mempermainkannya. Bagaimana bisa ia bertanya demikian padahal ia sendiri yang menolak jika Maura mengajukan persyaratan
"tidak, tuan, terimakasih" ujar Maura berusaha menampilkan senyumnya
"ya sudah kalau tidak ada, sana pergi ke kamarmu" usir Alex kemudian
"baik tuan, saya permisi" Maura yang tak ingin lama-lama berada dekat dengan pria aneh didepannya pamit undur diri
Alex menatap punggung ringkih itu, ia menggaruk lehernya yang tak gatal
"kamu beneran tak ada syarat?" lagi, suaranya sedikit keras agar tubuh yang hendak hilang dari pandangan matanya mendengarnya
Maura menghentikan langkahnya, ia menipiskan bibirnya menahan kesal, kemudian ia berbalik setelah merubah raut wajahnya, ia berusaha menampilkan senyumnya agar pria itu paham jika ia tak punya syarat apapun. Tapi melihat suaminya tak paham Maura berusaha menyahut namun ia lebih dulu di buat tercengang oleh ucapan Alex
"perlakuan adil sebagai istriku, mungkin?" lirih Alex memberi masukan
Bersambungg...
#######
Salam Mickey Mouse24
Dari Dunia Halu