TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK S2 21


Alex menuruni tangga sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut rumah, mencari sosok manusia yang sudah 3 hari tidak di gangguinya setelah keluar dari rumah sakit, biasanya wanita muda itu sudah berkeliaran dengan alat-alat bersihnya di lantai dasar di pagi hari


"tuan cari nona?" sahut bik Imah yang baru saja keluar dari ruang dapur


"tidak" jawabnya dengan dusta


Wanita paru baya itu mengangguk "sarapan sudah siap, tuan" ujar bik Imah memberitahu


Alex langsung melangkah menuju meja makan, menatap menu sarapan yang biasanya ia santap bersama Elana


"apa...dia sudah sarapan?" Alex sedikit ragu, ia bertanya tanpa mengalihkan atensinya dari sarapannya


"nona akan makan jika pekerjaannya sud..."


"ck! Apa dia kepala batu! Aku udah berbaik hati memberinya jatah sarapan tepat waktu tapi dia mengabaikannya? Dasar tidak tahu diri" cercah Alex panjang lebar.


"panggil dia kalau perlu seret kemari!" titah Alex kemudian


Imah segera keluar ruang makan, menyusul istri muda tuannya yang tengah membersihkan kolam renang


Bik Imah memelankan langkahnya saat netranya sudah menangkap sosok wanita muda tengah terduduk di tepi kolam dengan kaki menjutai memainkan air kolam


"non, dipanggil tuan" ujarnya setelah berada di belakang wanita malang itu


"aku rindu berenang bik, rindu tiduran di atas kolam sambil jemuran" gumam Maura tanpa mengalihkan atensinya dari kolam, bahkan pakaian bawahnya yang sedikit basah akibat percikan air yang diciptakan kakinya tak ia pedulikan


Bik Imah hanya bisa menghela napas, ia tahu bagaimana perasaan nonanya ini, sedari kecil hidup bergelimang harta terus tiba-tiba mengalami perubahan nasib menjadi berada dititik paling terendah, tak memiliki apa-apa dan hanya sebagai penebus hutang pastinya sangat menguncang jiwanya


"badai pasti berlalu non, meski tak bisa mengembalikan keadaan seperti semula tapi yakinlah, pasti ada pelangi setelahnya" sahut Imah bijak


"iya, Maura tau bik, tapi di hidup Maura malah kebalikannya, pelangi itu sudah pergi dan saatnya Maura melewati badainya" Maura berujar sambil menerawang


*namun untuk adikku, itu sangat sesuai dengan pepatah bibik* tambah Maura dalam hati


Nyatanya putri kedua Dinata itu tak bisa jauh-jauh membandingkan dirinya dengan sang adik, Alicia


"oh iya, tadi bibik bilang apa?" tanya Maura yang kini menoleh ke arah Imah


"tuan, memanggil no.."


"m4mpus! Kenapa bibik tidak bilang sih" ujar Maura memotong ucapan Imah, kini wanita berdaster itu telah berlari memasuki rumah meninggalkan Imah


"loh, salahku toh?" beo Imah bingung


Maura berlari secepat mungkin agar bisa segera sampai di dalam rumah, mendapati ruang keluarga masih kosong Maura melanjutkan langkah lebarnya menuju ruang makan


"ya Allah, tolong hambamu ini, semoga saja tangan dan kaki tuan tiba-tiba keram hingga ia tak bisa menampar atau menjambak rambutku, juga tak bisa menendangku" panjang rapalan doa lebih tepatnya kutukan Maura ucapkan sementara kakinya terus melangkah menuju ruang makan


Memasuki ruang makan, Maura menelan ludah kasar melihat tatapan Alex yang langsung menghunusnya


"duduk dan habiskan sarapannmu!" perintah Alex tak terbantahkan, ia berucap sambil mengendikan dagu ke arah piring tanpa mengalihkan tatapan tajam dari Maura


Maura melirik ke arah meja, alisnya sedikit menukik ke dalam melihat sebuah piring yang kini terisi nasi goreng seafood di hadapan kursi samping kiri Alex, atau bersebelahan kursi yang biasa di tempati istri sah suami sirinya ini


"kamu tahukan apa akibatnya membuat saya mengulangi perkataan saya?" tajam dan penuh intimidasi Alex berucap, ia kini sudah melanjutkan mengunyah makanannya


Maura bukannya tak paham, hanya saja ia takut dengan kelancangannya menerima perintah Alex membuatnya mendapat amukan lagi, ia masih ingat betul beberapa minggu lalu ia pernah berakhir di perkosa oleh suami bejatnya ini di ruang makan karna ketahuan mencuri makan


"saya tidak akan melakukan itu jika kamu menuruti perkataan saya" sahut Alex seolah paham keraguan wanita mudanya ini, meski merutuki nafsunya kala pagi itu tapi Alex tak menyesal sebab ia mendapat kepuasan batin setelah menyatu dengan Maura meski di tempat terbuka sekalipun.


Salahakan saja pada tubuh Maura yang membuatnya hilang akal. Pikir Alex


Tringkk


Sendok yang tadinya hendak kembali ke piring Alex kini terpelanting ke meja hingga membuatnya jatuh ke lantai


"kamu benar-benar ingin aku melakukannya disini?!" desis Alex dengan kilat amarah


"tidak tuan, maaf" ujar Maura kemudian dengan gemetar ia menarik kursi di samping Alex


Ia segera menyuap nasi goreng itu ke dalam mulutnya


*ah ternyata nasi gorengnya enak sekali* batin Maura, ia sedikit merutuki dirinya yang sempat menolak makanan lezat ini


Ya, 4 bulan menyandang sebagai istri muda tuan Alex, Maura hanya bisa makan makanan sisa mereka, dan jika sarapan mereka habis alhasil Maura akan makan mie instan untuk mengisi perutnya, beruntung saja, karna Alex dan Elana masih berbaik hati menyediakan mie instan di dapur


Sementara Maura menikmati sarapannya, Alex masih menatap wanita itu


"a..ada apa tuan?" tanya Maura yang kini sadar akan tatapan mata suaminya


Bukannya ia sudah menurut? Terus apa arti tatapan itu? Apa ini semacam jebakan untuknya? Apa setelah 3 hari ia dibebaskan oleh Alex dari tugas menampung benih itu kini harus ia jalani lagi, pagi ini?


Maura menelan paksa nasi goreng yang tiba-tiba terasa hambar


"kamu tidak lihat saya tidak melanjutkan makan?" tanya Alex retoris


"hah?" Maura mengalihkan tatapannya ke arah piring Alex yang isinya tinggal separuh


*apa maksudnya sih? Dia udah kenyang? Jadi dia mau saya bagaimana? Ikut kenyang karna dia sudah kenyang? Jadi ngapain suruh saya makan sih? apa ini sebuah aturan makan suami istri? suami kenyang istri juga ikut kenyang? Tapi seingatku ibu masih melanjutkan makannya meski ayah sudah tak selara makan* batin Maura menerka-nerka sambil membandingkan kehidupan rumah tangga orangtuanya yang tak memiliki permasalahan di ruang makan terkecuali dilarang banyak cerita ketika makan


"sendok" pelan namun penuh penekanan Alex berucap, ia sungguh muak melihat keterdiaman istri mudanya dengan kening berkerut-kerut tak jelas


Maura yang kini menangkap maksud Alex segera beranjak dan mengambilkan sendok baru untuk Alex


*ngapain dibuang kalau masih butuh!* dumel Maura tentu saja hanya berani dalam hati


"ini, tuan" setelah Alex menerima sendok dari tangannya Maura kembali duduk dan melanjutkan sarapannya


Hingga beberapa saat selanjutnya hanya keheningan yang terjadi di meja makan itu


*hmm, setelah sekian lama akhirnya bisa makan enak lagi* Sudut mata Maura diam-diam memperhatikan piring Alex yang isinya hampir tandas


*tapi kenapa tiba-tiba ia berbaik hati memberiku makan? apa tuan suami cabul ini kesepian sampai memintaku sarapan bareng? Ah pasti karna itu. Ia terbiasa sarapan bareng istrinya, jadinya ia mungkin kesepian dan memintaku mengantikan sementara wanita lumpuh itu* batin Maura menebak-nebak


*hm, tak apalah dijadikan pelampiasan, yang penting bisa makan enak* maura mengunyah sambil mengulum senyum. Ya, ia tak peduli di anggap apa oleh suami sirinya ini yang jelas ia bisa makan enak


*puas-puaslah berlibur Elana, jangan kembali dulu menghancurkan kesempatan emasku ini, jika perlu baliklah setelah tugas saya sudah selesai* doa Maura dalam hati.


Sebenarnya jika dibandingkan dengan Alex, Elana lebih berperilaku manusia padanya. Tapi entah mengapa Maura lebih tidak suka keberadaan wanita dewasa itu di atap yang sama dengannya


"sebahagia itu kamu bisa makan makanan yang harusnya makanan istriku?" tanya Alex melihat kesal ke arah Maura yang sedari tadi senyum-senyum


Argh, mulut ini.


Bersambunggg...


#######


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu