
Alex meringis menatap alat-alat yang baru saja menjadi saksi bisu bagaimana kebal tubuhnya saat satu persatu benda itu mendarat dipermukaan kulitnya
Spatula, Frying pan, sapu, sekop sampah, alat pel, penggaruk punggung, ikat pinggang bahkan sampai sepasang sandal. Semua alat alat itu mereka tinggalkan dan biarkan berceceran di lantai kamar Maura sebelum ke 5 orang itu mengacir keluar kamar saat merasa keadaan sudah aman, lebih tepatnya merasa bersalah saat menyadari jika tubuh Alex tengah dihiasi lebam kemerahan di berbagai titik akibat serangan melumpuhkan maling dari keluarga pengusaha tambang itu
"tu..tuan baik-baik saja?" suara lirih wanita yang mengalun di indra pendengarnya membuat lamunan Alex teralihkan. Lelaki dengan tampang kesakitan itu namun tak menghilangkan ketampanannya menoleh ke arah wanita berdaster biru laut itu
"apakah sesakit itu sampai membuat tuan menangis?" tanya Maura kaget kala menyadari jika mata Alex membengkak
Alex hanya mengangguk mengiyakan dengan wajah memelas, lelaki yang tengah duduk di bibir ranjang itu merentangkan tangannya memberi isyarat pada sang istri jika ia butuh pelukan
Sisi tak tegaan dalam diri Maura membuat wanita itu beranjak mendekat ke arah sang suami, wanita itu sebenarnya antara sadar dan tidak melakukannya, melihat untuk pertama kalinya wajah memelas sang suami yang biasanya hanya ada raut garang dan datar disana membuatnya melupakan ia tengah berhadapan dengan pria tempramental itu
Alex segera menarik Maura kedalam pelukan saat wanita itu sudah berdiri di hadapannya, Alex membenamkan wajahnya di perut buncit sang istri.
*selamat pagi nak, bahagia nggak dipeluk papa dan mama kayak gini? * batin Alex menghirup dalam-dalam aroma Maura dan sesekali menduselkan hidungnya di perut itu
*maafkan papa nak, papa mencintaimu juga mencintai mamamu* mata yang sedari semalam mengeluarkan air mata penyesalan itu kembali memanas kala ingatan berputar bagai kaset rusak di memori otaknya, bagaimana ia menomor satukan sikap egoisnya sehingga membuat 2 orang tercintanya jauh darinya beberapa minggu ini
Ya, mata bengkak Alex bukan menangis akibat kesakitan fisiknya, melainkan karna rasa penyesalannya yang telah menyia-nyiakan wanita cantik dalam pelukannya ini.
Flashback on
malam saat ia memasuki kamar Maura, Alex dengan langkah pelan mendekat dan menaiki ranjang dengan hati-hati agar tidur istrinya tak terganggu akan kedatangannya. Rasa haru membuncah saat ia bisa melihat sedekat itu wajah sang istri setelah sekian lama terpisah. Matanya mulai berair meneliti setiap jengkal wajah cantik wanitanya, namun sudut bibirnya menyungging tipis mendengar dengkuran halus Maura
Alex sangat merindukan setiap apapun yang ada pada "Rara-nya"
Ya, Rara-nya. Nama panggilan sayang untuk istri tercinta, Maura Anice Dinata
Alex mengelus lembut pipi tembem itu, menyalurkan kasih sayangnya dengan sentuhan tangannya yang seringan kapas, seakan takut jika sentuhan tangannya akan melukai pipi mulus milik istrinya
"maafkan aku, sayang" bisik Alex penuh sesal, dadanya bergemuruh hebat hingga membuat kinerja jantungnya sesak kala mengingat semua perlakuan kasarnya pada wanita muda itu. Rasa sesak yang berhasil membuat setiap aliran daranya mendidih hingga ia luapkan dengan mengeluarkan air mata yang memang sudah membanjiri kelopak matanya sedari tadi
"maaf atas kekejamanku padamu selama ini, aku menyesal. Tolong tetap bertahan disisiku" mohon Alex dengan dada yang kian sesak hingga membuat tangisnya tersendat-sendat. Ia kesakitan sendiri kala mengigat perlakuan kasarnya dari awal pernikahan hingga Maura berakhir di rumah sakit sampai 2 kali.
Mata Alex tak lepas memandangi wajah damai wanitanya. Puas dengan itu, atensinya berpindah, ia singkap perlahan selimut yang menutupi tubuh Maura. Walau dadanya masih diliputi rasa sesak tapi melihat secara nyata perut yang tengah menjadi tempat tumbuh kembang benihnya membuat Alex merasakan ribuan kupu-kupu bertebaran dalam perutnya
"hai nak, ini papa--" Alex menyapukan lembut telapak tangannya pada permukaan perut Maura "--Maaf karna papa bodohmu ini tidak mengetahui keberadaanmu padahal papa sering mengunjungimu didalam sana" monolog Alex menyesal namun dibumbui nada jumawa, air matanya tak juga berhenti menetes
"makasih karna kamu tetap bertahan walau papa pernah hampir melenyapkanmu dengan tak sengaja"
"tolong jaga mama yah, kamu jangan nakal. Kasihan mama, nak. Bantu papa untuk jaga mama yah, bantu papa juga agar mama tetap mau bertahan sama papa" ia condongkan tubuhnya dan mengecup lembut pada perut Maura
Dan ya, ungkapan penyesalannya nyatanya meninggalkan bekas di pagi hari ini. Akibat mengeluarkan air mata terlalu banyak mengakibatkan pecahnya pembuluh darah kecil di mata dan kelopak matanya, hingga menimbulkan bengkak diarea matanya. khas orang kelamaan menangis.
Flashback of
"shs" ringisan Maura membuat Alex langsung melerai pelukannya kencang dari sang istri. elusan tangan Maura membuat hatinya terlalu semangat hingga tak menyadari ia menyakiti sang istri dan calon anak mereka. Kepalanya mendongak menatap wajah Maura
"ada apa? apa ada yag sakit?" tanya Alex panik
"pelukan tuan yang menyakitkan" sahut Maura ringan namun ditanggapi serius oleh Alex.
Lelaki itu merasa disindir secara halus akan hubungan mereka
"Ra..aku...aku..." ucapan terbata Alex terpotong kala Maura langsung melepas pelukannya
"Maura, kamu mau kemana?" tanya Alex panik sambil beranjak berdiri hendak menyusul langkah Maura
"Ra?" tanya Alex yang mengekor dibelakang bagaikan anak ayam yang tak ingin jauh dari sang induk
Maura berdecak kecil, setelah mendapat apa yang dicarinya Maura segera menutup lemari dan berbalik, menatap datar wajah memelas suaminya yang matanya sudah memerah hendak menumpahkan laharnya.
*cengeng banget nih pria tua* olok Maura dalam hati
"sini" ajak Maura sambil menarik tangan Alex menuju sofa tunggal dalam kamarnya, sedang tangan satunya tetap memegang kotak obat
Dengan telaten, Maura mengolesi salep pada puluhan lebab yang ada di tubuh Alex, membuat netra Alex tak lepas dari pergerakan sang istri, senyuman haru tecetak manis di bibirnya akan perlakuan Maura padanya. Istri kecilnya peduli padanya. Pikirnya
"Selesai" Maura langsung berdiri namun Alex segara meraih tangannya dan membawa tepat di hadapannya
"sakit banget sampe rasanya hanya dengan pelukan bisa meredakannya" ucap Alex setelah kembali membenamkan wajahnya di perut sang istri yang hanya terdiam tak membalas dekapannya. Kali ini pelukannya ringan karna sadar ada buah hati mereka dalam perut Maura
"saya tahu tuan, saya sering mengalaminya dulu--" lirih Maura dengan senyuman mirisnya dalam pelukan Alex, tentu Alex tak melihatnya "--tapi apa yang tuan rasakan ini tak seberapa dibanding dengan apa yang pernah terjadi pada saya, dipakai sambil di aniaya, luka fisiknya memang bisa sembuh beberapa hari kemudian, tapi luka batinnya yang tak memiliki penawar" lanjut Maura ringan seolah luka kenangan masalalu yang ditorehkan Alex sudah menjadi lelucon baginya karna terlalu sering ia alami. namun pengakuan Maura itu berhasil mencabut paksa jantung Alex dari tempatnya. Lelaki itu ingin sekali menghilang dari hadapan Maura, ia tak sanggup menanggung penyesalan
*sesakit ini kah Tuhan yang dinamakan penyesalan?* batin Alex sambil memejamkan matanya serta menggigit bibirnya kuat untuk melampiaskan rasa sesak dadanya yang membuatnya kesusahan menghirup udara
"Maafin suamimu ini istriku" ujar Alex saat udara dalam tenggorokannya mampu untuk mengeluarkan suara setelah terdiam cukup lama.
"tolong jangan pergi. Tetap bersamaku hingga tua dan maut memisahkan, kamu adalah tujuanku pulang saat ini, jika kamu pergi aku tidak punya tujuan lain" mohon Alex pada Maura, lelaki itu kini berlutut dihadapan wanitanya
Bersambunggg...
######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu