
"Maura?" Maura memejamkan erat matanya kala suara adik tirinya mengalun lembut memanggil namanya, kepalanya masih ia pertahankan menunduk
"kamu, Maura kan?" Alicia maju mendekat namun dicegat oleh beberapa ajudan wanitanya
"nyonya muda sebaiknya di tempat, biar kami memeriksa orang ini" kata Diana, sang ajudan
"jangan sakiti dia, saya yakin dia kakak saya" tutur Alicia memperingati beberapa ajudan yang kini menahan tubuh Maura yang tengah berlutut di tanah dengan tangan yang dipegang oleh 2 ajudan lelaki Alicia
Maura tak bisa lagi mengelak saat selendang yang menutupi kepalanya disingkirkan oleh ajudan Alicia, walau ia sudah berdandan kumuh tetap saja Alicia mengenalinya
"kamu benar Maura!" pekik Alicia girang. Ia meletakan pelan baby El di strolernya dan menarik Maura untuk berdiri, kemudian adik kakak itu berpelukan
Maura menggigit bibirnya menahan gejolak dadanya. Rasanya ada sesuatu yang berat tengah menimpa dadanya hingga menimbulkan rasa sesak didalam sana saat mendengar isak tangis adiknya, perlahan pertahanannya luruh
"maaf, maafkan saya" lirih Maura berucap disela-sela isaknya, ia balas memeluk erat tubuh adiknya yang memang dirinduinya ini
"Maaf" entahlah hanya kata maaf yang bisa terucap dari bibirnya. Selain karna merasa tak pantas dapat pelukan dari wanita cantik ini, Maura merasa ia terlalu banyak dosa pada Alicia
"maafkan saya, Alicia" kembali Maura bersuara dalam dekapan hangat adiknya. Nyatanya pelukan Alicia sama hangatnya dengan pelukan ayah maupun kakanya Maureen. Nyatanya Alicia memang adiknya, adiknya yang berbagi darah dengannya. Maura merutuki masalalunya yang telah menorehkan banyak luka untuk gadis manis ini yang harusnya ia jaga dan lindungi. Ia gagal menjadi kakak yang baik untuk adiknya ini
"kak Maura kemana saja? Kenapa menghilang juga?" tanya Alicia setelah mengurai pelukan. Mama muda itu mengabaikan permohonan maaf sang kakak yang menurutnya tak perlu. Bukankah mereka saudara? Walau sebesar apapun kesalahan saudara lainnya, mereka tetap akan saling memaafkan meski tanpa permohonan maaf sekalipun
"saya tidak menghilang, emangnya saya ini jin apa bisa ngilang, terus muncul lagi" ujar Maura berusaha mencairkan suasana canggung namun mengudang Alicia berdecak malas dengan nada bicara Maura yang terkesan formal padanya
"dih pakai saya anda gitu, nggak cocok banget tau nggak" ujar Alicia menatap jengah sang kakak
"lo nggak mau nampar atau narik rambut gue gitu?" tanya Maura menawarkan Alicia untuk membalas perbuatannya di masalalu
"pengen banget!" seru Alicia membuat Maura tersenyum kecut
"tapi itu 2 bulan lalu, sebelum baby El lahir, aku ngidam pengen jambakin rambut kamu, bosan jambakin rambut si Ali sama Daddynya El" lanjut Alicia membuat Maura membulat. Nyatanya adiknya ini tak sekalem yang ia pikir.
Maura terkikik geli membayangkan gimana ekspresi 2 lelaki dingin macam Ali dan Daniel jadi amukan Alicia
"baby El? itu bayi lo?" Maura melongokan kepalanya ke belakang tubuh Alicia
"iya, cucunya ayah Dinata" sahut Alicia berjongkok di depan stroler anaknya, memperlihatkan wajah baby El pada si aunty-nya
"boleh gue peg.."
"Dara!" pekikan suara bariton membuat semua orang menoleh ke sumber suara
Disana, Daniel dengan wajah yang hendak menangis berlari kecil menghampiri mereka
"kamu nggak papa sayang?" todong Daniel memeriksa tubuh Alicia
"anak kita?" Daniel beralih ke babi El setelah melihat istrinya tak apa-apa. Mengambil handzinitaser yang diserahkan Diana dan menyemprotkan ke tangannya sebelum meraih tubuh gemuk putranya dan memeriksanya, Daniel bernapas lega kala mendapati tak ada lecet sedikitpun disana, ia bawa tubuh sang putra ke dalam dekapannya dan menghujami wajah baby El dengan kecupan-kecupan gemas dan memancing anak itu terkikik geli
"kami baik-baik saja, mas ngapain disini?" tanya Alicia ikut gemas melihat interaksi Daniel dan baby Gael
"mas dapat laporan kalau ada penyusup di sekitarmu dan baby. Makanya aku langsung menuju kesini" ungkap Daniel. Rapatnya yang tengah berjalan ia tinggalkan begitu saja demi menyusul sang istri dan anaknya di taman
Maura yang mendengar ucapan Daniel bukannya tersinggung, ia malah tersenyum bahagia. Bahagia melihat bagaimana Daniel begitu tulus mencintai adiknya. Alicia pantas mendapatkan cinta sebesar itu, adiknya pantas bahagia
Alicia mendongak menatap Maura yang menunduk menatap rerumputan yang tengah dipijak kakaknya itu, kemudian kembali menatap suaminya
"dia bukan penyusup mas, ih" ralat Alicia akan ucapan suaminya yang ditanggapi oleh Daniel dengan melabuhkan sebuah kecupan di dahi sang istri
"aku khawatir sayang, rasanya mas hampir gila melewati beberapa menit di jalan menuju kesini" keluh Daniel akan perasaan cemasnya saat mendapat kabar jika ada sesuatu yang mencurigakan di sekitar kedua pengisi jiwanya.
"kami nggak papa mas suami. Tadi hanya kesalahpahaman" ujar Alicia mengelus lembut lengan suaminya, berusaha menenangkan perasaan lelaki yang telah memberinya cinta yang begitu melimpah
"Diana" panggil Daniel sambil berdiri dengan baby El di gendongannya, bayi kicik itu tengah asik memainkan hidung mancung sang daddy
"saya tuan" Diana maju
"dimana penyu... kamu?" Daniel melotot melihat siapa yang tengah berdiri menunduk di hadapannya
\=\=\=\=\=\=\=
Elana tersenyum senang melihat penampilan dirinya di hadapan cermin, linggerie merah terang itu telah melekat ditubuhnya. Melirik jam yang telah menunjukan pukul 7 malam, Elana yakin suaminya akan datang sebentar lagi
Ia percaya diri dengan penampilannya, walau kakinya tak bisa bergerak tapi ia bisa memuaskan pasangannya. ia akan menyambut suaminya pulang dengan mempersembahkan tubuh seksinya
Tak berselang lama, suara ketukan di pintu terdengar membuat Elana menyiapkan diri. Ia memang sengaja mengunci pintu dari dalam agar ia bisa membukakan pintu untuk Alex ketika suaminya itu pulang
Dengan cekatan ia tuntun kursi rodanya menuju pintu
"selamat dat...kamu siapa? Tanya Elana bingung pada seorang pria bertopi dengan pakaian goj*k.
*buset dah, seksi benar nih perempuan* batin si abang dengan jaket hijau itu
"apa benar ini rumah bu Elana?" tanya si abang berusaha profesional
"ya saya sendiri, ada apa?"
"ini ada paket untuk ibu Elana" si abang menyerahkan sebuah kotak yang terbungkus rapi itu
"paket? Saya tidak memesan apa-apa" tanya Elana memastikan
"ini dari seseorang untuk ibu, katanya hadiah spesial" ucap si abang
"hadiah spesial" beo Elana
"ya udah saya terima. Terimakasih" setelahnya Elana menutup pintu. Ia membawa kursi rodanya menuju ruang keluarga dengan paket di pangkuannya
"dari siapa? Mungkinkah dari Alex" tebak Elana berharap dapat hadiah dari suaminya itu
Tak ingin menebak-nebak, Elana membuka paket dengan perasaan senang.
Mengeryit kala melihat isi kotak yang hanya beberapa selebaran nota
Duarrrr
Bagai disambar petir, Elana mematung di tempatnya
Beberapa nota bukti perbuatan bejatnya menyewa hotel di beberapa kota, liburan keluar negeri dengan Roni tengah terkumpul di kotak itu. Uang ratusan juta yang ia hamburkan untuk bersenang-senang dengan suami ibunya menggunakan uang Alex
Elana gemetar. Siapa pelaku pengirim ini? Tidak mungkin Alex, kan.
Bersambunggg...
######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu