
Alexa mengerjab mendengar tuduhan kakak ipar yang 8 tahun lebih muda darinya itu.
Apa maksud dari perkataan Maura yang mengatainya munafik, bermuka dua dan berbulu domba?
"Ra, kamu ngomong apa sih?" tanya Alexa bingung. Ia mengulurkan tangan hendak meraih tangan Maura namun segera ditepis oleh wanita hamil itu
"nggak usah sok baik mba. Saya tahu diriko. Saya memang dari keluarga yang hina" ucap Maura kesal
"Ra?" Alexa semakin bingung akan sikap ketus Maura
"saya akan pergi kok, tenang saja. Memang sedari awal saya disini hanya dipaksa oleh dokter Anjani---" ujar Maura mengungkit bagaimana Anjani berjuang untuk memintanya pada Alicia dulu "---Maaf untuk kehadiranku yang ternyata malah membuat kalian jijik karna saya adik dari seorang kakak yang memiliki catatan kotor" lanjutnya membuat Alexa menggeleng tak mengerti akan serentetan ucapan ngawur Maura
Alexa kembali mencoba mendekati Maura namun lagi-lagi hanya penolakan yang diterimanya.
"are you oke?" tanya Alexa khawatir
Ia takut Maura yang sedang dihadapinya tengah kerasukan jin gila. Bagaimana tidak berpikiran demikian? ia yang baru saja memasuki kamar Maura langsung disembur berbagai kalimat tuduhan oleh istri kakaknya itu. Niatnya yang ingin mengajak Maura kerja sama untuk mengerjai Alex malah disambut tak bersahabat oleh Maura.
Ya, setelah Anjani menjawab pertanyaan Alex mengenai bagaimana Anjani mengenal Maura, dimana saat Maura menjadi pasiennya yang hampir kehilangan janinnya karna kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan Alex. Membuat Alex tersenyum getir mengingat kejadian itu, saat itu cinta belum tampak karna dibutakan *****. Alex terlalu candu akan tubuh Maura hingga ia selalu ingin menyatu dengan wanita muda itu. beberapa saat ruang tamu menjadi sunyi karna pengungkapan Anjani mengenai Maura.
Namun Alex yang memang tengah lapar dan tak ingin kecanggungan terus berlajut, dengan tampang tak berdosanya meminta sarapan karna katanya sejak kemarin tak menyentuh makanan. setelah Alex, Bimo, Anjani dan Bagas berlalu ke meja makan, Lexa memiliki kesempatan untuk menemui Maura di kamar.
Adik dan ibu Alex itu meski telah berdamai dengan Alex tapi mereka tak mau egois dengan memudahkan jalan Alex mendapatkan Maura. Mereka mempertimbangkan posisi Maura sebagai pihak yang banyak menderita atas kelakuan Alex. Mereka akan mengharagai keputusan apa yang akan diambil Maura mengenai kelanjutan hubungan keduanya
"Ra? Sumpah kamu buat merinding ih" ucap Alexa melihat Maura hanya terdiam menunduk dan mengabaikannya
"khem, mm Alex... Dia ada diluar" beritahu Alexa pelan saat Maura masih enggan meresponnya
"sudah tahu" sahut Maura ogah-ogahan
Dih! Ketus amat ni bumil. Batin Alexa
mood wanita hamil! Yah tidak salah lagi. Tebaknya dalam hati
"kamu tahu? Jangan bilang kamu tadinya nguping?" tanya Alexa curiga
"iya mbak Lexa. Berkat nguping, saya jadi tahu jika kehadiran saya disini hanya diperlakukan baik jika di depan saya dan dicela di belakang" jawab Maura menekan kalimatnya
Alexa mengerjab, otak cantiknya mulai bekerja, jangan bilang Maura mendengar ucapannya yang mencela keluarganya yang sebenarnya hanya ingin memancing respon Alex
"mukanya biasa aja mbak. Mbak nggak salah kok, perkataan mbak memang benar, tapi itu menyinggung saya" ujar Maura ringan tapi jelas nadanya menyindir
Dasar bumil baperan! Batin Alexa
"lo salah paham Ra. Aku..."
"iya mbak, saya salah paham. Salah paham akan kebaikan keluarga mbak selama ini pada saya..."
"ck! Pernah dengar pepatah yang bilang, apa yang terlihat tak seperti yang terjadi, apa yang terucap tak selamanya adalah kebenaran" tanya Alexa meomotong ucapan Maura yang tadinya juga memotong ucapannya
Selanjutnya Alexa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai dimana Alexa menyodorkan ponselnya dan mem-play sebuah audio.
Audio pernyataan Alex yang ingin berjuang mendapatkan Maura setelah mendapat restu oleh Bimo dan Anjani
"jadi gimana nih? Mau tetap pergi atau mau memberi balasan pada kelakuan kakak saya?" tanya Alexa penasaran
"mbak nyuruh saya pergi?" tanya Maura dengan mata berkaca-kaca
"ampun deh bicara sama wanita hamil. Bukan itu inti pertanyaan ku dek,, eh salah harusnya kakak ipar" sahut Alexa gemas pada Maura
"mbak kek nggak pernah hamil aja" cibir Maura
"pernah, tapi hamil Ikram nggak sebaper dan sesentimen kamu" balas Alexa tak mau kalah
Jadilah suasana yang awalnya berat di pihak Maura karna merasa latar belakanga keluarganya tak dihargai jadi kembali mencair akibat perdebatan kecil itu
"jadi?" tanya Alexa ingin mengetahui keputusan Maura
\=\=\=\=\=\=
Malam kian larut. Lelaki matang itu gelisah di dalam kamarnya, kamar yang menjadi saksi bisu pertumbuhannya dari kecil hingga dewasa. Kamar yang 12 tahun silam tak ditinggalinya lagi.
Lelaki itu kembali memejamkan mata, menghirup dalam dalam aroma menyenangkan itu. Bukan aroma miliknya saat remaja melainkan aroma rose vanila, sama seperti bau harum tubuh Maura, ya, wangi itu adalah khas wangi Maura. Milik wanitanya
"kenapa kamu selalu menghantuiku, sayang. Tak tahukah kamu aku memikul beban berat karna rindu?"
"kamu dimana?"
"baik-baik yah, aku akan berjuang mencarimu dimanapun kamu berada sekarang ini"
"kamu tahu sayang, berkatmu aku menemukan jati diriku yang hilang selama belasan tahun, aku juga telah berdamai dengan keluargaku, kita akan hidup dengan restu mereka, tunggu aku yah" monolog Alex seolah ia berbicara dengan Maura. Ia merasakan kehadiran Maura disinya hanya dengan mencium aroma itu
Alex memandang sekeliling kamarnya, 12 tahun sudah ia tak menempati kamar ini lagi, tak ada yang berubah, meski perasaannya mengatakan kamar ini pernah dihuni oleh seseorang.
Sementara di kamar lantai atas, Maura dibantu oleh Bik Imah, Alexa dan Anjani menyusun barang-barangnya yang dipindahkan dari kamar Alex
Ya, Maura belum siap bertemu dengan Alex, ada banyak keraguan yang masih mempengaruhi pikirannya. Tentang Alex yang tak bisa mengontrol emosi, tentang Alex yang bertindak sesukanya tanpa peduli pendapat orang lain, dan tentang Alex yang nafsuan.
Maura takut berharap banyak akan perubahan Alex yang tak seberapa itu. Bisa saja Alex kembali mengasarinya jika Maura kembali lagi pada pria itu, Maura takut perubahan Alex hanya berlandaskan pelampisan untuk memenuhi hasrat gila pria itu. Maura hanya ingin melihat kesungguhan. Ia hanya ingin dihargai, dihargai sebagai seorang istri, dipercayai dan dimengerti
"bibik merasa kembali muda berada disitusi ini, nyah" ujar Bik Imah sambil menutup pintu lemari pakaian setelah selesai menyusun pakaian Maura
"loh kenapa bi?" tanya Anjani yang duduk di tepi ranjang
"main petak umpat. Sama seperti yang kita lakuin ini pada tuan Alex" jawab Imah terkekeh yang menular pada semuanya
"siapa suruh jadi laki-laki kelewat brengsek. Biarlah dia kita kerjai sementara" ujar Anjani yang diangguki antusia oleh Alexa
Bersambunggg...
######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu