
Daniel Pov
Rasa pusing yang menyerang kepala ku pagi ini terobati oleh tangan mungil istriku tercinta, aku bahkan tak sadar kapan aku tertidur, ingatan terakhirku, aku masih menggodanya dengan ucapanku akibat kesalah pahamannya mengartikan perkataanku soal 'tertidur dengan tangan', apa ia pikir aku adalah suami yang sangat mesum? Oh tapi memang sifat mesum ku jadi tingkat dewa jika sedang berduaan dengannya, jadi memang aku yang salah disini. Ya aku mengaku salah untuk pertama kalinya dari seorang wanita cantik yang telah mengambil seluruh hatiku, istriku, ibu dari anakku, Alicia Adara Prasetio.
Namun saat aku membuka mata, aku menemukan kekosongan, aku menolehkan kepala kesana kemari mencari keberadaan sosok tubuh bumil itu yang jelas tadi ku perintahkan agar ikut menemaniku tidur, tapi kemana perginya wanita itu?
Aku mencarinya ke segala penjuru kamar, aku dilanda rasa khawatir saat tak menemukan keberadaannya di dalam kamar kami, saat aku hendak keluar kamar mencarinya, tubuhku sedikit terhuyung mungkin karna aku bangun buru buru hingga sakit kepala itu kembali menyerangku.
Aku merasa kecolongan kali ini, dasar wanita itu, akan ku beri pelajaran hingga dia tak bisa berjarak denganku.
semoga saja tidak terjadi apa-apa padanya, bukannya apa, kakak dari istriku yang berhati iblis itu terakhir kali masih berada di lantai bawah, aku takut jika Maureen berani macam-macam pada Daraku.
Menggelengkan kepala pelan guna menghilangkan pening di kepalaku, aku membuka pintu dan mencari keberadaan istriku
Langkahku terhenti saat kakiku baru saja menginjakan kaki di anak tangga teratas, aku menangkap sosok tubuhnya di ruang tamu bersama kakak tirinya sedang kembali berdebat...
Aku mengulas senyum akan keberaniannya membalas setiap ucapan Maureen dengan santainya
Itu adalah istriku, teriaku bangga dalam hati.
Aku tidak suka istriku ditindas oleh siapapun. Istriku harus berani, ia hanya boleh takut padaku.
Aku dengan jelas mendengar perdebatan mereka, dengan memegang pembatas tangga guna untuk menopang diriku yang lemas ini
Namun aku menegang dengan pernyataan santai yang keluar dari mulutnya yang berhasil membuat Maureen membelakakan mata begitu juga denganku
"oh ya? Aku juga hamil anak Daniel nih kak, gimana dong" terlihat tangan mungilnya mengelus perutnya, tempat tumbuh kembangnya calon bayiku
Apa ia sudah tahu kenyataan itu? Kapan? Siapa yang memberitahunya? Apa ia diam diam melakukan pemeriksaan sendiri? Ah padahal aku ingin akulah yang pertama kali memberitahunya kabar bahagia itu, tapiii... Baguslah, sebab aku masih tak tahu cara gimana baiknya memberitahu akan kehamilannya sehingga ia tidak bersedih atau bahkan menolak anak kami.
Perasaan lega yang kurasakan hanya bertahan sepersekian detik saat melihat dengan kurang ajarnya tangan kotor Maureen hendak menyentuh tangan istriku, aku segera beranjak menyusul Dara namun baru satu langkah aku harus di kejutkan dengan apa yang Maureen lakukan pada istriku
Maureen berhasil menarik Dara, dengan paksa hingga tubuh kesayanganku itu terjatuh di lantai
Daraku jatuh
"Awww" rintihnya yang membuat dadaku terasa sesak
"DARA!" teriakku dan menuruni tangga dengan cepat, bahkan anak tangga yang berjumlah puluhan itu ku lewati hanya beberapa langkah saja
Duniaku serasa hancur saat aku tiba di sana. Aku melihat ada darah mengalir dari bawahnya.
Tidak!
Tidak boleh!
Daraku tidak boleh kesakitan!
Daniel pov end
******
"DARA!" teriakan dari arah tangga membuat kakak beradik itu menoleh
Kedua-duanya membola melihat Daniel berlari menuju arah mereka
Maureen gemetaran saat Daniel yang mematung melihat keadaan Alicia yang terjatuh di lantai saat sudah berada di belakang Alicia
Dan tanpa babibu, Daniel segera membopong tubuh Alicia keluar rumah
"Mobil!" teriak Daniel sambil berlari keluar sementara Alicia di gendongannya
Dan kegesitan para pengawal Daniel jangan di tanyakan lagi, sebelum tuan mudanya berada di teras, mobil sudah terparkir di depan rumah siap pakai.
" depan" titah Daniel saat sopir membukakan pintu belakang
Sopir pun membukakan pintu penumpang depan
Setelah meletakan dengan sangat hati hati Alicia di kursi penumpang dan memakaikannya seal belt, Daniel mengintari mobil kemudian Daniel duduk di kursi kemudi
"hati-hati tuan muda" ucap sang supir setelah menutup pintu mobil untuk Daniel
Pak Wis dan beberapa maid berhamburan lari keluar melihat keadaan yang membuat tuan muda mereka berteriak kencang meminta mobil
Mereka melewati Maureen yang masih berdiri mematung di ruang tamu
Maureen menatap tempat duduk Alicia tadi. Darah?!
*jadi benar Alicia hamil?* batin Maureen bertanya
Maureen mer3mas ujung bajunya, ketakutan melandanya, apa Daniel melihat semuanya tadi? Jika benar tamat sudah riwayatnya
Tapi Alicia mengeluarkn darah, apa Alicia keguguran? Jika benar, Maureen mengucap syukur akan itu, itu berarti Maureen bisa berlenggok ke depan tanpa penghalang lagi, karna hanya ia satu-satunya yang mengandung anak Daniel sekarang. pikir Maureen
"apa tuan Daniel mengendarai seorang diri?" tanya Pak Wis
"iya pak" jawab pak Gun, si sopir Alicia
Pak Wis mendesah panjang, pak Wis bahkan tak bisa menyalahkan pak Gun atas tindakannya membiarkan tuan muda mereka mengendarai mobil seorang diri mengantar istrinya ke rumah sakit meski Daniel kurang sehat hari ini. Karna itu semua kemauan Daniel dan tidak ada yang bisa mencegahnya apalagi melarangnya.
"tuan bahkan lupa jika dokter Putri tinggal di Mansion" gumam Pak Wis mengingat dokter Putri, dokter kandungan yang disewa Daniel khusus untuk Alicia tinggal di Mansion
Ya, segitu khawatirnya Daniel melihat keadaan Alicia hingga melupakan semuanya, termasuk dengan kondisi tubuhnya yang kurang sehat, fokus Daniel hanya pada keselamatan Alicia.
Sementara di dalam mobil yang dikendarai Daniel
Daniel yang dilanda ketakutan akan keadaan Alicia mengendarai mobilnya sangat kencang, rasa pusingnya kini melayang digantikan rasa cemas, ia yang tak teralalu lihai dalam hal jalan macet-macetan mendadak jeli, jalanan umum cukup ramai sebab ini masih waktu jam makan siang.
"tu..tuan"
"sst,, jangan banyak bicara" Daniel menoleh sekilas kemudian kembali lagi fokus ke jalanan
"tuan.."
"kamu yang kuat yah, bentar lagi kita sampai" potong Daniel, dapat Daniel rasakan kini tangan Alicia yang berada dalam genggaman tangannya terasa dingin dan gemetaran.
Alicia pasti kesakitan. Pikir Daniel
"tuan.. Aku.. Hiks hiks"
"hei, apa sangat sakit?" Daniel bertanya dengan nada gusar tapi ia tetap harus fokus pada jalanan
Bukannya menjawab, Alicia malah semakin terisak
"Dara, tenang yah, kita akan segera sampai" bujuk Daniel
"a..aku... Huaaa" pecah sudah tangis Alicia yang membuat Daniel makin khawatir sekaligus takut
Karna tangis Alicia makin menjadi jadi, Daniel terpaksa menepikan mobilnya saat sudah memasuki jalan area rumah sakit
Daniel meraih kedua pundak Alicia dan menatap istrinya penuh sayang
"maaf membuatmu kesakitan" ucap Daniel dengan mata berkaca-kaca membuat Alicia tak sanggup melihatnya dan kembali menangis
Segera Daniel melepas sabuk pengamannya dan memeluk Alicia untuk menenangkan istrinya yang menangis kencang itu
"Dara, kamu kuat, kamu pasti.."
"maaf" gumam Alicia lirih dalam pelukan Daniel
"tidak, kamu tidak salah, aku yang..."
"maafkan saya tuan"
"kamu tidak..."
Gerakan Alicia melepas diri dari pelukan Daniel membuat ucapan Daniel terpotong
Kemudian Alicia menunjukan sebuah benda kecil yang sedari tadi di genggamnya, botol kecil pewarna kue yang berwarna merah
Tunggu?!
Alicia yang melihat tuan suaminya kebingungan dengan apa yang diperlihatkannya itu kembali memeluk Daniel guna menghindari tatapan Daniel
"maaf tuan, aku tidak apa-apa" lirihnya dengan wajah ia tenggelamkan di dada Daniel
"Dara?"
Alicia memejamkan mata dan menggigit bibirnya sebelum melerai pelukannya
Ia yang mulai jadi ia juga yang harus bertanggung jawab apapun konsekuensinya. Alicia merasa menyesal sekarang
Setelah memperbaiki duduknya, Alicia mencuri-curi pandang ke arah Daniel yang masih setia menatapnya... Entahlah tatapan apa itu
Alicia mengangguk membenarkan tebakan Daniel
"aku tak sengaja menumpahkannya tadi saat aku terjatuh" cicit Alicia menjelaskan kenyataan sebenarnya
Daniel menghela napas panjang, kemudia ia memukul setir untuk menyalurkan segala macam rasa yang menyerangnya sekarang
Takut, sedih, khawatir, melihat keadaan Alicia tadi, dan saat tahu kenyataan yang sebenarnya, rasa marah, kesal dan bahagia sekaligus ia rasakan dalam waktu bersamaan
Marah dan kesal karna istri kecilnya berhasil membuat Daniel lupa diri, juga bahagia mengetahui bahwa semua baik baik saja.
Alicia yang melihat reaksi Daniel terjengkit kaget, ia takut Daniel akan marah besar padanya dan membuangnya di kamar mayat saat ini
Alicia terisak memikirkan nasibnya, Daniel menoleh dan mendapati istrinya kembali terisak, kemudian dengan cepat Daniel membawa Alicia kedalam pelukannya
*jika bukan istri, sudah aku umpankan ke sarang buaya* kesal Daniel dalam hati
"kalau semua bohongan kenapa menagis? Apa ada yang sakit, hm?" tanya Daniel mengelus pundak Alicia
Alicia menggeleng dalam pelukan Daniel
"saya takut tuan membuangku di kamar mayat" lirihnya
"tidak! Hukuman itu terlalu ringan untukmu" jawab Daniel cepat, kemudian ia mengecup kepala Alicia
*makasih untuk tidak kenapa-napa* batin Daniel bersyukur
Bersambungggg
######
Balik nih,,
dari pada kalian penasaran kan, cukup covid yang membuat kita resah menunggu kapan musnahnya.
stay safe kita semua. selalu sehat untuk aku dan kamu semua. aamiin 💖
Salam mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu