
"kenapa bengong? Minta kerjaan kan? Noh" Maura menatap Alex dan meja kerja pria itu bergantian.
Tak ingin berlama-lama, segera ia ambil setumpuk berkas yang disodorkan Alex untuk dikerjakannya
"dasar keras kepala, dikasih pekerjaan enak malah mau susah-susah" gumam Alex sepelan mungkin, matanya menatap malas wanita yang baru saja mendudukan bokongnya di kursi sekertarisnya
"banyak banget ini mah, tapi tak apa deh, dari pada makan gaji buta" gumam Maura setelah membuka berkas pertama
Seminggu telah berlalu sejak ia menjambat sebagai sekertaris plus-plus Alex atau lebih tepatnya sekertaris yang hanya menemani kemanapun bosnya pergi tanpa melakukan apa-apa selain melayani di ranjang, sofa, atau meja kerja jika bosnya itu tengah mode sang3.
Maura merasa Alex hanya memanfaatkan keadaan, makanya ia berani mengutarakan isi pikirannya untuk meminta kerjaan layaknya sekertaris sungguhan. Toh untuk apa statusnya jika semua sudah di tangani oleh Wahyu. Dan beruntungnya Alex akhirnya mendengarnya setelah 3 kali Maura protes.
Tapi ada satu hal perubahan yang membuat Maura merasa dihargai, perlakuan Alex padanya kini berubah 180 derajat. Alex kini memperlakukannya layaknya seorang wanita, bahkan tak segan-segan memperkenalkannya sebagai istri sekaligus sekertaris pada semua kolega bisnis pria itu, dan dapat Maura lihat bahwa Alex tulus melakukan itu, membuat sesuatu dalam dadanya menghangat dan.. berbunga? Siapa wanita yang tidak bahagia jika diakui di depan khalayak?
Setelah kehilangan senyum 7 bulan lamanya, kini perlahan senyuman itu mulai nampak lagi pada wajah cantiknya itu. Apalagi penerimaan semua orang pada dirinya, karyawan Alex pun sudah tak ada lagi yang berani mencemoohnya, dan Maura baru tahu nyatanya menjadi baik memang berbuah baik, jangan takut berubah, asalkan berubah jadi lebih baik. Ia buktinya, jika mengingat sepak terjangnya menjadi keturunan seorang pengusaha terkenal di ibu kota, tak ada yang tak mengenal sosoknya yang angkuh dan sombong, beruntung kejadian pahit yang menimpanya membuatnya perlahan sadar jika kesombongan dan keangkuhan tak ada gunanya, bahkan hanya mengundang musuh berdatangan. Tapi perlahan ia belajar berubah, belajar mengikuti sosok adik tirinya yang sabar dan pekerja keras, Alicia. Terimaksih pada sosok itu, berkatnya Maura bisa menjadi lebih baik.
"kalau capek nggak usah di paksa, kerjakan semampumu" sahut Alex membuyarkan fokus Maura
"tidak bos, saya bisa kok" jawab Maura, melirik sebentar ke arah Alex sebelum kembali fokus pada berkas yang membuat Alex mendengus malas
"bos, tuan, argh panggilan itu" geram Alex tertahan yang masih bisa telinga Maura tangkap
Maura melirik Alex yang kini kembali fokus menandatangani berkas di meja pria itu yang berjarak sekitar 7 meter dari mejanya
*jangan memberiku celah untuk menyelami duniamu tuan, takutnya aku malah jatuh cinta dan tak bisa melepasmu* batin Maura
*karna aku bisa saja bertindak egois jika memang aku menginginkanmu* lanjut Maura sebelum kembali bergelut dengan berkas dihadapannya, memeriksa kesalahan dan melaporkannya pada si bos suami
*akan aku lakukan segala cara agar kamu tetap berada disisiku, karna selamanya kamu akan tetap menjadi milikku seorang* batin Alex menatap wanita yang berhasil mengambil seluruh hatinya itu, bibirnya tertarik keatas melihat bagaimana Maura dengan serius meneliti berkas-berkas itu
*kamu yang aku butuhkan, dan nomor kedua adalah seorang anak* lanjutnya dalam hati
Alex yang memang masih awam akan bentukan tubuh orang hamil belum sadar juga jika wanita yang memberinya pengalaman bercinta di dalam kantor perusahaan selama seminggu ini tengah hamil, memang perut Maura terbilang kecil diusia kandungannya yang sudah 4 bulan itu.
Sedang di belahan bangunan lain, lebih tepatnya sebuah apartemen, sepasang kekasih beda usia baru saya menyelesaikan pergumulan panas mereka siang bolong ini
"lekas tumbuh anak ayah" Roni mengelus lembut perut rata Elana yang dibalas senyuman oleh wanita itu
"yah, angkat gi, kasihan ibu sedari tadi nelpon" sahut Elana, ia singkirkan dengan pelan tangan Roni di perutnya agar lelaki itu segera mengangkat telpon dari istri sahnya
"ck! Menyusahkan" decak Roni malas tapi pria itu beranjak juga meraih ponselnya
"yang ayah bilang meresahkan itu Ibu kandung aku loh, yah" ujar Elana kesal
"ibu kandung tapi suaminya suamimu juga" goda Roni menaik turunkan alisnya membuat Elana merona malu, juga sedikit tersentil. tiba-tiba dadanya hampa
Setelah berucap Roni segera menerima panggilan yang entah sudah kebarapa puluh kalinya dari Rini, bisa Elana lihat wajah ayah sambungnya yang baru saja mengaggahinya itu tampak terkejut, sepertinya pembicaraan mereka cukup penting, terbukti Roni segera beranjak dari pembaringan dan berjalan ke pinggir kamar dengan keadaan telanj4ng bulat, membuat Elana geleng-geleng kepala melihatnya
"pede banget mempertontonkan pantat keriputnya" gumam Elana pelan tanpa sadar
Sementara Roni berbicara dengan Rini, Elana juga beranjak, ia meraih kursi rodanya dan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya
Setelah membersihkan diri, Elana keluar dengan jubah mandinya. Ia melihat ayahnya masih melakukan panggilan dengan Rini, tapi kini pria itu tengah terduduk di tepi ranjang membelakanginya. Elana mengendikan bahunya acuh, ia tahu jika yang jadi topik kedua pasangan paru baya itu adalah masalah perusahaan mereka yang sudah lama Roni tinggalkan demi menemani Elana sebulan ini di apartemen mereka semenjak kepergian Alex keluar kota hingga sekarang.
Elana memacu kursi rodanya menuju meja rias, memakai serentetan alat makeupnya dan setelah dirasa cukup, ia meraih sebuah kalung berliontin yang ia letakan di laci meja rias
"maafkan aku suamiku, aku merasa berdosa telah menghianatimu belasan tahun ini, bahkan dengan segala dosaku kamu masih memberiku kejutan ini. Terimakasih dan maaf karna aku tak bisa memilih di antara kamu atau ayahku, maaf karna aku baru sadar kalau aku juga mencintaimu" monolog Elana menatap benda berkilauan itu. Sebuah kalung cantik yang ditinggalkan Alex untuknya melalui madunya. Ya, Elana dapat kalung itu dari Maura. Kata wanita muda itu, Alex menyuruh Maura memberikan padanya sebagai kejutan
Elana tentu berbangga hati. Mengira jika cinta Alex sangat besar padanya. Memikirkan itu, Elana rasanya ingin segera pulang ke rumahnya
"tapi mas Alex belum pulang dari luar kota" gumamnya sendu
"2 minggu lagi rasanya terlalu lama, huft" monolognya lagi
Bersambunggg...
######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu