
Maura menatap wajah pria yang semalaman membuatnya kelelahan dengan tatapan luar biasa jengkel. Bagaimana tidak jengkel, pria itu tidak melepasnya sejak sore kemarin hingga saat ini, hanya memberinya waktu untuk makan malam, makan malamnya pun hanya di kamar hotel, walau menunya adalah menu restoran bintang 5 tapi suasananya yang membuat Maura merasakan bagaikan makan di rumah sendiri
Tatapan jengkelnya beralih ke bawah perutnya. Lihatlah tangan kekar itu, pemiliknya tengah terlelap damai terbukti dari dengkuran yang menyapu indra pendengaran Maura namun tangan itu dengan posesif membelit perut bagian bawahnya. Lelaki itu seolah takut berjarak dengannya walau sesentipun. Maura pikir setelah mengalah demi menuntaskan hasrat lelaki itu kemarin sore hingga malam menjelang, lelaki itu mau menaninya menikmati udara malam pinggir pantai, namun dugaannya salah, Alex malah mengurungnya di kamar dan terus menempelinya bak anak ayam takut kehilangan induk. Alex memonopoli tubuhnya, memeluknya sepanjang malam, bahkan ke kamar mandipun pun Alex mengikutinya
Risih? Tentu saja. Tapi Maura hanya bisa bungkam kala Alex beralasan ingin melampiaskan rindu setengah matinya karna tarpisah selama 2 minggu lamanya. Bahkan Alex mengancam akan kembali menyetubuhinya hingga Maura kelelahan dan melupakan jalan-jalan.
Tentu itu hanya ancaman karna Alex pun tak akan tega menyakiti istrinya yang tengah hamil 5 bulan itu, walau harus membuat Maura kesal karna tak bisa menuruti kemauan wanitanya untuk keluar menikmati langit malam dipinggir pantai di acara bulan madu mereka.
alex hanya ingin berduaan dengan istrinya sepanjang malam, menikmati kedekatan mereka, hanya berfokus pada mereka tanpa embel-embel pemandangan luar yang bisa jadi akan memecah kebersamaan mereka. Walau tak bercinta sepanjang malam, tapi setidaknya Alex bisa menghirup setiap detiknya bau harum tubuh istrinya, merasakan lembut kulit wajah istrinya, mendekap hangat calon ibu anak-anaknya. Karna jika diluar ia tak bisa melakukan itu. Ia masih menanamkan norma sosial yang tidak ingin menampilkan kemesraan di khalayak. Dan jika mereka di luar Alex tidak akan cukup jika hanya berpegangan tangan, karna hati dan pikiran lelaki itu ingin selalu membaui bagaimana lembut dan harumnya tubuh sintal sang istri. Dan Maura? Wanita cantik itu dengan berat hati melawati malam di tanah bali ini hanya di dalam ruangan kamar hotel dengan suami yang seperti bayi terus menempelinya
Maura memutar matanya, mencari jam dinding tapi tak menemukan benda penunjuk waktu itu, kembali menoleh ke arah wajah sang suami, Maura menyunggingkan senyum tipis menatap wajah tampan suaminya, walau mengesalkan tapi Maura akui lelaki itu tampan dan manis, bahkan lelaki impiannya dulu kala oleh wajah rupawan lelaki yang halal baginya itu.
'tapi dia jahat dan egois' bisik dewi jahat dalam batin Maura
'tapi kan dia sudah berubah' bela Maura dalam hati
'tapi tetap saja dia membuatmu kesal bukan?'
'iya sih. Tapi itu karna dia menyukaiku dan dia tidak ingin jauh dariku walau rasanya membuatku kes... Ah sudahlah, aku ingin menikmati sunrise!' rupanya jiwa liburannya tetap menang diatas segalanya
Dengan pelan, Maura menyentuh tangan Alex di pinggangnya, kemudian dengan gerakan seringan kapas ia pindahkan tangan kekar itu ke sisi tubuh suaminya
Yes!
Ternyata tidak susah menyingkir dari kungkungan lelaki yang semalaman membuat *********** ngilu, karna bayi tuanya itu terus menyusu padahal tak ada sumber air dari aset kembarnya itu. Alex aja yang kurang kerjaan.
Membenarkan letak linggerinya yang terkoyak, Maura perlahan beranjak dengan menahan napas. Ia tak mau menganggu tidur Alex, lebih tepatnya ia tak mau membangunkan singa lapar itu.
Melihat dari celah gorden, dinding kaca disana sudah menembus cahaya sedikit terang menandakan subuh sebentar lagi usai. Itu berarti ia masih bisa menyambut fajar di pinggir pantai pagi ini.
Semua demi kerinduanya untuk menikmati sejuknya udara pagi di pinggir pantai. Maura rela mengendap-endap layaknya maling menuju lemari, membuka pintu lemari pelan dengan napas tertahan, setelah mengambil pakaian ganti ia kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Intinya kabur aja dulu, lagian ia hanya sebentar, setelahnya ia akan kembali lagi. Masalah Alex akan marah, Maura tidak takut, ia sudah tahu penawarnya. Pikir Maura meyakinkan diri
"Ra?" suara serak itu terdengar bagai bom di telinga Maura. Langkahnya terhenti, ia mematung di tempat, ia berasa maling yang tertangkap basah
"ngapain Ra?" tanya Alex masih dengan suara khas bangun tidurnya, ia kebingungan melihat istrinya berdiri kaku membelakanginya dengan tangan seperti memeluk sesuatu
*Mamp*s dah, si jantan udah melek aja* batin Maura bergidik
"kamu kenapa tegang?" Maura tersentak kala sebuah tangan melingkari perutnya. Berapa lama ia berada di dunia syoknya sampai tak menyadari pergerakan Alex? Lelaki itu tau-tau sudah berada dibelakangnya dan menempeli tubuhnya
"tuan" tekan Maura saat merasakan benda keras mengganjal di atas bokongnya
"dia yang harusnya menegang sayang bukan kamu" bisik Alex tepat di ceruk leher Maura, dan betapa kurang ajarnya lelaki itu tanpa tahu malu menggesek-gesekan area pinggangnya di belakang bokong Maura
Maura melunglaikan bahunya, kemudian memaksa berbalik dalam dekapan Alex, wanita itu menampilkan wajah memelasnya pada sang suami
"aku ingin jalan-jalan. Bosan di kamar terus" tutur Maura memelas berharap Alex luluh
"kamu bosan bersamaku?" kan, suaminya bukannya kasihan malah menyimpulkan sesuka hati
*iya, bosan sama kelakuan kamu yang kelewat mesum* batin Maura membenarkan
"ck, bukan bosan sama mas. Kita disinikan untuk bulan madu, nah masa kita hanya di kamar terus. Bulan madu tidak melulu soal bercinta mas, tapi juga sekaligus refresing menikmati alam..." ujar Maura berusaha tenang agar suaminya memahami dirinya jika ia butuh keluar dari ruangan 10x7 meter ini,"...kalau di kamar terus seperti ini, apa bedanya sama kamar di rumah? Tau gitu nggak usah terbang kesini aja kalau hanya untuk ngamar mulu. Buang-buang uang" lanjut Maura, kali ini nada protesnya atas kelakuan Alex tak lagi ia sembunyikan
"bukan uangku juga kok" balas Alex mengendikan bahunya acuh. Memang bulan madunya disponsori oleh Bimo tapi apa Alex tak menyayangkan itu? Suaminya dengan segala kelakuannya memang tak ada duanya. Rutuk Maura membatin
Alex yang melihat wajah istrinya yang kian memerah menahan kesal mengangkat tangannya membelai lembut kepala pujaan hatinya
"kamu mau tahukan perbedaan kamar kita di rumah dan disini?" tanya Alex penuh makna. Belum sempat Maura menjawab, Alex sudah meraih tubuh Maura, mengendongnya ala bridal style dan membawanya menuju kamar mandi
Alex membuktikannya, setelah tiba di dalam kamar mandi, Alex tampak menekan sesuatu di dinding membuat warna dinding juga atap yang awalnya berwarna putih bersih menjadi bening, dinding dan atapnya ternyata adalah kaca, hingga Maura berasa berada di alam terbuka sekarang ini, kenapa kemarin ia tak mengetahuinya?
"jadi bagaimana? Kita bisa menikmati suasana pagi dengan pemandangan alam tanpa harus repot-repot berada di kerumunan orang, kita juga bisa berc.."
"aku ingin berada disana tuan, menikmati suasana pantai secara langsung, ingin bermain pasir dan jajan di luar" potong Maura datar dan berhasil membuat Alex mengalah
"baiklah, kita akan keluar" ujar Alex setelah menghembuskan napas, sepertinya kali ini ia harus menuruti kemauan bumilnya. Ia harus melawan egonya yang ingin terus mengurung Maura di kamar hotel sepanjang bulan madu mereka
Dan ekspresi Maura langsung berubah girang, riaknya penuh binar bahagia, ia menang kali ini.
"tapi satu ronde untuk menidurkan si jagoan yang sedari tadi menyiksa dibalik boxer ini" lanjut Alex membuat Maura langsung melunglaikan bahunya.
Dan yah, bercinta dengan tema alam terbuka walau dalam ruangan terjadi, suasana yang mendebarkan karna merasa dilihat oleh burung-burung berkicauan yang menyambut pagi juga kemungkinan orang di bawah sana yang sudah sadar sepagi ini. walau mereka tau jika kaca itu gelap di sisi luar tapi tetap saja itu hal menantang bagi jantung mereka
Bersambunggg...
#####
Halooo,, auah gelap. Btw sebenarnya episode ini harusnya aku update yang versi tamatnya, tapi nyatanya aku nggak jadi publis yang versi tamatnya karna memang masih ada yang sepertinya belum dikupas tuntas masalahnya, contohnya keuwuan mereka. dan...
bagaimana si Elana sekarang? dan aku juga kepikiran sama ibu Maura, Maria yang kini entah kemana. Hahaha. Karna disini pemeran utamanya Maura jadi yah dia perlu berdamai dengan kekecewaannya. Yekaannn
Jadilah aku rombak lagi. Dan putar otak lagi. Oke jadi tamatnya pending dulu. Masih lama kok, sekitaran 5 atau 7 episide lagi yah...
jangan bosan-bosan sama autor yang plinplan ini yak 🙏💖