
Maura menatap satu persatu si pengantar mayat, tak satupun ia kenali. ia salah alamat, lagi
"maaf" cicitnya
Dengan menunduk ia melangkah pelan, pergi dari rombongan, ia terduduk lemas di salah satu makam dari puluhan ribuan di atas tanah 5 hektare ini.
2 rombongan pengantar raga tak bernyawa yang berada di area pemakaman menjelang magrib ini telah ia datangi, namun tak ada satupun yang membawa raga ayahnya.
namun harapannya kembali datang kala melihat di ujung sana ada rombongan yang baru memasuki area pemakaman mengantar jenazah
Ia kemudian bangkit dan berlari menghampiri rombongan yang berjarak sekitaran 20.000 meter darinya, karna posisinya sekarang berada di tenga-tengah pemakaman, mengabaikan tubuhnya yang makin lelah, ia terus berlari dengan air mata yang membuat pandangannya buram hingga beberapa kali ia tersandung dan terjatuh di atas nisan tapi tak ia pedulikan kondisi tubuhnya, ia berdiri dan kembali berlari lagi. jika di bandingakan, Maura saat ini bisa mengalahakan atlet pelari pemenang mendali
"AYAH!!" teriaknya sesaat dirinya berhasil sampai di dekat rombongan
Kembali terduduk lemas kala orang-orang dalam rombongan pengantar jenazah tak juga ia kenali, bahkan beberapa dari mereka mencacinya orang gila.
Maura hilang harapan.
Menengadahkan kepala dan menghela napas panjang, ia gagal! ia terpaksa harus menyerah sampai disini. inikah akhirnya? Ia tak bisa melihat ayah yang selalu memanjakannya di detik-detik terakhir beliau, bahkan sebelum raga pahlawan dan cinta pertamanya ditanam di dalam tanah, ia tak bisa mengantarkan ketempat peristirahatan terakhir. Menggigit bibir menahan sesak yang tak terperi. perjuangannya sia-sia!
Ia tadi sempat ke mansion, namun mansion sudah kosong dan tanpa bertanya karna memang tak ada yang bisa ia tanya,ia langsung berlari ke pemakaman dimana keluarganya biasa dimakamkan, dengan telapak kaki yang sudah melepuh dan berdarah darah.
perjuangannya sedari pagi menjelang malam berlarian dari kota ke kota hingga sampai di tempat yang ingin ditujunya tak membuahkan hasil.
harapan satu-satunya pun harus pupus saat ia bertanya pada pencatatan daftar nama jenazah, ternyata hanya ada nama Dinata yang terdaftar namun mayatnya tak di kubur disini
"saya anaknya pak! " ucap Maura menggebu
"lalu kenapa anda tidak tahu di mana beliau di makamkan?" tanya bapak si pencatat daftar nama jenazah
"karna info yang saya tahu, tuan Dinata di ambil oleh keluarganya" lanjut si bapak berhasil membuat Maura merasa tak dianggap
*inikah rasanya tak di anggap oleh keluarga* batin Maura miris
"maafkan aku yah, maafkan anakmu ini, dan maafkan kakak dek" monolog Maura, ia melirih di akhir kalimatnya. Ia sungguh menyesal pernah membuat Alicia tersingkirkan dari kasih sayang seorang ayah, bahkan dulu ia sengaja sering membuat masalah dan dilimpahkan ke Alicia saat tahu jika Alicia adalah anak ayahnya juga.
Padahal awal kedatangan Alicia, Maura senang apalagi tahu jika ginjal Alicia ada pada tubuhnya, namun karna rasa tak ingin di abaikan oleh ayahnya karna memiliki adik tiri dan juga hasutan dari ibu juga kakaknya membuat Maura ikut-ikutan membenci Alicia bahkan lama kelamaan ia senang membuat Alicia dalam masalah.
"DI SINI RUPANYA KAU KELINCI KECIL!" suara menggema itu menarik Maura dari rasa penyesalannya
"Ba.. Bapak" Maura segara mengambil ancang-ancang dan hendak lari namun tangan kekar segera mencegagnya dan menariknya paksa membuat pergelangan tangan Maura serasa lepas dari lengannya, dengan kasar ia di arak menuju mobil hitam pria itu
\=\=\=\=\=\=\=
sepasang suami istri itu melongo dengan apa yang mereka lihat setelah Alba membukakan pintu rumah. Kaki Daniel membawa tubuh Alicia menuju sofa dan mendudukan istrinya dengan pelan disana
Alicia memindai ruang tamu villa mewah ini, ada apa dengan detak jantungnya ? Kenapa rasanya ada yang terasa nyeri di dalam sana, menggigit bibir dan menegadahkan kepala untuk menghalau air matanya yang ternyata sudah mengenang di pelupuk mata agar tak tumpah
"maafkan tuan besar, nona. tapi beliau tak punya pilihan lain selain melakukan ini semua" ucap Alba tiba tiba berlutut di hadapan Alicia
"menguntit saya, maksud anda ?" ucap Alicia sinis yang berbanding terbalik dengan kata hatinya
"ya, bisa seperti itu. Tapi percayalah beliau selalu ada di belakang anda sejak lahir hingga kejadian seminggu lalu di hotel QWE" jelas Alba mengingat saat terakhir Dinata selalu memantau kegiatan putri bungsunya sebelum kritis di rumah sakit karna sebuah penolakan
"jangan membelanya, dia sosok ayah yang buruk" sinis Alicia
Menghela napas panjang Alba beranjak dan menatap Daniel seolah memberinya kode, Daniel yang memang penasaran akan rahasia besar di balik sikap Dinata menanggapi dengan anggukan kecil
Daniel yakin sosok Dinata yang dikenalinya tidak seburuk itu. Kepercayaannya akan kekejaman almarhum mertuanya pada istrinya itu perlahan mengikis kala pertama kali memasuki reasort 20 heaktar ini yang di beri nama -My Family- yang begitu sejuk nan asri, yang tak terendus oleh suruhannya, padahal Daniel sudah mengerahkan sekertaris Ali dan beberapa bawahannya untuk menyita semua aset Dinata, namun nyatanya mereka tak bisa menemukan tempat ini yang sudah ada sejak 21 tahun lalu.
Daniel salut akan kelicikan almarhum ayah mertuanya menyembunyikan aset bernilai ratusan milyar ini hingga ia dan para bawahannya terkecoh, dan Daniel yakin, bukan hanya dirinya yang tak tahu aset ini milik alm. Dinata, Maria dan kedua putrinya pun pasti tak tahu.
kemudian alasan keduanya adalah saat ia memasuki wilayah pemakaman yang hanya ada satu nisan disana, Adara Putri, ibu mertuanya, Dinata pasti sudah merencanakan dengan baik bagaimana akhir hidupnya kelak. Tanah khusus area pekaman beberapa heaktare ini di beri nama Dinata, Adara serta anak cucu.
Ditambah saat memasuki rumah, melihat beberapa moment bersejarah potret istrinya memenuhi ruang keluarga, juga beberapa potret sepasang suami istri muda yang berbahagia, ada juga potret dimana seseorang yang hampir mirip istrinya tengah berperut besar dengan Dinata muda memeluknya dari belakang dengan wajah yang memancar binar bahagia. Daniel melirik istrinya, istrinya akan memiliki perut sebesar itu beberapa bulan lagi.
"saya mau pulang" ucap Alicia datar
Daniel meraih tangan Alicia,
"kamu butuh istirahat, kasihan baby harus merasakan capek karna perjalanan jauh kemari" Daniel memberi pengertian pada istrinya yang terlihat tak nyaman berada disini, lebih tepatnya menolak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang. Entahlah, mungkin karna kekecewaan yang sudah mendarah daging di benak wanita yang sedang mengandung anaknya itu membuatnya tak sudi untuk mengetahui kebenaran di balik ini semua
Alicia bukan sepenuhnya wanita egois, ia juga memikirkan dan mengutamakan kandungannya, jujur ia memang butuh tidur sekarang, selain perjalanan ke Surabaya yang tiba-tiba karna mengantar raga ayahnya ke tempat peristirahatan terakhir, nyonya muda Prasetio itu juga ingin tertidur guna meluapkan sesak yang sedari tadi menyerang dadanya.
nyatanya mata ibu hamil itu tak bisa terpejam, berbeda dengan tuan suaminya yang sudah terlelap padahal mereka belum ada 10 menit berbaring di ranjang.
yang butuh istirahat dirinya apa tuan suaminya sih? ck. dasar! batin Alicia
perlahan tapi pasti, ia menyingkirkan lengan tuan suaminya yang melingkar di perutnya, ia beranjak, dan dorongan untuk menikmati suasana awan jingga berubah gelap di atap rumah bertingkat 2 ini membuatnya keluar kamar dan menaiki tangga
matanya memicing kala melihat satu kamar besar di lantai 2 yang di lewatinya saat ia berjalan menuju teras dengan tulisan yang menggantung di pintu Alicia Adara D
dan jiwa ibu hamilnya yang tak bisa penasaran mendekati kamar dan membukanya dengan pelan
mengerjab, ekspresinya berubah, kemudian ia tersenyum miris melihat beberapa figura yang memenuhi kamar, jika tadi di bawa ada beberapa foto dirinya dan juga ibu dan ayahnya di saat moment moment penting, berbeda di ruangan ini. melawan rasa sesaknya, istri Daniel itu malah melangkah masuk.
"anda disini nona?" Alicia terjengkit akan suara yang tiba tiba muncul dari belakang pintu
bersambunggg...
######
maap yak kalau kalimatnya berulang2, malas baca ulang
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu