
Malam yang indah bertaburan bintang dengan cahaya bulan yang berpendar terang, pemandangan malam itu tengah dinikmati Maura yang tengah berdiri di balkon kamarnya.
Ia mendongak menatap langit. Walau warnanya gelap tapi langit tetap menjadi indah karna ada bulan dan bintang yang tengah melengkapi dengan kerlap-kerlipnya, menciptkan perpaduan indah untuk dipandang
"hai ayah, apakah ayah bisa melihatku dari atas sana?" anak tengah dari 3 bersaudari itu merindukan sosok ayahnya
"Maura kini bukan gadis manja lagi yah, Maura sudah menjadi wanita kuat, ayah pasti banggakan sama aku?"
"cucu ayah akan bertambah lagi, ayah bahagia nggak?"
"anakmu yang cantik ini tengah hamil, yah. Maura sudah menikah walau hanya secara siri, tapi anak Maura hadir dihubungan yang sah" beritahunya pada langit seolah disana ada ayahnya yang tengah melihatnya
"aku saat ini tengah berada di rumah orang tua dari papa bayiku, yah. Mereka semua baik sama aku, bahkan tadinya sehabis makan malam Maura diajak duduk berunding persoalan cabang perusahaan yang akan dibuka baru. Mereka benar-benar menganggapku layaknya keluarga inti ditengah-tengah mereka. menghargai kehadiran dan pendapatku" beritahu Maura akan kejadian beberapa saat lalu sebelum ia memasuki kamarnya
"jaga aku dari sana ya ayah, Maura merindukan ayah" gumamnya lirih. Namun sepersekian detik selanjutnya suara teriakan mengitrupsi kegiatannya yang tengah menikmati keindahan langit malam
"hay manis!" sontak membuat tubuhnya menengang. Ia kenal suara itu. Tapi bukannya si pemilik suara tengah berada diluar kota? Untuk memastikan apakah telinganya hanya berhalu mendengar suara itu, tatapan matanya perlahan ia larikan ke arah sumber suara tadi, ia merotasikan kebawah bola matanya, dan...
Deg
sontak matanya terbelalak, ia terpaku. Melihat keberadaan pria itu dibawah sana yang 2 minggu ini hanya bisa ia lihat dari jarak jauh padahal mereka tinggal disatu atap
Menyadari kenyataan itu, Maura segera berjongkok guna bersembunyi.
"ya, rupanya aku lagi-lagi hanya berimajinasi. Serindu itu aku sama kamu Maura, tapi kenapa kamu malah menghilang tanpa jejak" ucapan Alex yang sarat akan ******* kecewa jelas terdengar di indra pendengaran Maura
"jadi dia mengira ini hanya halusinasinya. Ckck, dasar mata om-om. Nyata dibilang bohongan. Eh tapi bagus deh kalau ia pikirnya gitu, aku belum puas melihatnya frustasi" gumam Maura tersenyum miring.
Rasanya ada kepuasan tersendiri melihat ayah anaknya itu kesulitan. Hitung-hitung Maura memberi pembalasan untuk pria matang itu akan kekejamannya beberapa bulan lalu yang jelas meninggalkan luka psikis dalam dirinya.
Sementara itu, Alex dibawah berjinjit untuk melihat persembunyian istri kecilnya. Ia mengulum senyum kala matanya melihat samar-samar bagaimana Maura berusaha memasuki kamarnya dengan cara berjongkok.
Ya, Alex bukan orang bodoh. Jelas kali ini bukan imajinasi. Ia berucap demikian tadi hanya untuk menyenagkan hati sang istri yang kesusahan menghindarinya. Ia hanya mengikuti cara main istrinya yang berlindung dibalik keluarganya. Alex akan ikut memainkan perannya
"nyusahin diri sendiri. Jalan yang benar kek. Ibu hamil banyak gaya, jalan biasa aja kadang susah apalagi jalan jongkok gitu, Ntar kalau pahanya sakit rasain" dumel Alex yang tak sengaja kalimat akhirnya malah nyumpahin
"AWW" pekikan dari atas membuat Alex segara menutup mulutnya.
"ah! mulut tak bertulang ini. Sakitnya hanya 1 detik, semoga" ia percaya jika doa suami teraniaya akan terkabulkan, toh buktinya ucapannya yang pertama kejadian
Semantar di dalam kamar, Maura yang sudah merasa aman setelah memasuki kamar beranjak berdiri, namun tiba-tiba paha atasnya terasa kebas hingga membuatnya merintih, beruntung sakitnya hanya bertahan beberapa detik
"apa ini termasuk karma karna berdosa sama suami?" tanyanya pada diri sendiri
Kembali di bawah balkon, Alex mengatur ekpresinya, yang tadinya kelelahan namun setelah melihat Maura semangatnya langsung terisi full, tapi untuk ikut bermain peran dengan pertunjukan yang tengah dilakoni keluarganya dengan pemain utama adalah sang istri, Alex merubah ekpresinya menjadi lelah dan lesu sebelum beranjak dan mengetuk pintu rumah
Wanita paru baya membukakan pintu, ia membelalakan mata melihat keberadaan Alex
"Assalamualaikum, bi" ucap Alex memecah keterkejutan Bik Imah
"tu..tuan Alex sudah pulang?" tanya imah gugup. dapat Alex lihat ekpresi mantan asisiten rumahnya itu tengah dilanda cemas
"eh, Waalaikumsalam salam tuan" lanjut Imah saat menyadari jika ia belum menjawab salam Alex
"sebentar tuan, bik imah lupa mematikan kompor" setelah berucap Imah segera berlari masuk tanpa mempersilhkan Alex masuk.
"ya, atur semuanya sampai capek sendiri kalian" ucap Alex setelah mendengus kasar
"ck! Nyatanya sejak 8 tahun lalu, hidupku sudah di bajak oleh papa tercinta" kini Alex mengetahui jika kedatangan bik Imah yang memohon pekerjaan padanya 8 tahun lalu tidak sepenuhnya murni jika wanita itu butuh pekerjaan darinya, karna imah bekerja padanya demi tugas yang diamanahkab oleh Bimo dan Anjani untuk memantau hidupnya
Alex tahu jika bik Imah sekarang ini tengah melapor pada orang-orang rumah akan kehadirannya. Huh! kompor menyala? Memang sedang masak apa sekarang saat semua orang sudah hendak terlelap. Alex merasa dirinya benar-benar dipermainkan dalam keluarganya sendiri
Menunggu sampai bik Imah berlalu dari sana, yang Alex tahu tujuannya adalah kamar dimana tempat persembunyian sang istri. Alex baru melanjutkan langkahnya guna melancarkan ekting semua orang
"khem" Alex berdehem saat tungkainya menginjak lantai ruang tamu
"eh, Alex. Udah pulang? Kenapa nggak bilang-bilang" seru Anjani pura-pura kaget padahal sewaktu bik Imah melapor akan kedatangannya memang Anjani sedikit syok, Alex bahkan dengan jelas mendengar saat ibunya menyuruh bik Imah untuk memberitahukan Maura agar tak keluar sembarangan karna kedatangan Alex
Entah mengapa Alex merasa ia diperlakukan layaknya pembunuh bayaran yang sedang mengincar nyawa istrinya sendiri oleh keluarganya sendiri. Ck
Dengan raut wajah dibuat lesu, frustasi dan kecapean, Alex melangkahkan kakinya mendekat dan mendudukan dirinya di samping sang adik
"Bagas belum pulang?" tanya Alex pada Alexa
"lagi jemput ikram di rumah omanya" jawab Alexa yang diangguki kecil oleh Alex
"kamu kenapa pulang secepat ini?" tanya Bimo curiga
*jika aku tidak pulang hari ini, aku tidak akan tahu jika istriku nyatanya ada di rumah yang 2 kali seminggu aku kunjungi ini. Pantas saja semua suruhanku tidak ada yang menemukannya. Orang mereka mencarinya di jakarta nyatanya si tersangka sedang berlindung di rumah ini. Kami bahkan satu atap tapi aku malah kesetanan mencarinya di luar* batin Alex miris
"papa nggak senang akan kehadiran Alex?" tuduh Alex mengesedih
"ck, baperan amat nih si om yang beristri 2" Alex mendengus akan sindiran sang adik
"bagaimana? Apa ada kemajuan atas kabar istri mudamu?" Kembali Bimo melemparkan pertanyaan
*bukan lagi kemajuan. tapi kenyataannya Aku sudah tahu dimana dia saat ini* batin Alex berteriak muak
"belum yah, Tuan Daniel memang sudah memafkanku atas tindakanku melukai istrinya, tapi mereka sama sekali tak mengetahui keberadaan Maura. Katanya ada orang yang telah membawa Maura. Dan itu makin membuat Alex frustasi. Rasanya Alex ingin mati saja jika besok atau lusa Maura tak kunjung muncul" baiklah Alex akan mengikuti drama rumah-rumahan ini dengan senang hati. Bahkan ia mengucapkan kalimat mengancam hendak membunuh dirinya agar ke 3 orang berharganya iba padanya
"mati saja sana. Lelaki kok pengecut sekali, udah tua juga. Kamu pikir Maura akan hidup bahagia sama orang seperti kamu? Wanita itu butuh diperjuangakan apalagi jika prianya sudah menorehlan luka sedemikian rupa" cercah Anjani kesal
Alex menelan ludah kasar, niat hati ingin dikasihani malah mendapat kalimat pedas dari sang ibunda
*yang sebenarnya anak kalian Alex apa Maura sih, kenapa tidak melihat perjuangan Alex dan malah berpihak pada Maura* batin Alex berteriak tak terima. Keluarganya terus memojokannya jika menyangkut Maura, memang ia pernah berbuat salah sama wanita itu tapi kini ia sudah menyadari kesalahannya bahkan ia dihantui rasa bersalah. tak tahuka keluarganya jika Alex benar-benar merindukan wanita itu.
"Alex capek, mau istirahat. Tenang saja, Alex tak akan menyerah untuk menemukan Maura. Besok kita lihat bagaimana Alex bekerja" pamit Alex dengan ucapannya yang penuh makna, namun ketiga orang yang memiliki darah sama dengannya yang mengaliri setiap urat dalam tubuhnya itu tak menangkap ucapan Alex. Mereka hanya mengira Alex terlalu banyak berkhayal
Walau tubuh dan pikirannya lelah, tapi Alex tak kunjung memejamkan matanya. Lelaki itu terlihat mondar mandir dalam kamarnya walau waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari
Alex diliputi rasa bimbang. Ia ingin melihat sampai mana orang tuanya menyembunyikan Maura darinya begitu juga dengan Maura sampai kapan akan keluar dari permainan petak umpat ini, tapi disisi lain dalam dirinya Alex tak lagi bisa menahan terlalu lama. Ia merindukan wanitanya. Sangat. Bahkan Alex sendiri tak lagi bisa membendungnya hingga tumpah ruah sampai membuatnya hampir gila. Apalagi saat mengetahui wanita itu ada didalam rumah yang tengah ia tinggali, rasa rindunya kian menyiksanya dan obatnya hanya dengan menemui sang istri dan memeluknya.
Dan setelah tak bisa menahan diri, disini lah Alex sekarang. didepan pintu kamar Maura yang terkunci. Namun jangan salah, Alex memiliki kunci cadangan, entah bagaimana caranya ia mendapatkannya yang jelas ini kali keduanya ia berada di depan pintu setelah yang pertama beberapa menit lalu ia datang hanya bermodalkan badan tapi kali ini ia memiliki kunci ditangannya
Tersenyum miring, Alex memasukan kunci itu dan memutarnya
Ceklek
"I got you, baby" gumamnya menyerigai saat ditengah temaram lampu tidur dalam ruangan, Alex dapat melihat jelas sosok wanita yang tengah tidur miring dan mengahadap kearah pintu
Dan jelas itu adalah Maura. Istri Alex yang berhasil mengerjainya beberapa minggu terakhir ini
Bersambunggg..
#####
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu