TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK S2 33


Bukannya ongkang-ongkang kaki karna kini ia tak lagi diperlakukan sebagai asisten rumah tangga di rumah suaminya sendiri, tapi wanita muda itu malah terlihat tak semangat menjalani harinya


Nyatanya kehidupannya sebagai penebus hutang 5 bulan ini menjadi pelajaran sendiri baginya. Roda berputar, tak semua kejayaan terus memihak pada seseorang, begitu juga dengan kebahagiaan yang tak harus berlanjut bahagia. Maka jangan sombong dan lupa diri. Setidaknya kakak ipar tuan Daniel itu bisa sedikit memahami arti roda kehidupan yang sebenarnya


"Hhah!" mendesah kasar untuk mengurai beban hati dan pikirannya


Maura beranjak untuk mengisi perutnya yang lapar. Memang hari kini beranjak siang


Ceklek


Bersamaan dengan pintu kamar terbuka, ia mengeryit kala melihat istri tua suaminya tengah berada di depan kamarnya sedang mengudarakan tangannya yang terkepal, seolah hendak mengetuk pintu ruang privasinya


"mau kemana kamu?" tanya sinis langsung Elana tanyakan setelah mengembalikan tangannya di sisi kursi rodanya


"mau isi perut, nyah" jawab Maura enteng


"huh! Benalu. Taunya makan tapi nggak kerja" maki Elana


*benalu teriak benalu* batin Maura geli


"khem, saya kerja kok, nih buktinya" ujar Maura menunjukan leher putihnya yang dihiasi bayak bekas kiss mark. Kepala Maura bahkan sengaja didongakan agar madunya bisa melihat perbuatan suami mereka yang ganas padanya. Tak puas hanya menunjukan lehernya, Maura bahkan menyingkap baju bagian atasnya untuk memperlihatkan jika dadanya penuh bekas hisapan mulut kurang ajar Alex


"saya kerja kok, tapi hanya bisa dilihat dan dinikmati oleh suami kita seorang di sebuah ruangan yang tertutup sebab saya kerja sambil menemani tuan bermain sampai puas" lanjut Maura tenang, wanita muda berdaster mustrad itu tak peduli akan reaksi madunya yang tengah mengepalkan tangan dengan wajahnya yang sudah merah padam.


Maura masa bodoh dan ia tak takut dengan wanita yang seminggu lalu baru keluar dari rumah sakit setelah mendapat perawatan selama 3 hari akibat insiden tangga. Toh jika Elana menghajarnya, ia bisa melawan wanita cacat itu. Apalagi mereka hanya berdua di rumah ini, mengingat Alex tengah berada diluar kota dan sesuai perkataan suaminya itu sebelum berangkat tadi pagi bahwa pria itu akan mengurus tender yang dimenangkannya beberapa hari kedepan. Maura tak tahu berapa lama tapi kata calon ayah dari janinnya itu sekitaran semingguan lebih, makanya semalam pria dengan jagoan binal itu memakan Maura habis-habisan.


"bangga kamu memuaskan suami saya?" tanya Elana dengan rahang mengeras, kalimatnya penuh dengan cemoohan


"suami yang nyonya bilang itu adalah suami siri madumu ini kalau anda lupa" balas Maura tersenyum menang


"si4lan kamu! Dasar wanita murahan!" desis Elana marah, wajahnya sudah memerah hendak meledak. Sadar diri tak bisa memberi pelajaran pada madunya ini, Elana mengiring kursi rodanya menjauh dari hadapan Maura. Saking emosinya ia bahkan melupakan niat awalnya ke kamar Maura.


"mama tiri lo, noh, kasian baget lo dapat mama tiri bentukan gitu, mendingan juga gue kemana-mana, ye nggak?" ujar Maura mengelus perutnya, ia menatap punggung Elana dan perutnya bergantian. Dalam lubuk hatinya semoga saja janinnya tak mendengar kalimat terakhir Elana


"tenang aja, gue akan usaha-in bisa keluar dari sini sebelum keberadaan lo ketahuan, lo sudikan ikut sama gue?" tanya Maura pada makhluk baru di perutnya


"sudi nggak sudi lo harus ikut sama gue, karna gue nggak iklas lo hidup sama mama tiri. Mama tiri itu jahat tahu! Liat aja ibu gue sama adik tiri gue, nggak dimanusiakan kalau bukan darah daging sendiri" lanjut Maura seolah bernegoisasi sama calon anaknya. Tak lupa kehidupannya sebelum jadi budak menjadi pelajaran baginya.


Bunyi peringatan lambungnya mengalihkan atensi Maura dari perbincangan satu arahnya dengan perut di balik dasternya


"nyatanya makanan buatan bik Imah tak ada tandingannya" ujar Maura masih belum bisa melupakan masakan bik Imah yang sudah minggat seminggu lalu. Tukang masak kali ini masakannya tak terlalu sesuai dengan lidahnya


"apa wanita hamil serakus diriku?" heran Maura pada dirinya, melihat isi piringnya sampai tandas 2 kali. Terus kenapa ia malah membanding-bandingkan masakan bik Imah dan Bik Siti jika semuanya bisa ia lahap dengan rakus


Mendengus geli akan kelakuanya sendiri sebelum beranjak menuju kamarnya, namun saat melewati ruang tamu, ia jadi teringat moment tadi pagi saat Alex berpamitan padanya


Berdecak kesal kala mengingat pesan Alex sebelum berangkat, jujur ia malas tapi tetap ia langkahkan kakinya menuju ruang kerja Alex


Mengedarkan pandangan mencari setumpuk berkas yang Alex maksud, rupanya itu berada di atas meja kerja Alex


"kalau ini gue bocorkan bisa bangkrut tuh om-om. Lagian ngapain juga istri bayaran di suruh bereskan ini" dumel Maura sementara tangannya sibuk menyusun berkas-berkas itu


"atau gue robek aja kali yah, pasti pria mesum itu akan pusing dan akan stres terus gila terus dia tanpa sadar melepas gue" khayal Maura dengan segala otak piciknya


"eh jangan deh, takut karma. Lo masih kecil nggak usah ngotak kotor kek gue" lanjutnya mengelus perutnya


Saat tumpukan berkas terakhir, Maura mendapati sebuah kotak beludru berwarna maroon


"untuk istriku" baca Maura pada secarik kertas di bawah kotak


"istri? Siapa? Akukah?"


"jangan ngarep kamu" peringat Maura dengan memukul kepalanya


"jadi aku disuruh untuk bersihkan ini semua hanya untuk dijadikan perantara antara suamiku dan istri tuanya? Malang sekali nasibmu Maura" tebak Maura setelah menghembuskan napas kasar


Klek


Karna penasaran apa isi kotak itu, Maura membukanya



"jelek! Punya orang ini mah" ujar Maura. Bagaimana pun ia menyukai kalung berliontin itu tapi ia tak tetarik sebab bukan miliknya


Setelah membersihkan setumpuk berkas di meja Alex, walau dengan perasaan dongkol tapi Maura berusaha berbuat baik untuk membantu Alex memberikan hadiah pada istri tuanya itu. Maura melangkah menuju lantai atas guna memberikan kalung berliontin yang Maura tau bernilai puluhan juta itu pada sang pemilik.


Menaiki tangga dengan mulut terus mendumel, wanita hamil itu menyumpah sarapahi suaminya. setidaknya jika tak ingin memberikan hadiah padanya bisakah Alex memberikannya langsung pada Elana tanpa melibatkan dirinya? Apa Alex benar-benar tak mengerti perasaannya? Suami lucnak!


Dumelan Maura seketika berhenti kala telinganya menangkap suara aneh saat kakinya beberapa meter lagi berpijak dekat pintu kamar utama, ini kali pertama ia mendengar ada suara itu di kamar ini, biasanya hanya ada suara cekikikan dan tawa bahagia terdengar dari kamar majikannya yang memang tak kedap suara. Ia tahu suara itu, suara yang sering sekali ia keluarkan belakangan ini bersama Alex jika mereka sedang proses pembuatan bayi, atau lebih tepatnya sang ayah menemui calon anak rahasianya yang sedang berproses tumbuh di rahimnya.


Apa Alex tak jadi keluar kota?


Mungkinkah Alex dan Alena sedang? Tapi suara itu bukan suara suami sirinya, jelas bukan. Ia tahu bahkan sudah hapal bagaimana suara Alex ketika marah, kesal, emosi dan tentunya sangat hapal bagaimana suara erangan dan desahan Alex. Dan suara yang sedang bersahutan dengan suara erangan milik madunya bukanlah suara desahan suami mereka.


Ia memang kepo, apalagi selama berintetaksi dengan bik Imah kekepo-an Maura jangan di tanyakan lagi.


Teringat akan dugaan bik Imah pada Elana yang sempat diberitahukan padanya di puskesmas sebelum bik Imah dipecat membuat Maura ingin memastikan.


Pelan tapi pasti Maura mendekat, dan dewi keberuntungan berpihak padanya, pintu tidak tertutup rapat hingga ia bisa mengintip dari celah pintu


Dan ia melihat adengan itu, adengan terlarang yang berhasil membuatnya mematung dan seketika nafasnya seolah terhenti


"kasihan sekali bapak lo" monolog Maura mengelus perutnya


Bersambunggg...


######


tembusin komen 600 dong.. belum pernah nih ngerasa diboom komen 😭


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu