
Srak
"AWW!!"
Plak!
Plak!
Brugh
"shs"
Seorang pria dewasa dengan kejamnya tengah menjambak dan menampar wanita muda itu hingga terpelanting ke lantai
"berani sekali kau menolakku, heh!!?" bentak pria itu dengan mata melotot
"shs" wanita pucat itu hanya bisa meringis, menahan rasa sakit nan panas dikepala dan pipinya
"ingat posisimu jalang! , tugasmu hanya memuaskan saya tak peduli kau sehat, sakit atau bahkan sekarat pun!" teriak pria dewasa itu lagi dengan kilatan amarah, siapapun yang melihatnya pasti akan lari terbirit-birit ketakutan
Sedang wanita itu kini penglihatannya mulai buram, kepala dan pipinya yang kena penganiayaan tapi rasa sakit pada perutnya lebih mendominasi
"shs" kembali bibir kecilnya mengelurkan ringisan, hendak meminta tolong, tapi pada siapa?
Alex yang marah semakin marah kala mendengar ringisan kesakitan itu, ia benci wanita dibawahnya jadi lemah
"Dasar wanita lemah!!" teriak Alex, ia sangat gemas ingin menendang wanita ini, namun saat kakinya sudah mengayun, matanya sontak terbelalak, ia mematung dengan kakinya yang perlahan turun bersamaan dengan suara lirih istri sirihnya
"tolong" lirih Maura nyaris tak terdengar
"shs, tolong. Rasanya sakit sekali" kembali Maura memohon entah pada siapa dengan terbata, kedua tangannya meremas kuat perutnya
"da_darah?" lirih Alex menatap darah yang tergenang di bawah tubuh Maura
Ceklek
Pintu kamar terbuka, wanita paru baya masuk dengan nampan berisikan bubur di tangannya. Ia terkaget melihat tuan rumahnya ternyata sudah pulang dan berada di kamar nona yang diam-diam ia buatkan bubur.
"maaf, tuan" ucap Imah ketakutan karna ketahuan memberikan makan pada Maura. Imah, pembantu rumah tangga yang bekerja sebagai tukang masak di rumah besar Alex.
Namun saat Imah hendak beranjak pergi, ia sedikit melirik Maura yang terduduk di lantai, sontak mata imah ikut terbelalak.
"astagfirullah, non!" pekiknya kemudain berlari menghampiri Maura setelah meletakan nampan dengan asal di meja. Ketakutan Imah pada tuan rumah hilang seketika melihat kedaan mengenaskan Maura
"tolong" lirih Maura sebelum kesadarannya menghilang
"astagfirullah! Non Maura?" panggil Imah menguncang-guncang pipi tirus Maura
"ada apa?" pria dengan seragam satpam masuk. Bukan lancang tapi saat Asep berada di dapur untuk membawakan belanja perlengkapan dapur, ia mendengar pekikan histeris dan segera menyusul ke kamar Maura. Asep adalah satpam rumah Alex.
"kang Asep, tolong nona Maura, sepertinya ia keguguran" mohon Imah dengan wajah sudah banjir air mata.
"ke_keguguran?" tanya Alex lirih, ia masih mematung di tempatnya karna didera rasa takut melihat darah yang tiba-tiba keluar dari sel4ngk4ng4n Maura
Apa wanita lemah ini hamil? Keguguran? Apa ia yang menjadi penyebab hilangnya janin yang selama belasan tahun dinanti-nantikannya? berbagai pikiran berkecamuk dalam otak Alex
Karna panik, tak ada yang mendengar bahkan peduli dengan kondisi Alex yang berdiri bagaikan orang bego. Kang Asep segera membawa tubuh pingsan Maura ke mobil sedang Imah menyusul
sebelum Imah melangkah jauh, kesadaran. mengambil alih pikiran Alex, ia dengan cepat mencegat tangan Imah
"dia hamil?" tanya Alex tak sudi menyebut nama wanita yang siang malam dinikmati tubuhnya itu
Anggukan lemah dari Imah membuat dunia Alex seketika runtuh. Dadanya bagaikan dihimpit batu besar hingga membuatnya kesulitan bernapas, ia berdosa. Bukan pada Maura, ya, tapi pada anaknya.
"kenapa dia menyembunyikan hal ini dariku!" geram Alex menyalahkan Maura, sebab jika Maura mengatakannya, Alex tak akan mencelakai anaknya sendiri.
"nona juga baru tahunya beberapa jam lalu" jelas Imah kemudian beranjak dan menyusul Asep
Alex menatap nanar pada nakas, dengan berat, kakinya melangkah mendekat dan meraih benda mini itu yang sedari dulu membuatnya penuh harapan namun kini ia sendiri yang membuat pergi harapan itu.
Ia merosot ke lantai, pria 35 tahun itu menangis dengan tespek keterangan positif ditangan kanannya.
"maaf nak, maafkan ayah" gumamnya disela-sela tangisnya, tangan kirinya menutupi wajahnya untuk meredakan isakannya
"akan kubuat menderita wanita itu jika ia tak berhasil mempertahankanmu!" geramnya kemudian beranjak. Ia ingin menyusul ke rumah sakit guna mengetahui kedaan calon anaknya.
Rahangnya mengeras kala melewati darah yang lumayan banyak mengenang dilantai bekas duduk Maura.
"arg, wanita lemah itu!" umpatnya menyalahkan Maura. Alex tak intropeksi diri, bahwa semua terjadi karna ulahnya. Pulang kantor sebelum waktunya, dan setelah sampai ia langsung memasuki kamar Maura dan minta dilayani tanpa melihat kondisi Maura yang terbaring lemah di kasur karna habis muntah-muntah. Bahkan saat Maura ingin berucap sepatah kata, Alex langsung ******* bibir pucat Maura. Sampai dimana Maura menahan tangan Alex saat hendak membuka dasternya membuat Alex emosi dan bermain tangan.
"nnggh. Ngh" seorang wanita dalam dekapan sang suami melenguh dalam tidurnya, keningnya berkerut dengan keringat di dahinya
"MAURA!" teriak Alicia dalam tidurnya. Dengan napas memburu ia beranjak duduk
"Dara? hei kenapa?" suara serak khas bangun tidur milik Daniel membuat Alicia menoleh dan langsung menghambur kepelukan suaminya kala Daniel sudah terduduk
Daniel membalas pelukan istrinya, ia mengusap bulir keringat di dahi Alicia kemudian mengelus kepala dan punggung Alicia bergantian
"tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja" ucap Daniel menenangkan, ia tahu istrinya tengah mimpi buruk
"aku tidak akan membiarkan seorangpun berani mendekat apalagi melukaimu dan anak kita, percaya sama aku, kamu akan aman, sayang" kembali Daniel berceloteh panjang lebar semata-mata menghilangkan rasa khawatir istrinya yang tak merespon apa, napas istrinya terdengar berat.
Daniel pikir, Alicia kembali memimpikan masalalunya yang selalu mendapat penyiksaan, padahal kenyataannya Alicia memimpikan Maura tengah disiksa oleh pria yang tak Alicia kenali wajahnya.
Alicia mendongak dengan wajah sembabnya, kemudian sepersekian detik selanjutnya ia menyengir memperlihatkan giginya, sedang Daniel memasang siaga awas. Daniel sangat tahu ekspresi itu.
Menelan ludah kasar sebelum ia merapalkan berbagai doa agar kali ini namanya dalam daftar hitam dari permintaan aneh istrinya
"pengen jambakin rambut Maura" ucap Alicia dengan puppy eyesnya
"hah?" bernapas lega tapi ia kebingungan harus mengabulkan permintaan istrinya,
Kenapa Alicia suka sekali menjambak rambut sih? 3 hari lalu rambut Ali jadi sasaran Alicia. Daniel khawatir anaknya akan jadi manusia bar-bar tak berperasaan seperti ibunya jika sudah lahir nanti
Lagian Daniel tak tahu gimana kabar dari saudari-saudari iparnya karna memang Daniel tak peduli bahkan menutup akses dari mereka.
Ali? Yah, hanya Ali yang bisa menolongnya, lagi kali ini.
Meski Daniel masih tak enak pada sekertarisnya itu karna mengkambing hitamkannya beberapa hari lalu demi ngidam ekstrem Alicia. Tapi ia tak punya pilihan lain selain minta tolong pada Ali bukan? Jadi biarlah, lagian ada harga fantastis yang Daniel akan keluarkan demi jasa sekertaris serba bisa itu.
Sedang Alicia tengah gusar akan mimpinya, kenapa ia merasakan kesakitan melihat saudarinya disiksa meski itu hanya mimpi? Bahkan dadanya masih bedetak kencang karna khawatir.
Tiba-tiba ia merindukan Maura yang tak pernah bersikap baik padanya itu, tapi aliran darah tak bisa putus begitu saja bukan?
*bagaimana kabar gadis manja itu? Dimana dia sekarang?* batin Alicia bertanya-tanya karna memang sudah berbulan-bulan kehilangan kabar.
Dengan meminta pada Daniel ia akan menemui Maura tanpa harus keropatan mencari seorang diri. Ia hanya ingin melihat bagaimana keadaan kakak jahatnya tapi bloon. Meski memang ada sedikit rasa ingin menjambak rambut panjang Maura yang dulu setiap 3 kali seminggu selalu ke salon.
*jika ini hanya mimpi, kenapa rasanya sakit?* batin Alicia meremas dadanya
Bersambungggg...
#######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu