TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK 140


langit sudah mulai menampakan warna jingga menandakan sore telah kembali datang, waktu mereka yang hampir 10 jam menguras tenaga dan pikiran untuk membantu meningkatkan kemajuan perusahaan besar milik Parsetio Corp akan berakhir beberapa menit lagi.


Banyak dari mereka yang bahkan sudah berberes untuk segera pulang yang di sambut keluarga, dan hangatnya ranjang tentu saja.


Tapi tidak berlaku bagi pemimpin mereka, meski semua jadwalnya telah berakhir sejak sejam lalu tapi tuan muda itu belum juga ada niatan untuk meninggalkan perusahaan.


Jika beberapa bulan lalu ia sangat semangat untuk pulang bahkan sering dengan tak berhatinya melimpahkan tanggung jawabnya pada sang sekertaris m, tidak dengan 3 bulan terakhir ini.


Hanya helaan napas kasar nan panjang yang terus terdengar di telinga sang sekretaris yang sudah sejak 30 menit lalu berada dalam ruangan yang sama dengan tuan presdirnya


"apa aku pindahkan saja kantor utama di Taiwan?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela kaca, ia berdiri menatap datar langit jingga dengan tangan berada di kedua saku celananya


"sebaiknya kita pulang saja tuan, tuan butuh istirahat?" tawar Ali entah yang keberapa kalinya tanpa merespon pertanyaan tuan mudanya yang menurut Ali hanya bualan akibat frustasi menjalani LDR-an dengan sang istri yang dulu mati-matian disiksa namun sekarang menjadi pemilik jantung pria arogan beruntung sayang tanpan di depannya ini.


"kantor dan rumah, sama saja. Kosong!" jawab Daniel datar. Memang benar, selama tak ada Alicia didalamnya dunia Daniel berasa hampa.


Ali menggaruk tengkuknya yang tak gatal, harus dengan bujukan apa hingga tuan mudanya mau pulang. Ia tak mungkin mengatakan dengan gamblang maksudnya terus membujuk Daniel beranjak pergi, Bukan perkara Ali juga ingin segera pulang tapi memang ada suatu hal yang bisa membuat tuan mudanya mendapatkan lagi semangatnya jika ia pulang ke mansion


"kasihan nyonya muda, tuan"


Ucapan Ali berhasil mengalihkan atensi Daniel, ia secepat kilat berbalik menatap dengan alis terangkat pada sekertarisnya yang membawa-bawa Alicia


"maaf tuan, tapi__"


"katakan!" seru Daniel penasaran akan ucapan Ali yang menggantung, sedang Ali menelan ludah kasar sebelum melanjutkan ucapannya


"tuan kurang istirahat, hingga wajah tuan terlihat tua dan badan tuan makin kurus" ucap Ali cepat dan langsung menunduk setelahnya karna ketakutan akan kejujuran hatinya yang tentunya akan membuat tuan mudanya murka karna merasa diolok olehnya


Dan benar saja, mata Daniel membola, rahangnya mengetat, ia melangkah lebar ke arah Ali dan mengayunkan kakinya ke betis Ali


Dugh


"pulang!" Titahnya setelah mendaratkan tendangan lemahnya kala sampai di tulang betis milik Ali. Meski kesal tapi Daniel juga kasihan melihat keadaan sekertarisnya yang tak jauh beda dengannya.


Ali meyunggingkan senyumnya. Kemudian ikut beranjak dan segera membukakan pintu ruangan untuk tuan mudanya


Memasuki mansion dengan wajah letihnya, Daniel mengabaikan pak Wis dan beberapa maid yang menyambutnya. Sedang Ali sudah menuju paviliun miliknya di samping belakang rumah utama


Menghela napas panjang sebelum membuka kamar yang belakangan ini selalu menyambutnya dengan kekosongan membuat Daniel memejamkan matanya menahan rindu pada sosok wanita yang sudah 4 hari ini di tinggalnya di Taiwan.


Ya, setelah besok jadwalnya usai, ia akan segera terbang ke taiwan sebagaimana rutinitasnya 3 bulan belakangan ini. Rasanya tak sabar menunggu hari esok.


Melangkah gontai memasuki kamarnya yang membuat imajinansinya berkelana, segala rentetan aktifitas Alicia saat dulu Daniel memerhatikannya secara diam-diam kini memenuhi memorinya.


"arg, sayang, rindu ini membuatku gila" gumamnya frustasi, ia melepas kasar jasnya dan membuangnya ke sofa dengan asal


Keningnya berkerut kala melihat ada sesuatu yang berubah tapi ia segera menepisnya dengan menggelengkan kepalanya. Ia pikir ia terlalu berhalusinasi.


Setelah melepas dasinya yang dibiarkan teronggok menggenaskan di lantai, Kakinya perlahan melangkah ke balkon kamar dimana terakhir kalinya ia menikmanti makan berdua dengan istrinya sebelum berangkat ke taiwan.


Langit jingga sudah mulai berubah menjadi gelap namun taman tetap terang oleh pencahayaan lampu-lampu, bersedakap dada menikmati pemandangan, cantik! Bukan tamannya, tapi seseorang di bawah sana yang tengah tersenyum senang bersama pria.. Tunggu?


Ia mengerjabkan matanya berulang, tapi bayangan itu tetap ada disana. Bahkan suara tawa di bawah sana jelas dapat telinganya tangkap


Berlari sekencang mungkin, ia keluar kamar bahkan turun tangga dengan tergesa gesa, ia tak peduli saat ada maid yang terjatuh karna ulahnya yang berlari dan mengejutkan maid itu.


Dan ya, orang itu ada disini, di depan matanya, meski membelakanginya, tapi Daniel yakin ia tak salah orang


"eh udah pulang nak?" tanya pria di depan wanita itu


"Eh mas?" Alicia yang mendengar ucapan papa Arham menoleh dan mendapati suaminya tengah menatapnya tanpa berkedip, Alicia melirik sekilas papa arham kala sapaannya di abaikan Daniel, Alicia meringis tak enak


"Ha-hai" sapa Daniel salah tingkah


"udah hampir malam ternyata, maaf ya mas, aku nggak nyambut mas pulang" ucap Alicia merasa bersalah setelah tersadar langit sudah mulai gelap. Ia teralalu asik bercengrama dengan papa Arham dan ayah Parsetio


"oh iya, ngga papa sayang" ucap Daniel cepat


"khem!" deheman Prasetio mengalihkan atensi Daniel dari pemilik debaran dadanya


"ada orang tua, begini seorang pemimpin Prasetio Corp bersikap" Parsetio dengan gamblang menyindir putra tunggalnya yang menghiraukan dirinya dan juga Arham.


"eh, ayah, papa" Daniel menggaruk lehernya, ia tersadar bahwa istrinya tak sendirian, ia meringis malu


"kapan sampainya yah, pah?" tanya Daniel kemudian


"kami datang mengantar istrimu, kasihan putri papa jika terbang seorang diri" balas Arham mengelus lembut rambut Alicia


"ia tak mau mengganggu kerjaan kamu, katanya" itu suara ayah Pras menyahuti alasan menantunya yang tak memberi kabar atas kepulangannya


"kamu jauh lebih penting dari segalanya, Dara" sudah berapa kali lagi Daniel harus mengatakan hal yang sama pada istrinya ini mengenai arti Alicia bagi Daniel.


"Ali mana?" tanya Pras lagi mencari sosok tangan kanan putranya


"sudah di paviliumnya"


"jangan bilang dia tahu kedatangan kalian?" tuduh Daniel tepat sasaran


"memang dia tahu" jawab Pras enteng


"sialan! Kenap.."


"calon ayah dilarang keras mengumpat" seru Arham memperigatkan


"keceplosan, pa" Daniel langsung bungkam


"keceplosan apa kebiasaan" timpal Pras menyudutkan putranya yang hanya di balas lirikan tajam oleh Daniel


"yaudah sana kalian, kalian pasti capek, istirahat" timpal Arham, mengerti bahwa Alicia dan Daniel butuh waktu untuk melepas rindu juga mengistirahatkan tubuh mereka yang seharian terkuras apalagi Alicia yang melakukan perjalanan jauh.


"ingat ISTIRAHAT, bukan yang lainnya" Pras sekali lagi memperingatkan sekaligus menggoda putranya


Daniel hanya memutar bola mata malas, ia kemudian meraih istrinya dan menuntunya masuk rumah kemudian menuju kamar mereka.


"apa sih mas" Alicia tentu risih dengan tingkah Daniel yang terus memandanginya tanpa berkedip.


"Mas!"


"seperti nyata" guman Daniel mendengar pekikan Alicia, ia pikir ia berimajinasi berduaan lagi di kamarnya dengan sang istri


"nyata apanya?" beo Alicia


"kamu, istriku, Dara ada disini" kembali Daniel bergumam menjawab pertanyaan wanita cantik di depannya


Sedang Alicia merasa tercubit hatinya, sebegitu berefeknya kah bagi Daniel atas tindakannya yang egois.


"aku memang nyata mas, Daramu ada disini" Alicia mendekat kemudian meraih tangan Daniel, membawanya ke perut buncitnya yang kini sudah sangat besar


"nih, dia makin besar" lanjutnya


Mata Daniel langsung berkaca-kaca, segera ia bawah tubuh gempal istrinya kedalam pelukannya


"aku merindukanmu, sayang"


"aku juga, mas"


Daniel memejamkam matanya menikmati momen kebersamaan mereka, Hatinya menghangat kala kata 'mas' terucap pada bibir istrinya dengan lugas, padahal seingatnya seminggu lalu, saat ia terakhir berkunjung ke Taiwan istrinya itu masih memakai aku kamu saat mereka berdua


Pelan tapi pasti, ia menyelipkan wajahnya di ceruk leher istrinya, ia merindukan aroma tubuh milik Alicia, segera ia cium dan sesap kulit leher mulus itu yang terpampang jelas karna Alicia mengikat rambutnya.


"mas, mandi dulu gih" suruh Alicia mulai risih dengan kelakuan mesum suaminya


"Sebentar saja sayang" gumam Daniel terus melanjutkan aksinya, bahkan tangannya sudah berada pada kedua benda kembar favoritnya yang kian berisi


"ah" desah Alicia


"jangan memancingku sayang" kini suara Daniel mulai berubah serak menaham nafsu mendengar erangan sang istri


"TUAN YANG MULAI!!" teriak Alicia tak terima dengan tuduhan suami arogan mesumnya


Bersambunggg....


######


bersambung aja dulu, takutnya otakku khilaf berfikiran kemana-mana. para readers kuatkan imannya? kuat dong yah, bulan puasa loh ingat, nggak usah pikirin kelakuan tuan suami.


bye-bye~~


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu