
"dia hamil, sebaiknya bawa dia kedokter kandungan" beritahu dokter Rahmat setelah memeriksa Maura yang masih pingsan
"huh sudah ku tebak" suara Daniel membuat Alicia melirik tak suka pada tuan suaminya itu
"mas" geram Alicia yang berhasil membungkam mulut Daniel
Alicia menatap iba kakaknya, cukup Maureen jangan Maura. Ia terlalu kasihan melihat penderitaan Maureen di balik jeruji rumah sakit jiwa dengan keadaan hamil besar tanpa seorang suami. Alicia tak mau melihat Maura mengalami nasib seperti kakak tertua mereka.
Tapi melihat kondisi Maura 4 hari terakhir, wanita itu tampaknya tak mengalami goncangan jiwa, tidak ada yang mencurigakan selain bentukan tubuhnya yang memang sedari awal Alicia tebak sedang berbadan dua. Ya, bukan hanya Daniel yang curiga akan kelakuan Maura dan perubahan bentukan tubuhnya, Alicia juga menaruh curiga. Ingat mereka berdua sudah ahli dalam keadaan orang hamil.
Akan tetapi saat Alicia memancing Maura untuk bercerita akan kehidupannya setelah mereka terpisah, Maura malah mengalihkan pembicaraan membuat Alicia tak enak untuk bertanya kedua kalinya.
Apa sebenarnya yang disembunyikan Maura? Apa pekerjaan yang Maura maksud setiap Alicia memintanya untuk makan malam dan Maura selalu beralasan ada urusan, kenapa harus malam? Kenapa siangnya Maura malah menghabiskan waktu luangnya di masion saat siang hari sedang saat malam wanita itu memiliki urusan? Apa jangan jangan Maura bekerja...
"ya wajarlah hamil, orang udah punya suami juga" suara dari arah pintu sontak membuat Alicia menoleh, bukan karna kehadiran Maya di kamar ini yang membuatnya syok, tapi karna ucapan mertunya itu
"ma--maksud ibu?" tanya Alicia
"ya, kakakmu itu wajar bisa hamil, karna memang memiliki suami. Tak seperti yang satu itu" ulang Maya sambil melangkah masuk, ucapannya tak lupa menyindir keadaan Maureen yang bahkan orang yang disindir tak ada di ruangan ini.
"ibu tahu dari mana?" kali ini suara Daniel kembali terdengar, ia bertanya pada sang ibu yang baru saja mendudukan dirinya persis di samping Daniel dengan baby El yang tengah tertidur dalam gendongan wanita paru baya itu
"Sekertaris Ali. Waktu itu ibu ingin mencari wanita ini untuk mengabulkan ngidam Dara tapi Ali melarang ibu karna waktu itu kakak ipar mu ini tengah mengalami pendarahan dan hampir keguguran" jelas Maya mengendikan dagunya ke arah Maura sambil menimang-nimang cucu kesayangannya yang terlelap damai dalam pelukannya
"ke-keguguran?" tanya Alicia dengan nada tercekat.
"iya, ibu tidak tahu apa masalahnya, tapi katanya dia mengalami kekerasan--" maya menggigit lidahnya, ia melirik putranya dengan ringisan kecil karna kalimatnya bisa saja menyinggung Daniel akan kelakuannya dulu pada Alicia, beruntung itu hanya terjadi di awal-awal pernikahan sebelum Alicia hamil baby El "--Maura ini sebanarnya hanya istri kedua dari suaminya, lebih tepatnya dinikahi siri hanya untuk memberikan keturunan pada suami dan madunya yang tak bisa memiliki anak" lanjut Maya menceritakan informasi yang ia tahu
Deg
Bagai diremas tangan tak kasat mata, dada Alicia sungguh perih mendengar penuturan ibu mertuanya akan kehidupan sang kakak tiri. Ia tahu gimana sulitnya berada di posisi istri yang hanya dinikahi paksa. Ia pernah berada di keadaan itu meski endingnya ia berhasil menggapai happy tapi sungguh kenangan menyakitkan itu tak akan hilang oleh waktu, luka itu selalu membekas walau segala macam usaha si pemberi luka mengobati.
Melihat sang istri menunduk dalam, Daniel segera beranjak dan mendekap Alicia. Hati Daniel ikut perih melihat air mata sang istri keluar dari kelopak mata kesukaannya itu. Sungguh ia tak bisa melihat sang istrinya bersedih apalagi jika sampai meneteskan air mata seperti sekarang ini. Jiwanya ikut meronrong pedih menyaksikan sang tercinta menangis, apalagi Daniel sadar jika tangisan ibu dari anaknya itu menyangkut kenangan luka yang pernah ia torehkan dimasa lampau
"maaf, maafkan mas, sayang" gumam Daniel, air matanya ikut luruh. Daniel sungguh lemah jika berhadapan dengan sang pemilik hatinya. Sikap arogan dan dinginnya entah bersembunyi dimana saat ini
"maaf" Daniel mengelus lembut punggung sang istri yang kini terisak dalam dekapannya, ia kecup puluhan kali pucuk kepala Alicia dengan terus mengumamkan kata maaf, walau ia sadar bahwa permohonan maafnya tak akan bisa menghapus luka itu
"kenapa kak Maura harus mengalami nasib itu juga? Cukup hanya aku, cukup aku yang menanggung..."
"shut shut" Daniel yang mendengar lirihan pilu sang istri segera menenangkan "nggak akan ada lagi luka itu, sayang. Maaf pernah menempatkanmu di keadaan itu. Maaf" lanjutnya penuh penyesalan. Ingin sekali ia mengulang waktu untuk memperbaiki semua kekejamannya pada wanita cantik dalam pelukannya ini, namun itu mustahil. Karnanya ia berjanji sepenuh jiwa, kedepannya tak akan ada lagi air mata keluar dari mata bulat itu selain air mata bahagia
"ngh, shs" lenguhan disertai ringisan mengintrupsi kedukaan sepasang suami istri itu. Sontak keduanya mengurai pelukan dan menoleh ke arah Maura
"kak Maura" pekik Alicia, segera ia beralih menghambur memeluk sang kakak
"pelan-pelan, sayang. Dia lagi hamil" peringat Daniel membuat Alicia tersadar dan mengurai pelukan, sedang Maura terapaku akan ucapan Daniel
*apa mereka tahu keadaanku sekarang?* Batin Maura bertanya, ia tak mau itu terjadi. Karna Maura tak mau Alicia khawatir padanya. Dan pertanyaan Alicia membuat harapannya terhempas, tubuhnya melemas
"kak Maura kenapa nggak bicara jujur sama aku kalau kakak sedang hamil?" Alicia bertanya dengan wajah sendunya
"ka--kamu tahu, Al?" bukannya menjawab Maura malah melempar pertanyaan balik
"kenapa? Aku adikmu kak, aku berhak tahu" seru Alicia membuat Maura bungkam
"kita ke rumah sakit yah, kakak perlu periksa kandungan" tawar Alicia melembut
"nggak perlu, Al. kakak baik-baik aja" tolak Maura halus
"aku mau tahu keadaan keponakan aku, kita ke rumah sakit. Titik" putus Alicia tak terbantahkan
"tapi, Al..."
"jangan pernah tolak permintaan istri saya, karna titahnya adalah keharusan yang harus terlaksana" suara dingin Daniel memotong protesan Maura. Maura berhasil bungkam tapi sebelumnya ia mendengus mendengar ucapan Daniel yang sangat memuliakan keinginan sang istri tanpa peduli sisi orang lain
Dan Alicia tersenyum menang saat ini, segera mama muda itu beranjak dari ranjang hendak siap-siap
Dan jam 5 sore, berangkatlah mereka ke rumah sakit terdekat untuk memeriksa kandungan Maura.
"pelit banget sih suamimu, Al" bisik Maura sedikit kesal. Pasalnya Daniel tak mau berbagi baby El, padahal Maura pengen sekali menggendong keponakannya itu.
"jangankan kamu, aku saja merasa tersingkirkan, dia baru akan melepas Baby El kalau anak itu lagi menangis minta asi, selebihnya dimonopoli sama dia" balas Alicia melirik Daniel dengan baby El dalam gendongannya. pria beranak satu itu berjalan penuh wibawah meski baby El dalam gendongannya
Langkah mereka terhenti kala sang ajudan dari arah depan menghampiri dan melaporkan keadaan
"semua sudah siap, nyonya muda, silahkan langsung masuk saja" lapornya pada Alicia yang diangguki oleh nyonya muda Prasetio itu juga ucapan terimaksih
Maura yang telah lama tak mendapat hak istimewa jika berurusan dengan pihak luar tersenyum getir. Seandainya ia tak bersama dengan adiknya yang kaya raya, sudah dipastikan ia akan duduk mengantri di barisan paling belakang pasien yang terlihat masih banyak duduk menunggu giliran.
Hanya perlu registrsai dan ia bisa langsung bertemu dokter. Sungguh kekuasaan bisa mempermudah segalanya.
"Maura?" suara yang tak asing langsung menyapa Maura saat ia memasuki ruangan dokter kandungan
"dokter Anjani?"
Bersambunggg...
#####
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu