TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK 109


Senja sudah kembali keparaduannya, menyisahkan bulan yang kini muncul untuk menampakan diri di langit gelap yang diterangi oleh sinarnya, malam ini, Seorang wanita cantik nan anggun memasuki rumah utama yang di sambut senang oleh Maya


"halo tante" Sapanya sopan


"halo sayang"Maya memeluk wanita muda itu


"ayok sayang kita langsung ke meja makan" ajak Maya


Wanita muda itu mengangguk dengan senyuman manis menghiasi bibirnya


Matanya sesekali melirik megahnya desain dan mewahnya barang-barang di rumah utama mansion Prasetio. Ini kali pertamanya ia menginjakan kakinya disini, dan sudah ia pastikan banyak wanita di luaran sana yang akan iri padanya, Mata bulatnya tak puas jika hanya melihat seisi rumah hanya dengan lirikan namun ia tak berani mengutarakan dengan gamblang apa yang ia mau. Ia harus menjaga sikap agar sifat aslinya tak ketahuan. Ia berusaha menarik perhatian nyonya besar Prasetio.


"ayok sayang duduk, bentar lagi Daniel turun" ajak Maya


"baik tante" ucap wanita itu dan mendudukan bokongnya di kursi meja makan


Tak berselang lama, Daniel yang mengandeng tangan Alicia menyusul di meja makan, namun langkahnya terhenti kala melihat siapa yang berada di meja makan bersama ibunya.


Alicia yang merasa pergerakan tuan suaminya berhenti ikut berhenti, kepalanya terangkat menoleh ke arah Daniel, ia mengikuti arah pandang Daniel dan...


Mata Alicia ikut membulat dan langsung melepas tautan tangannya dari Daniel yang di biarkan Daniel begitu saja


Setelah tersadar dari keterkejutanya, Alicia melengkungkan bibirnya ke atas memberikan semyuman manisnya ke arah wanita yang duduk bersebelahan dengan Maya, namun wanita yang diberi senyuman malah buang muka dengan wajah datarnya, membuat lengkungan di bibir Alicia perlahan memudar dengan dahi mengeryit


Sedang Daniel menatap wanita itu dengan tatapan tak terbaca


"kamu sudah datang nak, ayok duduk, Tasya sudah menunggu dari tadi" ucap Maya


Ya, wanita muda itu adalah Tasya, sekertaris Tasya


Tasya tersenyum malu malu dengan menyampirkan anak rambutnya di belakang telinga, Daniel rasanya ingin muntah melihat sisi lain sikap dari sekertaris wanitanya itu.


"mau yang mana?" tanya Tasya setelah Daniel dan Alicia duduk di meja makan, Tasya berucap dengan piring yang sudah berisikan nasi di tangannya, tinggal menambah lauk yang di inginkan Daniel


"semuanya" jawab Daniel datar


Dengan cekatan Tasya mengambilkan berbagai macam lauk ke piring Daniel, setelahnya ia menyerahkannya di depan Daniel, namun Daniel malah menyodorkan piring yang berisikan nasi dan beberapa lauk itu di hadapan Alicia


"makanlah" perintah Daniel yang diindahkan oleh Alicia


Maya yang melihatnya mengepalkan tangan, sedang Tasya mendengus, ia kembali duduk dan memakan makan malamnya dengan tenang


Makan malam itu kini berakhir, Maya, Tasya juga Alicia sedang berada di ruang keluarga dengan menikmati makan penutup dan jus. Daniel? Ia lebih memilih ke ruang kerjanya dari pada ikut gabung, ia percayakan Alicia pada ajudan yang menyamar jadi maid khusus malam ini.


Alicia menatap heran dengan sikap Tasya malam ini, jangankan menyapa, Tasya seolah tak sudi memandang wajahnya, bahkan membuang muka saat Alicia tersenyum padanya.


Apa seseorang bisa berubah secepat itu? Padahal Dirinya dan Tasya baik-baik saja selama ini, bahkan Tasya selalu menyambutnya dengan bahagia jika Alicia berkunjung ke perusahaan. Lalu malam ini? Apa karna Tasya benaran menginginkan posisinya? Apa Tasya sama seperti wanita diluaran sana yang terobsesi pada Daniel dan kekayaannya? Makanya Tasya bisa berubah 180 derajat karna mendapat dukungan dari Maya. Apa Tasya mengabaikannya karna merasa terancam dengan keberadaan Alicia sekarang ini? Jika memang iya, Alicia bahkan dengan suka rela melepas Daniel demi kebahagian Tasya yang sudah di anggapnya kakak.


Alicia susah payah menahan tangisnya atas sikap acuh Tasya. Ia sudah nyaman dengan kedekatannya dengan wanita yang bekerja sebagai sekertaris dari tuan suaminya itu


"tante, boleh saya ngobrol berdua dengan tu- Daniel? " Tasya berucap setelah meletakan jus yang baru saja di sesapnya


"oh tentu, kalian memang butuh waktu untuk berdua, sebentar, tante panggilkan.."


"tak usah tante, biar saya yang ke ruang kerja... "


"sudah malam sebaiknya anda pulang" suara datar Daniel memotong ucapan Tasya. Ia berucap sambil melangkah tanpa menoleh sedikitpun


Tasya menggigit bibir menyalurkan rasa takutnya


"Niel, kasih kesempatan pada Tasya, bicaralah" meski dengan nada lembut tapi jelas dalam kalimatnya, Maya mengutarakan permohonan


"sst! kamu!" Maya mengendikan kepalanya mengusir Alicia


"tidak tante, saya ingin menambah jus, dan saya mau dilayani olehnya" ucap Tasya melirik Alicia, tapi kepalanya berkunang kunang akibat menahan sesuatu


Daniel yang mendengar itu mengepalkan tangan kuat, wajah dan matanya sudah memerah, tapi karna kode tangan dari Tasya membuat Daniel urung mencekik wanita muda itu yang berani mengucap kan kalimat perintah pada istrinya


"oh tentu" jawab Maya kemudian beranjak dari sana.


"apa maksudmu Tasya!" geram Daniel setelah ibunya tak terlihat lagi


*mampvs sudah* jerit hati Tasya, keringat dingin sudah bercucuran di dahinya


Tasya melirik takut takut ke arah Daniel , wajah menyeramkan langsung dibingkai kedua matanya


"sejak kapan kamu tuli?!" bentak Daniel


"tuan, mohon maafkan saya, tapi bisakah tuan, saya dan Al.. Nyonya muda cari ruangan lain agar tak terdengar oleh nyonya besar" Tasya berucap sambil berlutut ketakutan di hadapan Daniel


"kak Tasya" gumam Alicia melihat bingung dengan sikap Tasya


Daniel mendengus, kemudian ia balik badan menuju ruangannya, Tasya segera beranjak kemudian menarik tangan Alicia agar mengikutinya


"jadi?" cercah Daniel saat Tasya baru saja menutup pintu, Daniel bahkan tak repot repot mempersilahkan Tasya duduk. Posisinya ia sudah duduk di sofa dengan tangannya memeluk posesif pinggang Alicia yang juga duduk disampingnya.


"maaf sebelumnya tuan, saya.. "


"SAYA TIDAK BUTUH PERMINTAAN MAAF" potong Daniel penuh penekanan


*salah sendiri berani masuk sarang harimau* rutuk Tasya pada dirinya sendiri


Menghela napas panjang Tasya menjelaskan apa maksud dan tujuannya.


Maya telah menghubunginya beberapa hari yang lalu sebelum tiba di indonesia mengenai rencana konyol ini, dan tentu Tasya menolak, bukan apanya ia tak ada nyali untuk hidup berdampingan dengan Daniel yang terkenal arogan nan dingin itu, jika berbicara tampan dan kaya Daniel pasti ada di no. 1 di pria idaman Tasya tapi karna sikapnya yang terkenal tak manusiawi membuat Tasya tak berani bermimpi hidup berdampingan dengan tuan presdirnya.


Juga alasan lain penolakannya karna Alicia, gadis yang sudah di anggapnya adik. Gadis magang yang di angkat jadi asisten presdir itu ternyata adalah istri presdir. Pantas Alicia bebas mondar mandir masuk keruangan presdir meski masa maganya sudah berakhir dan jawabannya Tasya dapat setelah melihat berita seminggu yang lalu saat pesta Dinata.


Tapi karna kejadian tadi siang membuat Tasya uji nyali menerima tawaran Maya.


Entah apa yang Tasya makan saat makan siangnya dan itu membuat perutnya mulas. Tasya yang sedang dalam toilet tiba-tiba mendapat perintah urgent dari presdirnya yang harus mengantinya detik itu juga sementara dirinya sedang tanggung di dalam kamar mandi, jadilah ia berperan melawan hasrat buang hajatnya demi memenuhi perintah Daniel. Akibatnya ia sampai sakit perut menjalani meeting.


Tasya akan membuat Daniel membayar atas apa yang Tasya alami tadi siang dengan membuat Daniel pusing akan rencana perjodohan ibunya.


sekalian juga ajang balas dendam atas perlakuan Daniel padanya selama bekerja di bawah kekuasaan Daniel yang beberapa kali bersikap semena mena padanya. (tentu ini tidak di ceritakan di depan Daniel langsung, gali lubang kubur sendiri mah kalau berani)


tapi malah Tasya yang gemetar ketakutan sekarang. ahh kampr3t memang tuan muda satu ini. umpat Tasya


"mana saya tahu situasimu siang tadi" ucap Daniel tanpa beban


Tasya memutar bola malas, 'segera ke ruang meeting, jika 3 detik kamu belum datang, nyawamu taruhannya' sepenggal titah tuan muda arogan terlintas di pikiran Tasya


Tasya pura pura berambisi di depan Maya hanya untuk meyakinkan bahwa Tasya pantas jadi pilihannya.


"ikuti saja permainanku untuk jalan aman, dari pada Nyonya besar mencari wanita lain yang benar benar ingin merebutmu dari asistenmu ehh istrimu" tawar Tasya mengabaikan elakan dari tuan mudanya yang selalu mau benar sendiri


Alicia beranjak setelah melepas tangan Daniel dari pinggangnya, ia menghampiri Tasya dan menuntunya duduk di sofa seberang Daniel


"dia memang kejam kak" bisik Alicia, ia kasihan akan kejadian yang di alami Tasya siang tadi


Tasya malah terkikik mendengarnya


"Khem!" deheman Daniel menyadarkan jika Tasya belum lolos dari eksekusi ini


"saya ingin memberi sedikit pelajaran pada nyonya besar untuk menghargai apa yang sudah ada, sebab tak semua yang terlihat baik akan selalu baik" ucap Tasya akhirnya mengungkapkan tujuan utamanya menerima tawaran Maya


"maksudmu?" Tanya Daniel bingung, sedang Alicia menatap Tasya dan Daniel bergantian.


"saya rela mengorbankan nama baik demi membuat adiku di nilai keberadaannya oleh nyonya besar" Tasya berucap sambil mengusap kepala Alicia


"INTINYA?" geram Daniel karna tak juga paham akan maksud sebenarnya


"jadi,, biarkan nyonya Maya berharap besar padaku, nanti saya akan berperan sebagai penghianatnya, tentu penghianat dalam artian ini tidak sama seperti kelakuan mantan tunanganmu" jelas Tasya, sedikit sindiran tentang masalalu Daniel


"2 kali di khianati oleh wanita pilihan nyonya besar akan menyadarkannya bahwa wanita yang nilainya bermartabat tapi semua penghianat, semoga dengan begitu nyonya besar bisa melihat menantunya yang sekarang bahwa ia adalah yang terbaik untuk putranya" lanjut Tasya meyakinkan Daniel namun ada satu hal yang tak Tasya sadari maupun Daniel


Alicia tengah melamun setelah mendengar penuturan Tasya


*terimakasih atas pengorbananmu kak, tapi aku takutnya ini malah akan berakhir dengan sia-sia* batin Alicia tersenyum kecut


bersambungggg...


######


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu