
Hari ini Daniel pulang lebih awal seperti sebulan belakangan yang sudah menjadi kebiasaannya. Ya, sejak usia kandungan istrinya memasuki bulan ke 7, pria yang ingin menjadi suami siaga itu mulai membuat aturan pada dirinya sendiri tidak akan melakukan meeting atau pekerjaan lainnya melebihi jam 4 sore.
Sejak kejadian dimana istrinya menangis histeris karna cemburu tak beralamat beberapa hari lalu, kebahagiaan terus dirasakan putra tunggal Prasetio itu, cintanya kini berbalas meski sang istri masih gengsi untuk mengungkapkan secara langsung padanya. Tapi tak apa, dengan kemajuan hubungannya saat ini sudah membuatnya merasa sebagai lelaki paling bahagia di dunia.
Apalagi kini Sang istri gendut itu setiap melakukan aktifitas jika tak bersama dirinya selalu mengiriminya sebuah foto tanpa Daniel minta.
"dimana nyonya muda?" tanya Daniel pada pak Wis dan beberapa maid yang menyambut kedatangnnya
"nyonya muda sedang berada di kamarnya tuan" jawab pak Wis sambil meraih tas kerja tuan mudanya dari tangan supir
Tak berkata apa-apa lagi, Daniel bergegas melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai 2. Membuka pintu kamar dengan pelan berharap kedatangannya tak menganggu kegiatan wanitanya itu.
Ia mengukir senyuman kala netranya mengakap sosok sang istri tengah terlelap di atas ranjang mereka.
Melepas jas, dasi yang di pakainya, kemudian menggulung lengan kameja yang dipakainya hingga siku dan membuka beberapa kancing teratas kamejanya agar merasa lebih nyaman, Daniel melangkah mendekat ke arah sang istri
Kecupan ringan ia daratkan di kening sang istri setelah merapikan beberapa anak rambut di belakang telinga dengan gerakan pelan pula agar tak wanitanya itu tak terganggu dengan kegiatannya.
"nyenyak banget sih bobo sorenya istri cantik aku" ujarnya seolah menggoda Alicia padahal yang di ajak bicara tengah mendengkur halus
Dengkuran yang menemani tiap malam tidur seorang tuan muda Daniel, dan ia tidak terganggu akan itu. Apapun yang ada pada diri istrinya Daniel akan menyukainya. Ya, se-cinta itu dirinya pada ibu dari anaknya itu
"halo anak papa, makasih sudah membuat mommy tidak kerepotan seharian ini" ucapnya mengelus sayang perut buncit istrinya
"shut-shut jangan nakal baby" bisiknya berusaha menenangkan saat merasakan pergerakan anaknya melalui telapak tangannya. Dan seolah mengerti ucapan dari sang ayah, bayi yang masih berada dalam perut itu terdiam dan tak oagi bergerak.
"good baby, daddy sama mommy sayang kamu" ia mendaratkan kecupan disana berharap sang anak bisa merasakan bahwa ia sangat menyayangi buah cintanya itu bersama sang istri.
Tatapannya teralih pada kedua kaki Alicia yang membengkak, memang ia tak bisa merasakan apa yang sang istri rasakan, tapi ia yakin itu sangat membuat Alicia tidak nyaman.
Daniel pun bergerak dan meraih kaki sang istri dan dibawa ke pangkuannya, dengan pelan ia memijat kaki putih itu.
Merasa ada pergerakan lain pada tubuhnya, Alicia melenguh dalam tidurnya, kemudian perlahan mata yang berhasil memikat seorang tuan Daniel itu terbuka
"mas?"
"tidurlah sayang, aku akan memijat kakimu" ujarnya Daniel tenang
"tapi mas, aku.."
Daniel menggeleng kecil sambil tersenyum geli melihat tingkah istrinya, Daniel yakin istrinya tadi hendak protes tapi lihatlah, istrinya malah kembali tertidur dan malah tak jadi melayangkan protesnya.
"makasih sudah mau berkorban untuk keluarga kecil kita, sayang" ucap Daniel tulus, ia menatap wajah damai dan perut besar istrinya bergantian.
Kadang ia berfikir, wanitalah yang terkuat di banding dengan lelaki. Perut kecil seorang wanita mampu membawa beban berkilo-kilo selama beberapa bulan demi sebuah kehidupan baru. Dan ajaibnya selain ngidam wanita hamil tak pernah mengeluh tentang apapun.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"tuan besar! Nyonya besar!"
Panggil seorang maid dengan napas memburu, ia bahkan tak sadar mengedor kuat pintu keramat milik tuan besar dan sang istri
"tuan be.."
Ceklek
Ucapan maid tertelan kala pintu terbuka, dan menampilkan sosok wanita paru baya tengah menatap tajam ke arah maid yang sudah berani menganggu kegiatannya di tengah malam ini
"maaf nyonya, tapi tuan muda memerintahkan saya..."
"saya nyonya besar, bagaimana mungkin kau dengan tak tahu sopan santunnya mengedor pintu kamar saya sekasar tadi!" bentak Maya berhasil memotong ucapan terbata si maid, wanita paru baya yang hanya memakai gaun tidur model bathrobe yang sedikit terkoyak memejamkan matanya saking kesalnya.
Ah padahal baru saja ia hendak mencapai puncak nirwana bersama sang suami tapi malah dapat gangguan. Ah demi apapun jika ini perintah anaknya ingin sekali Maya mengutuk putra semata wayangnya itu agar tak mendapatkan kenikmatan selama sebulan penuh dari menantunya. Batin Maya mengetatkan giginya
"maaf atas kelancangan saya nyonya besar, tapi nyonya muda akan melahirkan dan tuan muda menyuruh saya member..."
Hasratnya yang menggebu tiba-tiba padam berganti kecemasan dan kebahagian bersatu dalam dirinya
"ayah, pakai pakaianmu, kita ke ruang bersalin sekarang?" teriak Maya mengabari suaminya
"maaf nyo.."
"apa lagi?" Maya menahan pintu yang hendak ditutupnya itu
"tuan muda membawa nyonya muda ke rumah sakit milik tuan, bukan di ruang bersalin" beritahu maid agar nanti tak disalahkan lagi oleh nyonya besarnya yang ketus tapi untungnya baik.
Mengangguk mengerti saat ia teringat jika ruang bersalin di mansion yang disediakan untuk proses persalinan Alicia nyatanya belum lengkap. Mengingat jadwal melahirkan Alicia maju satu bulan lebih awal dari perkiraan dokter.
\=\=\=\=\=\=\=
keringat bercucuran membasahi dahi seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, meski dengan tangan gemetar ia tetap menggenggam kuat tangan dingin istrinya.
mereka saat ini sedang menuju rumah sakit. meski jauh-jauh hari sebelumnya ruang bersalin Alicia telah disediakan di dalam mansion, tapi manusia tetaplah manusia yang tak tahu kapan musibah menghampiri, seperti yang di alami sekarang ini, harusnya Alicia akan melahirkan di rumah dengan segala peralatan canggih, jangan tanyakan izin, semua persoalan perizinan sudah Daniel urus sebulan lalu sebelum memesan peralatan, namun diluar kendali, semua peralatan bersalin Alicia baru akan tiba dua hari lagi saat usia janin memasuki 9 bulan, karna sesuai prediksi dokter kandungan, Alicia akan melahirkan sebulan lagi saat usia kandungan menghampiri 10 bulan.
"kenapa cepat sekali, bukannya baru mau masuk 9 bulan?" gumam Daniel bertanya pada dirinya sendiri
"maaf" lirih Alicia
"hm? kamu butuh sesuatu, sayang?" tanya Daniel tak fokus
"aku minta maaf" lagi, suara lirih Alicia terdengar
"kenapa minta maaf hm? kamu tidak salah apa-apa, harusnya aku yang minta maaf karna aku membuatmu harus menderita begini demi melahirkan keturunanku" setelah berucap, Daniel mengecup lama dahi istrinya dengan mata tertutup, memohon dalam hati kesakitan yang di alami istrinya dilimpahkan saja padanya, ia tak sanggup menyaksikan kesakitan wanitanya
"keturunan aku juga!" meski ngegas tapi suaranya tetap lemah.
"iya, iya sayang, maaf, buah cinta kita" ujar Daniel. membenarkan
"maafin aku yah" Alicia menatap mata suaminya
"kok minta maaf terus sih, sayang. kamu nggak ada salah sama aku, yang ada aku yang banyak sal.."
"maaf atas segala keinginanku yang menyusahkanmu" sela Alicia
"tidak, tidak. itu kewajibanku dan aku ikhlas melakukannya" jawab Daniel dengan gelengan kepala tak setuju dengan ucapan istrinya
"shs" ringis Alicia
"yang cepat Ali, apa kakimu mau saya lumpuhkan!" teriak Daniel emosi, istrinya kesakitan tapi kenapa cara mengendara Ali sangat lambat
*ini juga udah di atas rata-rata. tuan* batin Ali, sebenarnya ia juga gemetaran berada dalam situasi ini
beruntung mereka memiliki beberapa ajudan hingga jalanan malam ini bisa mereka lalui dengan mudah, beberapa mobil ajudan berada di depannya untuk menyingkirkan kendaraan lain.
"sepertinya anakmu tak tega melihat penderitaanmu sampai ia keluar sebelum waktunya" ujar Alicia setelah rasa sakit itu menghilang lagi
"ya, karna mommynya sungguh usil" jawab Daniel mencoba mengimbangi rasa takutnya dengan meladeni candaan istrinya
"shs" rasa sakit kembali menyerang
bersambunggg...
#######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu