
Maria menyumpah serapahi Elana, ia merasa bodoh karna terpancing dan mempercayai wanita cacat itu.
"brengsek!" umpatnya kesal namun bernapas lega diwaktu bersamaan
Bagaimana tidak? Ia yang sudah ketar ketir ketakutan akan ucapan Elana mengenai keselamatan Maura, nyatanya omong kosong.
"Arg, uangku" erang Maria. Sia-sia saja uang puluhan jutanya yang ia keluarkan untuk menambah pasukannya demi berpencar mencari Maura kesegala penjuru pulau dewata. mana uang itu masih utang lagi sama salah satu pelanggannya.
Tapi kekesalannya bisa teredam kala melihat secara langsung orang yang dicarinya berada tak jauh dari lokasi ia bertemu dengan si wanita gila itu, rasa kesalnya berubah rasa sesal, sesak dan bahagia sekaligus
Ia masih berdiri kaku di tempatnya, objek matanya menohoknya, ada nyeri yang tiba-tiba menjalar ke dadanya tepat di jantungnya. Rasa perih juga menggerogoti hatinya. Sosok manja yang sangat dirinduinya nyata berada dihadapannya, ingin sekali ia memeluk raga itu namun Maria malu untuk menampakan diri. Dirinya sudah terlalu kotor dan hina. Ia merasa kalah oleh putri bungsungnya. Maura mampu bertahan tanpa keluarga, tak seperti dirinya yang hidup terombang ambing.
Disana, berjarak belasan meter darinya, dapat ia lihat si bungsunya tengah tertawa riang bersama seorang pria. Setelah memerhatikan beberapa menit kegiatan keduanya, Maria menyimpulkan bahwa putri nakalnya telah mengerjai pria... gagah itu.
"mungkinkah... lelaki itu yang dimaksud si wanita gila tadi?" tebak Maria
"setidaknya Maura tak jual diri"
"tak mengapa, memang bahagia egois" lanjut Maria mendukung Maura yang katanya merebut suami wanita cacat itu
"mungkin sedikit sama, mendapatkan suami dari hasil merebutnya dari wanita lain, tapi jelas kisah ku dan kisahnya memiliki perbedaan jauh. Lelaki itu bisa bahagia dan menurut pada Maura dan kelihatannya menghormati Maura, beda cerita dengan suamiku yang tak pernah tulus padaku" ujarnya lagi tersenyum miris. Hubungan bahagianya dengan mendiang suaminya hanya terlihat harmonis di depan khalayak
"dan sepertinya wanita cacat itu memang sengaja dibuang karna tak berguna. Dilihat dari segi manapun, anak aku memang lebih baik. Lebih muda, cantik, dan sempurna" ucap Maria narsis masih ajek memerhatikan Maura dan lelaki dewasa yang kini berjalan menuju salah satu kursi yang dikhususkan untuk pengunjung
Sedangkan Maura, wanita hamil yang tengah dituntun duduk oleh Alex itu mengedarkan pandangannya karna merasa ada yang memerhatikannya. Ia mengeryit melihat sosok wanita yang tiba-tiba berbalik dan berjongkok memungut bola,,, mungkin bola anaknya yang berada di dekat wanita berbaju hitam itu. Maura tidak sempat melihat wajah wanita itu.
Mengendikan bahu acuh, Maura mengabaikan perasaannya yang seperti di untit seseorang, ia pikir mungkin hanya halusinasinya akibat pertemuannya dengan Elana kemarin, ya, ia jadi parno sendiri dengan wanita gila itu, kali aja tiba-tiba muncul lagi dan memancing moodnya. menggelengkan kepala tipis untuk menghilangkan bayangan menjengkelkan Elana, Maura memilih fokus pada objek di hadapannya yang memanjakan mata dan perasaannya
Suami tampannya tengah berjongkok di bawah kursi. lelaki itu meraih kedua kaki Maura dan meletakan dipangkuan setelah melepas kedua alas kaki Maura. Tangan kekar itu kemudian memijit pelan memberi rasa nyaman di kaki Maura yang tadinya sempat kesemutan
Lelaki yang dulu menganggapnya bagaikan sampah, kini memperlakukannya layaknya permata langka.
Tak salah ia memberi kesempatan pada pria itu, nyatanya omongan Alex benar-benar bisa dipegang. ia merasa sangat diinginkan dan dicintai oleh lelaki yang berbeda 13 tahun dengannya itu.
"Mas haus" ucapnya sambil mengelus tenggorokannya
"yaudah, tunggu disini, mas beli dulu disana" ucap Alex memberi titah sambil menunjuk penjual aneka macam minuman
"katanya capek, mas cuman sebantar aja kok" sela Alex saat melihat Maura hendak protes dan Alex tahu istrinya itu mau ikut
Alex suka Maura yang selalu ingin menempel padanya, hanya saja ia juga peduli akan keadaan istrinya. Meski tak merasakan tapi Alex tahu jika Maura kadang kelelahan sendiri namun istrinya itu tak juga bisa diam.
"5 menit. Tunggu yah" ujar Alex selepas mendaratkan kecupan di kening Maura, setelahnya ia beranjak membeli minuman pesanan Maura yang hanya berjarak kurang lebih 10 meter.
Sambil menunggu, Maura memijat-mijat sendiri kakinya yang masih terasa pegal, ia memang hobi bereksplor dari dulu tanpa kenal lelah tapi sepertinya kali ini ia jadi mudah lelah, mungkin pengaruh kehamilan. Pikirnya
Dan seorang pria misterius yang sedari tadi duduk asik bermain ponsel tak jauh dari tempat duduk Maura tersenyum miring melihat kesempatan yang sedari tadi ia tunggu kini ada di hadapannya. mengenakan topi hodie hitamnnya sebelum ia melangkah pergi dari sana dengan langkah sedikit tergesa,,, melewati Maria yang sibuk curi-curi pandang pada Maura.
Dan selang beberapa menit kemudian, seorang pria bermotor dengan hodie yang sama namun kali ini memakai masker mengendarai motornya bak orang kesetanan.
Dan secepat kilat, si pemotor menerbangkan motornya ke arah Maura dengan sebelah tangannya mengeluarkan pis*u tajam
Brung ruuunnggg rruuuuunnnggggg
BRUGH
SREK
"MAURA!!"
pekik Alex berlari menghampiri Maura yang kini terjatuh di tanah. dompet yang tadinya dipegang karna hendak membayar pesanannya ia tinggalkan begitu saja
"Ra? Sayang?"
"i..ibu" lirih Maura teredam di dada Alex
mendapati kesadaran dari keterkejutannya, Maura mendorong kuat dada Alex dan membalikan badannya
"ibu..?" panggil Maura melihat nanar wanita baya yang kini terbaring telentang di tanah dengan berlumuran d*rah
dengan posisi masih terduduk, Maura menyeret kaki gemetarnya ke arah Maria.
"ibu!" panggil Maura bergetar. ia raih kepala ibunya ke pangkuan
"ibu, bangun bu!!" raungnya menguncang tubuh ibunya
ibunya menyelamatkannya. pikiran itu yang kini dipahami Maura setelah rasa syoknya mendapat serangan tiba-tiba.
kejadiannya terlalu cepat, Maura yang tadinya berjalan ke arah Alex karna sudah terlalu haus tiba tiba di dorong oleh seseorang hingga ia terjerambat ke tanah, alhasil orang yang mendorongnya ditabrak oleh pemotor ugal-ugalan, dan sepertinya.. si pemotor memang berniat mencelakainya, terbukti darah yang mengalir deras dari perut ibunya, jelas itu luka tusukan
"bu, bangun bu, jangan ninggalin Maura"
ibunya baik, sangat baik untuk ukurannya sebagai anak. ibunya selalu menuruti apa maunya, memanjakannya, memberikannya kebahagian walau dengan merampas kebahagian orang lain, yang tak lain adalah Alicia, adik tirinya. memang bagi orang lain ibunya jahat dan egois tapi ia dan kakanya salah satu alasan ibunya melakukan itu semua, mengesampingkan hati nurani demi memperoleh keluarga utuh untuknya. bahkan ibunya rela mengorbankan nyawa untuknya, seperti saat ini
"bu?" pelukan Maura terurai kala merasakan ada gerakan lemah dari wanita yang tengah ia peluk
"Mm Ma.ura waktu ib.bu ti.dak banyak la.gi... ibu le.lah" lirih Maria terbata bata dengan nafasnya kian melemah
"nggak bu, ibu kuat, kita ke rumah sakit sekarang" sela Maura yang dibalas gelengan lemah oleh Maria
"Ma.ureen sudah me.la.hir.kan ta.pi dia me.ni.nggal" ucapan Maria membuat Maura tersentak akan fakta mengenai kakaknya. ia bahkan belum pernah bertemu lagi dengan Maureen sejak pesta naas itu
ya, Maureen meninggal setelah melahirkan seorang bayi perempuan 1 minggu lalu di sebuah rumah sakit jiwa.
Maria sudah tak bertenaga, keinginan untuk menyentuh wajah Maura hanya dilampiaskan dengan menatap penuh cinta bola mata anaknya itu
"ma.af. kan i.bu tak bi.sa menja. di ib.bu yang ba..ik" Maria menghembuskan napas dengan susah
"Al.li.cia..."
Maura tergugu. ibunya yang sangat membenci Alicia nyatanya masih mengingat sang anak tiri disaat-saat napas terakhirnya. Maura terharu ibunya masih mengingat Alicia. sepertinya ibunya banyak menyadari kesalahannya setelah keluarga mereka berantakan
"te.mui di.a..." Anggukan beberapa kali Maura beri sebagai jawaban
"iya bu, Maura akan menemuinya"
"bagus. hu.tang i.bu hanya ti.ga pu.luh ju.ta. mi.nta Al.li.cia me.mbayar.nya"
Maura mengerjab membuat linangan air mataya terjun bebas, ia mencoba memahami maksud perkataan ibunya yang makin melemah dengan suara terputus-putus
"ji.ka ia tak ma.u, bi.lang sama di.a ji.ka itu se.bagai ba.las bu.di karna ib.u su.dah menam.pungnya du.lu"
setelahnya Maria tersenyum misterius di atas kesakitannya. Meledek nasibnya yang membayar karma atas apa yang ia lakukan pada istri suaminya dulu, Adara. Hidupnya berakhir sama dengan apa yang di alami Adara. Mati ditangan preman suruhan
ditengah-tengah ketakutan Maura akan nyawa ibunya, wanita yang melahirkannya 22 tahun silam itu berhasil membuatnya melongo bodoh. ibunya masih sama. hingga akhir ia memusuhi Alicia.
memusuhi seseorang yang harusnya mereka kasihani karna merebut kebahagian Alicia selama 20 tahun lamanya
Bersambunggg...