
Alicia tengah mati-matian menahan umpatannya. Cinta katanya? Bullshit!
Cinta yang Alicia tahu adalah sang pasangan tidak akan membatasi apapun yang pasangannya ingin lakukan. Tapi tuan suaminya? Belum juga ia mengatakan maksud hatinya sudah di cela mentah-mentah.
Dengan malas Kaki pendeknya mengikuti langkah lebar tuan suaminya keluar ruang rawatnya, riak wajahnya masam menandakan suasana hatinya buruk
eh?!
hampir saja ia menabrak tubuh jangkung nan kekar milik Daniel jika saja ia tak sigap mengerem kakinya, langkah tuan suaminya tiba-tiba terhenti saat pintu ruangan terbuka, membuat Alicia penasaran ada apa gerangan.
Alicia mencoba mengintip di balik tubuh tinggi si pria dominan, puluhan pengawal berjejer rapi di luar, itu yang ia lihat.
Daniel menaikan alisnya melihat para pengawal berkumpul di depan pintu, kemudian fokusnya tertuju pada seorang pria dewasa yang babak belur terjerambat di lantai setelah para pengawal membelah barisan.
"ia memaksa ingin menemui nyonya muda, tuan" jelas salah satu pengawal
Daniel mengendikan bahu acuh kemudian melanjutkan langkahnya yang sebelumnya meraih tangan Alicia untuk di genggamnya
Alicia melihat sekilas pada puluhan pengawal itu yang menunduk memberi hormat yang dibalas Alicia hanya senyuman tipis
"saya mohon, hanya sekali saja nona" lirih seseorang yang berhasil menarik perhatian Alicia menuju sumber suara
Alicia menutup mulutnya yang menganga. Sontak ia menghentikan langkahnya membuat Daniel ikut berhenti.
"se,, sekertaris Alba?"
Alba yang merasa memiliki kesempatan di sisa sisa tenanganya berusaha bangkit dan berlutut
Gelengan kepala dari Daniel membuat para pengawal menghentikan aksinya yang hampir saja melayangkan tendangan kembali ke tubuh Alba
"nona, tuan besar sedang sekarat" jelas Alba, namun ucapannya sirat akan permohonan
Namun diluar dugaan, Alicia malah menanggapinya dengan alis kanan tertarik ke atas. Tak kaget dan malah terlihat biasa aja
"tuan ingin menemui nona muda untuk yang terakhir kalinya" lanjut Alba
"mau menjualku lagi e? " tanya Alicia terkekeh miris
"tidak nona! Ada hal penting yang tuan besar ingin sampaikan di sisa waktunya" sela Alba
"hal penting? Oh, ia butuh donor hati? Atau jantungku mungkin" tebak Alicia, membuat Alba mengepalkan tangan.
Pengawal yang melihat itu langsung melayangkan tendangan ke bahu Alba hingga tubuhnya terbentur lantai. Berani sekali menampakan kepalan tangan di hadapan nyonya mudanya apalagi ada tuan mudanya juga.
"saya takutnya nona muda akan menyesal tak memenuhi permintaan terakhir ayah, nona" lirih Alba di sela sela kesakitannya
"saya rasa penyesalan itu sudah terbayar selama saya hidup dengan beliau yang selalu memberkahiku dengan kasih sayangnya" balas Alicia menyindir tajam
"nona, tolong, hanya..."
Daniel maju dan menginjak bahu Alba yang hendak bangun.
"berani sekali kamu memerintah istriku!" desis Daniel menekan kakinya hingga tulang selangka Alba tersa bersentuhan langsung dengan lantai
"saya rela menukar nyawaku demi mewujudkan titah tuanku" balas Alba tak kalah sengit, ketakutan dan rasa hormat pada menantu tuannya itu hilang kala titah tuannya tak bisa ia wujudkan
"dan dengan senang hati saya serahkan pada tangan para pengawal saya" Daniel menekan kakinya sebelum melepasnya, ia kembali meraih tangan Alicia dan membawanya pergi
\=\=\=\=\=\=\=\=
Ragu mengelayuti pikiran Alicia saat ia dan Daniel sudah sampai di depan kamar inap sebuah rumah sakit yang sama dengan tempatnya di rawat 2 hari ini, hanya saja berbeda lantai. Sejenak Alicia menoleh pada pria di sampingnya yang ternyata juga sedang menatapnya
"kita nggak perlu masuk kalau kamu tidak mau"
Tanpa melepaskan gengamannya, Daniel berbalik dan akan membawa Alicia menjauh. Tapi gerakan Alicia yang menahannya membuat Daniel menatap istrinya
"saya mau masuk" ucap Alicia tanpa keraguan
Daniel memutar handel pintu, kemudian membukanya dan mendapati seseorang yang sedang terbaring lemah namun arah pandangnya tertuju ke arah pintu seolah telah lama menanti seseorang masuk dalam ruagannya
Menghembuskan napas panjang, meski muak berhadapan dengan si pria tua yang telah berhasil membuat sosoknya kehilangan rasa cinta dan kasih sayang selama hidupnya, Alicia melangkah masih dengan tangan yang saling bertaut dengan tangan sang tuan suami.
"nak" lirih Dinata
Alicia mendengus, ia menatap datar pria yang sudah membuatnya hadir di dunia. Bahkan berbagai alat penunjang hidup alat rumah sakit yang menancap di tubuh Dinata tak membuat Alicia luluh akan rasa terbuang yang dirasakannya selama 20 tahun hidupnya. Alicia bahkan lebih memilih duduk di sofa sudut ruangan dari pada mendekat ke arah ranjang
"katakan, hal penting apa yang tuan ingin sampaikan pada seorang gadis yang telah berkali kali anda lempar ke tempat pembuangan ini?" ucap Alicia dengan lantang agar Dinata bisa mendengarnya
Daniel mempererat genggamannya, menyalurkan kekuatan pada istrinya
Sedang Dinata merasa tertohok. Sikap pengecutnya-lah yang tertanam kuat di memori putri bungsunya. Semua memang karnanya. Ia pantas menerima kekecewaan alicia.
"maaf, maafkan Ayah nak"
"maaf? Maaf untuk yang mana?
Menghembuskan napas dengan berat, Alicia memberi jeda sebelum kembali merangkai kalimatnya
"untuk gadis kecil berusia sepuluh tahun yang di jemput di panti asuhan pinggiran hanya untuk di ambil ginjalnya demi menyelamatkan penerus keluarga anda? atau gadis remaja yang sementara demam akibat dikurung di toilet semalaman namun harus melakukan transfusi darah untuk menolong nyawa tuan, ataukah gadis remaja yang sudah puluhan kali di jual pada para pria berduit?" Alicia mengingat hari-hari suramnya selama mengenal sosok Dinata, waktu dimana seekor kucing lebih di berharga dari pada dirinya. Menghela napas panjang, Alicia kembali melanjutkan kata katanya "oh atau pada gadis penebus kesalahan keluarga tuan, yang jatah makannya dari sisa kucing? Jadi maaf untuk yang mana maksud anda tuan Dinata yang TERHORMAT?! " serangnya telak
Berulang kali kata-kata Alicia membuat Dinata menyesal, dan sekarang ada beribu kata 'seandainya' yang memenuhi isi kepala pria 3 putri itu.
cengkraman di tangan Alicia mengetat, gigi pria yang setia berada di samping istrinya itu saling beradu, menahan sesak di dada mendengar serentetan masalalu kelam wanita yang sedang mengandung calon anaknya. ia menyesal pernah berbuat kasar pada gadis malang sang pemilik hati.
"Alicia, ayah..."
Belum sempat Dinata menyelesaikan rangakain kalimatnya, Alicia sudah menyela, tidak! Ia tidak butuh ungkapan rasa bersalah dari Dinata. Dulu ia memang sangat menantikan hari ini, hari dimana pria yang dianggapnya ayah mau melihat kearahnya dan mengakuinya 'anak' namun sekarang semua berbeda. Ia sudah membuang jauh jauh harapan itu setelah beberapa kali nyawanya hampir habis di tangan Daniel kala awal-awal pernikahan perjanjian itu.
"anda terlalu berharga untuk menyebut diri sebagai ayah dari seorang pembantu sepertiku, tuan!"
Telak! Penjelasan yang baru saja ingin dikeluarkannya tertelan kembali. Putri bungsunya benar, Dinata bahkan tutup mata kala putri kandungnya jadi pembantu di mansionnya sendiri.
Namun dalam setiap doa lelaki beranak 3 itu selalu memanjatkan doa kebahagian dan keselamatan untuk putri bungsunya ini.
Bersambungggg...
#####
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu