
"kamu datang sendiri? Alex mana? Ngapain di Jakarta?" todong Anjani sambil menuntun Maura duduk di kursi. dokter wanita paru baya itu bahkan sampai repot-repot berdiri menarik pasien sekaligus menantunya karna hanya berdiri diam di ambang pintu
"oh maaf, kamu kebingungan yah" Anjani merasa tak enak karna todongan pertanyaan-nya hingga membuat istri muda putranya itu menganga. Mungkin tak tahu harus jawab apa dulu
"jadi apa keluhanmu? Apa cuc-- kandunganmu baik-baik saja?" kan, dasar emak-emak! Malah membuat pertanyaan baru, kan makin bertambah jawaban yang harus dikeluarkan Maura
"tidak ada. Saya datang kesini sebenarnya hanya dipaksa" jawab Maura sekenanya memancing kerutan dahi si dokter wanita baya itu
"dipaksa?" tanya Anjani
"saya datang bareng suadara saya, Pak Alex di semarang dengan istri sahnya. Saya di jakarta karna jakarta memang tempat harusnya saya tinggal. Apalagi setelah saya di buang oleh ayah dari bayi dalam perut buncit ini" lanjut Maura menjawab pertanyaan pertama yang Anjani lemparkan dengan ringan seolah tak ada beban, ia menunjuk perutnya bersamaan dengan kalimat terakhirnya, bahkan Maura berucap seolah di depannya adalah temannya. Sama Alicia saja dia tak seberani itu mengungkap kebenaran
Mungkin sekaligus mengadu pada sang dokter yang dari awal telah membuatnya merasa nyaman berkomunikasi apalagi setelah insiden sang dokter menawarkan kerja sama untuk memberi pelajaran pada Alex dengan berita keguguran. Maura tebak jika wanita paru baya ini punya masalah dengan Alex hingga berbuat demikian
*dasar Alex keras kepala. Membuang berlian demi batu kerikil selokan. Mama akan buat perhitungan sama kamu anak bodoh!* kesal Anjani dalam hati
"saya dipaksa oleh saudara saya mengecek kandungan karna tadi saya sempat pingsan" lanjut Maura menjawab pertanyaan terakhir Anjani sebelum sang dokter melayangkan kembali pertanyaan. Nanti kalau Anjani bertanya Maura akan lupa sama pertanyaan terdahulu, alhasil saat melihat mulut anjani terbuka, Maura segera menyela dengan menjawab lebih dulu
Mulut Anjani yang tadinya terbuka hendak bertanya kini menganga lebar dengan mata membulat
"Astaga, kamu pingsan?! Kamu memang harus di periksa" pekik Anjani. Kemudian Anjani dengan sigap mengambil alat-alat dokternya memeriksa keadaan Maura dan terakhir menyuruh Maura berbaring di brangkar untuk memeriksa keadaan si bayi dalam perut wanita muda itu
"keadaannya sehat. Seperti yang saya katakan tadi, kamu hanya banyak pikiran" jelas Anjani membantu Maura beranjak duduk
"oh iya, kamu tinggal di mana di jakarta? rumah saudaramu? bagaimana kalau kamu tinggal bareng saya saja, karna sebenarnya saya adalah mer..." perkataan Anjani terpotong kala suara ketukan terdengar
Tok tok tok
Ceklek
Pintu ruangan dibuka oleh seorang wanita berpakaian serba hitam, selanjutnya wanita muda nan cantik memasuki ruangan di susul oleh pria tampan dengan bayi dalam gendongannya
"tuan muda Daniel?" gumam dokter Anjani. siapa yang tidak mengenali pemilik rumah sakit ini, bahkan Anjani yang hari ini hanya menggantikan temannya tugas di Jakarta sangat mengenali pria yang kini sibuk berceloteh dengan bayi dalam dekapannya
"maaf membiarkanmu sendiri, baby El sangat lapar tadi" tutur Alicia menjelaskan keadaan. Ya, saat berjalan menuju ruang dokter kandungan tiba-tiba baby El menangis minta asi. Alhasil Daniel harus membawa Alicia menuju ruangan VIP di lantai teratas rumah sakit ini untuk memberi asupan gisi pada sang jagoan mereka dengan suasana nyaman. Sebenarnya Alicia meminta Maura untuk menunggunya tapi Maura beralasan hari kian sore dan ia tak mau jika baby El sampai kesorean pulang ke mansion, jadinya Maura masuk lebih dulu ke ruangan dokter kandungan
"nggak papa Al, aku ngerti kok" balas Maura
"jadi gimana kedaaan kakak dan keponakan saya dok?" tanya Alicia beralih menatap dokter Anjani
"ka--kakak?" beo Anjani
"oh iya dok, perkenalkan Alicia Adara Dina.. Mm Prasetio, dia ini adik saya, saudara 1 ayah beda ibu" Maura memperkenalkan Alicia pada dokter Anjani.
"hah?" kaget dong. Orang identitas Alicia sebagai keturunan Dinata masih belum di publis, khalayak tahunya jika Alicia adalah keturunan Orlando, pengusaha Taiwan, yang berhasil menaklukkan hati seorang pria idaman semua wanita, Daniel Parsetio
"halo dok. Jadi gimana hasil pemerikasaannya?" tanya ulang Alicia yang berhasli menarik atensi Daniel dari kelucuan baby El. Ditatapnya dokter wanita dengan tatapan tajamnya.
Berani sekali membuat istriku mengulang pertanyaannya. Arti tatapan tajam itu membuat dokter Anjani yang menyadari menelan ludah kasar
"Di--Maura dan kandunganya baik-baik saja, nyonya muda" beritahu Anjani gugup
Daniel dan segala kearogannya tak mengenal siapa jika itu mengusik keluarganya
"ah, syukurlah" ucap Alicia lega
"terimakasih banyak dok" ucap Alicia tulus membuat dokter Anjani tersenyum dan menjawab sama-sama
"kalau gitu kami pamit, mari dok" pamit Maura sopan
"maaf jika saya lancang, tapi Maura akan ikut saya" ujar Anjani menatap penuh harap pada Maura
.
.
.
"jadi kak Maura juga baru tahu jika ibu dokter tadi adalah mertua kakak?" tanya Alicia menarik Maura dari lamunamnya. Maura menoleh kebelakang dimana Alicia tengah duduk berdampingan dengan Daniel juga baby El di kursi penumpang belakang
"hu'um" Maura mengangguk membenarkan
"tapi gue curiga deh Al. Dokter Anjani tuh awal ketemu kek punya dendam gitu sama Pak Alex. Apa jangan-jangan dokter Anjani hanya ngaku-ngaku dan mau manfaatin gue setelah tahu gue punya adik kaya raya. toh kenapa baru mengaku hari ini padahal sebelumnya gue sama dia udah pernah ketemu waktu gue hampir keguguran" tutur Maura mengeluarkan unek-uneknya
"ck, si mantan ahli antagonis yang curigaan. Wajar sih, pasti sudah hapal seluk beluk ciri-ciri diri sendiri" sindir Daniel membuang muka memancing Alicia mendaratkan cubitan panas di lengannya
"mas, ih!" kesal Alicia
"shs, sakit mommy" ringis Daniel. Memang betul rasa cubitan jari Alicia menimbulkan rasa sakit di kulitnya
Cup
Daniel membalasnya dengan kecupan di pipi mulus sang istri, Maura yang duduk di kursi penumpang depan hanya bisa memutar bola mata saat tak sengaja menangkap adengan romantis di belakang melalui kaca spion mobil
"nggak baik wanita hamil berpikiran negatif sama orang lain" peringat Alicia pada sang kakak
"Dokter tadi tidak mungkin bohong. Bukti identitas membuktikan semuanya" sahut Daniel menilai secara logika.
Ya, Dokter Anjani tidak hanya mengaku secara lisan tapi beserta kartu keluarga lama yang masih ada nama Alex juga akta kelahiran Alex ia perlihatkan sebagai bukti akan ucapannya.
"terlepas dari benar atau tidaknya, kak Maura tidak boleh tinggal sama keluarga pria yang sudah membuangmu dalam keadaan hamil" seru Alicia tak terima jika Maura malah memilih bersama Anjani dari pada dirinya. Mereka adalah saudara, jadi Alicia berhak mempertahankan Maura agar tak kembali tersakiti
Ya, memang tadi Anjani memohon agar Maura ikut padanya saja, karna alasan Maura masih berstatus menantunya, Anjani hanya ingin agar bisa memantau Maura juga kandungannya setiap saat. Namun balasan dari Alicia membungkam dokter wanita paru baya itu
Flashback On
'anakmu sudah membuang kak Maura jadi dia bukan lagi menantu anda' cecar Alicia
'selama bukan kata talak yang terucap hubungan mereka masih sah, apalagi Maura dalam keadaan hamil jadi ia masih sah istri anak saya. Dan saya berhak merawat menantu dan calon cucu saya' balas Anjani kekeh mempertahankan Maura
'hanya istri siri. Saya akan mempercayakan kakak saya pada kalian jika dia sudah tercatat sebagai istri sah secara negara' putus Alicia telak, yang diam-diam membuat Maura terharu dibela sedemikian rupa oleh Alicia, adiknya itu masih sudi menghargainya setelah ia torehkan ribuan luka pada Alicia di masalalu
Flashback of
"lelaki itu tak tahu jika anaknya masih hidup di rahim gue" gumam Maura memberitahu
"nah itu. Dia membuangmu karna berpikir kamu tidak bisa memberinya anak. Dia hanya menginginkan anak bukan kak Maura" ujar Alicia memprofokasi
"ck! Wanita dengan segala pemikirannya" decak Daniel lirih. Ia memilih fokus menatap anaknya yang terlelap menggemaskan, malas meladeni 2 wanita yang tengah sibuk memenangkan ego pikirannya
Bersambunggg...
######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu