
Ponsel malang yang sejam lalu terus meminta perhatian dari sang pemilik nampaknya masih setia berdering di atas nakas.
sang pemilik yang bergelung di balik selimut dengan mata dipakasa tertutup memilih abai karna dilanda rasa sebal dan kecewa
Mengabaikan puluhan panggilan dan ratusan chat spam dari seseorang yang 2 minggu lalu bersamanya 24 jam.
Namun seketika matanya sontak terbuka lebar, segera menyingkap selimut tebalnya dan beranjak dari baringnya
Melirik malas ponselnya tapi tetap ia raih.
"ya?" sahutnya dengan nada acuh
"......"
"iya sudah"
"......"
"aku capek,tadinya tidur makanya tidak dengar"
"......"
"tidak. Aku hanya capek saja"
"......"
"jangan!" kan, ini yang ia takutkan, hampir saja ia terlambat mencegah jika terus mengabaikan orang ini
"....."
"eng,,enggak. Maksudku jangan sekarang. Di rumah sedang tak aman" jelas Elana
"....."
"Alex kembali mengijinkan bik Imah tinggal..." ucapan Elana terpotong akibat lawan bicaranya menyahut dengan suara ngegas
"....."
"iya sabar! Aku juga nggak suka tapi aku tak bisa membuat keputusan tanpa persetujuan Alex" jelas Elana menggebu
"....."
"ya maka dari itu, kalau aku langsung mengambil tindakan tanpa meminta pertimbangan Alex, aku takutnya ia curiga sama aku yang tiba-tiba datang langsung suruh pembantu pergi"
"....."
"aku juga menginginkanmu, tapi untuk sekarang kita harus bersabar dulu, sayang" Ujar Elana mulai melembut
Dan yah, perbincangan itu didengar oleh kedua telinga Mang Asep yang berada di depan pintu kamar. Bukan maksud menguping tapi ia tak sengaja mendengar perbincangan nyonya-nya saat ia mengantar barang Elana yang tertinggal di taxi tadi, beruntung supir taxinya baik sampai mau kembali lagi ke kediaman Alex untuk mengembalikan barang penumpangnya.
Meski tak mendengar suara lawan bicara istri tuannya, tapi Mang Asep bisa menebak seseorang itu.
Seseorang yang jika berkunjung, Mang Asep akan disuruh stay di gerbang rumah dan pintu rumah selalu dikunci rapat dari dalam. Jikapun orang itu tak sempat masuk ke dalam rumah tapi ia selalu membawa nyonyanya keluar malam dengan alasan ingin menemani jalan-jalan untuk melepas penat jika Alex tengah sibuk di luar untuk bekerja, dan orang itu akan mengantar Elana pulang selalu larut malam
Dan yah, satahun belakangan sejak perusahaan Alex resmi beroperasi, tingkah Elana dan orang itu semakin terang-terangan, terang-terangan dalam artian di belakang Alex, Bagaimana tidak, Elana bahkan berani berbohong dengan dalih mengunjungi orang tuanya malah tengah berbuat hina di belakang suaminya. Suami yang rela mengorbankan semuanya demi Elana, rela meninggalkan keluarga besarnya demi seorang Elana Deariska yang rupanya seorang wanita tak bermoral
"sepertinya kecurigaanku terbukti" gumam Mang Asep, ia berucap seolah ia terbang dengan pada kejadian beberapa bulan lalu. Saat dimana seseorang kembali mengunjungi Elana di rumah, Asep yang saat itu dilanda curiga diam-diam menuju pintu belakang rumah tapi rupanya sang penghuni sangat hati-hati sampai Asep tak memiliki celah untuk masuk ataupun mengintip. Rupanya mereka sudah mewanti-wanti segala macam kemungkinan. Dan yah, Asep tak bisa menuntaskan penasarannya. Tapi kali ini saat ia tak lagi peduli kini kenyataan terpampang nyata di hadapannya
"aduh gusti, nggak bisa bayangin gimana terlukanya tuan jika tahu penghianatan istrinya" monolog Asep yang kini melangkah gontai menuruni tangga
"loh kok barangnya dibawa turun lagi, Sep?" ujar Imah melihat tangan Asep masih menenteng paper bag yang katanya milik nyonya rumahnya ketinggalan di taxi tadi
"oh, anu, mm..nyonya Elana sepertinya ketiduran, nggak enak ganggu" Asep kelimpungan cari alasan, bukan apanya, ia masih belum yakin ingin membongkar rahasia besar Elana, meski dengan Imah sekalipun, ia belum memiliki bukti nyata membuatnya urung mengatakan apa yang baru saja diketahuinya
Asep merasa tak pantas mencampuri urusan rumah tangga tuannya, tapi ia juga tak bisa membiarkan kelakuan Elana. Ia masih bingung saat ini. Antara menjaga perasaan tuannya dengan menutup mulut atau berusaha mengumpulkan bukti untuk membongkar kelakuan nyonyanya dengan mempertaruhkan kesakitan jiwa tuannya.
Kehilangan calon bayi saja Alex begitu terpuruk, gimana jika mengetahui istri tercintanya malah bermain serong dibelakangnya? bisa sekarat tuannya itu. Pikir Asep
"yaudah sinikan, nanti saya berikan ke nyonya jika sudah turun untuk makan" Imah meraih paper bag itu
"baiklah, terimakasih bik, Asep keluar dulu" pamit Asep
Setelah Asep keluar, Imah sidikit mengintip barang di balik paperbag
"kali aja ada bukti perbuatannya" gumam Imah, bukan maksud kurang ajar tapi Imah memang sekepo itu jika di belakang tuan dan nyonya rumahnya
Salahkan saja Elana, berkat dirinya membuat peraturan memecat pembantu dan mempekerjakan Imah hanya part time membuat Imah bisa mengetahui belang nyonya cantiknya yang sudah ia jaga beberapa tahun ini.
Ya, bik Imah juga pernah sekali menangkap basah kelakuan Elana di belakang Alex.
Imah yang biasanya hanya bekerja sahari semalam di rumah Alex tapi kini mendapat waktu senggang sejak pekerjaannya hanya sebagai tukang masak membuat Imah mencari kerja serabutan di luar. Dan malam itu, saat Imah pulang kerja dari warung pinggir jalan, ia tak sengaja melihat nyonya mudanya baru saja keluar dari hotel bersama seorang pria, tapi Imah yakin itu bukan majikan laki-lakinya yang tengah bersama istrinya sebab tuannya kala itu sedang dinas ke luar kota. Apalagi bodi laki-laki itu jauh berbeda dengan postur milik Alex
Namun Imah yang hanya memiliki ponsel anti kamera tak bisa mengabadikannya dan menjadikannya sebuah bukti
"jadi ini sebabnya nyonya tak ingin banyak pekerja tinggal dirumah? Apa karna ia sudah tak sanggup menahan lagi perbuatannya?" tanya Imah tak habis pikir
"pantas saja, suami nikah dengan daun muda malah setuju-setuju aja, rupanya ia mau bermain aman" monolog Imah menatap mobil yang dinaiki nyonya dan pria yang tak sempat Imah liat mukanya melaju pada malam itu
Bersambunggg...
#####
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu