TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK S2 17


Rasa kalut sejak ia memilih meninggalkan rumah sakit membuatnya putus asa, ia tak punya tujuan untuk berbagi dukanya, pulang ke rumah pun hanya akan membuatnya merasa sepi, tak ada yang bisa menghilangkan laranya, istrinya masih betah liburan bahkan cenderung mengabaikannya, alhasil ia menuju perusahaan padahal jam sudah menunjukan waktu bagi karyawan kantornya untuk pulang. Alex tak peduli, ia akan di temani dengan setumpuk berkas di mejanya. Ia memilih mengalihkan rasa sesalnya pada beberapa berkas berniali milyaran itu.


Seorang wanita memasuki ruang kerja Alex, ia membawakan sebuah nampan yang berisikan kopi panas di tangannya agar pria itu tetap terjaga di malam yang kian larut ini


Ia meletakan pelan di atas meja kerja Alex tanpa berucap sepatah kata, saat hendak beranjak tangannya tiba-tiba dicekal oleh Alex yang tadinya masih fokus pada berkas sewaktu wanita itu masuk sampai beberapa detik saat ia menaruh pesanan kopi di hadapan Alex


"saya pusing" ucap Alex menatap sayu pada wanita itu


"istrirahat tuan, nyonya Elana pasti menunggu tuan" jawab wanita itu sedikit menunduk karna ia tak berani menatap mata pria itu


"aku pusing dan aku ingin memasukimu" ujar Alex dan langsung menarik wanita itu mengitari meja kerjanya kemudian meraih wanita itu untuk duduk di pangkuannya


"ta-tapi tuan..."


"sstt jangan ngebantah kalau tidak ingin dikasari" bisik Alex parau tepat di telinga wanita itu, tangan kekarnya bahkan sudah mendarat di kedua gunung kembar kesukaannya


Sedang wanita itu tak punya pilihan lain selain menuruti mau tuannya, dan malam itu terjadilah sebuah penyatuan di atas kursi kerja Alex yang sempit, meski sempit tapi Alex sungguh menikmati permainan yang identik dengan si pria membuang dan si wanita menampung itu, dan benar saja rasa pusingnya kini hilang tergantikan dengan rasa puas tiada tara


"ahhh" desah keduanya saat mencapai pelepasan, meski hanya dengan satu gaya tapi mereka bisa mencapai titik ternikmat


*kamu selalu nikmat, Maura* batin Alex menenggelamkan wajahnya di ceruk leher berkeringat istri sirinya di ruang kerjanya yang berAc di tengah malam ini


"MAURA!!" alex tersentak, napasnya memburu, ia berusaha menekan dadanya yang kembang kempis, kemudian mengusap keningnya yang basah akibat keringat, ia memindai tubuhnya, kemudian mendongak menyapu seisi ruangan


Ruangannya berbeda dan ia masih berpakaian lengkap.


Mimpi? Tapi kenapa ia merasa dibalik resletingnya ada sedikit basah.


kemudian pria yang sempat tertidur di kursi kerjanya itu memejamkan matanya, masih berusaha mengatur napasnya, saat napasnya perlahan teratur ia teringat sesuatu.


mimpinya barusan adalah kenangan yang menjelma jadi mimpi, ia ingat betul jika kejadian dalam mimpinya pernah terjadi dalam ruang kerjanya di rumah.


Nyatanya Alex tertidur karna lelah berkutat dengan berkas-berkas itu, menghela napas panjang suami siri Maura itu kemudian bangkit dan meninggalkan ruangan untuk menuju rumahnya.


Melangkah lebar saat memasuki rumah, kamar pertama yang ia tuju adalah kamar belakang, kebiasaannya jika pulang malam karna hendak meminta haknya pada istri sirinya sebelum menemui istri sahnya di kamar utama.


Kasar ia membuka pintu, jika biasanya ia langsung bergegas masuk dan melepas semua pakaiannya dengan buru-buru tapi kali ini tidak, ia malah berdiri mematung di ambang pintu setelah ia tersadar akan kenyataan melihat seisi kamar yang masih berantakan sejak ia tinggalkan beberapa jam lalu sebelum menyusul ke rumah sakit


Gila!! Apa ia sudah gila sampai lupa jika kini penawar sang jagoan di balik celannya tengah berada di rumah sakit


Kenapa ia selalu menginginkan wanita itu? Tidak!! Wanita itu tidak berhak menjadi pusat hidup Alex, wanita itu hanya sebatas istri siri yang akan dibuangnya sebentar lagi


Tak ingin memikirkan apa-apa lagi menegani madu istri sahnya, Alex membanting kasar pintu dan melangkah menuju kamarnya bersama Elana yang sudah seminggu lebih tak kunjung pulang.


Bukannya merasa tenang dan damai, Alex malah gelisah. Mencoba melupakan harapannya yang telah ia lenyapkan dengan cara mengurung dirinya di kamar setelah kepulangannya dari perusahaan 2 jam lalu, nyatanya tak juga membuatnya lepas dari bayang-bayang kesedihannya


"argh, kenapa aku tak bisa tidur" Alex beranjak duduk dari baringnya, ia mengusap wajahnya gusar


"padahal badanku sangat lelah" monolognya merasakan badannya berat saat ia beranjak bangun, kepalanya bahkan sangat pening saat ini


Ia melirik ke arah jendela kamar yang tak tertutupi gorden itu, suasana diluar sudah sangat gelap, bahkan suara hewan malam pun ikut menjadi backsound malam itu. Entah mengapa ia kembali teringat akan istri sirinya, wajah pucat wanita muda itu terlintas di pikirannya. Alex bisa melihat tubuh ringkih itu terbaring lemah dengan luka bekas tamparannya membekas hingga tercetak biru di pipi mulus itu.


Bagaimana keadaan wanita itu sekarang? Sudah sadarkah atau masih betah dengan pingsannya? Ia tak tahu, sebab rupanya baik Imah maupun Asep tak ia tanyai karna gengsi, apalagi ia datang larut malam tadi.


"kenapa aku bisa selabil ini sih!" Alex mengacak rambutnya frustasi


"aku nggak ngerti diri aku sendiri, yang kadang merasa nyesal dan juga benci sama wanita itu" lanjutnya dengan hembusan napas kasar


Pikirannya saat ini sungguh kacau hanya karna satu nama.. Maura


Bersambunggg...


######


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu