TUAN SUAMI YANG KEJAM

TUAN SUAMI YANG KEJAM
TSYK 108


"di kamar? Baiklah. Tunggu aku di kamar, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dan secepatnya pulang " Alicia mendengus kala mendengar ucapan semangat tuan suaminya.


beberapa saat kemudian mobil yang membawanya sudah sampai di depan rumah utama.


Alicia memasuki rumah utama dengan paperbag mini ditangannya, ia langsung melangkah menuju kamar namun harus terhenti kala melihat wanita baya yang terduduk anggun di ruang keluarga sedang menatapnya tajam


"nyonya besar" lirih Alicia


Maya menelisik penampilan Alicia yang terlihat kampungan, tak menggambarkan posisinya yang menyandang seorang istri dari tuan muda Prasetio yang harusnya berpenampilan mewah nan anggun, Alicia dengan pakaian santainya itu lebih terlihat seperti gadis ketinggalan jaman meski tak bisa maya sangkal jika pakaian yang melekat di tubuh Alicia itu pakaian bermerek.


*merusak reputasi putraku* batin Maya


Alicia menelan ludah keluh kala menyadari tatapan menilai dari ibu tuan suaminya itu


Membungkukan badan, setelahnya Alicia memilih beranjak, toh ada dia atau tidak, itu tak pernah memengaruhi nyonya besar Prasetio


"jangan besar kepala kamu" ucap Maria yang membuat Alicia menghentikan langkahnya


*besar kepala? lagi? apa kepalaku ikut membesar akibat keseringan makan yah? * tanya Alicia dalam hati, bukan apanya kata 'besar kepala' pernah ia dapat juga dari Maura dan kedua sepupunya saat pesta Dinata seminggu lalu


"jangan karna media sudah tahu siapa kamu, kamu jadi lupa diri dan tak tahu malu, ingat sampai kapanpun saya tidak akan pernah sudi menerimamu sebagai istri dari putraku, dan apapun akan saya lakukan untuk menendangmu keluar dari Mansion ini" ucap Maya menggebu


Alicia balik badan dan melemparkan sebuah senyuman pada Maya


*emang anda pikir saya betah dengan status ini? Tidak!* jerit Hati Alicia di balik senyumannya


"nyonya besar tidak usah khawatir, saya tahu dimana posisi saya, dan saya akan siap kapan pun jika tuan Daniel sudah tak membutuhkanku, untuk itu, tidak maukah nyonya besar berbaik hati pada calon mantan istri putramu ini sampai hari itu tiba, seridaknya jangan keseringan memperingatkan statusku" ucap Alicia panjang lebar dengan sikap tenangnya


"cih! Kamu pikir kamu pantas bernegoisasi dengan saya? Tidak! Kamu hanya pantas mendengar dan mematuhi tanpa menyanggah apalagi menolak. Seorang sepertimu tidak ada hak untuk bersuara!" geram Maya


*dasar ibu dan anak sama saja!* batin Alicia


"dan yah baguslah kalau kamu sadar diri, karna saya pastikan, tidak sampai seminggu kamu sudah angkat kaki dari Mansion ini" lanjut Maya


*yah dan aku sudah siap akan itu, beruntung tak ada hati yang ikut campur dalam permainan rumah-rumahan ini, jadi ini bisa berakhir tanpa harus menorehkan luka* batin Alicia


Alicia bersyukur ia mampu menata perasaannya selama 7 bulan hidup berdampingan tuan suami pemaksanya, hingga senyaman apapun dan sepeduli apapun Daniel padanya Alicia tak goyah. Karna baginya apa yang Daniel lakukan sama seperti apa yang keluarga Dinata lakukan, bedanya Daniel akan baik padanya karna Daniel membutuhkan pelayanan terbaiknya, sedang Dinata dan keluarganya tak pernah sekalipun menunjukkan sikap legowonya tak peduli apa yang sudah Alicia korbankan. Tapi persamaan diantara keduanya adalah, sama sama memanfaatkan dirinya untuk kepentingan masing masing. Ya, ia hidup hanya untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan seseorang tanpa peduli bagaimana tersiksa dan sakit yang dirinya alami.


Aliciia mensugesti dirinya bahwa hatinya hanya untuk dirinya seorang, itu yang sepuluh tahun terakhir ini ia tanamkan dalam dirinya setelah hidup berdampingan dengan orang yang membuatnya hadir di dunia tapi tak mendapat haknya sebagai anak dari seorang yang berstatuskan ayah. Ia tak mau berharap pada apapun dan pada siapapun selain pada dirinya sendiri. Padahal sewaktu ia hidup di panti, ia memiliki kasih sayang yang melimpah meski keluarga disana tak memiliki hubungan darah dengannya, tapi semua terenggut kala dengan kejamnya Dinata dan keluarganya memaksa ia menjadi anak yang menekan dan mengubur dalam-dalam perasaannya. ia dipaksa secara tak langsung membunuh perasaannya, Ia tumbuh menjadi gadis penurut tapi tak pernah menjiwai apa yang ia kerjakan dengan paksaan orang-orang. raganya ada tapi jiwanya telah lama hancur tak berbentuk akibat perlakuan semena-mena keluarga Dinata dalam proses pertumbuhannya.


Jadi jangan salahkan dia jika mengenai perasaan hati, Alicia tak berani ikut bermain. Bukannya tak berani, tapi ia memang tak tahu bagaimana bermain dengan mengikutsertakan yang namanya hati. Karna hatinya telah lama tertidur kala ia tak pernah di butuhkan selama ini.


"Ibu" panggilan seseorang membuat dua wanita beda usia itu menoleh ke arah suara


"halo nak" Maya beranjak memeluk Daniel setelah menyenggol dengan sengaja bahu Alicia


Menyunggingkan senyum tipis, Alicia memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar utama, tanpa repot-repot menyambut tuan suaminya


"lihatlah wanita kecil itu, ia seperti nyonya besar saja di rumah ini" adu Maya pada Daniel


"kapan ibu datang?" tanya Daniel mengabaikan aduan ibunya


"beberapa menit yang lalu" balas Maya


"kamu baik-baik sajakan nak? " tanya Maya


Daniel yang hendak membuka suara urung kala Maya kembali memeluknya


"tenang sayang, jal4ng murahan seperti Maureen tak pantas kamu tangisi, masih banyak wanita bermartabat di luaran sana berlomba lomba ingin mendapatkanmu" ucap Maya menenangkan Daniel, tangannya mengelus sayang kepala dan punggung Daniel bergantian memberinya kekuatan atas penghianatan Maureen


*banyak yang bermartabat bu, tapi yang terbaik hanya Dara, istriku* balas Daniel dalam hati


"bu.." Daniel berusaha melerai pelukan ibunya yang berlebihan ini


"bu, tak perlu mencari yang.. "


"tidak sayang, ibu tidak repot kok, lagian sudah ada yang siap bertemu dengan mu sebentar malam" potong Maya


"nanti malam dia, ibu undang ke Mansion untuk makan malam bersama kita" lanjut Maya antusias


Daniel hanya mendesah pendek, ingin sekali ia mengirim kembali ibunya ke jepang tapi dia takut jadi anak durhaka, menolakpun Daniel tak enak.


Yaudahlah, serah ibunya saja, yang penting wanita yang di maksud ibunya siap kepanasan nanti malam. Karna Daniel tidak akan tinggal diam dengan rencana konyol ibunya itu.


"eh tunggu deh" ucap Maya memiringkan kepalanya


"semua baik baik saja kan?" tanya Maya yang di tanggapi kernyitan dahi dari Daniel


"jangan bilang kamu pulang siang-siang gini hanya untuk menemui ibu? " lanjut Maya terharu


" Bukan, eh iya" jawab Daniel gelagapan bingung


"yaudah bu, aku ke atas dulu" ucap Daniel lagi


"loh bukannya mau ketemu ibu?"


"kan udah bu" balasnya Daniep santai setelahnya ia beranjak dan meninggalkan Maya yang menatap bingung kepergian putra tunggalnya itu


Sebenarnya, Daniel bergegas pulang bukan karna kalimat istrinya yang menawarkan menunggu di kamar, tapi karna ia mendapat laporan bahwa ibunya, Maya baru saja tiba di mansion, Daniel langsung kepikiran dengan Alicia di tengah-tengah meetingnya, segera ia menghubungi istrinya itu agar ke perusahaan saja dari pada pulang ke rumah tapi karna alasan Alicia yang katanya kelelahan, Daniel mengalah, ia meninggalakan meetingnya yang sebelumnya di alih tugaskan ke sekertaris Tasya demi menemui istrinya agar bisa menjaganya dari ibunya. Makanya ia bisa tiba di rumah tak lama setelah Alicia sampai.


Terbukti saat dirinya tiba dirumah ia bisa melihat bagaimana ibunya masih bersikap sinis ke istrinya, meski tak mendengar semua perkataan ibunya ke Alicia tapi Daniel tahu jika ibunya itu mengatakan beberapa perkataan pedas pada Alicia, beruntung istrinya itu memiliki hati yang kokoh hingga tak muda terintimidasi.


Satu hal yang Daniel syukuri akan sikap istri kecilnya itu, tak mudah goyah meski dengan hinaan bahkan siksaan fisik sekalipun.


Memasuki kamar utama, Daniel melihat istrinya baru saja menganti pakaiannya


"loh kok nggak pakai kameja? " protes Daniel melihat istrinya tengah memakai salah satu gaun selutut yang terkesan anggun


"tuan mau saya di nilai wanita liar oleh ibu tuan? "


"loh? kalau kamu keluar memamerkan di hadapan ibu ya bisa di bilang wanita liar, Tapi kalau di hadapan ku, di depan suamimu, malah kamu jadi wanita idaman suami" ucap Daniel mengerlingkan matanya


"iya ya, aku kan cuman di kamar" gumam Alicia pada dirinya sendiri membenarkan ucapan Daniel


"jadi boleh saya ganti tuan? " tanya Alicia dengan binar bahagia


"oh tentu" jawab Daniel mengangguk mantap


Alicia segera beranjak memasuki walk in closet tak lama setelahnya ia keluar dengan kameja Daniel yang menempel kebesaran di tubuh mungilnya


"ck" decak Daniel tak suka


"a.. Ada apa tuan? " tanya Alicia heran dengan raut wajah kesal suaminya


"salah!"


"salah? Apanya yang salah tuan? " tanya Alicia makin bingung


"harusnya aku menyuruhmu tak usah pakai baju saja" Daniel mendekat dan memerangkap Alicia di dinding


"tuan... "


"masih banyak waktu sebelum acara makan malam, mari kita bersenang senang dulu" ucap Daniel mengerlingkan matanya


"apa tuan tidak lelah? Mau saya pijitin? " tawar Alicia menghindari tujuan dan maksud Daniel


"tidak, saya belum lelah, mungkin setelah kita bermain baru aku akan merasa lelah" balas Daniel cepat


"tapi tuan.. "


Cup


Kecupan dan sedikit lum4tan


"kasihan 'dia' tertidur sudah lama" Daniel berucap setelah melepas tautan bibir mereka, matanya melirik ke bawah celananya


Alicia yang hendak protes kembali bungkam kala Daniel mematuk bibir ranumnya, dengan penuh kehati-hatian, Daniel menuntun Alicia menuju ranjang dengan bibir masih saling beradu, ya, Alicia sudah cukup mahir membalas lum4tan suaminya


Dengan pelan, Daniel membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan tangan yang sudah bergeliria meraba tubuh Alicia dan bibir yang sudah mengekplor leher putih itu hingga...


"mm tuan, apa sebaiknya tuan mandi dulu? Keringat tuan bau" ucap Alicia menutup hidung dan menahan mual


*ahh shit!* umpat Daniel dalam hati, giginya saling beradu menahan kesal.


Istrinya ini sungguh pintar merusak suasana


Bersambunggg....


######


Salam Mickey Mouse 24


Dari Dunia Halu