
Kebangkrutan perusahaan Dinata kini mulai terendus media, kecurigaan media makin menjadi saat mereka memantau perusahaan utama dan anak-anak perusahaan Dinata namun mereka tak pernah menemukan pemilik perusahaan seminggu ini muncul di sana.
Bahkan beberapa jurnalis dan reporter mencari kegiatan Dinata hingga ke bandara, kali aja sedang melakukan perjalanan bisnis ke negeri tetangga namun keterangan dari pihak bandara tuan Dinata tak pernah melakukan penerbangan keluar negeri selama sebulan terakhir.
Ketiga wanita beda usia yang memiliki jadwal dan rencana masing masing bahkan harus terpenjara di dalam rumah sebab awak media di luar gerbang mansion tak pernah pergi, mereka bahkan mendirikan tenda di sana, jaga jaga kalau pemilik rumah keluar mereka langsung bisa mewawancarai
Tuan Dinata sendiri entah di mana keberadaannya sekarang.
Setelelah terkurung beberapa hari di Mansion akhirnya Maria, Maureen dan Maura tak tahan lagi.
Maria lah yang akhirnya maju di karda depan untuk melayani para wartawan kurang kerjaan ini
"nyonya, apa benar perusahaan Adr. Dinata mengalami kebangkrutan?"
"kemana tuan Dinata?"
"apa tuan Dinata sedang sakit?"
"apakah nyonya sedang bersemedi di dalam hingga baru keluar sekarang!!?" pertanyaan dengan nada tinggi keluar dari sang reporter absurd yang berhasil membuat teman teman reporter lainnya malah mengalihkan atensinya dri sang empunya rumah ke arah reporter yang bernama Andu itu.
Andu mengabaikan teman-temannya, mimik wajahnya malah serius menanti jawaban Maria
"APAKAH NYONYA TAK PENASALAN KEMANA TANGGAL 30 DI BULAN FEBLUALI?" pertanyaan absurd lainnya dari si reporter cadel dengan suara keras hingga suasana keramaian di depan pagar itu seketika hening
Maria berdehem menetralkan rasa kesalnya sekaligus kembali menarik atensi para reporter ke arahnya
"biar saya jelaskan satu-satu kepada teman-teman media..." ucap Maria menggantungkan kalimatnya dengan tersenyum ramah
"perusahaan kami baik baik saja, saya dan keluarga beberapa hari ini sedang fokus untuk merawat diri, itu sebabnya kami jarang keluar... Tolong dengarkan saya dulu, saya masih belum selesai bicara" jelas Maria di akhiri peringatan saat ada reporter yang hendak membuka mulutnya untuk mengeluarkan pertanyaan lagi
"khem. Jadi gini, 5 hari lagi ada acara besar untuk saya dan suami, pesta megah ultah pernikahan kami yang 28 tahun, sekalian dengan ini saya undang kalian semua teman-teman media untuk menghadiri undangan dari saya, sekiranya teman-teman media bisa hadir untuk menikmati pesta mewah yang akan kami gelar" jelas Maria panjang lebar dengan senyuman sejuta bunga,,, bunga palsu
"kenapa pestanya di tunda?" pertanyaan salah satu reporter yang di angguki setuju oleh yang lainnya
ya, ultah pernikahan Dinata dan Maria itu sudah terlewat 2 minggu, semua orang di dunia bisnis tahu akan itu karna mengingat perusahaan Dinata termasuk perusahaan terbesar ke3 di Indonesia dan setiap tahun selalu mengadakan pasta ultah yang melibatkan media
"karna kami ingin pesta yang mewah dan meriah tentu memiliki persiapan yang cukup memakan waktu" jawab Maria tenang
"faktor kesibukanlah yang membuat kami lalai akan itu. Kalian tahukan saya dan suami memiliki jadwal yang padat" lanjut Maria meyakinkan
"sudah yah, kalian boleh pergi, intinya perusahaan kami baik baik saja, tak ada masalah, itu hanya gosip murahan, biasalah banyak orang iri" Maria beranjak dari sana mengabaikan para awak media yang masih belum puas memberikan pertanyaan
\=\=\=\=\=\=\=\=
Tok tok tok
Daniel mengalihkan fokusnya dari berkas-berkas yang sedang di gelutinya.
"Masuk!" perintahnya
Sekertaris Ali muncul, ia membungkukan badan menyapa 2 orang penghuni ruangan presdir itu
"selamat siang nyonya muda" sapa Ali sopan
Yang disapa tak peduli, matanya fokus pada keyboard laptop, sementara tangannya menari nari di sana sedang merangkai kata demi kata.
Daniel ikut menoleh ke arah sofa yang di tempati Alicia memgerjakan tugas akhirnya
"ada apa?" tanya Daniel kini menoleh ke Ali
"ada kiriman undangan pesta ultah pernikahan tuan dan nyonya Dinata" Ali menyerahkan undangan ke hadapan Daniel
Seketika jari jari Alicia terhenti di atas keyboard mendengar ucapan Ali, hanya sebentar selanjutnya Alicia mengedikan bahunya dan kembali fokus ke laptopnya
Ali tak menaggapi
"saya sibuk! Buang saja undangannya" tolak Daniel
"pestanya 5 hari lagi tuan.. Apa tuan tidak ingin menikmati drama yang akan nona Maureen perankan di hari itu?" jelas Ali yang di akhiri dengan bisikan karna tak ingin nyonya mudanya dengar
Daniel menatap sekertaris Ali dengan kepala miring
"saya tidak tahu pasti tuan, yang jelas saya menduga bahwa dia akan memanfaatkan moment yang di hadiri berbagai kalangan atas untuk memerangkap tuan" bisik Ali
"tapikan bukan sa..." Daniel yang ingin menyela kini paham
Ali menghela napas lega melihat tuan mudanya yang kini paham akan maksudnya
Ali menduga demikian karna ia tahu Maureen tak akan menyianyiakan kesempatan emas itu, mengingat seminggu belakangan sejak kejadian pengusiran Maureen dengan paksa di Mansion, Maureen sering merecoki Ali karna hanya Ali lah yang bisa Maureen hubungi, Maureen mengancam akan menyebarkan video itu jika Ali tak membiarkan Daniel berbicara padanya
Ya, hanya melalui ponsel sebab Maureen beberapa ini terkurung di rumahnya karna berita kehancuran perusahaan Dinata itu
Dan seharian ini Maureen tak menghubunginya, tak mungkin Maureen menyerah secepat itu kan? Atau Maureen sudah melihat langsung video itu? Tidak mungkin, Maureen dengan otak cerobohnya terlalu percaya diri akan isi video itu.
Tapi jikapun Maureen sudah tahu, tak masalah, Ali hanya ingin melihat drama apa lagi yang akan Maureen perankan setelah video itu akan di putar di khalayak publik. Karna mereka memiliki duplikat videonya.
Ya, itulah mengapa Ali mendukung Daniel untuk hadir di pesta itu, karna itu adalah moment kehancuran berkeping keping seorang Dinata.
"baiklah. Siapkan pakaian terbaik untukku dan juga dia" putus Daniel melirik Alicia
"baik tuan" Ali pamit undur diri
"tunggu!" panggil Daniel saat Ali berbalik membuat Ali menghentikan langkahnya juga membuat Alicia ikut mendongak
"makan di luar atau di sini?" tanya Daniel pada Alicia. Ini memang hampir masuk jam makan siang
"nasi goreng" ucap Alicia singkat dan kembali fokus ke laptop
"2 porsi" ucap Daniel pada Ali
"baik tuan" Ali kemudian beranjak dari sana
"tuan bahkan makan nasi goreng di siang hari" gumam Ali bermonolog setelah keluar dari ruangan presdir
Selama ini Daniel selalu menjaga makannya dan pilih pilih menu makan untuk menjaga kebugaran tubuhnya tapi kini apa yang Alicia makan pasti Daniel ikut makan, bahkan kelakuan Alicia yang sering mengendap ke dapur di tengah malam kini tak perlu lagi, karna Daniel selalu menemani,
sejak kejadian prank Alicia beberapa hari yang lalu, membuat Daniel makin protektif, sepanjang malam memeluk Alicia dan saat Alicia mengendap malam itu Daniel menyadari, bukannya marah Daniel malah menawarkan akan menemani Alicia makan karna Daniel juga merasa lapar yang tentu membuat Alicia senang bukan main, bahkan Daniel menyuruh agar Alicia membangunkannya jika Alicia ingin makan karna Daniel juga ingin.
Begitu juga hari ini, karna Alicia yang memiliki janji temu dengan dosen pengujinya Daniel mengundang dosen itu untuk bertemu di kantor saja dari pada membiarkan istrinya jauh dari jangkauannya, meski memiliki beberapa ajudan tapi Daniel tetap merasa khawatir.
jadilah ajudan itu dibayar full, kerja kurang.
Jikapun ada jadwal keluar kota atau keluar negeri, jika sudah tak bisa diwakilkan, Daniel akan mengurung Alicia di mansion dan tak membiarkan seorangpun keluar masuk mansion.
Dengan sikap protektif Daniel tersebutlah yang membuat Alicia tak tersentuh meski Alicia sendiri merasa bosan.
######
karna maksain up setiap hari yah jadi gini hasilnya,, gajenya nggak ketulungan.. ngetik saat di otak hanya ada tugas, tugas dan tugas. apalagi diriku ini hanya seorang penulis abal-abal makin ngedukung untuk ceritanya lari kemana mana. heheheh
maksain ngehalu malah bikin stres. maapin yak
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu