
Alex mengerjab mendengar ungkapan Maura yang secara tak langsung mengaku bersedia ikut pulang bersamanya ke Semarang, itu berarti istri kecilnya itu sudah memaafkannya dan memberinya kesempatan untuk membuktikan janjinya. hatinya yang dirundung kecewa berubah menghangat. rahang Alex hampir saja terjatuh sebelum Maura meringis kecil yang tak luput dari perhatiannya
"sayang, apa ada yang sakit?" tanya Alex dengan nada khawatir, sembari memegang kedua lengan atas istrinya
"perutmu? Apa anak kita baik-baik saja?" tanyanya lagi mengalihkan atensinya ke perut Maura. Saking kecewanya pada semua orang yang menyembunyikan kebenaran darinya, ia lebih dulu melampiaskan protesannya karna merasa tak dihargai hingga Alex lupa menanyakan kabar sang calon anak yang mungkin terkena imbas akan alergi Maura.
"Dia tidak apa-apa kan, Ra?" tanya Alex menuntut
"efek alerginya tak separah itu. Berterimakasih lah sama bik Imah yang berhasil menolong istri dan anakmu walau dengan cara yah... memukul kepala istrimu" jelas Anjani seolah kembali terbang saat kejadian kemarin pagi di ruang makan keluarganya yang berlangsung gempar akibat menantu dan asisten rumah tangganya
Alex membelalak mendengar jika kepala istrinya dipukuli, dadanya naik turun dengan rahang mengeras, ia marah mendapati kenyataan jika ada yang berani menyentuh istrinya dengan kekerasan, apalagi orang itu adalah bik Imah yang sudah dianggapnya keluarga
"jika tidak demikian mungkin saja keadaan Maura bisa parah, bik Imah sudah bertindak tepat" Anjani yang melihat amarah dalam diri putranya segera menyahut sebelum emosi Alex tersulut
Kemarin yang terjadi adalah, saat Anjani menghampiri Maura di kamarnya untuk mengajak menantunya itu olahraga pagi, Maura tiba-tiba memberanikan diri mengatakan keinginannya pada Anjani, menginginkan makan semur udang untuk sarapannya, dan tentu mertuanya antusias mengiyakan, mengingat selama ini, Maura tinggal sama mereka tak pernah meminta apa-apa. istri muda Alex itu masih ragu untuk menempatkan diri di keluarga Maulana. Mendengar keinginan menantunya yang tengah mengandung cucunya, tentu Anjani langsung mengindahkan. Ibu Alex itu menyuruh bik Imah membuatkan hidangan tapi tak mengatakan jika itu adalah keinginan Maura hingga bik Imah juga tak mengatakan apapun. Bik imah yakin kalau Maura tak akan menyentuh udang. Toh ia membuat beberapa lauk. Meski begitu Bik Imah tetap mengawasi. Namun ia kecolongan saat Maura mengambil sendok dan menyuapkan semur udang dimulutnya membuat Bik Imah refleks memukul tengkuk Maura agar makanannya tak tertelan, berhasil Maura langsung tersedak dan memuntahkan makannya yang belum ada 2 detik berada di dalam mulutnya. Sontak semua kaget akan kekerasan yang dilakukan bik Imah dengan wanita hamil itu. Baru saja Anjani ingin mengeluarkan pertanyaan kenapa bik Imah bersikap kurang ajar pada menantunya namun harus tertelan saat Maura mengalami cegukan dengan napas putus-putus. Bik Imah menjelaskan apa yang terjadi membuat semua orang panik.
Rupanya reaksi udang dengan tubuh Maura sangat aktif. Bahkan hanya dengan bersentuhan di lidah saja tapi berefek lumayan parah
"tidak ada yang lebih tahu dari dirimu jika udang sangat bertentangan dengan tubuhmu, lalu dengan rangka apa kamu menginginkan udang? Sudah bosan hidup heh?" amarah yang tadinya untuk bik Imah kini beralih ia lampiaskan ke Maura. Tak terpikirkan kah oleh Maura jika itu bisa saja membunuhnya sekaligus anak mereka?
"kemarin aku sempat jajan snack udang tapi aku nggak apa2, padahal biasanya apapun yang berhubungan dengan udang pasti berefek. Nah aku kira udah nggak apa-apa, jadi mungkin dengan udang aslipun seharusnya alerginya juga udah sembuh, soalnya aku ngiler liat postingan-postingan olahan udang gitu di vlog-vlog makanan" jelas Maura dengan nada lirih, ia menunduk takut, takut melihat mata tajam suaminya
Menghela napas panjang untuk meredakan emosinya, Alex kemudian menarik lembut istrinya kedalam pelukannya
"tapi itu bahaya Ra, buat kamu dan bayi kita. Kamu juga berhasil mengurangi umur aku karna kerja jantungku yang lebih kencang dari biasanya" ujar Alex yang membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya
"kamu boleh minta apapun, asalkan tidak membahayakanmu juga anak kita" lanjut Alex bergumam. ia memejamkan matanya menikmati hangatnya pelukan dan wangi istrinya yang hampir 2 minggu ini tidak ia rasakan
"janji jangan gini lagi yah?" pinta Alex yang diangguki kecil oleh Maura, mereka masih saling memeluk
"khem! Acara peluk-pelukannya pending dulu, sebaiknya kita pulang sekarang deh sebelum jalanan makin macet, kasihan kan bumilnya harus terjebak diruangan sempit dan bising lama-lama" sahut Bimo berhasil mengintrupsi kegiatan suami istri itu
"emang udah bisa pulang?" tanya Alex pada mamanya yang kini berdiri hendak membantu menantunya untuk turun dari brangkar
Anggukan dari Anjani membuat Alex senang sekaligus sedih. Ia tentu bahagia Maura tak lagi perlu dirawat, itu berarti masa sulit istrinya sudah berakhir dan ia bisa menikmati waktu banyak dengan sang istri, namun ia bersedih karna harus menjadi orang terakhir yang mengetahui akan keadaan istrinya terlebih ia datang disaat semua sudah beres. bagiannya hanya bisa menjemput istrinya keluar rumah sakit.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, mobil yang dibawa Alex tiba dikediaman Maulana. Sebelum keluar ia melarang sang istri bergerak, kemudian ia segera turun dan memutari mobil, membuka pintu mobil bagian penumpang depan, ia tak perlu repot membuka seal belt karna rupanya Maura sudah membukanya, Alex hanya tinggal membantu sang istri turun dari mobil. Semantara mobil yang dikendarai Bimo juga baru tiba tepat di belakang mobil Alex, 3 orang keluarga Maulana selain Bagas juga keluar dari dalam mobil. Bagas bertugas menjaga rumah juga anaknya bersama Alexa yang masih berusia 5 tahun, Iqram.
Walau dengan penolakan Maura, tapi Alex tetap menggendong istrinya ala bridal style memasuki rumah, mengabaikan tatapan geli dari 3 orang yang berbagi darah dengannya dibelakang sana
"nggak usah cembrut gitu, gemes nih pengen gigit bibir" ujar Alex menggoda dengan menoel bibir istrinya
"ih mesum!" sungut Maura makin kesal
"malu tahu sama mereka" lanjut Maura mengutarakan apa yang membuatnya kesal akan perlakuan Alex.
"kenapa harus malu sih, hm? Kita ini suami istri loh, sah-sah aja kalau istri digendong suami, mereka pasti pa.."
"tau ah, tapi aku malu" potong Maura sebal membuat Alex menahan tawanya. Lagi-lagi ia dibuat gemas akan sifat istrinya yang mulai memberanikan diri berekpresi dihadapannya. Dulu-dulu, wanita ini tak pernah menunjukan bagaimana perasaannya yang sebenarnya, kesakitannya hanya ia pendam dibalik sikapnya yang berusaha terlihat biasa saja namun mengubur begitu banyak luka dan keluhan.
Tapi kini wanitanya itu bahkan sudah berani memotong ucapannya yang menurutnya tak sesuai dengan keinginannya. bukannya marah, Alex malah senang jika Maura sudah mulai membuka diri, walau tak sopan karna menyela ucapannya tapi Alex tak mempermasalahkan itu.
"iya-iya maaf deh" Maura langsung mendongak menatap Alex. Meski nada bicara Alex terdengar ringan namun berhasil membuat Maura tak berkutik. Alex berucap maaf seolah pria itu adalah pria yang tak lagi menjunjung harga diri sebagai pria yang paling benar di dunia.
Tatapan takjubnya perlahan berubah menjadi tatapan datar. Bola matanya menatap intens suaminya seperti menahan sesuatu. Sesuatu yang ia tahan-tahan sedari awal sejak kedatangan Alex di ruang rawatnya
"ada apa, hm?" tanya Alex bingung akan tatapan datar istrinya di hadapannya itu.
Ringisan kecil lagi-lagi tergambar di wajah polos istrinya membuat Alex reflek duduk di sisi istrinya. khawatir jika Maura merasakan sakit lagi
"Ra? Kenapa, hm? Apa yang kamu rasakan? Sakit?" tanya Alex memberondong dengan nada yang kentara cemas
"penampilan tuan, yang membuatku sakit saat menyadari jika aku memiliki suami tua tak terawat" ucap Maura dengan netranya yang masih meneliti penampilan suaminya, mata lelah, bawa mata menghitam hampir menyerupai sombie, rambut acakan, penampilannya yang kusut, mungkin pakaian Alex tak pernah ia ganti sejak kemarin, ditambah wajah letih lelaki itu menandakan jika 2 hari ini ia tak pernah bertemu dengan istirahat
Menalan ludah kasar akan ucapan sang istri yang sedikit menyentil egonya, 'tua'. Ia belum tua. Umurnya baru akan memasuki 36 tahun 2 bulan lagi. Ia masih tergolong pria matang. Namun mengingat fakta akan umur sang istri, Alex mencoba menekan egonya. Jika dibandingkan, memang ia harusnya menjadi paman dari pada suami dari Maura
"aduh aduh, orang tua ini sepertinya encok nih habis gendong anak gadis.. eh salah, maksudnya wanita muda yang tengah bunting dari benih si pria tua tampan ini. Pijitin boleh dong" Alex pura-pura kesakitan memegang pinggangnya, ia berekting menggoda istrinya sambil merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Maura sebagai bantalannya
Maura mendelik jengah mendengar dan melihat tingkah suaminya yang kini sudah membenamkan wajahnya diperutnya buncitnya
"mamamu mendzalimi papa nak, jahat banget tapi papa cinta" adu Alex pada si calon bayi sembari mendesul-duselkan hidung mancungnya disana membuat Maura kegelian
Deg deg deg
Bukan karna kelakuan Alex membuat kerja jantungnya meningkat, akan tetapi ungkapan cinta lelaki itu yang terdengar ringan namun tulus berhasil membuat dada Maura jedag jedug
Bersambunggg...