
"tuan, mari bercerai" ucap Alicia datar nan mantap
Daniel melerai pelukannya, tangannya berpindah memegang bahu Alicia dengan tatapan dinginnya
Alicia yang ditatap demikian tentu merasa terintimidasi namun ia tak boleh takut kali ini. Ia harus lepas dari jeratan tuan suaminya sebelum semuanya terbongkar. Karna nuraninya sudah bertekad memilih janinnya. Dan jika ia masih bertahan dengan drama rumah-rumahan mereka, Alicia takut Daniel lambat laun pasti akan tahu dan akan menghancurkan janinnya yang tak berdosa, juga pasti akan membuang dan mengasingkannya di negeri antah berantah
Alicia merasa hatinya tercubit melihat seorang gadis cilik menyuapi ibunya di atas kursi roda dengan telaten meski umur gadis itu masih sangat kecil, itu yang pertama kali netranya tangkap kala memasuki area taman, Alicia jadi kepikiran dengan calon bayinya, anaknya berhak hidup dan kelak mereka akan saling menjaga.
Ya, Alicia akan menjaga dan menyangi anaknya meski harus seorang diri, dan ia tak akan memberitahu Daniel sampai kapan pun karna tak mau jika Daniel akan berperilaku sama seperti Dinata. Mengambil anaknya dan hanya akan menyiksanya dan menjadikannya umpan segala macam masalah. Sama seperti apa yang di alaminya selama ini.
Ringisan yang keluar dari Alicia membuat Daniel sadar jika ia sudah mencengkeram kuat pundak rapuh milik istrinya karna emosi yang kembali memuncak, Rahangnya masih mengeras dengan tatapan menajam
"mari akhiri perjanjian ini sampai disini, tuan" perjelas Alicia karna Daniel tak kunjung memberi tanggapan
"semua atas kendaliku, kamu tidak berhak mengajukan apapun!" desis Daniel
" maka dari itu! Saya capek tuan! Saya lelah dengan semuanya, keseharian saya tak lepas dari kendali tuan! " emosi ibu hamil itu memuncak kala menedengar balasan tuan suaminya
"saya hanya ingin hidup sewajarnya, melakukan apa yang ingin saya lakukan" lanjut Alicia dengan nada lirihnya
Daniel memejamkan matanya, merasa tertohok dengan keinginan sang pujaan hati, sadar jika selama ini ia memang berlaku sesukanya hingga tak memikirkan perasaan istrinya. Ia begitu egois
"tolong, bebaskan saya dari permainan konyol ini" tubuh Alicia meluruh ke tanah, ia berlutut memohon
"Dara hei!" Daniel segera tersadar, ia membantu Alicia bangkit namun Alicia pantang menyerah sebelum Daniel membebaskannya, hingga Daniel ikut berjongkok
"Apa kamu tdk kasihan sama bayi kita?" ucap Daniel setelah lututnya menyentuh tanah
*bayi?* lagi Daniel menyebut itu, tuan suaminya pasti tau. Pikir Alicia
Alicia mendongak menatap mata sendu milik Daniel, ia segera memeluk perutnya, menjaga janinnya dari jangakaun tuan suaminya
Kepalanya kembali tertunduk, menggeleng disertai air matanya luruh. Ia tak mau anaknya kenapa napa.
"Dara dengar, hei lihat aku" Daniel berusaha memberi Alicia pengertian, Daniel pikir Alicia tak terima oleh kenyataan itu
"tuan, saya mohon, jangan sakiti anakku" kedua tangganya mengatup di depan kepalanya yang masih menunduk
Daniel mematung mendengar permintaan istrinya, jadi istrinya?
Daniel berdiri, ia dengan pelan menarik Alicia berdiri dan menuntunnya ke kursi taman yang tepat berada di samping mereka. Ditatapnya netra berair milik istrinya dengan tatapan lembut, membuat Daniel ikut terpukul melihat kesedihan di wajah Alicia
"aku tidak mungkin menyakitinya" ucap Daniel lembut, tangannya meraba ke perut Alicia
Alicia beralih menatap tangan Daniel, ada perasaan aneh yang hinggap di relung hatinya.
"tuan?" Alicia mendongak menatap wajah tenang tuan suaminya
"Aku sudah tau dia ada, jauh sebelum kamu tahu" Alicia melongo atas ucapan Daniel
"Tuan tidak marah?"
"Kenapa harus marah? Aku justru bahagia karna hadirnya, karna aku mencintainya" lagi, Daniel berucap tenang nan lembut
"mencintainya?" beo Alicia, ia mengerjab membuat sisa air mata yang menggenang menetes di pipi mulusnya
"ya, mencintainya, juga mencintai ibunya" perasaan lega dirasakannya, meski rencananya jauh dari kenyataan, mengungkapkan cinta sambil bercinta harus pupus berkat kelakuan Alicia yang bermain kabur-kaburan
"ibunya?" Menghela napas pelan, Daniel lupa jika istrinya ini berotak lalot selain yang berhubungan dengan dunia kampus
"dengar dan cernah baik-baik perkataanku, Alicia Adara Prasetio" Daniel berucap tegas
"aku mengaku, kamu banyak merubah sisi diriku yang sesungguhnya, banyak mengalah, mengabaikan prinsipku, merobohkan harga diriku, kamu berhasil mencuri pikiranku, hatiku, waktuku, tapi aku tak masalah, aku dengan senang hati memberikan semua untukmu, karna kamu adalah harta berhargaku" lanjut Daniel panjang lebar dengan sekali tarikan napas
Alicia mengerutkan kening
"aku mencintaimu bodoh!" pupus sudah suasana haru di dalam diri tuan arogan itu ketika istrinya masih saja menampilkan mimik tak mengerti
\=\=\=\=\=\=\=
Daniel mengeryit ketika tak sengaja telinganya mendengar nama seseorang yang tak asing ditelinganya kala berpapasan dengan seorang dokter di ikuti perawat membicarakan kondisi pasiennya dengan sedikit berlari
*orang itu sekarat?* batin Daniel, menggelengkan kepala memilih acuh, ia berjalan cepat menuju lantai dimana istrinya dirawat.
Setelah kejadian kemarin sore di taman rumah sakit, Daniel bersikekeuh agar Alicia kembali di rawat hingga keadaannya kembali normal. Tak banyak yang berubah dengan hubungan mereka setelah pengakuan cinta dari tuan suami, Alicia bahkan memilih banyak diam, bahkan semalam saat Daniel ikut berbaring di ranjangnya yang memang luas, memeluk dari belakang, Alicia tak menolak tapi juga tak merespon kala tuan suaminya menawarkan akan membelikan apa saja yang ingin Alicia makan.
Alicia sibuk berkelana dengan pikirannya, masih ada rasa menganjal dalam hatinya kala Daniel tiba-tiba menyatakan perasaanya. Daniel hanya belum bosan, Daniel melakukannya karna anak yang dikandungnya, tak mungkin Daniel mencintai seorang wanita menyedihkan sepertinya kan? Pikir Alicia menebak
Juga kemarin saat Daniel menuntunya kembali ke dalam gedung rumah sakit dengan kursi roda, netranya tak sengaja menangkap sosok sekertaris ayahnya di jendela ruang rawat lantai 4 saat ia mendongak menatap awan sore
setahu Alicia sang sekertaris Dinata adalah seseorang yang hampir bernasib sama dengannya, hidup di dunia tanpa keluarga dan kerabat. Jadi siapa yang sedang di jaga Alba sekarang? Siapa yang sakit? Ayahnya kah?
Alicia memang tak mengetahui bagaimana keadaan si tua itu kala dirinya mengiris pergelangan tangannya dan melontarkan kalimat berakhirnya sebuah ikatan darah diantara anak dan ayah itu.
Ceklek
Lamunan Alicia berakhir saat seorang pria tampan dengan setelan rapi memasuki ruangannya
"sudah siap?" tanya Daniel menghampiri Alicia yang sudah terbebas dari selang infus, terduduk manis di sofa
Anggukan dari Alicia membuat Daniel mengulurkan tangan membelai surai hitam milik istrinya
"maaf membuatmu menunggu, tadi ada rapat urgent di perusahaan" jelas Daniel, kalimat maaf itu terlontar begitu tulus.
Tadi pagi dokter mengatakan Alicia bisa pulang jika si nyonya muda sudah terbangun dari tidurnya, Daniel bernapas lega sebab ada masalah perusahaan yang harus ditanganinya pagi ini, namun karna tidur Alicia begitu nyenyak Daniel tak tega membangunkan istrinya itu, alhasil Daniel memilih ke perusahaan dulu, tentunya sudah menyiapkan puluhan pengawal yang berjaga menyebar di lantai 7 rumah sakit itu.
Alicia lagi-lagi hanya mengangguk menanggapi, ada sesuatu yang ingin ia lakukan namun lidahnya begitu kelu untuk berucap
"tuan, sa, saya mau.."
"apa pita suaramu ikut robek dengan pecahan gelas itu? " Daniel yang memang kesal karna sedari semalam Alicia mengabaikannya juga di tambah ucapan gugup Alicia berhasil menarik Daniel kembali jadi sosok pria arogan. Ia tidak suka orang yang berbicara padanya terbata seolah telah melakukan kesalahan apalagi itu adalah istrinya.
Bersambunggg...
#######
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu