TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK S2 31


Alex memijit pangkal hidungnya guna mengurai rasa pening pada kepalanya. Sulung Maulana itu merutuki kebodohannya.


Bagaimana bisa ia tidak berfikiran kalau lantai 2 juga harusnya ia pasangkan cctv. Arg! Kenapa belakangan ia hanya berfokus pada lantai 1, yang notabenenya ruang gerak Maura. Elana juga istrinya, bahkan jika dipikirkan secara logis, Elana lah yang perlu ia prioritaskan guna memantau wanita cacat itu. Tapi kenapa keberadaan Maura malah membuatnya lupa akan Elana.


Jika sudah begini, apa yang harus ia lakukan? Percaya dengan rekaman sepotong yang ada di layar komputer atau dengan ucapan Elana? Benarkah istrinya berkata jujur? Bukannya Alex tak percaya tapi ia memiliki keraguan pada ucapan istri yang sudah belasan tahun hidup dengannya itu.


Tapi,,, jika dilihat dari tkp, apa yang Elana jelaskan sangat masuk akal. Ia juga berada di sana bukan? Walau tak melihat adengan jatuhnya Elana yang menimpa tubuh Maura, tapi Ia melihat jika bik Imah berada di atas dengan memegang kursi roda Elana.


Benarkah bik Imah yang sudah sangat dipercayainya mencelakai 2 istrinya sekaligus?


"argh! Si4l!"


Logika dan nuraninya sedang bertarung


Dengan langkah lebar Alex memasuki rumahnya, mencari bik Imah


"bik!"


"bibik!" teriak Alex karna bik Imah tak juga muncul


"ada apa tuan?" tanya mang Asep muncul dari pintu depan, lelaki paru baya itu tampak mengatur napasnya karna tadi ia berlari mendengar teriakan dari arah rumah


"bik imah, mana dia?" tanya Alex dingin


"bibik sedang keluar, tuan" ujar Asep setelah menelan paksa ludahnya yang tiba-tiba kelu


"keluar kemana dia? setelah mencelakai istri ku dia pergi begitu saja? Huh wanita tua itu berani sekali berhadapan denganku" geram, Alex mengepalkan tangannya kuat


"bi..bik Imah, keluar menemani nona untuk mendapat perawatan karna tak sadarkan diri sehabis tuan pergi membawa nyonya Elana" jelas Asep dengan suara lirih


Tamparan tak kasat mata tengah Alex rasakan mendengar penjelasan mang Asep


Sial! Mauranya ternyata juga tengah kesakitan tanpa ia tahu? Brengsek kau Alex. rutuknya pada dirinya


Alex yang tengah melupakan berkas pentingnya harus kembali lagi ke rumah namun ia malah mendapati suara pekikan dari dalam rumahnya membuat Alex berlari masuk, jantungnya seolah berhenti melihat Elana yang tergelinding di tangga dan sepersekian detik selanjutnya menimpa tubuh Maura di undakan tangga prtengahan


"Maura awas" suaranya tertahan karna syok


"Elana!" pekiknya kemudian saat tubuh Elana sudah tergeletak di lantai dengan darah di kepalanya.


Segera ia berlari, memori kelam 13 tahun silam kembali menghantam jiwanya. Wanita itu yang baru sehari dinikahinya mengalami kecelakaan dan harus berakhir lumpuh membuat Alex terus menyalahkan dirinya. Wanita cantik yang dinikahinya harusnya hidup bahagia bersamanya namun malah Alex membuatnya sengsara. Meski tak bisa mengembalikan dunia bahagia Elana tapi Alex berjanji akan menjadi pria yang selalu setia pada istrinya itu, akan menjagnya sampai tua dan maut memisahkan. Berusaha melindungi Elana dari segala macam bahaya tapi hari ini ia malah melihat wanita itu kembali celaka di depan matanya.


Alex lagi-lagi merasa bersalah dan tak becus.


Karna rasa itulah ia mengabaikan sekitarnya demi menyelamatkan Elana.


Bahkan istri mudanya yang juga tergeletak dilantai ia abaikan. Toh wanita muda itu masih sadar tak seperti Elana yang berlumuran darah dan sudah tak sadarkan diri


Tapi kenyataan kembali memukul dirinya telak. Nyatanya wanita yang ia abaikan juga tengah berjuang di rumah sakit dan ia tak tahu menahu jika bukan dari penjaga rumahnya.


Suami macam apaan kau Alex! kembali Alex mengumpati dirinya


"rumah sakit mana?" tanya Alex dengan nada bergetar


"puskesmas dekat sini tuan"


"hah?" Alex tentu terperangah mendegarnya


"pu-puskesamas?" beo Alex memastikan


"karna rumah sakit lumayan jauh sedang tubuh nona sudah pingsan, lagian biaya rumah sakit mahal" jawab Asep sekenanya sekaligus menyindir sang tuan. Tentu Asep ikut sakit hati karna Alex malah mengabaikan istri mudanya yang tengah sekarat apalagi ada calon anaknya di dalam perut wanita itu.


Eh tapikan Alex tak tahu ya, ah tapi terlepas dari itu harusnya Alex membawa dua-duanya ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.


"brengsek! Aku sangat sanggup membiayai rumah sakit kedua istriku?" geram Alex menyorot tajam mang Asep, dan kemudian berlalu pergi menuju puskesamas yang jaraknya kurang lebih 300 meter itu


*jangan omong doang tuan, buktikan* sahut batin Asep melihat kepergian majikannya


Hati Alex terasa diremas sesuatu tak kasat mata kala ia memandangi bangunan yang hanya sebesar rumahnya, bangunan kecil itu diperuntukan untuk merawat beberapa orang pesakitan di dalamnya dan itu termasuk istrinya yang ada di dalam disana.


Drt drt drt


Sebuah peringatan panggilan dari ponselnya membuat pergerakannya terhenti saat hendak beranjak memasuki gedung puskesmas itu


"ya?"


'nyonya Elana sudah kembali sadar tuan, dan dia mencari anda' lapor dari seberang yang ternyata seorang dokter yang menangani istri pertamanya


ya, Elana tadinya sempat sadar dari pingsannya dan menjelaskan kejadiannya namun tak lama setelahnya ia kembali pingsan.


"baiklah, saya akan kesana" Alex memutuskan panggilan, ia kembali menatap bangunan bercat putih itu. kini hatinya berperang dengan memorinya. Hati ingin melihat istri mudanya tapi memorinya malah menghantuinya akan kejadian lalu, Elana lebih membutuhkan dirinya. Menghela napas panjang sebelum pria tua labil itu kembali memasuki mobilnya


Setelahnya Alex segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit


"maafkan saya Maura, saya tau kamu wanita kuat" monolog Alex


Dengan perasaan gamang, Alex melangkahkan kaki panjangnya menuju ruangan Elana


Ceklek


"mas?"


Fokus Alex langsung tertuju pada kepala Elana yang dilingkari perban


"bagaimana perasaanmu?" tanya Alex mendekat


Elana hanya menampilkan senyum tipisnya


"maaf karna lagi-lagi membuatmu harus berakhir terluka" ujar Alex mengelus pipi istrinya


"tidak mas ini bukan salah mas, tapi--"


"nggak usah dipikirin, mas akan memecat pembantu itu" sahut Alex memotong ucapan Elana


*hah?* kaget tapi ia bersorak dalam hati


"makasih mas" Elana menghambur memeluk perut suaminya


Elana tersenyum miring dalam dekapan sang suami. Meski rencananya malah mengorbankan dirinya tapi ia bersorak setelah mendengar keputusan suaminya.


*nyatanya senjata makan tuan malah berakhir bahagia* batin Elana bersorak


Pikiran Elana membawanya pada kejadian beberapa jam lalu


Ia yang membuang jauh-jauh nuraninya demi menyingkirkan penghalangnya, Elana berniat meminta bantuan pada bik Imah dan ketika wanita tua itu lengah Elana berencana mendorong bik Imah agar terjatuh ke lantai, dengan begitu pasti bik Imah akan dirawat lama di rumah sakit, mengingat tubuhnya yang sudah renta. Elana bahkan masa bodo jika bik Imah malah akan meregang nyawa setelah terjatuh, ia memang sudah gila dibutakan cinta terlarang


Namun diluar dugaan, saat tangannya hendak bereaksi, Bik Imah malah beranjak dari tempatnya membuat Elana terhuyung dan tak bisa mengendalikan roda kursi pesakitannya. Sedang bik Imah yang melihatnya berusaha menolong dengan berusaha meraih kursi roda majikannya namun naas, tangan tua Imah hanya bisa meraih kursi roda karna bersamaan dengan Itu tubuh Elana sudah terguling ke tangga, dan yah ia harus berakhir pingsan dengan kepala retak.


Oh tunggu? Berapa lama ia pingsan?


'baiklah berikan aku waktu 30 menit--' janjinya pada sang kekasih gelap kini mengambil alih pikirannya


"mas, berapa lama aku sisini?" tanya Elana setelah mengurai pelukannya


"2 jam" sahut Alex membuat Elana terkejut


*Shit! dimana lelaki gelapnya sekarang?*


Elana gelisah, ingin mengabari tapi ia tak membawa ponsel.


(Dasar rubah betina! Saat keadaannya sekarat pun ia masih memikirkan selingkuhannya) ck! Oke kembali ke cerita


Ponsel Alex! Apa perlu ia meminjam ponsel Alex untuk menghubungi pria gelapnya? Saat dilema melandanya antara meminjam dan tidak, tiba-tiba pintu ruang rawatnya terbuka, membuat keduanya bersamaan menoleh


Deg


Beda dengan Elana yang mematung, Alex tersenyum kepada penjenguk istrinya itu


Tatapan mata pria yang baru saja membuka pintu sangat sendu dan khawatir


Elana yang melihat itu diam diam bahagia di atas keterkejutannya.


*dia sisini* batin Elana


*suamiku dan priaku menjagaku di ruangan yang sama* tambahnya lagi dalam hati


Bersambunggg...


####


hay hay, teruntuk kalian yang tak sabaran, maap banget nih, ini novel bukan cerpen yak. dan saya ingatkan saya tidak pernah meminta siapapun untuk stay di cerita ini. kalau merasa bosan ya udah cari cerita lainnya, ada puluhan ribu karya yang lebih bagus dan menarik di banding karya saya kok.


kadang ada beberapa komen yang membuat saya kadang merasa tak di hargai, tapi karna komen positifnya lebih banyak jadi yaudah saya tetap percaya diri untuk nulis.


ingat ini season 2 dan baru episode 31. dan saya menemukan banyak readers yang mengerti akan ini. makasih banyak untuk kalian yang selalu support


salam damai


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu