TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK S2 53


Maura menelan ludah kasar sebelum memantapkan langkahnya menuju ruang tamu Mansion keluarga Prasetio. Wanita yang kini mengandung 4 bulan itu tersenyum pada seorang wanita paru baya yang tengah duduk menunggunya di sofa


"pagi dokter, maaf membuat anda menunggu" sapa Maura merasa tak enak, setelahnya kakak dari Alicia itu ikut duduk di sofa depan dokter Anjani


"nggak papa, nak" sahut Anjani ramah, mendapati istri kedua anaknya sudah duduk tenang di sofa dan tak diikuti oleh pemilik mansion, Anjani langsung mengungkapkan maksud dan tujuannya datang ke mansion Daniel yang terkenal tak tersentuh oleh orang-orang yang bukan dari keluarga. Beruntungnya kegigihannya menunggu beberapa jam di luar gerbang mansion membuahkan hasil karna diizinkan masuk oleh sang nyonya muda


"bagaimana? Apa nak Maura sudah memutuskan?" Anjani menuntut jawaban atas tawarannya beberapa hari lalu di rumah sakit


"saya hanya istri siri dari anak dokter, dan saya sudah dibuang, tak ada lagi alasan bagi saya untuk ikut sama dokter" jawab Maura tenang


"kamu lagi hamil anak putra saya nak, saya berkewajiban merawat kamu dan calon cucuku, terlepas bagaimana keputusan Alex kedepannya tapi saat ini izinkan saya menemani kamu dimasa kehamilanmu" ungkap Anjani dengan raut wajah tulus


"dokter bukan mengincar anak saya kan?" mengingat bagaimana Alex hanya menginginkan keturunan darinya, Maura jadi memiliki pikiran zudson pada sang dokter


Anjani menampilkan senyuman kemudian istri pak Bimo itu berucap "sejak awal saya tahu hubunganmu dengan Alex, saya sudah menyukaimu. Terlepas kamu mengandung calon cucu saya atau tidak, tapi percayalah jika saya lebih menyukaimu dari pada istri sah anak saya"


"mengenai cucu, yah, saya lakukan ini juga demi cucu saya. Saya ingin mempertahankan dia agar tetap berada dilingkaran keluarga kami, dia juga bagian dalam diri saya dan saya mencintainya, kamu nggak usah takut dan khawatir dengan pemikiranmu. Orang yang mencintai tak akan memisahkan orang dengan kebahagiannya, dan kamu adalah kebahagiaan dari anakmu, entah sekarang ataupun dimasa depan" lanjut Anjani meyakinkan Maura


"tapi saya sudah dibuang, hubungan saya dengan anak anda sudah berakhir" terang Maura sekali lagi


"walau anak itu telah jauh belasan tahun dari jangkauan keluarga kami tapi saya masih tetaplah ibunya, dan saya yakin anak saya tidak sungguh-sungguh mengatakan it..."


"tidak sungguh-sungguh dari mananya, anda tidak berada di sana saat ia mengucapkan itu dengan penuh amarah" potong Maura


"nah itu, saya pikir kamu sudah mengerti bagaimana perangai dari lelaki itu, kalian sudah terbilang cukup lama tinggal bareng bukan?" ucapan Anjani membuat Maura berfikir, Alex memang cepat tersulut emosi dan akan memutuskan sesuatu dengan amarah namun lelaki itu akan menyesali akan keputusannya yang mementingkan ego dan ***** ditambah lelaki itu sangat menjunjung tinggi rasa gengsi


"lalu jika dia tidak sungguh-sungguh kenapa dia tak menjemputku?" tanya Maura memancing. Ia tahu Alex memiliki rasa malu yang sangat tinggi tapi dalam kasus ini Maura hanya ingin mendapat kepastian atas prasangkanya


"gengsi. sama kedua orang tuanya aja dia gengsi. Menyadari akan kesalahannya tapi anak itu tak berani mengakui dihadapan kami yang telah dibuangnya demi wanita macam Elana itu, dan pasti itu juga berlaku sama kamu" jawab Anjani "dan perlu kamu tahu, jika anak itu belakangan ini hidup menggenaskan di sebuah apartemen, ia sibuk mengurusi percerainnya dengan si rubah bet*na" lanjut Anjani berhasil membuat Maura kaget


"ce-cerai?"


"ya, 13 tahun dilalui Alex dengan kesia-siaan. Wanita itu selama belasan tahun main serong dengan suami ibunya, welcome melayani ayah tirinya di atas ranjang dari pada memberikan hak Alex karna alasan lumpuh" terang Anjani miris


"dokter tahu?!" pekik Maura tak sadar saking tak menyangkanya jika Anjani tahu akan hubungan gila Elana dengan Roni


"saya tebak, sepertinya kamu sudah tahu?" tanya Anjani curiga, dan anggukan tipis dari Maura membuat Anjani tersenyum miris


"berarti hanya Alex saja yang terlalu dibutakan akan kelakuan 2 bin*tang berparas manusia itu" olok Anjani dengan gumaman


"saya boleh minta tolong?" tanya Anjani dengan tatapan memohon


Maura mengangguk ragu


*berarti itu adalah alasan kenapa dia membuangku hari itu? Karna merasa malu? Tapi jika dia tidak menyamakan aku dengan si selingkuhan si kakek mesum itu, aku tak mungkin mengungkit kelakuan Elana dalam perdebatan kami* batin Maura mengenang hari pertengkaran mereka


"khem!" keterdiaman keduanya diintrupsi oleh kedatangan Maya, tak lama setelahnya muncul Alicia juga Daniel yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya namun baby El masih dalam gendongannya yang asik meracau tak jelas


"Bagaimana?" tanya Maya tho the poin setelah ikut duduk di sofa tunggal


Maura menggigit bibir bawahnya, sebenarnya di hatinya masih ada keraguan dalam dadanya namun mengingat dimana posisinya, Maura sadar diri bahwa ia tak harusnya merepotkan keluarga Prasetio walau sang adik yang meminta. Sebenarnya ia memang merasa berat tinggal di Mansion hanya saja ia tak enak menolak kebaikan sang adik.


Selagi Anjani menawarkan tempat, Maura akan memanfaatkannya agar memiliki alasan pada Alicia. Urusan Anjani akan membawanya kedalam keluarga besar Alex, Maura tak perlu begitu khawatir, toh hubungan Alex dan keluarganya tak terjalin baik sehingga aman baginya berada di tengah-tengah keluarga itu untuk menghindari Alex. Bukannya benci pada sosok itu, hanya saja Maura masih kecewa akan perkataan Alex yang menyamakannya dengan Elana, berkhianat.


"Maura akan tinggal dengan keluarga dokter Anjani" jawab Maura berusaha terlihat tenang


"kamu yakin?" tanya Maya memastikan membuat Alicia yang hendak protes mengbungkam


"tidak pernah seyakin ini" dusta Maura, membuat Alicia mendesah kecewa


"itu haknya dia untuk memilih sayang, dia sudah dewasa dan bahkan sebentar lagi akan memiliki anak" ujar Daniel memberi pengertian pada sang istri. Alicia mengangguk kecil kemudian pindah duduk di samping Maura, memberi pelukan pada kakak yang hanya berjarak usia beberapa bulan itu


Baru saja Alicia mendapat sosok figur seorang kakak kandung namun ia harus dihempas kenyataan bahwa kebersamaan tak harus abadi, begitu juga dengan kebersamaannya dengan Maura. Mereka memiliki hidup masing-masing.


"saya bukannya tidak ingin menampungmu di mansion ini, hanya saja memang harusnya menantu ikut pada suami atau keluarga dari suaminya jika memang ada itikad baik untuk mempertahankamu" sahut Maya yang memancing fokus semua orang "kamu tetap kakak dari menantu saya, jadi kapanpun kamu butuh Dara atau Daniel bahkan saya, kami akan buka tangan lebar-lebar untuk menerimamu, jadi jika kamu merasa tak betah disana, kembali pada kami, karna keluarga Dara selama itu orang baik adalah keluarga Prasetio juga. Jangan sungkan dan rendah diri, kamu masih punya keluarga di sini" lanjut Maya berucap panjang lebar membuat Alicia juga Maura terharu akan keterbukaan wanita yang terlihat dingin pada Maura namun memiliki rasa peduli padanya.


"dan anda, hargai keberadaannya, jika anda memintanya baik-baik hari ini maka jangan pernah perlakukan dia layaknya orang asing dikemudian hari. Jangan hanya menganggapnya menantu tapi sebagai anak perempuan anda" Maya kini memberi pesan pada dokter Anjani, mertua Alicia yang dulunya sangat membenci kehadiran menantunya itu sebenarnya menyimpan penyesalan tersendiri atas kekerasan hatinya hingga ia lambat menghadirian sosok ibu mertua yang baik bagi istri putra tunggalnya


Pesan terakhir dari Maya membuat Maura meneteskan air mata, sungguh ia tak menyangka mertua adiknya yang ia kira tak menyukai keberadaannya nyatanya peduli pada masa depannya. Walau tak bisa menggantikan sosok ibu kandungnya, Maria, tapi setelah 7 bulan tak merasa nasihat seorang ibu, Maura mendapatkannya hari ini, dari wanita paru baya yang terlihat datar tapi menyembunyikan kebaikan dalam hatinya. Beruntungnya Alicia bisa memiliki penganti sosok ibu seperti Maya Prasetio ini. Pikir Maura tersenyum haru pada sang adik


Sedang di seberang bangunan lain, tampak seorang pria dewasa tengah menahan amarah sebab ia tak bisa menemukan sang istri yang telah di tinggalkannya di hotel berbintang yang sedang didatanginya itu.


Meninggalkan hotel dengan perasaan berkecamuk, Alex bingung harus mencari Maura kemana. Dari laporan cctv wanita itu meninggalkan hotel keesokan harinya dimana setelah ia meninggalkan saat malam hari


"dimana kamu? Kenapa tidak menungguku disini? Kamu memiliki uang untuk menyewa beberapa hari lagi sampai aku datang menjemputmu tapi kenapa kamu pergi? Apa kamu memang sudah se-muak itu padaku" racau Alex menatap sendu bangunan tinggi di depannya


Bersambunggg...


maafkan autor, saat ini autor dalam mode jenuh.


###


sumpah aku bolak balik liat chap ini, hari sabtu jam 10 malam aku up tapi hingga minggu siang jam 12an belum lolos juga. pengen lanjut tapi chap ini belum lolos jadinya kembali malas berfikir