TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK S2 74


2 wanita licik berbeda usia itu saling melempar tatapan maut


Elana yang tersungkur di lantai nan dingin dan Maria yang berdiri di depannya dengan berkacak pinggang, jangan lupakan senyum meremehkan wanita paru baya itu seolah menganggap Elana hanya seekor kecoak


"berdiri ayok! Huh! Hanya segini fisikmu tapi berani mengibarkan bendera perang dengan saya, eh?"


"cacat aja banyak tingkah. Punya nyawa berapa emang kamu hah? tidak kasihan dengan operasi mahal kedua kaki lumpuhmu?" cibir Maria menohok


"lihatlah kini harus sia sia karna salah memilih lawan?" lanjutnya lagi dengan seringai


"bengkak deh jadinya. Sakit nggak tuh?" lagi-lagi Maria melemparkan ledekan melihat kaki Elana membengkak nan memerah,tak bisa bergerak sesentipun alias kembali lumpuh akibat hasil kerjanya


"dasar nenek lampir. Mati kau!" pekik Elana sambil melemparkan sesuatu ke arah Maria yang ia ambil dari balik punggungnya dan tak disadari Maria. Meski hanya sebagian berhasil mengenai Maria karna posisi Elana yang di bawah, tapi lemparannya sepertinya tepat sasaran. Tepat mengenai mata wanita itu. Terbukti Maria memejamkan matanya


Sedetik


Dua detik


Tiga detik


Maria membuka matanya dan menampilkan senyum remeh, ia bahkan dengan enteng membersihkan wajahnya dari bubuk putih sejenis pasir yang dilemparkan Elana, walau sebagian mengenai matanya tapi pasir-pasir itu tak menganjal disana, hanya cairan seperti air yang ia rasa, namun... Detik selanjutnya


"Argh!! Si*lan!" pekik Maria histeris saat merasa lelehan panas nan perih di matanya


serbuk itu meleleh saat berentuhan dengan bola matanya namun efeknya baru terasa setelah beberapa detik


"apa yang kau lakukan pada mataku brengsek!!" maki Maria yang bergerak gelisah seperti orang kesetanan dengan mata terpejam


"membuatnya tak berfungsi agar tak lagi bisa melihat bagaimana rupa pelangganmu, jal*ng peot" jawab Elana santai masih dengan posisinya


Sebenarnya ingin sekali Elana mencekik Maria tapi ia tak bisa bergerak meraihnya karna kakinya yang berat. Setiap senti pergerakannya itu sungguh menyiksanya, karna kakinya yang kian mulai membengkak hampir 2 kali ukuran dari ukuran biasanya, semua karna Maria. Kakinya yang harusnya beberapa bulan lagi akan sembuh saat semua syaraf berfungsi namun malah harus berakhir mengenaskan di tangan Maria beberapa saat lalu.


"Arghh" teriak Maria kesakitan. Ia menahan kesakitan tapi kakinya terus menendang kesegala arah mencari keberadaan wanita gila yang baru saja bersuara


"bos!" teriak seorang pria urakan berlari ke arah mereka


*si*lan!* umpat Elana


"cepat bantu saya!" pekik Maria


"berikan saya air putih, mata saya pedih sekali" titah Maria pada anak buahnya.


Walau tak melihat, tapi Maria percaya jika pemilik suara sumbang itu adalah anak buah yang disewakan 'pelanggannya' untuknya beraksi hari ini.


Karna memang anggota Elana hanya 4 orang sedang Maria memiliki 10 preman. tentu dengan perbandingan itu Elana kalah telak.


"air? Air ada disana" tunjuk Elana ke arah ember yang berisikan air memberitahu dengan antusias namun Maria malah meludahinya dan berhasil mengenai Elana. Maria meludah dengan mata terpejam, ia hanya mengikuti istingnya dari arah suara Elana dan nyatanya berhasil


"wanita gila! Mana mau kami percaya padamu hah?! mau ngejebak nggak pake otak?" umpat Maria yang tahu maksud Elana


Sementara mereka berdebat, preman tadi sudah keluar mencarikan air bersih dan secepat kilat balik lagi


"Gedung sudah aman bos" lapor lainnya menyusul masuk ke dalam


Maria hanya mengangkat jempolnya menerima laporan kemengan itu karna dirinya tengah menenggelamkan wajahnya disebuah wadah kecil berisikan air bersih yang diberikan oleh anak buahnya beberapa menit lalu


Elana meradang. Ia merasa bagaikan seekor rusa cacat dikepung segerombolan harimau yang siap mencabik-cabiknya


Menatap nanar kakinya yang tak berguna, terbesit sekali lagi penyesalan kenapa ia tidak dari dulu melakukan operasi dan malah memanfaatkan kelumpuhannya untuk memperdaya Alex demi melancarkan aksi perselingkuhannya. Sekarang ia hanya bisa berandai, andai kakinya sehat, andai beberapa bulan lalu ia tak menghabiskan ratusan juta uang untuk operasi pasti ia bisa menyewa banyak preman hari ini, andai kakinya berfungsi ia bisa menghajar Maria, andai kakinya kuat ia bisa lari dari sini.


"kaki si*lan!" desis Elana memancing fokus semua orang dari Maria yang masih menjerit-jerit kecil merasakan matanya perih.


mendengar kata si*lan dari Elana, membuat Maria memaksakan membuka mata, beruntung matanya masih berfungsi walau tak seterang penglihatan normal. Saat perih melanda kembali ia ceburkan wajahnya di wadah kecil dan mendelik-delikan matanya guna mencuci bersih dari racun. Merasa sudah lebih baik, Maria mengangkat kepalanya, menoleh ke arah Elana dengan tatapan mematikannya


"dia baru saja berkata si*lan bukan?" tanya Maria datar


"benar bos" jawab serentak 10 preman itu


"nyawa sisa setengah masih berani mengumpat di depanku?" desis Maria berang


"habisi dia!" titah Maria dengan aura psikopatnya


Elana menggeleng kuat kala segerombolan preman berwajah sangar itu mendekatinya perlahan


"tidak tidak. Jangan mendekat!!" pekik Elana nyaring saat salah satu preman memberikan bal*k pada si preman yang paling dekat dengan Elana


*tidak. Tuhan tolong hamba, mama tolong anakmu. Aku tak ingin mati sia-sia. Aku ingin hidup lama dan bahagia bersama Alex* batin Elana memohon. Saat dirinya tengah di jurang kematian ia baru mengingat sang pencipta dan wanita yang telah melahirkannya yang ia khianati sedemikian rupa


Tapi lucunya ia masih memikirkan suami orang lain yang tak lain adalah mantan suaminya yang juga ia khianati tanpa menyisahkan harga diri lelaki itu.


Elana, si wanita tak tahu malu.


"jangan!" pekik Elana saat bal*ok itu sudah di ancang ancang di samping kepalanya seolah ingin memastikan jika sekali pukul langsung bisa memecahkan kep*la Elana.


(gue ngetik ini ngeri sendiri loh, kehaluan gue kenapa malah psikopat banget sih. Merinding ngehaluain sambil ngetik part ini)


"nyawa Maura ada di tangan saya!" seru Elana membuat para Preman tak peduli karna memang tak mengenali siapa gerangan yang disebut calon korbannya


Namun tidak dengan Maria. Ia langsung berteriak memerintah berhenti saat si Preman sudah mengayunkan keras baloknya ke arah Elana namun berhasil ia hentikan saat jaraknya tinggal beberapa senti lagi. Beruntung pengendalian tenaga preman itu terlatih hingga ia bisa mengehentikan gerakannya tepat saat Maria berteriak 'berhenti'


"apa kamu bilang? Hah?! Katakan!!" tanya Maria berteriak di depan wajah Elana dengan tangan mencengkeram kuat rahang Elana


"sesuai yang saya bilang sejak awal pertemuan kita kemarin. Saya tidak main-main. Putrimu seorang pelak*r. dia merebut suami sa..."


PLAK!!!


tamparan kuat di pipi Elana membuat Elana bungkam


"jangan bunuh saya" mohon Elana lirih masih dengan kepala menoleh ke samping akibat tamparan keras tangan Maria


"dimana putriku?!" desis Maria bertanya


"putrimu sedang menuju ke alam neraka" jawab Elana menantang seolah rasa takutnya yang tadi hendak kena bal*k melayang begitu saja.


Elana, si gila dengan kegilaannya.


"Wanita gila!" PLAK


Pekik Maria dengan tangan kembali menampar pipi tirus Elana


"habisi saja dia!" titah Maria, namun sebelum beranjak sebuah tangan melingkar di kakinya


"jangan. Biarkan saya hidup. Saya akan mengatakan dimana putrimu di bawa oleh orang suruhanku" mohon Elana mengiba. Tak punya pilihan lain selain mengatakan rencananya. Ia tak mau mati sia-sia.


"brengsek!!" pekik Maria kembali mencengkeram rahang Elana


"berani sekali mau bermain-main dengan ku hah?" bentak Maria


"saya mengatakan kebenarannya" balas Elana berteriak. Sungguh ia jujur kali ini


"dimana kamu bawa putriku?" tanya Maria bergetar tapi cengkeramannya makin menguat


"dia.. dia.. dia dibawa di... " ucap Elana terbata dengan mata gelisah seolah memikirkan sesuatu, ia berusaha menerka jam berapa saat ini


"kamu membohongiku?" potong Maria memicing


"tidak" jawab Elana cepat. Ia hanya berusaha mengulur waktu agar 2 orang suruhannya berhasil menjalankan misinya menghabiskan nyawa mantan madunya


*sudah mulai gelap. Pasti misi sudah berahasil, selamat tinggal Maura sayang* batin Elana tersenyum membayangkan jasad Maura


Elana, si cacat dengan cacat nuraninya


"2 preman itu hanya akan menculiknya dan membawanya ke sebuah pulau sarang buaya" ucap Elana santai berhasil menyiram ratusan liter bensin pada api yang membara di dalam diri Maria


"anj*ng!!"


DUGH


Pekik Maria beserta tend*ngan kerasnya berhasil mendarat di belakang kep*la Elana yang membuat wanita lumpuh itu hilang kes*daran


Bersambunggg...


Lanjut Part selanjutnya yah