TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK 132


Nyanyian burung-burung yang berkicau merdu di pagi hari menyambut matahari yang kini sudah menanjak di sebelah timur, membuat cahayanya berhasil masuk lewat celah celah gorden jendela kaca. Jam dinding telah menunjukan pukul 8 pagi namun tak membuat tidur sepasang suami istri itu terganggu.


Mereka masih saling menempel bak perangko, jika semalam sebelum tidur wajah sang istri yang terbenam di dada sang suami, kini wajah sang suami yang terbenam di dada sang istri, dengan tangan bertengger posesif di perut buncit istrinya.


Tok


Tok


Tok


Ketukan di pintu akhirnya berhasil menarik kesadaran si wanita, terbukti ia mengeryitkan dahi meski mata masih tertutup rapat.


Tok


Tok


Tok


Ketukan kembali terdengar dan membuat mata dengan bulu lentik itu perlahan terbuka, tersentak kala melihat ada kepala besar menempeli dadanya, hanya rambut yang terlihat sebab wajah yang ia yakini milik tuan suaminya sepenuhnya terbenam di dadanya


Hendak mendorong jauh namun sesuatu dalam hatinya yang bernamakan hati nurani melarangnya. Bahkan rasa berat pada pinggangnya karna tangan kekar milik suaminya ia hiraukan. Perlahan tangannya terangkat mengelus rambut legam itu, ekpresinya datar namun matanya memancarkan binar kasihan.


Semalam, lebih tepatnya dini hari saat pukul 2, ia terbangun karna rasa lapar menyerangnya, setelah meletakan lengan kekar suaminya yang memeluk tubuhnya dengan pelan, ia kemudian beranjak dari pembaringan dengan mengendap-endap agar tak menganggu tidur tuan suaminya. Ia turun ke ruang makan yang ternyata pak Wis, seorang Maid dan koki sedang berdiri menunggu majikannya disana


"selamat dini hari nyonya muda" sambut mereka yang di balas anggukan serta senyuman manis dari Alicia.


Sedikit kasihan pada ketiganya, namun menyuruh mereka pergi untuk beristirahat pun tak akan indiindahkan, semua berkat kearogangan tuan suaminya, selama ia sering terbangun dini hari, perintah baru diterima oleh para pekerja Mansion. Mereka harus bergilir untuk terbangun dini hari sebelum nyonya muda mereka turun ke ruang dapur, namun yang lebih kasihan adalah pak Wis karna ia tak memiliki rekan untuk bertukar sift.


Seperti biasa, jiwa pembantunya mengambil alih, ia memasak sendiri, si koki hanya menyiapkan alat dan bahan sesuai kemauannya, ia tinggal memasak di ruang dapur dengan si koki handal sebagai asistennya. Kemudian si maid bertugas menyiapkan keperluan di ruang makan dan pak Wis memantau nyonya mudanya.


Sesekali ia melirik pintu ruang makan, entah mengapa ia menginginkan kehadiran seseorang menemaninya makan sama seperti malam malam sebelumnya, yang meski tanpa dibangunkan selalu nongol bak tamu tak diundang. namun sepertinya tuan suaminya sudah lelah dengan rutinitas tak sehat yang ia lakukan sejak 2 bulan belakangan ini.


Menyelesaikan makannya dengan khidmat meski terasa kesepian, kemudian ia beranjak setelah berterimakasih pada ketiga makhluk yang jelas dimata mereka menampakan wajah setengah sadar.


Ia mengerutkan keningngya kala memasuki kamar tapi tak melihat tuan suaminya yang jelas tadi ia tinggal masih tertidur pulas di atas pembaringan


Ceklek


Memutar tubuhnya, ia menoleh ke arah pintu kamar mandi yang baru saja terbuka. Tuan suaminya muncul dengan wajah memelas, baru selangkah kaki pria itu melangkah keluar, ia kembali berlari memasuki kamar mandi


Alicia menaikan sebelah alisnya, menatap bingung kearah kamar mandi yang kini kembali tertutup.


Semenit


5 menit


10 menit


Netra wanita hamil itu melihat jam dan pintu kamar mandi bergantian. Apa yang dilakukan tuan suaminya di dalam sana? Apa tuan suaminya sedang mandi di dini hari begini?


Karna sedikit penasaran, ia akhirnya melangkah mendekat, memegang handel pintu yang tak terkunci, dengan sedikit memberanikan diri, ia membuka pintu sepelan mungkin dan melongokan kepala ke dalam, tak menemukan sosok prianya namun pendengarannya menangkap sesuatu di dalam bilik kaca transparan yang biasa ia gunakan untuk membuang air.


Huek


Huek


Huek


Segera menyusul karna ia tahu apa yang terjadi sekarang, tak mungkinkan suaminya sedang buang hajat dengan suara seperti orang muntah


"tuan?"


Daniel menengadahkan kepalanya ke belakang namun hanya sepersekian detik, karna perutnya kembali mengaduk-aduk di dalam sana


Huek


Rasanya sakit sekali hingga membuat kepalanya mau pecah dengan kerongkongan pedis nan pahit. Alicia ikut berjongkok di dekat sang suami yang terduduk lemas di lantai dingin, tangan suaminya memegang sisi kloset dengan wajah menghadap lubang.


Sentuhan tangan hangat Alicia membuat Daniel merasa sedikit lebih baik, ia menoleh ke arah sang istri, wajah pucat nan gemetar yang dibingkai netra wanita hamil itu


"tuan baik-baik saja?" pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut wanitanya berhasil membuat emosi Daniel meledak


Alicia tersentak, mengerjab sebentar, benar kata suaminya, Jelas terlihat jika tuannya ini sedang kesakitan, kenapa pertanyaan itu yang meluncur dari bibirnya, percayalah bahwa ia grogi melihat keadaan tuan suaminya, selama hampir 8 bulan hidup bersama baru kali ini ia melihat suaminya dalam keadaan menggenaskan seperti ini.


Terduduk lemas di bawah kloset, dengan bulir-bulir keringat di dahi menetes hingga baju yang dikenakannya basah, bibir dan kelopak mata bagian bawahnya pucat sangat kontras dengan wajahnya yang memerah bukan bersemu tapi karna kesakitan.


Bukannya takut karna bentakan Daniel, tangan kiri yang berada di pundak Daniel bergerak mengelus punggung lebar itu, sedang tangan kananya terangkat menyeka keringat di dahi dan leher tuan suaminya


"tuan sepertinya salah makan semalam, saya panggilakan dokter Rahmat ya"


Hendak beranjak dari hadapan tuan suaminya namun tiba tiba pergerakannya terhenti karna tarikan Daniel


"aku butuh kamu bukan yang lain" Daniel berucap setelah membenamkan wajahnya di ceruk leher Alicia, tangannya merengkuh erat punggung dan pinggang sang istri seolah takut di tinggalkan


"kenapa tidak membangunkanku, hm? Kamu ninggalin aku" rengek pria besar itu


"saya takut mengganggu tuan"


"karna kamu, aku begini, terbangun tanpa kamu, aku takut kamu pergi, dadaku rasanya berdetak kencang hingga membuat perutku mual" lapornya akan keadaannya


Alicia melongo mendengarnya, tuan suaminya sungguh pandai membual, oh ayolah kenapa tuan suaminya yang arogan berubah lebay nan melow gini.


"maaf" hanya itu yang mampu wanita hamil itu ucapkan agar tak memperpanjang drama, kasihan juga melihat keadaan tuan suaminya yang menggenaskan tadi di dini hari.


sebuah senyuman tersungging di bibir Alicia kala mengingat kejadian beberapa jam lalu, elusan di rambut prianya perlahan menjadi sebuah colekan guna membangunkan sang suami


"tuan?" panggil Alicia pelan


Tak ada respon dari pria yang masih asik dengan posisi ternyamannya membuat Alicia mau tak mau bergerak namun pelan, ia berusaha meleraikan pelukan Daniel dan menjauhkan dadanya dari wajah sang suami.


Memandangi wajah damai sang suami, nyatanya wajah tuan suaminya tak seseram dengan sikapnya yang dominan jika sudah tersadar. Menatap wajah lelep suaminya berhasil membuat sesuatu dalam dadanya berdetak lebih cepat namun kenyamananlah yang ia rasa akan detakan itu.


"bagaimana? Sudah jatuh cinta belum?" suara serak itu menarik Alicia dari kekagumannya akan sosok ciptaan tuhan yang di titipkan pada tuan suaminya


"baru tahu kalau suamimu ini tampan, heh?" lagi, pria yang masih memejamkan mata di depannya ini bersuara. Bagaiamana bisa orang tertidur memergoki aksinya itu, apa tuan suaminya beneran punya indra ke 99. Daebak! Roy kiyosi saja lewat!


"tuan?" panggil Alicia merinding


Namun hanya dengkuran haluslah yang diterimanya sebagai jawaban.


Bergidik, ia beranjak dari pembaringan, namun sebelum turun dari ranjang sebuah tangan kekar menarik tubuhnya dan membaringkannya dan memeluk tubuhnya erat.


"jangan berani beranjak sedikitpun nyonya muda" gumam Daniel membenamkan wajahnya di ceruk leher Alicia, menghirum dalam-dalam wangi sang istri yang menjadi candunya, mengabaikan wangi bekas iler yang tercetak manis di sudut bibir Alicia.


tok


tok


tok


"tuan, nyonya besar menunggu di meja makan untuk sarapan" sahut Pak Wis dari luar


"enyahlah!!"


"tidak pak Wis, 5 menit lagi kami turun!" teriak Alicia mengintrupsi perintah tuan suaminya, mengabaikan geraman tuan suaminya yang seakan hendak melahap lehernya


Bersambunggg...


#######


ternyata ngejar up saat lagi di atas mobil untuk mudik membuat kepala sedikit pusing hingga mual. dari pada ngehayal nggak jelas dimobil mending aku ngehayal lanjutan cerita ini kan. juga demi membayar kalian yang masih setia sama story ini


masih ada yang melek nggak nih


ohya, besok lancar puasa dan ibadahnya kalian, sehat sehat yak


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu