TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
Extra Part 4


Pria itu tak henti-hentinya menatap takjub sesosok manusia baru berkulit merah yang tengah terlelap dalam box bayi. ia masih tak menyangka jika bayi kecil itu adalah miliknya bersama sang istri


ia merekam dengan baik bagaimana wajah Alicia menahan rasa sakit demi memperjuangakan kelahiran benihnya yang kini atas kebesaran Allah bisa berubah jadi malaikat kecilnya setelah berproses dalam perut sang istri selama 8 bulan.


proses beberapa jam yang lalu menjadi gambaran nyata seorang perempuan yang merelakan tubuhnya menahan sakit hanya untuk melahirkan seorang bayi kecil ini. seorang bayi anggota baru kelaurga Prasetio, sumber kebahagian mereka.


Meski ia juga merasakan kesakitan akan cakaran, jambakan bahkan gigitan dari sang istri saat proses itu berlangsung tapi rasa sakitnya itu hilang seketika saat ia mendengar untuk pertama kalinya suara tangis bayinya sesaat keluar dari tempat persembunyiannya sejak Daniel membuatnya beberapa bulan lalu.


Setelah cukup puas menatap bayi merahnya, ia beralih menatap seorang wanita cantik yang juga tengah terlelap di samping boks bayi mereka, saai ini ia berada di antara kedua sumber kebahagiannya itu.


Wanita ini sungguh luar biasa, melihat perjuangan antara hidup dan mati sang istri untuk melahirkan jagoan mereka, Daniel bersumpah pada dirinya sendiri tidak akan pernah melukai hati dan perasaan wanitanya ini.


Ia mengangkat dengan pelan tautan tangannya dengan sang istri yang sedari sebelum wanita itu terlelap beberapa jam lalu sudah ia genggam tangan lentik itu, lalu mengecupnya pelan untuk menyalurkan rasa cinta dan bahagianya, tubuh wanitanya itu lebih hangat ketimbang saat tadi berada di ruang bersalin.


"istri dan anak mu tidak akan meninggalkan mu jika kamu tinggal sebentar untuk istirahat" suara seorang pria paru baya mengitrupsi kegiatan ayah baru itu


"tidak akan kubiarkan mereka pergi dari hidupku" sela Daniel cepat melirik Pras yang baru saja masuk ruangan pemulihan Alicia


"kamu juga butuh istirahat, Niel" peringat Pras pada putranya, mengingat Daniel belum mendapatkan istirahatnya semalam penuh, bahkan pagi sudah menjelang tapi suami Alicia itu tak juga mendapatkan jatah istirahatnya.


"rasanya aku tak mengenal tidur setelah melewati proses semalam" ujar Daniel kembali teringat akan kejadian mendebarkan detik-detik ia menjadi seorang ayah


Dan Pras hanya bisa mengeleng kecil akan sikap putranya, tapi ia memaklumi sebab 29 tahun lalu ia juga merasakan hal yang sama saat Daniel lahir


"kamu sudah menghubungi tuan Orlando akan kabar istrimu?" tanya Pras pelan karna kini ia berada di samping box cucunya yang masih terlelap. Tangannya terulur memperbaiki letak tangan kecil cucunya.


"ayah sudah cuci tangan, pakai sabun mahal lagi" lapor Pras menyadari tatapan tajam Daniel yang di arahkan padanya, Pras berucap tanpa mengalihakan atensinya pada bayi kecil itu


Daniel hanya mendengus kemudian menjawab ayahnya


"ya, opanya Dara memboyong semua keluarganya terbang ke indo, dan mereka sudah take of sejam lalu" beritahu Daniel akan kabar keluarga kandung istrinya itu. Karna dilanda panik ia sampai lupa mengabari hal sepenting ini pada opa Alicia. Dan baru mengabari saat Alicia dan putranya sudah selamat beberapa jam lalu


"apa mereka masih tidur?" tanya Maya yang baru saja masuk, di tangannya terdapat banyak tentengan, lebih banyak dari yang di bawa Pras tadi. Kemudian ia meletakan beberapa paper bag itu di sofa, mengambungkan paper bag yang di bawa suaminya


"kecilkan suaramu ibu" peringat Daniel


"oh maaf" bisik Maya menampilkan cengirannya karna merasa bersalah


"bagaimana dengan media?" tanya Daniel pada kedua orang tuanya


"sekertaris serba bisamu sudah mengurus semuanya, bahkan beberapa paparassi gaib pun di basmi" jelas Maya akan keadaan yang kini sudah mulai kembali aman setelah beberapa jam lalu pakarangan rumah sakit tempat nyonya muda Prasetio melahirkan hampir di penuhi awak media.


Mereka tak habis pikir akan kegercapan para awak media bisa mengendus akan kelahiran tuan muda kecil beberapa saat setelah Alicia keluar mansion di tengah malam.


"ya, dia layak dapat sesuatu yang lebih besar" ujar Daniel mengingat jasa besar sekertaris setianya itu.


Sementara di luar ruangan


Pria yang sedang jadi perbincangan dalam ruang pemulihan Alicia sedang terburu-buru memasuki lobi rumah sakit hingga ia tak menyadari seorang gadis muda berjas putih yang juga tengah terburu-buru membuat mereka saling bertabrakan


Dugh


Brugh


"Awww" pekik wanita itu merasakan pantatnya mencium lantai dengan kasar


"perhatikan langkahmu tuan!" pekiknya kesal karna pria yang berdiri menjulang tinggi dihadapannya menabraknya sampai ia terjatuh


"jalan ku sudah benar" jawab Ali enteng menatap datar gadis itu


"AYU!! KAU MAU MEMBUNUH PASIENMU!!" teriakan kencang dari seorang dokter senior membuat dokter muda yang bernama Ayu itu tersadar akan tujuannya, sampai ia tak bisa melampiasakan kekesalannya pada pria tak tahu sopan santun di depannya


Buru-buru ayu beranjak dan berlari kencang mengabaikan pantatnya yang masih ngilu


"anak koas rupanya, huh berani sekali gadis ingusan itu melototkan mata padaku" gumam Ali menatap punggung Ayu yang mulai menjauh


"tuan baru saja hampir membuat mahasiswa magang kehilangan pekerjaannya" ujar gadis di belakang Ali yang juga beberapa saat lalu datang, ia baru saja tiba, tapi ia tak datang bereng pria berjas rapi di hadapannya.


Memutar bola malas, tanpa menoleh Ali melanjutkan langkahnya mengabaikan suara sumbang di belakangnya


"Dih, gini nih kalau ngomong sama makhluk khutub, suaraku terbuang cuma-cuma" dumel Filda kemudian ia berlari kecil mengikuti langkah Ali, dengan begitu ia bisa menaiki lift yang sama agar tak perlu menunggu lebih lama untuk sampai di kamar rawat Alicia di lantai teratas rumah sakit milik suami sahabatnya


"tunggu" dengan kakinya yang sedikit panjang, Filda berhasil menggapai pintu lift yang hampir tertutup rapat dan kini kembali terbuka


ia menampilkan cengirannya kala melihat ekspresi tak suka oleh pria dingin di depannya, memilih abai meski ia menahan ketakutan karna satu ruang sempit dengan pria menyeramkan ini, Filda melangkahkan kakinya masuk.


merapalkan berbagai doa, agar lift bisa sampai segera di lantai tujuan mereka. karna jujur, kini pikiran negative sedang memenuhi otak dari sarjana psikologi itu


bagaimana jika pria ini mencekiknya, memukul, atau mematahkan lehernya di tempat sempit ini, ia kan tak bisa lari..


"TIDAK!!" teriak Filda membuat Ali terlonjak kaget akan suara yang berhasil membuat telinganya berdengung


Bersambunggg...


########


Satu part lagi baru kita ketemu Maura ya, sisa 1 extra part lagi kita akan berpisah dengan tuan muda Daniel. Jadi yang sabar ya


Oh iya, kalau boleh minta saran kalian, boleh dong baca ulang extra part 1 sampai extra part 2, soalnya aku udah revisi habis-habisan karna kemarin itu sepertinya ngidam alicia terlalu aku lebih-lebihkan


Berkat komenan kalian, aku intropeksi dan yah, aku sadar akan hal itu. Terlalu aku paksakan untuk ngetik sampai tulisan juga terlalu halu


Jadi yuk, baca ulang, aku minta saran lebih baik yang mana, extra part yang awal atau setelah revisi? mana yang lebih menarik bagi kalian.


Aku butuh masukan kalian semua. Makasih


makasih untuk komentnya yang buat aku berpikir keras. 😑








kadang memang pikiranku sesadis itu.


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu